Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peduli?
Begitu pagi hari tiba, matahari menyusup melalui jendela yang terbuka.
Hita perlahan-lahan mengerjapkan matanya, tangannya bergerak menggosok matanya yang terasa berat karena mengantuk.
Hita pada awalnya belum menyadari bahwa kini tubuhnya terkapar di ranjang—tempat seharusnya ia tak berada.
Seharusnya ia tidur di lantai yang dingin, seperti perintah Dirga malam itu.
Namun saat ia tersadar, Hita buru-buru menegakkan tubuhnya dengan mata terbelalak dan terduduk di atas kasur yang empuk.
"Sudah bangun?"
Suara dingin nan familiar itu membuat Hita mendongak.
"Kak Dirga?" Hita menelan ludah.
Dirga berdiri di hadapan cermin, memasang dasinya dengan wajah datar yang bisa Hita lihat dari pantulan cermin. Laki-laki itu bahkan tak menoleh ke arah Hita.
Sesegera mungkin Hita menurunkan pandangannya, menunduk begitu mengingat perintah Dirga untuk tak bersikap lancang dan menatapnya.
"Apa saja yang kau lakukan kemarin?" tanya Dirga dingin. "Hal konyol seperti apa, lebih tepatnya."
Laki-laki itu menoleh ke arah Hita yang duduk di tepi tempat tidur dengan kepala tertunduk. Senyum puas nan sinis terukir di wajah Dirga begitu melihat Hita mematuhi perintahnya kemarin.
Perintah untuk tak menatap matanya dan menunduk selayaknya pelayan begitu Hita berhadapan dengannya. Perempuan itu benar-benar penurut seperti seekor anjing.
"Tidak melakukan apa-apa," jawab Hita dengan cemberut di wajahnya. "Kemarin aku hanya bermain dengan Lian, tidak melakukan apa-apa lagi."
"Bermain seperti apa?"
"Hanya... menonton film."
Hita melirik takut-takut ke arah Dirga, mengukur reaksi suaminya itu.
"Memangnya ada apa? Kenapa kakak bertanya seperti itu?" tanya Hita. "Dan... Kenapa aku ada di kasur? Kemarin..."
Hita tak melanjutkan kata-katanya begitu mendapati tatapan tajam Dirga yang menusuk. Sontak ia kembali menunduk.
"Kau bertanya 'ada apa'?" Dirga melangkah mendekat, nada bicaranya dingin. "Kau sepertinya tak menyadarinya, kan? Bahwa kau menyusahkanku lagi?"
Hita semakin menyusut di bawah tatapan laki-laki itu. Entah mengapa Dirga mudah sekali membuatnya tunduk.
"Katakan dengan jujur apa saja yang kau dan Lian lakukan kemarin," tekan Dirga. "Aku berhak tau dan jika kau berbohong maka akan ada konsekuensinya."
Ancaman Dirga itu sontak membuat Hita menggeleng, kepanikan melandanya.
"H-hanya... menonton film," ulang Hita. "Aku mendengarkan Lian bercerita, dan dia... mengajariku untuk berdandan," lanjutnya.
Dirga menaikkan sebelah alisnya. "Lalu? Apa lagi?"
"Bermain di kolam berenang juga..."
Untuk pengakuan yang satu itu, Dirga langsung memutar mata malas.
Pantas saja tubuh Hita begitu panas kemarin malam, rupanya perempuan itu mengikuti Lian pergi ke habitat aslinya.
Ya, Lian si adik perempuan Dirga itu sejak kecil memang begitu senang berenang, bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya di kolam hingga ayah dan ibu khawatir jika dia jatuh sakit.
Berjam-jam Lian menghabiskan waktu di kolam berenang hingga menjadi kebiasaan—dan Hita pasti tak akan bisa mengimbangi gadis itu hingga demam seperti kemarin.
"Kau tidak akan melakukannya lagi."
"Apa?" Hita mengerjap, sontak pula ia mendongak dan menatap Dirga dengan ekspresi bodoh nan polosnya.
Kenapa Dirga tiba-tiba melarangnya seperti itu? Menyebalkan sekali.
"Kau. tidak. akan. melakukannya. lagi," ulang Dirga, menekan setiap kalimatnya agar menembus otak bodoh Hita. "Kau tidak akan ikut dengan Lian saat dia mengajakmu untuk ke kolam."
"Kenapa begitu?"
"Karena kau terlalu lemah untuk mengikuti kebiasaanya," balas Dirga, tangannya menekan kepala Hita untuk kembali tertunduk dan berhenti menatapnya.
Hita tersentak dengan gerakan kasar itu, sementara Dirga sendiri tampak melakukannya tanpa rasa bersalah. Ia hanya ingin Hita tau posisinya, bahwa menatap matanya itu adalah hal yang lancang.
Dirga samar-samar menurunkan tangannya, menyentuh dahi Hita tanpa perempuan itu sadari.
