NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 AYO

"Aku…" Kael menarik napasnya dalam dalam.

"Aku mau dekat dengannya. Dia… Sepertinya butuh seseorang untuk melindunginya."

Kakek mengangguk seolah itu jawaban yang sudah ia duga dari sang cucu yang ia besarkan.

"Bagus. Berarti minggu depan kakek akan mengabari keluarga Damar."

Saat nama itu kembali disebut, rahang Kael mengeras.Keluarga Damar yaitu Keluarga yang menyiksa Seyna, keluarga yang menutupi rahasia kotor dan Keluarga yang selama ini Kael curigai menyembunyikan sesuatu tentang kematian orang tua Seyna. Kini, Kael punya alasan yang lebih kuat daripada sekadar rasa iba untuk mengungkap rahasia di keluarga Damar.

"Baik," ucap Kael dingin.

"Kakek kabari mereka. Dan aku akan urus sisanya."

Kakek tertawa kecil, puas. "Akhirnya cucu kakek mau dewasa juga."

Kael tidak tertawa. Ia hanya menatap meja makan, kedua tangannya mengepal pelan.Ini bukan sekadar perjodohan bagi Keel.Ini adalah jalan masuk Kael untuk mengambil alih semuanya, melindungi Seyna sekaligus membongkar semua kebusukan keluarga Damar dari akar-akarnya.

Dan dalam hatinya Kael berbisik, "Seyna, mulai sekarang… kamu milikku untuk aku lindungi."

.....

Kael berada di kantornya, ia terlalu fokus dengan laptop dihadapannya sampai ia lupa bahwa ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.

"Bro..." panggil seorang pria yang tak lain adalah Amar, sepupu dari Kael.

"Ngapain kesini?"tanya Kael dingin.

Amar hanya menghela napas dan buru buru mendekat ke arah meja Kael dan segera duduk diatas meja Kael.

"Temenin aku, Kael buat kerumah keluarga Damar," pinta Amar.

Kael tidak menggubris ia masih fokus dengan laptop di hadapannya, Amar yang sudah tau sifat sepupunya itu segera menepuk meja.

"Ayo lah Kael, sejujurnya aku malas sekali kesana untuk bertemu Alisha," ucap Amar sambil merengek.

Kael yang kesal karena terus terudan diganggu Amar segera berdiri dan memukul meja yang membuat Amar refleks turun dari meja.

"Memangnya apa urusanku kesana?lagi pula bukannya itu tunanganmu?kenapa sekarang kau tidak mau dengan dirinya?"tanya Kael kesal.

Mendengar itu Amar hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.

"Sejujurnya aku sudah menolak untuk bertunangan dengan Alisha kepada orang tuaku, tetapi mereka tatap saja menjodohkanku. Dan sekarang kekasihku sudah kembali ke luar negeri. Tolong bantu aku Kael," ucap Amar seperti anak kecil.

Kael hanya memutar bola matanya malas, lalu segera kembali duduk di mejanya tanpa menjawab perkataan sepupunya itu.

"Ayolah, nanti kamu ceritakan saja yang buruk buruknya sifatku biar Alisha ilfeel dan membatalkan pertunangan ini. Nanti aku janji akan meminjamkanmu video game," pinta Amar.

Kael akhirnya menutup laptopnya dengan keras bukan karena menerima permintaan Amar, tapi karena ucapan Amar sudah terlalu berisik untuk didengar lebih lama.

"Baik. Aku ikut." Suara Kael tenang, tapi tegas.

Amar langsung bersorak kecil seperti anak SD yang baru dibelikan es krim.

"Aku tahu kamu sepupu terbaikku! Aku cinta kamu, Kael!"

Kael menatapnya datar. "Diam. Ambil jasmu, kita pergi."

Amar masih senyum-senyum bodoh sambil mengikuti Kael keluar ruangan. Padahal Kael sama sekali bukan setuju karena ingin membantu Amar. Kael ingin bertemu Seyna. Itu satu–satunya alasan ia mau meninggalkan kantor secepat ini.

Begitu masuk ke dalam mobil, Amar masih saja berkicau.

"Jadi gini Kael… nanti kalau kita sampai di sana, kamu tolong bilang ke Alisha bahwa aku itu misalnya pelit, kasar, atau… apa kek yang bikin dia kabur dari pertunangan." Amar memegang dagunya sendiri, berpikir.

