Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa?
Malam menjelang. Makan malam sudah selesai beberapa menit yang lalu. Kini tinggal piring kotor dan perut begah yang menyulitkan untuk bergerak. Rey dan Nicko duduk di sofa sembari menyaksikan pertandingan bola, sedangkan Hans, Adam, dan Erica duduk melingkar di karpet menemani Zhafran bermain.
"Kenyang sekali," ucap Nicko seraya mengelus perutnya yang agak membuncit. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Pantas saja tidak ada perempuan yang mau, ternyata perutmu buncit begitu!" Komentar Rey melirik perut Nicko dengan tidak nyaman. "Lihat! Duda anak satu itu perutnya masih six pack."
"Sorry, tapi tidak ada duda di sini." Adam menyahuti ucapan Rey yang diarahkan padanya.
"Percuma perut kau six pack, tapi otakmu sering nghang." Timpal Hans yang disambut tawa lebar dari ketiga sahabatnya. Rey memang paling tampan diantara mereka, tapi sayang lelaki itu tidak memiliki otak secemerlang Adam.
"Yang penting tampan dan mapan." Rey menyombongkan diri. Soal harta, ia berada di urutan kedua setelah Nicko. Saat usianya menginjak dua puluh enam tahun, Rey diberi kepercayaan untuk menempati posisi penting di perusahaan keluarga. Tak ayal, hal itu membuat Rey semena-mena. Angkuh dan sombong menjadi ciri khas seorang Rey.
"Pantas kau sering di bohongi perempuan itu, ternyata.." Nicko menggantung ucapannya. Kepalanya menoleh ke arah Adam yang juga tengah menolehkan kepala ke arahnya. Lagi, sorot mata Adam membuat Nicko bergidik.
"Ternyata apa?" tanya Erica, ingin tahu lebih lanjut apa yang akan Nicko katakan.
"Ternyata kau masih kecil, jadi jangan ikut campur," tukas Rey dengan wajah tidak bersahabat.
Erica terdiam lalu beringsut mendekati Adam. Matanya berkaca-kaca. Ia lemparkan pandangannya ke sembarang arah, mencoba menghidarkan matanya dari tatapan orang.
"Kau kenapa sih Rey!" Bentak Adam yang menyadari hati Erica terluka karena perkataan Rey.
"Kenapa apanya? Memang benar kan dia masih kecil? Lagi pula dia perempuan, tidak usah ikut campur masalah laki-laki. Di dapur saja, sana! Piring kotor bukannya di cuci malah di anggurin!"
Air mata Erica sudah tidak dapat ditahan lagi, dengan cepat ia berlari ke kamar. Meninggalkan Zhafran yang memanggil-manggil namanya.
"Kau lihat! Istriku jadi nangis gara-gara ucapanmu!" Ucap Adam sembari menenangkan Zhafran yang juga ikut menangis.
"Dianya saja yang cengeng!" Rey merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang.
"Minta maaf sana!" titah Adam. Emosinya mulai memuncak. Erica tidak cengeng, hanya saja dia tidak suka saat ada orang melukai hatinya.
"Apa peduliku? Aku juga tidak pernah mintamu untuk meminta maaf saat kau selalu membuat Mona menangis."
"Persetan kau!"
Erica menutup telinganya menggunakan tangan mendengar suara Adam menggelegar di ruang utama yang saling bersahutan dengan suara Rey. Air mata semakin deras membasahi kedua pipinya. Hatinya perih, seperti tersayat dan terisis sebilah belati saat Rey membawa nama Mona di depan Adam.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dari luar, nampak Nicko masuk dengan Zhafran dalam gendongannya.
"Bubu nangis?" tanya Zhafran dengan bibir bergetar. Matanya yang belum kering dari air mata kini kembali basah.
"Tidak sayang, Bubu tidak nangis." Cepat Erica menghapus air matanya.
Zhafran beralih ke pelukan Erica. Didekapnya tubuh mungil Zhafran yang memberi kehangatan dan ketenangan bagi Erica. Anak itu selalu menjadi penawar luka untuk hati Erica.
"Perlu aku temani?" tawar Nicko yang kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Terimakasih." Erica menggeleng pelan dengan senyum di bibirnya.
Nicko tidak habis pikir. Bisa-bisanya Erica menyunggingkan senyum saat matanya banjir dengan air mata.
Nicko mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan Erica dan Zhafran. Walau sebenarnya ia ingin sekali mendekap tubuhnya Erica dan menenangkannya.