"Sejak kecil Lian sangat suka berenang, bahkan sampai berjam-jam," ujar Dirga tiba-tiba. "Orang sepertimu tidak akan kuat, bahkan aku kerap gemetar kedinginan setelah menemaninya berenang saat aku kecil dulu."
Dirga perlahan-lahan menjauhkan tangannya, berhasil mengecek suhu tubuh Hita tanpa perempuan itu sadari. Gerakannya begitu halus dan tak terbaca.
"Jadi berhentilah memaksakan diri dan bertindak bodoh karena kau akan sangat menyusahkanku," timpal Dirga, tangannya bergerak membuka laci nakas di samping tempat tidur.
Hita diam-diam melirik tangan Dirga, semakin menunduk karena merasa menyusahkan lagi.
"Maaf," cicit Hita pelan, nyaris tak terdengar. "Aku hanya ingin menemani Lian, dia adalah satu-satunya temanku di sini."
Dirga mengeluarkan obat-obat penurun panas yang ia berikan pada Hita kemarin malam, meletakkannya di atas bersama dengan gelas berisikan air.
"Adikku itu memang selalu bersikap baik pada orang lain meskipun menyebalkan." Dirga kembali menegakkan tubuhnya. "Tak memandang latar belakang dari orang-orang yang dia jadikan teman. Entah seorang pelayan, orang-orang miskin, dan... anak haram sekalipun."
Kalimat terakhir dimaksudkan untuk Hita, dan tentu saja perempuan itu menyadarinya. Tapi Hita hanya bisa diam, mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Kau mungkin tak menyadari bahwa kau demam tinggi kemarin malam, dan itu menyusahkanku," kata Dirga, tak memperdulikan Hita yang mungkin sakit hati dengan perkataannya. "Minumlah obat ini dan segeralah membaik, karena aku terlalu sibuk untuk mengurusmu yang selalu menyusahkanku."
Hita mengangguk pelan, jari-jarinya bertaut di pangkuan dengan gugup. "Maaf, Kak, aku tidak pernah bermaksud untuk menyusahkanmu."
Rasa bersalah semakin menusuk Hita. Kata-kata Dirga benar-benar membuatnya tersadar bahwa ia terlalu menyusahkan.
Bahkan Hita sendiri tak menyadari bahwa kemarin malam ia demam karena terlalu banyak bermain di kolam bersama Lian.
Hita hanya merasa senang karena di kediaman Wijaya ia tak pernah diberi izin untuk menyentuh area kolam, sedangkan di sini ia diajak langsung oleh Lian.
Kata mereka yang berada di kediaman Wijaya, air yang begitu jernih akan menjadi kotor dengan sentuhan Hita di dalamnya.
"Kau selalu sadar bahwa kau menyusahkan, tapi tak pernah berupaya untuk berhenti melakukannya." Begitu entengnya Dirga bicara, tak henti-hentinya menyakiti perasaan Hita.
Dirga mengangkat lengannya, menatap jam mahal yang melingkar di pergelangan tangan.
"Minum obat ini setelah sarapan, dan jangan keluar dari kamar hari ini," perintahnya, menatap Hita yang masih menunduk. "Aku akan menyuruh Wisnu mengawasi, jangan coba-coba untuk membantah."
Hita lagi-lagi mengangguk, begitu patuhnya pada Dirga.
Hita benar-benar seperti tak punya kendali atas dirinya sendiri, dan ia sudah terbiasa dengan itu. Entah di kediaman Wijaya ataupun di kediaman Martadinata, ia tetap sosok yang tak diharapkan.
Sosok yang hanya bisa diperintah seperti budak.
Hita masih terus menunduk sampai Dirga keluar dari kamar tanpa berpamitan, Dirga tak terlihat terburu-buru meskipun seharusnya laki-laki itu sudah berangkat ke kantor satu jam yang lalu.
Barulah saat bunyi klik pelan dari pintu yang tertutup terdengar, Hita berani mengangkat kepalanya, menghela napas panjang yang menyiratkan kepasrahan.
Jelas ia tak bisa membantah perintah Dirga, dan bagian paling menyedihkan adalah ia tak bisa bertemu dengan Lian untuk sekedar bergosip seperti kemarin.
Senyum tipis terukir di wajah Hita begitu mengingat cerita-cerita konyol Lian, bagaimana gadis itu tanpa sadar membuatnya tertawa.
Yang paling menonjol dari cerita Lian kemarin adalah cerita mengenai kekasihnya yang berselingkuh dan berakhir ditendang begitu saja dari kehidupan gadis itu.
Terkadang Hita ingin menjadi seperti Lian yang bebas berekspresi.
Diam-diam Hita melirik ke atas nakas, ke arah obat yang telah disiapkan oleh Dirga.
Mungkin tanpa Hita sadari, Dirga mulai peduli padanya.
Dan sepertinya... Dirga juga tidak menyadarinya.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga