Alurnya mengandung kontroversi, jadi cerdaslah dalam menyikapinya. Jika penasaran mengapa mengambil alur semacam ini disarankan membaca hingga tuntas agar paham akan pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ini.
Yang tidak kuat dengan alur semacam ini harap diskip saja 😊🙏.
Terima kasih dan selamat membaca.
*****
Kisah tentang seorang gadis bernama Bunga berusia 23 tahun yang sering mendapatkan pertanyaan dari orang-orang terdekatnya. Sebuah pertanyaan yang menjadi stigma di masyarakat dan paling ingin dihindari oleh setiap orang yang tak kunjung mempunyai pasangan.
"Umur kamu sudah segitu, kapan menikah?"
Pertanyaan yang seakan sederhana bagi yang bertanya, tetapi tidak bagi orang yang mendapatkannya.
Kemudian dia bertemu dan jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Sastra Prawira, seorang Sastra dengan sejuta pesona yang menyihir dirinya yang tak berpengalaman.
Namun, sayangnya Sastra adalah sosok yang tidak percaya terhadap ikatan pernikahan karena trauma masa lalu yang dialaminya, bertolak belakang dengan Bunga yang sangat mengejar status tersebut akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya.
Kisah dua jiwa terluka, yang tertatih-tatih mencari penawarnya.
Bagaimanakah kelanjutannya? Akankah berlabuh pada ikatan suci tersebut atau malah sebaliknya?
Selamat membaca....
---
Warning 21+ ⚠️. Harap bijak memilih bacaan.
DILARANG PLAGIAT CERITA INI!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KM Part 18
Satu minggu yang lalu Bunga mengajukan surat pengunduran dirinya di swalayan dan hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di sana. Teman-temannya mengucapkan salam perpisahan penuh haru, terutama Nana dan Deni karena mereka sudah bersama-sama hampir tiga tahun.
"Bunga jangan lupakan kami ya hiks hiks." Nana terisak.
"Mana mungkin aku melupakanmu kodomoku?"
"Apa itu kodomo?" tanya Nana sambil mengusap air matanya.
"Kodomo kan teman baikku," ucap Bunga sambil berkaca kaca.
"Bungaaaaa... kenapa di saat seperti ini kamu malah bercanda." Nana malah makin terisak. Mereka berpelukan dan Deni pun ikut bergabung memeluk mereka.
"Kalau pulang kesini kamu harus janji kita akan bermain bersama lagi," ucap Nana sambil mengelap ingusnya yang ikut berderai bersamaan dengan air matanya.
"Tentu saja, aku akan merindukan kalian." Bunga ikut terisak.
"Jangan lupa tetap saling berkirim pesan ya," ucap Deni dan Nana berbarengan. Bunga mengangguk sambil menangis dan mereka berpelukan kembali.
****
Pagi-pagi sekali Bunga sudah bersiap-siap. Hari ini ia sudah tidak bekerja lagi di swalayan. Bunga sedang menyiapkan berkas lamaran yang akan diserahkannya pada Sastra. Bunga menghubungi nomornya karena kemarin mereka sudah sepakat untuk sarapan bersama di luar.
"Halo, good morning my pretty girl." Sastra mengangkat teleponnya.
"Morning too. Sas aku sudah siap nih, kita mau janjian ketemu di mana?"
"Maaf, sepertinya tentang janji kita sarapan bersama aku tidak bisa." Suara Sastra terdengar serak tidak seperti biasanya.
"Sas kenapa suaramu serak begitu?" tanya Bunga khawatir.
"Aku tidak enak badan dan sedikit demam. Jadi aku tidak bisa menepati janjiku, kalau bisa antarkan saja berkasmu ke apartemenku," sahutnya.
"Baiklah, nanti aku ke sana naik ojol."
"Aku khawatir kalau kamu naik ojol, biar kusuruh sopir di kantorku untuk menjemputmu. Kamu tunggu sebentar ya dan nggak ada tapi-tapian," pinta Sastra setengah memerintah.
"Baiklah tuan otoriter," gerutu Bunga. Sastra terkekeh mendengar umpatan gadisnya.
"Aku akan menunggu di halte saja supaya sopirmu lebih mudah menjemputku, kalau masuk ke jalan kecil ini nanti dia akan kesulitan menemukan alamatku," usul gadis itu pada Sastra.
"Ya sudah terserah kamu. Aku akan menyuruh sopirku untuk secepatnya menjemputmu."
Bunga segera berjalan menuju halte, tak lama sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti dan seorang laki-laki setengah baya seumuran bapaknya Bunga turun dari mobil menghampirinya.
"Dengan Nona Bunga?"
'Iya Pak." Bunga menganggukan kepalanya.
"Kenalkan saya sopirnya pak Sastra panggil saja saya pak Pendi." Pak Pendi membungkuk dengan sopan.
Pak Pendi membukakan pintu mobil untuk Bunga. Sebelum masuk ke dalam, Bunga berpesan pada sopir tersebut untuk mampir dulu ke kedai bubur juga ke tempat penjual buah-buahan serta sayuran. Tak lupa ia juga meminta mampir ke apotek untuk membeli obat.
*****
Bunga sudah sampai di depan pintu apartemen Sastra. Ia memasukkan kode kunci di pintu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Bunga tak habis pikir saat minggu lalu kekasihnya itu memberi tahunya bahwa kode pintunya adalah 1111.
