NovelToon NovelToon
Luka Yang Tak Bersuara

Luka Yang Tak Bersuara

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan / Romantis / Cintapertama / Enemy to Lovers / Cinta Murni
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: wnd ayn

Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.

Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.

Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.


Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.

Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Danzel tiba di rumah sakit dengan cepat, dengan raut wajah gelisah dan penuh kekhawatiran ia berjalan cepat menuju ruangan pemeriksaan. Alice mengikuti di belakangnya, berusaha menjaga langkahnya tetap cepat agar tidak tertinggal.

"Semuanya akan baik-baik saja Danzel." Alice yang saat ini berada di sisi Danzel mencoba menenangkan pria itu

Danzel hanya tersenyum tipis

Setelah beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa ibu Danzel, keluar dari ruangan pemeriksaan. Dia melihat sekeliling dan bertanya kepada kedua anak remaja yang masih memakai seragam sekolahnya.

"Permisi, siapa disini keluarga pasien?"

Danzel segera melangkah maju."Saya dok, bagaimana kondisi ibu saya? apakah dia baik-baik saja?"

Dokter menghela napas sejenak sebelum menjawab. "Kondisinya cukup serius, ibu anda mengalami kecelakaan dan kami menemukan bahwa ada pendarahan internal yang cukup parah. kami harus melakukan tindakan operasi secepatnya."

Danzel terlihat terkejut dan cemas. "Operasi dok?"ulangnya 

"ya, Operasi sangat diperlukan untuk menghentikan pendarahan dan memastikan kondisinya stabil."

"Kami perlu persetujuan anda untuk segera memulai operasi." lanjut dokter tersebut 

Danzel mengangguk pelan merasa bingung dan takut. "Ya dok, lakukan yang terbaik untuk ibu saya."

"Baiklah kalau begitu, silahkan anda urus biaya administrasi dulu di bagian depan. Baru kami akan bisa segera langsung melakukan tindakan."

"Baik Terimakasih dok." Danzel segera pergi dengan raut wajah cemas dan bingung 

Menyadari jika ada sesuatu yang Danzel sembunyikan dari raut wajahnya, diam-diam Alice mengikuti langkah Danzel dari kejauhan.

**

Danzel berdiri di salah satu lorong rumah sakit yang tampak sepi, dia menghela napas panjang mencoba menenangkan diri. tetapi kepalanya penuh dengan pikiran yang berputar-putar. "Bagaimana caranya aku bisa membayar biaya operasi ini?" lirihnya 

Selama ini kehidupannya dan ibunya sudah cukup sulit, mereka hanya hidup dari usaha catering kecil-kecilan yang kadang hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Tetapi meskipun begitu ibu Danzel adalah seorang ibu pekerja keras, demi menyekolahkan putranya di sekolah ternama ia rela memeras keringatnya dengan penuh perjuangan. sedangkan sang ayah menelantarkannya begitu saja, dan tidak di ketahui keberadaannya.

Danzel merasakan gelombang frustasi yang menggelora dalam dirinya. dia mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.

Alice berdiri di ujung lorong, menatap pilu ke arah Danzel yang terlihat sangat terpukul. matanya memandang dengan keprihatinan yang mendalam melihat betapa sedihnya Danzel.

Setelah beberapa saat kemudian, Danzel kembali ke ruangan pemeriksaan dengan langkah lesu dan penuh keputusasaan. ya dia telah memutuskan untuk menunda operasi kepada ibunya karena tidak memiliki biaya yang cukup.

Namun, sesampainya disana. dia melihat Dokter dibantu beberapa perawat sedang mendorong brankar ibunya keluar dari ruangan. Danzel mengernyit dan dengan langkah tergesa dia menghampiri mereka.

"Dokter, kemana anda akan membawa ibu saya? tanyanya 

"Kami akan membawa ibu anda ke ruang operasi."

Danzel terkejut mendengarnya. "T-tapi dok, saya belum membayar biaya administrasi nya."

Dokter tersenyum lembut. "Tidak perlu khawatir, seseorang telah membayarnya. dan kami akan segera melakukan tindakan sekarang juga."

mata Danzel membesar, semakin terkejut sekaligus bingung. "Seseorang? Siapa dia?"

"seorang gadis yang bernama Alice Catlyn." jawab salah satu suster 

"Alice?" ulang Danzel terpaku di tempatnya 

Dokter permisi untuk segera melanjutkan tindakan membawa brankar ibu Danzel menuju ruangan operasi, Danzel mengangguk dan mempersilahkan nya.

"Danzel..."panggil Alice dari belakang dengan suara lembut tapi jelas

Danzel membalikkan badan ketika mendengar namanya di panggil. dia melihat Alice berdiri tak jauh darinya, gadis itu tampak tersenyum dengan penuh kehangatan dan ketulusan.

Danzel segera menghampiri Alice

"Terimakasih Alice, terimakasih banyak."ucap Danzel, suaranya bergetar 

"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas semua ini."lanjutnya lagi

Alice hanya tersenyum lembut, matanya penuh pengertian. "Aku melakukan semua ini karena aku peduli padamu dan ibumu. semoga saja operasinya berjalan dengan lancar, dan ibumu bisa sembuh seperti semula."

Tiba-tiba Danzel merasa dorongan yang kuat untuk menyalurkan kelegaan dan rasa harunya. 

Dia menarik Alice ke dalam pelukannya. pelukan yang dalam, tulus, seolah meluapkan semua rasa syukur yang tak bisa terucap. Alice terkejut sejenak, namun kemudian dia membalas pelukan yang terasa lembut dan nyaman itu..

Alice menggunakan uang tabungan nya, ya Alice memang memiliki sisi kemanusiaan yang sangat tinggi, ia berusaha menjadi sosok yang selalu ada untuk orang-orang terdekatnya.

Keesokan harinya, sore**

Masih mengenakan seragam sekolahnya, Alice berada di rumah sakit menjenguk ibu Danzel.

"…Nak Alice?" suara lembut terdengar. Ibu Danzel, Anjani, terbaring di ranjang. Wajahnya masih pucat, tapi sudah lebih segar dibanding kemarin.

"Iya, Bu? Apakah Ibu butuh sesuatu?" tanya Alice sambil tersenyum ramah.

Anjani menggeleng pelan. "Tidak ada, Nak. Ibu hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mau datang menjenguk."

Sebelumnya, Danzel sudah memperkenalkan Alice kepada ibunya. Bahkan pada kunjungan pertama, Alice dan Anjani sudah mengobrol cukup lama, membuat keduanya cepat akrab.

Alice tersenyum, lalu mengusap punggung tangan Anjani dengan lembut. "Sama-sama, Bu. Aku senang bisa membantu."

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

"Alice? Kamu di sini?" suara Danzel terdengar.

Alice menoleh dan tersenyum. "Kamu dari mana saja, Danzel?"

"Tadi aku keluar sebentar, cari angin," jawabnya singkat.

"Sejak kapan kamu datang?" lanjutnya.

"Sudah lumayan lama," jawab Alice.

1
Sari Nilam
terlalu lemah juga gak bagus thor katakter utamanya
Sari Nilam
bodohnya danzel
Sari Nilam
rachel jaih lebih licik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!