Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18.
"Bagaimana?" tanya Mark tersenyum lebar setelah Berwyn bersama istri Berwyn mencicipi hasil masakan yang ia buat.
Mata Berwyn seketika membulat setelah beberapa detik ia mengunyah, dan menyesap hasil masakan Mark.
Ia tidak menyangka Mark ternyata memang mahir dalam memasak, layaknya seperti seorang koki.
"I.. ini sangat enak sekali!!" katanya dengan mata berbinar.
"Iya, benar! enak sekali!!" kata istri Berwyn, Rebecca Kenneth, membenarkan apa yang dikatakan Berwyn.
Ivana sebelumnya sudah mencicipi masakan Mark, tapi ia tidak terlalu begitu meresapi hasil masakan yang dibuat suaminya itu.
Ia pun ingin mencicipi lagi masakan Mark, dan kali ini ia akan menilai hasil masakan Mark.
"Emmm.. iya! sangat enak!!" katanya dengan mata berbinar begitu menyentuh lidahnya.
Ia merasa heran, sejak kapan Mark pandai memasak.
Mark tersenyum puas mendengar apa yang dikatakan istrinya, dan juga tanggapan Berwyn beserta istri Berwyn.
"Bagaimana, apakah kamu setuju bersamaku untuk membuka bisnis restoran?" tanya Mark.
"Apakah kamu yakin, bisnis restoran akan menguntungkan? dan, lagi pula kita tidak memiliki modal untuk memulainya!"
"Kita memulainya dari restoran kaki lima terlebih dahulu, setelah modal terkumpul, kita baru menyewa sebuah toko untuk di jadikan restoran!" kata Mark mengusulkan awal mereka untuk berbisnis.
Berwyn berpikir sebentar, lalu ia pun menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Mark untuk berbisnis restoran.
Masakan Mark lumayan enak, dan ia yakin pelanggan yang mencicipi masakan Mark pasti akan menyukainya.
Ia sangat sulit mencari pekerjaan, dan gaji istrinya bekerja di pabrik tidak seberapa.
"Baik!" jawab Berwyn.
Mark tersenyum lebar mendengar jawaban Berwyn.
"Kalau begitu, mulai sore ini kita memulai usaha kita!" kata Mark membuat rencana.
Ia kemudian menjelaskan apa saja yang akan mereka butuhkan, untuk membuka usaha restoran kaki lima mereka.
Mark ingat pada malam hari, mulai jam enam malam alun-alun kota mereka selalu ramai.
Di sana banyak pedagang kaki lima membuka usaha jajanan, dan berbagai kuliner lainnya.
Tempat strategis untuk memulai usaha mereka.
Seperti apa yang diperkirakan Mark, alun-alun kota sudah mulai ramai oleh pedagang kaki lima, saat mereka datang untuk memulai bisnis mereka.
"Karena kita masih baru, menu makanan yang kita jual harus lebih murah dari restoran kaki lima lainnya untuk menarik pelanggan!" kata Mark.
"Baik!" jawab Berwyn menuruti saja apa yang dikatakan Mark.
Dengan penuh semangat mereka berdua mencari tempat yang cocok, untuk mulai buka restoran kaki lima mereka.
Sementara itu di kediaman Theodor.
"Ini sudah satu harian Mark keluar dari kediaman Theodor, apa kalian sudah lihat dimana dia tinggal?" tanya Melina pada ketiga anaknya, saat mereka makan malam di meja makan.
"Aku dengar, katanya Mark tinggal di rumah kosong milik keluarga Berwyn!" jawab Marley.
"Huh! kita lihat saja, sampai kapan dia bisa mandiri tanpa bantuan keluarga Theodor!!" dengus Melina meremehkan Mark.
"Kalau dia minta balik lagi ke kediaman kita, aku ingin dia membuat perjanjian diatas kertas, agar dia tidak bersikap arogan lagi!!" kata Alice penuh dendam, karena sikap Mark yang tiba-tiba jadi pemarah.
"Aku heran, sampai saat ini tidak tahu kenapa dia bisa berubah! siapa yang sudah menghasutnya!!" kata Frank Theodor sembari berpikir dengan kening berkerut.
"Siapa lagi kalau bukan perempuan kampung itu!!" cibir Melina dengan sinis.
"Ya, aku yakin si Ivana itu yang menghasut Mark, Ma!!" istri Mario, Agatha, mendukung perkataan mertuanya menebak, siapa yang telah membuat Mark berubah.
"Anehnya, kan biasanya Mark yang lebih keras dari Ivana! Mark selalu membentak Ivana kalau kita mengadu, soal Ivana tidak becus mengerjakan pekerjaan rumah!!" kata Marley merasa bukan Ivana yang membuat Mark berubah.
