Embun Nadhira Putri, 28 tahun, terjebak antara tuntutan pekerjaan dan desakan keluarganya untuk segera menikah. Ketika akhirnya mencoba aplikasi kencan, sebuah kesalahan kecil mengubah arah hidupnya—ia salah menyimpan nomor pria yang ia kenal.
Pesan yang seharusnya untuk orang lain justru terkirim kepada Langit Mahendra Atmaja, pria matang dan dewasa yang tidak pernah ia pikirkan akan ia temui. Yang awalnya salah nomor berubah menjadi percakapan hangat, lalu perlahan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.
Di tengah tekanan keluarga terutama sang Mama, rutinitas yang melelahkan, dan rasa takut membuka hati, Embun menemukan seseorang yang hadir tanpa diminta.
Dan Langit menemukan seseorang yang membuatnya ingin tinggal lebih lama.
Terkadang takdir tidak datang mengetuk.
Kadang ia tersesat.
Kadang ia salah alamat.
Dan kali ini…
takdir menemukan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lacataya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 – Saya Khawatir
Begitu pintu lift terbuka, udara dingin dari koridor lantai delapan langsung menyambut Angkasa, menusuk kulit wajahnya yang masih hangat oleh sisa aktivitas seharian. Langkahnya cepat namun tetap terjaga rapi, seperti kebiasaan yang sudah melekat bertahun-tahun, sementara cahaya lampu dari ruang-ruang kerja yang telah kosong memanjang menjadi bayangan tubuhnya di lantai marmer mengilap.
Di ujung lorong, satu titik cahaya masih menyala.
Ruang kerja staf hukum. Ruang kerja Bia.
Dan entah kenapa, untuk alasan yang bahkan tidak bisa ia jelaskan pada dirinya sendiri, langkah kakinya terasa sedikit lebih berat ketika matanya menangkap cahaya itu—seolah ada sesuatu di dadanya yang ikut berdenyut, ikut memberi isyarat samar bahwa ada yang tidak beres.
Ia berjalan semakin cepat, jasnya sedikit terbuka, derap sepatunya memantul pelan di koridor yang sunyi. Semakin dekat, semakin jelas sosok itu terlihat. Bia masih duduk di mejanya, kepala tertunduk di atas permukaan kayu, kedua tangannya tersilangkan di depan laptop yang layarnya masih menyala. Dokumen hukum memenuhi monitor, kursor berkedip pelan tanpa bergerak, seolah menunggu kalimat yang tak pernah sempat ditulis.
“Anabia?” panggil Angkasa pelan dari depan meja.
Tidak ada respons.
Ia melangkah lebih dekat, suaranya turun satu oktaf, hampir seperti bisikan. “Bia…”
Begitu jaraknya cukup dekat, napas Angkasa tercekat.
Wajah Bia pucat, terlalu pucat untuk sekadar lelah. Matanya terpejam, bulu matanya basah oleh keringat, dan di bawah hidungnya terlihat garis tipis darah yang sudah hampir mengering. Bibirnya tampak kering dan pecah, sementara napasnya terdengar cepat, pendek, dan tidak teratur.
“Bia—hey, Bia,” suaranya meninggi sedikit, meski tetap berusaha lembut. Ia berlutut di samping kursi, menyentuh bahu gadis itu. Kulitnya panas. Bukan hangat biasa, tapi panas yang membuat jantung Angkasa berdesir cemas.
“Gila… panas banget,” gumamnya pelan, separuh tidak percaya.
Bia bergerak sedikit, alisnya berkerut. Suaranya keluar lirih, hampir tak terdengar. “Jangan… Pak… saya masih harus…” Kalimat itu pecah di tengah jalan.
Dada Angkasa terasa sesak.
“Sst… udah, udah,” ucapnya pelan, menenangkan, seolah Bia bisa mendengar sepenuhnya. “Diam dulu.”
Tangannya dengan sangat hati-hati menyeka sisa darah di bawah hidung Bia menggunakan tisu yang ia ambil dari atas meja. Gerakannya nyaris gemetar. “Kamu harus ke rumah sakit sekarang.”
Bia menggumam pelan, kesadarannya setengah mengambang. “Aku… nggak apa-apa… kerjaan—”
“Kerjaan bisa nunggu, Bia,” potong Angkasa dengan suara rendah yang bergetar tipis tapi tegas. “Tapi kamu nggak.”
