Kisah seorang lelaki yang baik hati "Tuan Sempurna" menolong seorang wanita korban pemerkosaan yang hampir bunuh diri. Akhirnya ia menjadi suami pura-pura wanita itu untuk membohongi ibu sang wanita. Hingga akhirnya keduanya saling jatuh cinta. Namun saling mengingkari rasa. Dan setelah berbagai ujian menerpa, akhirnya mereka bisa bersatu.
Tahap Revisi
Maaf jika kurang nyambung. Saya akan segera menyelesaikannya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amy Larahati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spageti
"Yummiii ... kelihatannya enak," ucap Medina sambil menonton acara mukbang di salah satu stasiun televisi. Kemudian ia kembali menggigit biskuit yang sedari tadi dikunyahnya sambil menonton televisi.
"Sayang, Mama kok malah jadi pengen spageti ya? Yang kayak di televisi itu." Medina mengusap perutnya yang masih belum membuncit.
"Tapi kan ... kalau jam segini mau cari dimana? Lagi pula Oma pasti nggak izinin kita keluar? Oma tak mau kita tidur larut malam," kata Medina berbicara sendiri menahan agar air liurnya tidak menetes.
"Jangan nakal ya sayangku? Besok kita cari spageti yang sama persis ya? Sabar ya Nak, tunggu sampai besok saja," kata Medina lagi-lagi menghibur diri.
Ray yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengarkan kata-kata wanita itu dengan seksama dan tersenyum lebar. Ia juga gemas melihat ekspresi Medina yang sedang mengidam.
"Uhh ... manis sekali cara Medina berbicara dengan bayinya." batin Ray gemas.
"Em, Mas Ray yang akan masakkan," kata-kata Ray yang meluncur begitu saja membuyarkan khayalannya memakan spageti.
"Ha?" Dahi Medina mengkerut tak paham. Ray hanya diam tak menjawab.
Ray berlalu dari kamar itu dan turun menuju dapur. Medina yang keheranan mengekor di belakang Ray layaknya anak ayam mengikuti induknya.
Sesampai di dapur dia segera mengambil celemek dan memasangkan di badannya. Ia segera mengambil panci untuk merebus pasta. Ia mengisi panci dengan air kemudian memanaskannya di kompor. Sembari menunggu air panas, Ray dengan cekatan mengiris bawang merah, bawang putih, paprika dan bahan lainnya. Setelah air mendidih ia memasukkan pasta dan menunggu sampai matang.
Medina yang melihat bakat terpendam laki-laki yang sejak awal sudah memiliki segalanya itu, sampai terbengong-bengong.
"Apa sih Mas yang nggak bisa kamu lakukan? Oh Tuhan .. ini sungguh nggak adil, laki-laki ini memiliki segalanya," batin Medina iri.
Medina tak menyangka laki-laki gentle, tampan dan seorang pengusaha yang mapan itu juga pandai memasak. Medina bertepuk kecil melihat kepiawaian Ray. Ray yang mendapatkan pujian secara tak langsung dari Medina hanya tersenyum bangga masih fokus terhadap pekerjaannya.
Medina kembali fokus melihat pekerjaan Ray yang sedang membuat saus pasta. Tercium bau harum dari bumbu-bumbu yang di tumis membuat air liurnya meleleh. Medina layaknya seorang anak kecil yang menunggu ibunya memasak dan tak sabar untuk makan. Matanya berbinar melihat makanan yang sedari tadi dia idam-idamkan.
Ray yang melihat ketenangan wanita itu, tak bersuara sama sekali. Membuatnya sesekali menoleh Medina yang takjub melihat spageti yang belum siap seperti seekor anak kucing minta makan.
"Nah coba, aa ...." Ray menyodorkan sepucuk sendok untuk Medina rasakan.
Medina membuka mulut dan menyambut sendok tersebut.
"Bagaimana?" tanya Ray antusias.
Medina tiba-tiba memperlihatkan ekspresi aneh, dahinya mengkerut. Ray menjadi kecewa karena Medina terlihat tak menyukai masakannya.
"Nggak enak ya? Ya sudah besok saja beli deh kalo gitu," kata Ray siap-siap mengangkat panci berisi saus dan hendak membuangnya.
"Eh jangan," cegah Medina cengar cengir sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Enak?" tanya Ray yang ditanggapi anggukan oleh Medina.
"Dasar, sengaja mengerjaiku ya? Aku hampir saja kecewa, kalau kamu tak meyukainya," Ray mengacak rambut Medina dengan sayang. Medina lagi-lagi nyengir kuda.
"Sana tunggu di kamar nanti aku panggil kalau sudah siap," kata Ray.
