Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Keajaiban
Beberapa jam kemudian...
POV Dokter
"DIA KEHILANGAN KESADARAN, RESUSITASI!" teriakku.
Pelurunya berada di titik yang sangat sulit, nyaris mustahil dikeluarkan. Sepanjang operasi Hendra berkali-kali hampir mati dan mengalami henti jantung, tapi tim medis selalu berhasil menghidupkannya kembali. Akhirnya, setelah sangat lama, aku berhasil mengeluarkan peluru-peluru itu. Karena henti jantung yang berulang, kami memutuskan memberinya koma terinduksi selama seminggu agar pemulihannya lebih baik. Setelah semuanya selesai, aku menemui keluarga di ruang tunggu.
POV Ratna
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?"
POV Dokter
"Saya harus mengatakan bahwa kami berhasil mengeluarkan peluru-pelurunya, tapi kondisinya sama sekali tidak baik. Dia dalam koma terinduksi dan akan begitu selama seminggu. Selama itu kita akan mengamati perkembangannya. Tapi, saya harus jujur, hanya keajaiban yang... Maaf." Aku bicara dengan sedih.
POV Sekar
Dadaku sakit tak tertahankan mendengarnya. Semua orang berpelukan dan menangis hebat di tengah ruangan itu.
POV Baskoro
"Bolehkah kami menjenguknya, Dok?"
POV Dokter
"Boleh, satu per satu."
POV Ratna
"Saya duluan." Aku masuk ke ruangan itu. "Anakku..." Aku menangis. "Jangan lakukan ini pada Ibu, Sayang, berjuanglah, bangun dari ranjang itu dan kembali pada kami." Beberapa menit kemudian aku keluar.
POV Baskoro
Aku masuk ke ruangan itu. "Nak..." Aku menangis. "Maafkan Ayah karena menjadi ayah yang buruk, kumohon. Jangan renggut kesempatan Ayah memperbaiki kesalahan-kesalahan Ayah padamu. Bangunlah dari ranjang itu dan beri Ayah kesempatan baru." Beberapa menit kemudian aku keluar.
Setelah itu beberapa orang lain masuk bergantian, tapi Sekar tidak.
POV Beti
"Kamu tidak menjenguknya, Sayang?"
POV Sekar
"Aku masuk paling akhir, karena aku akan tinggal di sana."
POV Dokter
"Maaf, tapi Anda tidak bisa tinggal. Saya akan menempatkan seseorang untuk menjaganya."
POV Sekar
"Dok, saya mohon, biarkan saya di sisinya. Saya tidak sanggup menanggung kegelisahan ini dari kamar saya."
POV Dokter
"Baiklah, tapi berjanjilah tetap waspada dan panggil perawat kalau ada apa pun."
POV Sekar
"Saya janji." Tak lama semua orang membereskan diri dan pergi. Bu Ratna dan Pak Baskoro pulang ke rumah, Bu Beti kembali ke pekerjaannya, dan aku masuk ke ruangan itu. Kutarik sebuah kursi malas di dekat sana, duduk di sampingnya, dan menggenggam tangannya.
"Kalau kamu tidak bangun dari ranjang ini, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri... Tolong jangan lakukan ini padaku, sekarang aku cuma punya kamu, dan meski aku membencimu, aku tidak mau kamu mati, dasar bodoh... Jadi kembalilah pada kami, kembalilah padaku." Aku menangis hebat. Beberapa menit kemudian aku tertidur di sana.
POV Beti
"Sayang, ayo makan dulu." Aku membangunkannya.
POV Sekar
"Aku tidak lapar, Bu Beti, tapi kalau bisa tolong bawakan sesuatu... Aku tidak akan keluar dari sini."
POV Beti
"Iya, Ibu bawakan, Nak. Ibu juga bawakan baju ganti supaya kamu bisa mandi. Di belakangmu itu ada kamar mandi, pakai saja."
POV Sekar
"Terima kasih." Ia keluar dan segera kembali membawa semua yang kubutuhkan. Aku memaksa diri makan sedikit lalu mandi. Saat kembali, air mataku tumpah lagi melihatnya dalam keadaan begitu. Ranjangnya lebar, jadi aku berbaring di sampingnya dan tertidur di dadanya, hati-hati agar tidak melukainya.