Tanpa memberi ruang untuk pikir ulang, ia menggeser kursi Bia, menyelipkan satu lengannya di bawah lutut gadis itu dan satu lagi menopang punggungnya. Dalam satu tarikan napas, ia mengangkat tubuh Bia ke dalam gendongannya. Tubuh itu ringan—terlalu ringan—namun panasnya menembus jas dan kemejanya, menyentuh kulit Angkasa dengan cara yang membuat kekhawatiran di dadanya semakin liar.
“Panasnya nggak main-main,” gumamnya cemas sambil menatap wajah Bia yang setengah sadar.
Ia melangkah cepat keluar ruangan, menekan tombol lift dengan siku karena kedua tangannya sibuk menopang tubuh Bia. Begitu pintu terbuka, ia masuk dan memeluk gadis itu lebih erat, seolah takut jika ia melepas sedikit saja, Bia akan menghilang dari genggamannya.
Lift turun perlahan dengan bunyi mekanis yang terasa terlalu keras di telinganya. Detak jantung Angkasa sendiri berdentum hebat, menenggelamkan suara lain. Setiap kali Bia bergumam lirih dalam tidurnya, Angkasa menunduk sedikit, memastikan napasnya masih ada, masih teratur.
Begitu pintu lift terbuka di lobby, udara malam yang lembap langsung menyergap. Angkasa berjalan cepat menuju mobil hitamnya. Pintu belakang dibukakan oleh Amar, dan tanpa ragu Angkasa ikut duduk di kursi penumpang belakang, masih memeluk Bia di dadanya.
“Bia kenapa, Pak?” tanya Amar sambil menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil.
“Pingsan,” jawab Angkasa singkat, suaranya tertekan. “Langsung ke rumah sakit, Mar. Cepat.”
“Baik, Pak.”
Mobil meluncur keluar area gedung, membelah kesunyian malam kota. Cahaya lampu jalan memantul di wajah Bia yang pucat, memperjelas betapa rapuhnya gadis itu saat ini. Angkasa menggenggam tangan Bia erat-erat, ibu jarinya mengusap punggung tangan itu perlahan, seolah sentuhan kecil itu bisa menahan badai panik yang sedang berkecamuk di dadanya sendiri.
“Bertahan, Bi…” bisiknya nyaris tak terdengar. “Kamu nggak boleh kenapa-napa.”
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan pintu IGD Rumah Sakit Cendana. Begitu petugas melihat Angkasa turun dengan seorang wanita dalam gendongannya, mereka langsung berlari menghampiri sambil membawa tandu.
“Pingsan, suhu tubuh tinggi, sempat keluar darah dari hidung,” ucap Angkasa cepat, nada suaranya tetap rendah tapi jelas penuh tekanan.
“Baik, Pak. Kami tangani sekarang,” jawab salah satu petugas medis.
Bia dibaringkan di atas ranjang, roda tandu bergerak cepat menuju ruang pemeriksaan. Angkasa mengikuti di belakang, langkahnya panjang namun terasa berat, matanya tak pernah lepas dari sosok gadis yang kini dikelilingi dokter dan perawat.
Lampu IGD terasa terlalu terang. Aroma antiseptik menusuk hidung. Angkasa berhenti di depan tirai pembatas, menatap dari celah kecil kain putih yang bergoyang perlahan. Bia tampak lemah di atas ranjang, wajahnya pucat, namun napasnya mulai terlihat lebih teratur.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dan menatapnya dengan tenang. “Demam tinggi akibat kelelahan dan dehidrasi ringan. Untung cepat dibawa, Pak. Kalau terlambat sedikit, kondisinya bisa drop lebih parah.”
Angkasa mengangguk, menahan napas.
“Setelah cairan infus habis, pasien boleh dibawa pulang. Tidak perlu menunggu sadar penuh,” lanjut dokter itu.
“Terima kasih, Dok,” jawab Angkasa. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar lelah.
Saat dokter berlalu, Angkasa kembali masuk. Kini hanya ada mereka berdua, ditemani suara mesin infus yang berdetak lembut, konstan. Ia melangkah mendekat dan duduk di kursi samping ranjang, tangannya—tanpa sadar—meraih tangan Bia yang dingin lalu menggenggamnya erat.
“Kerja keras itu bagus,” bisiknya pelan, suaranya lembut sekali. “Tapi kamu nggak harus nyakitin diri sendiri cuma buat nunjukin kamu kuat.”
Bia tidak menjawab, masih terlelap, tapi wajahnya tampak sedikit lebih tenang.