"Alice! Marley!!!"
Tiba-tiba mereka mendengar seseorang memanggil nama Alice dan Marley.
"Siapa yang memanggil??!" tanya Melina seketika berdiri dari duduknya.
Merasa penasaran mereka serentak meninggalkan meja makan, dan melihat di pekarangan rumah telah berdiri teman Alice, serta mantan teman Mark.
"Danielle! Felix!!" Alice menyebut nama ke dua temannya itu, dengan kening berkerut, "Ada apa??" tanyanya kemudian.
"Nyonya Melina, Tuan Theodor! Mark buka usaha restoran kaki lima di alun-alun!!" kata Felix melapor tentang Mark.
"Hah?! restoran kaki lima??" Melina terkejut mendengar pekerjaan Mark setelah pisah rumah.
"Iya! dia buka restoran bersama dengan Berwyn!!" jawab Danielle.
"Ohhh.. ternyata dia memaksa pisah rumah, sudah merencanakan untuk buka usaha restoran! dasar anak tidak tahu berterimakasih!!" kata Frank Theodor dengan raut wajah, yang terlihat tidak senang mendengar tentang usaha yang dijalankan Mark.
"Dia pasti selama ini berpura-pura jadi penurut, rupanya dia sudah punya rencana ingin pisah dari keluarga Theodor!!" kata Marley menambahkan dengan nada tidak senang juga, mendengar pekerjaan Mark.
"Dia pasti selama ini sudah korupsi, selama membantu mu di pasar!!" Melina pun seketika berpikiran negatif, tentang Mark dapat membuka usaha restoran kaki lima.
"Iya! benar, Pa! dia bisa buka usaha restoran dapat uang dari mana, kalau tidak dari hasil menggelapkan uang berjualan di pasar!!"
Alice pun berpikiran sama seperti Ibunya, mencurigai Mark mengambil uang dari hasil berjualan di pasar.
"Sialan! dia sudah menipu kita! Ayo! aku mau ingin membuat perhitungan padanya!!" kata Frank Theodor dengan penuh emosi.
"Aku ikut, Pa!!" Marley bergegas mengikuti langkah Ayahnya.
"Aku juga ikut!!" Alice tidak mau ketinggalan, dengan langkah cepat mengikuti Ayahnya.
"Kalian di rumah saja, biar kami yang pergi!!" kata Melina kepada Mario dan Agatha.
Sementara itu di alun-alun kota.
Mark merasa sangat senang, setelah ia dan Berwyn selesai meletakkan posisi meja dan kursi, dua pembeli langsung menghampiri meja mereka.
Dengan penuh semangat Mark meracik makanan, yang telah ia targetkan untuk mereka sajikan pada malam ini kepada para pelanggan.
"Apa tidak salah dengan harganya? ini terlalu murah! nasi putih dengan telur isi, serta dua macam sayur, harganya cuman seratus lima puluh perak??" tanya salah satu pelanggan yang telah mencicipi masakan Mark.
"Itu harga promosi, karena kami baru saja buka, mungkin lain hari akan ada kenaikan harga, sesuai dengan menu apa yang diinginkan pelanggan!" kata Mark menjelaskan.
"Ohh!"
"Iya, harganya terlalu murah! masakan anda sangat enak sekali!" kata pelanggan lainnya.
"Wangi sekali, makanan apa yang dijual di sini, kenapa begitu wangi!!"
Beberapa pejalan kaki, yang sepertinya ingin mencicipi makanan kaki lima alun-alun tersebut, berhenti di depan lapak restoran kaki lima Mark.
"Sepertinya enak!" sahut yang lain melihat dua pembeli, yang tengah duduk sedang mencicipi masakan restoran Mark.
"Iya, ini sangat enak sekali, Tuan! anda perlu mencicipinya, harganya murah lagi!!" jawab salah satu pelanggan baru Mark.
"Oh, aku mau coba kalau begitu!!"
"Aku juga mau!!"
Beberapa pejalan kaki yang mencium aroma masakan Mark, seketika ikut juga ingin mencicipi.
"Baik! silahkan duduk Tuan!!" jawab Berwyn melayani pelanggan baru tersebut.
Senyum Mark semakin lebar melihat pelanggan, yang antusias ingin menikmati masakannya.
Dengan cekatan tangannya segera bekerja untuk meracik masakan, yang akan membuat para pelanggan barunya akan menyukai hasil masakannya.
Bersambung........
akhirnya up juga ya Thor,, sehat selalu ya
rasain Daniela