yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENCI JADI CINTA ( bab 3 )
Hari-hari berikutnya terasa semakin tegang. Marco seakan menjauhiku lebih jauh lagi sejak kejadian sore itu. Dia bahkan hampir tidak pernah terlihat di rumah. Keheningan di kediaman besar itu terasa mencekam, seakan setiap sudutnya menyimpan rahasia gelap yang siap menelan siapa pun yang berani mengintip.
Malam itu badai datang menghantam. Petir menyala-nyala membelah langit gelap, dan hujan turun deras memukul kaca jendela. Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, namun mataku belum terpejam. Tiba-tiba suara gaduh — benturan keras di lantai bawah — membuatku tersentak dari tempat tidur.
Jantungku berpacu kencang. Rasa takut bercampur rasa khawatir mendorongku turun perlahan. Saat aku sampai di tangga, darahku terasa berhenti mengalir.
Marco bersandar di dinding, napasnya berat dan tidak beraturan. Satu tangannya menekan kuat ke bagian perutnya, dan di antara jari-jarinya yang meremas… terlihat cairan merah menetes perlahan ke lantai marmer yang bersih. Kemeja hitamnya sudah basah dan ternoda darah.
"Marco!" Seruku tanpa sadar, dan aku langsung berlari ke arahnya.
Matanya yang biasanya tajam dan penuh kebencian kini terlihat kabur dan lelah. Saat aku mendekat, dia mendongak, dan alih-alih menerima bantuanku, dia justru menatapku dengan amarah yang meledak-ledak.
"Jangan mendekat!" suaranya parau, namun dia tidak bisa menahan tubuhnya yang miring ke samping.
Aku tidak berhenti. Aku langsung menahan bahunya agar tidak jatuh ke lantai. Dia mencoba mendorongku, tapi kekuatannya habis.
"Pergi… aku bilang pergi…" desisnya lemah, keringat dingin menetes di dahinya. "Jangan senang melihatku seperti ini… kamu pasti menunggu aku hancur, kan?"
Air mata tiba-tiba mengalir di pipiku. "Kamu pikir aku sejahat itu? Aku mungkin tidak mengerti duniamu, tapi aku tidak pernah berharap kamu terluka! Aku juga manusia, Marco! Aku punya hati yang bisa khawatir!"
Kata-kataku membuat dia terdiam sejenak, terkejut melihatku berbicara dengan berani. Tanpa menunggu izin, aku membantunya berjalan perlahan menuju ruang kerjanya, lalu mengambil kotak obat yang kutemukan di lemari ruang tamu.
Dia menatap tanganku yang gemetar saat aku hendak membuka kancing kemejanya.
"Berhenti… jangan rendahkan dirimu untukku…" suaranya melemah.
"Aku melakukannya bukan karena aku harus, tapi karena aku tidak ingin kamu terluka sendirian di sini."
Aku membersihkan lukanya dengan hati-hati. Saat kain basah menyentuh kulitnya, dia meringis sedikit, tapi matanya terus menatapku — bukan dengan kebencian, melainkan dengan tatapan bingung, seakan dia tidak percaya ada orang yang mau menyentuhnya tanpa rasa takut atau kepura-puraan.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya tiba-tiba, suaranya sangat pelan di tengah suara hujan di luar. "Semua orang takut padaku. Semua orang hanya menginginkan sesuatu dariku. Uang. Kekuasaan. Keamanan. Tapi kamu… kamu tidak punya apa-apa dariku, dan kamu tetap di sini."
Tanganku berhenti sejenak. Aku menatap lurus ke matanya.
"Karena di balik nama Qing yang ditakuti semua orang… aku melihat seorang lelaki yang kelelahan. Kamu tidak selalu kuat, Marco. Bahkan raja pun butuh tempat untuk beristirahat."
Dia terdiam lama. Matanya perlahan terpejam, tapi tangannya yang dingin perlahan… sangat pelan… menyentuh punggung tanganku yang sedang membalut lukanya. Sentuhan itu begitu singkat, seakan dia sendiri tidak sadar melakukannya.
"Jangan buat aku menyesal membiarkanmu tetap di sini, Yuna…" gumamnya pelan, sebelum akhirnya kesadaran meninggalkannya.
Aku menunggunya sampai dia terlelap, duduk di kursi dekatnya sepanjang malam, menjaganya tanpa tidur. Untuk pertama kalinya, kebencian di antara kami seakan menipis, digantikan oleh sesuatu yang rapuh namun nyata — kepercayaan yang baru saja mulai tumbuh.
Namun aku tidak tahu… bahwa malam itu adalah awal dari segalanya. Bahwa saat dia terbangun besok paginya, dia akan kembali menjadi Qing yang dingin. Dan rahasia besar yang dia sembunyikan… perlahan mulai menarik ku masuk ke dalam bahaya yang jauh lebih besar dari sekadar luka fisik.
BERSAMBUNG...