Alasannya karena dia sering lupa dengan kode tempat tinggalnya itu karena dulu lebih banyak tinggal di luar negeri, jadi dia memutuskan angka tersebut sebagai kode kunci pintunya agar mudah di ingat.
Pintu terbuka. Bunga melangkah masuk kedalam dan meletakkan berkas serta belanjaannya di meja ruang tamu kemudian mengetuk pintu kamar Sastra.
"Sas, ini aku. Boleh masuk?"
"Masuklah, pintunya nggak di kunci." terdengar suara Sastra dari dalam.
Saat pintu terbuka tampaklah Sastra yang sedang berbaring dan menggulung dirinya dengan selimut. Bunga mendekat ke ranjang dan duduk di tepiannya lalu menempelkan tangannya di dahi Sastra.
"Ya Tuhan... kamu demam tinggi." Bunga meringis merasakan tingginya suhu panas di dahi kekasihnya itu.
Sastra langsung membuka gulungan selimutnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Bunga menghadap ke perutnya kemudian memeluk pinggang gadis itu.
"Sayang, aku sakit karena terlalu merindukanmu," rengeknya.
"Cih dasar manja! Sepertinya kamu tidak benar-benar sakit karena masih kuat menggombal." Tangan Bunga bergerak mengelus kepala Sastra.
"Aku tidak bohong, aku beneran sakit! Akhir-akhir ini tidurku tak nyenyak karena tidak ada yang memelukku seperti guling, jadi kamu harus bertanggung jawab." Kemudian Sastra makin mengeratkan pelukannya.
Bugh..., Bunga memukul lengan pria itu. "Jangan modus! Sekarang lepaskan pelukanmu, kamu harus sarapan dan segera meminum obatmu agar demamnya turun."
"Tidak mau!" Sastra malah makin mendusel di pangkuan Bunga.
"Jangan keras kepala cepat lepaskan pelukanmu." Bunga mencubit perut Sastra.
"Awww awww sakit!" teriak Sastra yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Sayang kamu jahat!" ucap Sastra dengan wajah cemberut. Bunga hanya menggedikkan bahunya dan segera beranjak dari ranjang.
Gadis itu menuju dapur menuangkan bubur yang dibelinya tadi kemudian mengupas apel dan menyiapkan segelas besar air putih hangat. Diletakkannya semua makanan di atas nampan dan membawanya ke kamar Sastra.
Bunga meletakkan nampan di nakas dekat ranjang lalu menata bantal untuk Sastra agar bisa duduk dan bersandar dengan nyaman. Bunga mengambil semangkuk bubur yang masih mengepul lalu memberikannya pada Sastra.
"Sas, kamu makan bubur dulu. Saat demam kamu harus makan makanan yang lembut agar mudah di cerna."
"Aku tidak suka bubur! Kecuali kamu mau menyuapiku," pintanya keras kepala.
Ya Tuhan kenapa dia jadi manja begini sih, kalau karyawannya tahu bahwa CEO-nya merengek ketika sakit pasti jadi viral di kantornya
Bunga terkikik geli dalam hatinya. "Ya sudah aku suapi. Sekarang aaaaa... buka mulutmu," pinta Bunga.
"Panggil aku sayang." Sastra merajuk dan Bunga mulai kesal.
Dasar bayi besar keras kepala.
"Baiklah, sayaaaaaang... aaaa... cepat makan buburnya," ucap Bunga geram dengan mata melotot.
Sastra membuka mulutnya kemudian mengunyah buburnya dengan senyuman puas ke arah Bunga. Gadis itu menyuapinya dengan telaten hingga semua makanan yang ada di nampan habis tak tersisa. Kemudian Sastra meminum obatnya dan kembali bersandar di ranjang.
"Kamu senang sudah menindasku?" Bunga memicingkan mata dan mencebikkkan bibirnya.
Sastra terkekeh lalu meraih tangan Bunga dan mengecupnya lembut.
"Terima kasih. Hari ini aku seneng banget karena ternyata pacarku sangat sangat perhatian. Sepertinya aku akan segera sembuh," rayunya
"Cepatlah sembuh agar tidak merepotkanku lagi," sahut Bunga dengan senyum cantiknya.
Kemudian Bunga mengerutkan kedua alisnya dan menatap Sastra.
"Jangan-jangan sakitmu hanya alasan saja?" Bunga melemparkan tatapan mencela pada Sastra.
"Aku beneran sakit. Bahkan semalam aku benar-benar tidak bisa tidur karena kepalaku sangat sakit." Sastra kembali merengek.
"Iya deh aku percaya kok, jadi kepalamu sakit?"
Sastra menggangguk sambil memanyunkan bibirnya. Ternyata saat sakit dia ini menggemaskan juga.
"Kemarilah, aku akan memijat kepalamu."
Bunga menepuk-nepuk pahanya dan tentu saja dengan senang hati sastra langsung meletakan kepalanya di pangkuan Bunga. Bunga memijatnya dengan lembut dan Sastra tersenyum senang lalu memejamkan matanya.
Tak lama kemudian setelah tiga puluh menit berlalu Sastra pun tertidur pulas, mungkin karena efek obat dan pijatan Bunga yang sangat nyaman di kepalanya dia langsung jatuh tertidur dengan lelapnya.