Angkasa menatapnya lama. Mata cokelat yang biasanya dingin kini teduh, penuh perasaan yang belum pernah ia akui. Ia mengusap punggung tangan Bia dengan ibu jarinya, lalu menatap langit-langit putih ruangan dengan tarikan napas panjang.
“Jangan bikin aku khawatir kayak gini lagi, Bi,” ucapnya hampir tanpa suara.
**
Ruangan IGD itu sudah jauh lebih tenang ketika malam benar-benar turun, lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya lembut yang tidak lagi menyilaukan, hanya cukup untuk menjaga semuanya tetap terlihat jelas. Suara mesin infus berdetak pelan, stabil, menjadi satu-satunya irama yang menemani napas dua orang yang berada di dalam ruangan itu.
Angkasa masih duduk di kursi yang sama, tubuhnya sedikit condong ke depan, satu tangannya menggenggam tangan Bia seolah takut jika ia melepaskannya walau hanya sebentar. Matanya sudah lelah, bahunya sedikit turun, jasnya tergeletak sembarangan di sandaran kursi—pemandangan yang hampir mustahil terlihat pada dirinya di kantor.
Bia bergerak pelan.
Bulu matanya bergetar, keningnya mengernyit samar, dan bibirnya membuka sedikit seolah sedang mencari udara yang lebih nyaman. Angkasa refleks menegakkan tubuhnya, napasnya tertahan tanpa ia sadari, matanya menatap wajah Bia dengan penuh perhatian yang nyaris tak berkedip.
“Bi…” panggilnya pelan, suaranya rendah dan lembut, jauh dari nada tegas yang biasa ia gunakan di ruang sidang. “Kamu dengar aku?”
Kelopak mata Bia terbuka sedikit. Pandangannya buram, tidak fokus, seolah dunia di sekelilingnya masih terlalu berat untuk ia pahami. Ia menoleh sedikit ke arah suara itu, matanya menangkap siluet Angkasa yang duduk di samping ranjang, wajahnya terlihat asing sekaligus… entah kenapa terasa aman.
“Pak…” gumamnya lirih, suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri. “Aku… di mana?”
Angkasa menelan ludah pelan, jempolnya mengusap punggung tangan Bia dengan gerakan kecil yang hampir tak terasa.
“Di rumah sakit. Kamu pingsan tadi di kantor,” jawabnya pelan, berhati-hati seolah takut suaranya bisa membuat gadis itu kembali menghilang.
Bia mengerutkan kening, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tubuhnya tidak bekerja sama. Matanya terpejam kembali, dan sebelum Angkasa sempat memanggil namanya lagi, napas Bia kembali teratur—lebih dalam, lebih tenang—tanda bahwa ia kembali terlelap.
Angkasa terdiam beberapa detik, menatap wajah itu lama sekali.
Lalu ia menghela napas panjang, pelan, dan tanpa sadar menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil—senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
“Baru melek sebentar udah tidur lagi,” gumamnya lirih, nada suaranya bukan kesal, melainkan penuh rasa lega.
Ia tetap menggenggam tangan Bia, tidak berniat pergi ke mana pun.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar di luar tirai pembatas. Angkasa mengangkat wajahnya, dan refleks berdiri ketika melihat sosok tinggi dengan setelan rapi memasuki ruangan—Daddy Dirga.
Tatapan Daddy Dirga langsung menyapu ruangan, mencari-cari dengan cepat. “Angkasa,” ucapnya pelan, “kamu nggak apa-apa?”
Angkasa menggeleng, sedikit terkejut. “Aku baik, Dad.”
Dirga menghela napas lega, lalu pandangannya jatuh pada sosok perempuan yang terbaring di ranjang rumah sakit, tangan anaknya masih digenggam erat tanpa disadari.
“Ini…” Dirga berhenti sejenak, menautkan alisnya. “Bukan kamu yang sakit?”
“Bukan,” jawab Angkasa pelan. “Bia. Dia pingsan di kantor.”
Daddy Dirga terdiam.
Bukan karena kondisi Bia—itu bisa ia pahami secara logis—melainkan karena pemandangan di depannya. Anaknya, yang selama ini dikenal dingin, tertutup, dan bahkan cenderung menjaga jarak dari perempuan mana pun, kini berdiri di sisi ranjang seorang wanita dengan ekspresi yang… tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Ada cemas. Ada perhatian. Ada ketakutan yang jujur. Dan yang paling mengejutkan adalah adanya kelembutan.
Daddy Dirga melangkah mendekat, berdiri di sisi lain ranjang, menatap wajah Bia yang tertidur.