"Kan sudah hampir siap, jadi Me disini saja," tolak Medina tak bergeming.
"Yah ... kan Mas Ray mau plating, biar jadi kejutan gitu," kata Ray tersenyum.
"Ya sudah iya deh ...."Medina kembali ke kamarnya.
"Jangan turun sampai Mas jemput," kata Ray sedikit berteriak agar Medina yang sudah naik tangga dapat mendengarnya.
Ray segera menyelesaikan masakannya dan menata dua porsi spageti di meja makan. Ia juga membuat dua gelas jus buah naga tanpa es untuk mereka berdua. Ia memperhatikan kesehatan Medina dan bayinya jadi ia menghindarkan Medina makan es malam-malam.
Setelah semua siap, Ray tersenyum puas melihat karyanya. Tak lupa ia menyalakan sebuah lilin di atas meja menambah kesan romantis. Ia melepas celemek yang sedari tadi dipakainya. Ia melangkah naik ke kamar atas dan memanggil Medina.
"Tutup mata dulu!" perintah Ray pada Medina ketika baru keluar dari kamar.
"Buat apa? Me kan udah tahu Mas masak apa," jawab Medina.
"Ya kan Me belum tahu tampilannya kan? biar surprise. Sudah sini!" Ray menarik Medina dan melingkarkan tangan kanannya memeluk pinggang Medina. Satu tangan lagi mencoba menutup mata Medina.
"Apa sih mas, Nanti kalau Me jatuh bagaimana? Di tangga kan bahaya?" ucap medina mengomel sambil tangannya berpegangan pada pegangan tangga. Padahal dalam hati Medina sangat bahagia diperlakukan begitu manis.
"Kan ada Mas, Mas jamin kamu nggak akan jatuh." Akhirnya Medina yang merasa tak bisa membantah perkataan laki-laki keras kepala itu menurut saja.
"Tadaaa ...," ucap Ray membuka tangannya yang menutup mata Medina.
"Woww ...." Medina terkagum-kagum.
"Bagaimana? Me suka?" tanya Ray.
"Suka sekali Mas. Terimakasih." Medina menatap masakan Ray dengan mata berbinar.
"Silakan duduk Tuan putri," ucap Ray menarik kursi untuk Medina duduk. Medina yang diperlakukan seperti itu kembali tersentuh.
Ray juga akhirnya duduk di samping Medina. Mereka berdoa sebentar sebelum menyantap makanan. Namun belum sempat Ray menyuapkan spageti kedalam mulutnya, ponselnya berdering kuat.
"Em, maaf Mas angkat telepon sebentar ya Me?" Ray menjauh dari Medina untuk mengangkat telepon. Medina menatap punggung Ray dengan kecewa. Ia dapat menebak siapa yang menelepon laki-laki itu malam-malam.
"Mas, kamu ada dimana sih? Aku cari di rumah Oma juga nggak ada?" tanya wanita di seberang telepon penuh emosi .
"Maaf Aurel, karena pernikahan kita diundur. Mas memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan Mas dulu di Jakarta." Ray menjelaskan.
"Mas Ray benar-benar sudah nggak peduli ya sama aku, aku kan sudah bilang nggak usah kembali ke Jakarta. Eh, kamu masih ngeyel juga," kata Aurel marah-marah.
"Ini juga besok sudah kembali kok sayang. Sabar ya?" hibur Ray.
"Kukira Mas akan kabulin permintaanku untuk segera menikah. Nyatanya kamu mengiyakan begitu saja kata-kata oma tanpa usaha membujuk oma. Sudahlah Mas Aurel capek," kata wanita itu mematikan sambungan telepon.
"Karena kamu sendiri yang tak mau segera menikahiku. Jangan salahkan aku jika aku harus menggunakan cara licik Mas," ucap Aurel menyesap sebatang rokok yang berada di sela jarinya. Ia menghembuskan kasar sebelum masuk lagi kedalam sebuah klub malam.
"Hhhhhh ...." Ray menghela nafas kasar.
Ray teringat kembali pada Medina yang ia tinggalkan di meja makan. Ia segera kembali ke meja makan. Namun orang yang ia cari tak ada disana lagi, spageti yang berada di meja makan masih utuh tak tersentuh sama sekali. Ray menggeram frustasi menghadapi dua wanita yang kini ada di hatinya. Gara-gara menjawab panggilan dari Aurel, Medina marah dan tak menyentuh sama sekali spageti yang ia masak. Padahal wanita itu tadi sangat bersemangat untuk makan. Ray merutuki dirinya yang membuat wanita itu tak jadi memakan makanan yang diidamkannya.
biar dia bs jodoh SM tuan sempurna...dn ga d kejar" ayah nya Gibran lg.