"Atau bilang saja aku tidak subur. Itu cepat biasanya."

Kael memejamkan mata frustasi. "Amar."

"Ya?"

"Tinggal bicara langsung dengan Alisha kalau kamu tidak mau menikah. Selesai."

Amar menatap Kael lama. Sangat lama.

Kemudian ia menggeleng cepat dan mengangkat kedua tangannya.

"Kamu tidak mengerti perempuan Kael! Itu tidak semudah itu. Mereka sensitif! Kalau aku bilang aku ga mau, nanti dia malah nangis, terus bapaknya marah, terus ibunya telepon ibuku, dan hidupku selesai!"

Kael menatapnya lama, benar-benar kehilangan kesabaran. "Terserah kau. Aku datang ke sana karena urusanku sendiri, bukan mau mengurusi urusanmu yang aneh itu."

Amar langsung melongo. "Urusan apa?"

Kael tidak menjawab. Sorot matanya hanya lurus ke depan, dingin tapi dalam seolah menembus bayangan seseorang yang jauh di sana. Amar menatap sepupunya itu lalu menghela napas panjang.

"Kukira kamu nolong aku karena sayang."

Lalu ia mendengus. "Ternyata kamu cuma mau ketemu seseorang dan jangan jangan gadis yang di pameran itu?"

Kael melirik Amar singkat. "Mulutmu kebanyakan ngomong, ku sumpel pakek sepatu biar kamu diam!"

Zidan yang menyetir menahan tawa, tapi jelas terlihat dari kaca spion bahwa ia menikmati drama dua sepupu itu.

Amar menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. "Kalau kamu ke sana demi Seyna, bagus. Sekalian kamu lihat sendiri wataknya Alisha biar aku gak pusing."

Kael tidak peduli. Ia hanya meraih ponselnya dan membuka pesan dari Zidan tentang lokasi rumah keluarga Damar. Semakin dekat mereka menuju rumah itu, semakin tajam sorot mata Kael. Amar yang memperhatikan perubahan ekspresi itu menelan salivanya.

"Kael… wajahmu kayak mau bunuh orang saja"

Kael menjawab tanpa menoleh. "Aku hanya ingin memastikan seseorang tidak disakiti lagi."

Amar langsung terdiam. Ia tahu tatapan itu tatapan Kael Adikara ketika seseorang sudah menyentuh garis batasnya. Sesampainya disana, Amar segera turun dsri mobil dan mendapati seorang gadis yang tidak memakai sendal dan sedang memainkan air genangan di tanah bekas turunnya hujan.

"Kau siapa?"tanya Amar.

Seyna buru buru menoleh dan menatap bingung ke arah Amar dan menunjuk nunjuk ke arah rumah.

"Hei..kau siapa?" tanya Amar sekali lagi.

Seyna tidak menggubris dam segera pergi menjauh dan tanpa sadar ia menabrak tubuh besar Kael yang membuat dahinya sedikit kesakitan.

Seyna yang paham wangi aroma parfum Kael segera memeluknya erat erat, saat tahu seorang pelayan berjalan mendekat ke arahnya.

"Non...Seyna pakai sendalmu dulu," ucap slaah seorang pelayan.

Seyna hanya menggeleng dan mempererat pelukannya. Kael langsung buru buru meminta pelayan itu meletakkan sendal Seyna di sebelahnya dan menyuruhnya untuk pergi.

"Kamu kenapa gadis kecil?"tanya Kael sambil mengelus rambut halus Seyna.

Seyna tidak menjawab hanya menunjuk nunjuk ke arah Amar dengan wajah yang ketakutan, Kael segera menatap tajam ke arah Amar. Sedangkan Amar yang ditatap hanya mengangkat tangannya ia juga tidak tahu kenapa. Kael buru buru menenangkannya.

"Itu sepupuku. Dia tidak jahat," ucap Kael.

"Kata Alisha. Aku tidak boleh dekat dekat dengannya," ucap Seyna seperti anak kecil sambil memeluk tubuh Kael erat.

"Itu bohong, dia baik kok. Ya sudah pakailah sendalmu," pinta Kael.

.....

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!