“Amar bilang kamu ke Rumah Sakit Cendana. Daddy pikir kamu yang tumbang,” ucapnya pelan, masih memproses semuanya.
Angkasa menatap Bia lagi sebelum menjawab. “Aku nemuin dia sendirian di lantai delapan. Masih kerja, padahal kondisinya sudah drop.”
Daddy Dirga mengangguk pelan, tapi matanya tidak lepas dari gerak-gerik anaknya. Dari cara Angkasa merapikan selimut Bia sedikit, dari cara ia menurunkan nada suaranya tanpa sadar, dari caranya berdiri—melindungi.
‘Ini… di luar dugaan,’ batin Daddy Dirga.
Selama ini, Angkasa selalu menjaga jarak dari hubungan personal. Perempuan mana pun tidak pernah benar-benar masuk ke hidupnya. Ia selalu profesional, selalu membatasi diri, selalu terlihat seolah dunia emosional bukan bagian dari dirinya.
Namun apa yang Daddy Dirga lihat malam ini… meruntuhkan semua anggapan itu.
Daddy Dirga tersenyum kecil—bukan senyum menggoda, bukan senyum mengejek—melainkan senyum seorang ayah yang baru saja menyaksikan sisi baru dari anaknya.
“Kamu kelihatan khawatir,” ucap Daddy Dirga pelan, nyaris seperti pernyataan, bukan pertanyaan.
Angkasa terdiam sesaat, lalu menghela napas. “Aku… cuma nggak mau dia kenapa-napa.”
Kalimat itu sederhana. Namun cukup. Daddy Dirga tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk bahu anaknya pelan—gerakan singkat, penuh makna.
“Jaga dia,” ucap Daddy Dirga akhirnya, suaranya hangat. “Dan jaga dirimu juga.”
Angkasa mengangguk.
Di bawah cahaya lampu rumah sakit yang lembut, dua generasi pria itu berdiri diam, menatap perempuan yang terlelap—perempuan yang tanpa sadar telah membuka sesuatu yang selama ini terkunci rapat di hati Angkasa Wiratama.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Daddy Dirga tahu… anaknya sudah bisa menbuka hati.
**
Pagi datang pelan, menyusup lewat celah tirai tipis dengan cahaya yang terasa asing di mata Bia. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terbangun, dadanya naik turun pelan seiring napas yang mulai stabil, sementara kepalanya terasa sedikit berat seperti habis berlari jauh dalam mimpi yang terputus-putus. Yang pertama kali ia sadari bukanlah sakit, melainkan keheningan—keheningan yang terlalu rapi untuk sebuah kamar kos atau rumah yang ia kenal.
Bia perlahan bangkit setengah duduk.
Seprai berwarna abu terang, aroma bersih yang samar seperti sabun mahal, pendingin ruangan yang diatur pada suhu nyaman, dan furnitur minimalis dengan garis-garis tegas—semuanya terasa asing, terlalu tertata, terlalu… bukan miliknya. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat ketika kesadaran itu menyentuh pikirannya.
‘Ini… di mana?’
Sebelum ia sempat menyusun pertanyaan berikutnya, terdengar bunyi klik pelan, diikuti pintu kamar yang terbuka perlahan.
Dan di sanalah Angkasa berdiri.
Bia membeku. Untuk sesaat, pikirannya kosong, seolah otaknya menolak menerima apa yang matanya lihat. Angkasa mengenakan kaus polos berwarna gelap dan celana rumah, rambutnya sedikit berantakan—penampilan yang sangat jauh dari sosok rapi dan dingin di kantor. Terlalu nyata untuk disebut mimpi, tapi terlalu tidak masuk akal untuk langsung diterima.
Ingatan samar muncul sekilas—lampu kantor yang redup, suara yang memanggil namanya, sentuhan hangat di bahunya, lalu gelap.
‘Ini mimpi…’ pikirnya refleks.
Namun Angkasa tidak memudar. Ia tetap berdiri di sana.
“Kamu sudah bangun?” tanya Angkasa, suaranya tenang, tidak keras, tidak pula terlalu lembut, tapi cukup untuk membuat dada Bia terasa mengencang.
Bia menelan ludah, matanya masih terpaku padanya. “Saya… di mana, Pak?” tanyanya balik, suaranya pelan dan sedikit serak.
Angkasa melangkah masuk satu langkah, tapi tetap menjaga jarak, seolah tidak ingin membuatnya panik.
“Kamu ada di apartemen saya,” jawabnya jujur tanpa berputar-putar. “Tadi malam kamu pingsan di kantor. Saya bawa kamu ke rumah sakit, tapi karena saya tidak tahu alamat rumah kamu, setelah dokter mengizinkan pulang, saya bawa kamu ke sini.”
Kalimat itu sederhana, logis, masuk akal—namun tetap membuat kepala Bia berdenyut pelan karena rasa malu yang datang bertubi-tubi.
Ia memejamkan mata perlahan.
Bukan karena pusing, melainkan karena ia perlu menahan sesuatu di dadanya—rasa canggung, rasa sungkan, dan degupan jantung yang tiba-tiba terlalu terasa untuk ukuran pagi hari.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih tenang meski pipinya mulai hangat. “Maaf… saya merepotkan.”
Angkasa memperhatikannya sejenak, lalu menggeleng pelan. “Kamu tidak merepotkan.”
Kalimat itu diucapkan datar, tapi ada ketegasan yang tidak memberi ruang bagi Bia untuk membantah.
Setelah memastikan Bia benar-benar sudah sadar penuh—tatapannya fokus, napasnya stabil—Angkasa berkata bahwa sarapan sudah siap. Mereka berjalan keluar kamar dengan jarak satu langkah di antara mereka, cukup dekat untuk menyadari kehadiran satu sama lain, cukup jauh untuk tetap menjaga batas.
Meja makan apartemen itu menghadap jendela besar, cahaya pagi jatuh lembut di atas piring-piring sederhana yang tertata rapi. Mereka duduk berhadapan, dan sejak detik pertama, keheningan mengisi ruang di antara mereka—bukan keheningan yang canggung, melainkan yang sarat oleh pikiran yang sama-sama tidak diucapkan.
Bia menunduk pada makanannya, tapi sesekali matanya terangkat tanpa sengaja, hanya untuk mendapati Angkasa sedang melihat ke arahnya… lalu dengan cepat berpaling seolah tidak terjadi apa-apa. Angkasa pun melakukan hal yang sama—mengangkat cangkir kopi, menyesapnya pelan, lalu tanpa sadar mencuri pandang ke arah Bia yang sedang menyuap roti dengan gerakan hati-hati.
Akhirnya, Angkasa yang lebih dulu memecah keheningan.
“Kamu jangan terlalu memforsir diri kalau kerja,” ucapnya pelan tapi jelas. “Tubuh kamu bukan mesin. Kalau kamu tumbang lagi, bukan cuma kerjaan yang terganggu.”
Bia mengangguk kecil, jari-jarinya menggenggam sendok lebih erat dari yang ia sadari. “Baik, Pak,” jawabnya sopan. “Akan saya usahakan… tidak tumbang lagi.”
Angkasa menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas pendek. “Hari ini kamu libur dulu. Badan kamu perlu istirahat,” katanya, nadanya tidak memberi ruang tawar. “Setelah ini, saya antar kamu pulang.”
Bia refleks mengangkat wajahnya. “E—nggak usah, Pak,” tolaknya halus, terlalu cepat. “Saya bisa pulang sendiri naik ojek online. Nggak apa-apa, kok.”
Belum sempat ia menambahkan alasan lain, Angkasa sudah meletakkan sendoknya, menatap Bia dengan sorot mata yang tenang tapi tidak bisa ditawar.
“Tidak ada penolakan, Anabia,” ucapnya pelan, menyebut nama lengkapnya membuat jantung Bia berdetak lebih cepat. “Kamu tahu seberapa khawatirnya saya melihat kamu pingsan di kantor dengan hidung berdarah?”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah, lebih tegas.
“Kamu bawahan saya. Dan selama kamu bekerja di bawah tanggung jawab saya, keselamatan kamu juga tanggung jawab saya.”
Bia terdiam.
Tidak ada nada marah di sana. Tidak ada nada memerintah secara arogan. Hanya kekhawatiran yang jujur—dan itu jauh lebih membuatnya kehilangan kata-kata.
Ia menunduk pelan, mengangguk kecil. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya, nyaris berbisik.
**
tbc
note : hai para bestieee, untuk bab ini kita melipir ke couple Angkasa dan Bia dulu ya.
apalgi pas critanya dgantung setinggi harapan readernya.. byuhh sensasinya... wkwkwkkkkk,..
tp jgn lambat2 bgt jg yg Thor biar smkin byk yg baca krn kebanyakn reader baru suka alur cerita yg sat set.. cemungutttt author... 💪❤