***
Erica terbangun dengan mata sembab. Ia tertidur dengan keadaan lelah menangis. Entah berapa lama ia menangis, mendengar kenyataan bahwa pernah Adam menikahi seorang gadis malam. Kini hadir pertanyaan besar dalam benaknya.
Kenapa?
"Sarapan sudah siap, sayang." Adam menghampiri Erica yang masih terduduk melamun di atas ranjang. Tangan Adam bergerak untuk menyentuh kedua tangan Erica.
"Kenapa?" tanya Adam.
"Aku ingin pulang, Mas." Erica memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata Adam.
"Lho, kenapa?"
"Kenapa?" Erica balik bertanya. Dahinya berkerut-kerut menatap Adam yang entah tidak peka atau memang pura-pura tidak peka.
"Rey sudah pulang kemarin malam."
Erica berdecak kesal. "Kenapa?"
"Kenapa apa?"
Erica memusatkan pandangannya ke wajah Adam. "Kenapa Mas mengundang dia? Katanya kita mau liburan, mau honeymoon, tapi apa? Mas mengundang teman-teman Mas yang bahkan tidak menganggapku ada dan tidak menyukaiku."
Erica turun dari ranjang lalu mengambil koper di samping lemari. Dikemasnya pakaian di dalam lemari ke dalam koper.
"Ri.." Adam berkata lirih. Ia berdiri di belakang Erica, mencegah gadis itu berkemas.
"Siapa yang bilang teman-teman Mas tidak menyukaimu? Mereka cuma belum kenal saja, sayang."
Adam melingkarkan tangannya di pinggang Erica. Dipeluknya tubuh istrinya itu yang tengah bergetar menahan tangis.
Erica berbalik, dengan wajah berkaca-kaca ia berbicara. "Aku dengar semuanya, Mas. Kamu mengambil mbak Mona dari Rey kan? Kamu merebutnya kan?"
Erica terisak. Matanya terpejam erat, seolah mencari kekuatan yang masih tersisa dalam dirinya. Perempuan itu selalu membuat pertahanan Erica runtuh. Selalu membuat Erica insecure. Selalu.
Dengan cepat Adam menarik tubuh Erica ke dalam dekapannya. Berusaha menenangkan tangisan pilu Erica, tapi yang ada gadis itu semakin meraung. Beberapa kali Erica memukul dada bidang Adam. Tapi sayang, tenaga yang dihasilkan tangan kecil Erica tidak sebanding dengan tangan kekar Adam. Seberapa keras pun Erica memukul, tidak dapat melepaskan tangan Adam dari tubuhnya.
"Kenapa Mas, kenapa?" Raung Erica dalam pelukan Adam.
"Itu hanya masa lalu, sayang."
Dengan sekali dorongan, Erica melepaskan tangan Adam dari tubuhnya.
"Kenapa kamu menikahi gadis polos seperti ku, Mas? Apa karena aku polos dan bodoh jadi bisa membuatmu mengubur semua masa lalu kelam mu?" Erica bersungut-sungut.
Adam melangkahkan kakinya mendekati Erica, tapi Erica juga turut melangkahkan kaki menjauhi Adam.
"Ri? Mas menikahimu karena Mas memang mencintaimu. Mencintai segala sesuatu tentang dirimu."
"Mencintai kepolosan dan kebodohanku?" Mata Erica menyipit, menatap Adam penuh selidik.
Adam mengusap wajahnya kasar. "Ayolah, Ri. Siapa yang bilang kamu polos dan bodoh?"
Tatapan Erica berubah nyalang. Ia kembali mengemas pakaian yang sempat tertunda, membuat Adam menghela napas.
"Oke, kita pulang," ucap Adam sesaat sebelum meninggalkan Erica.
Erica jatuh tersungkur bersamaan dengan air mata yang kembali jatuh membasahi kedua pipinya. Tangan-tangannya mencengkeram erat apa saja yang dapat di raih. Matanya terpejam. Seolah menggambarkan betapa sakitnya hati Erica hingga tidak dapat membuka mata.
Percakapannya dengan Rey kembali terngiang di telinga Erica.
"Kenapa kau mau menikah dengan Adam?" tanya Rey dengan angkuh.
Erica mengulas senyum. "Dia tipeku. Tampan, mapan, bijaksana, dan bertanggung jawab."
Rey terkekeh mengejek. "Kau salah menilai dia."
Dahi Erica berkerut-kerut. "Maksudnya?"
"Kau akan menyesal menikah dengan Adam."
Lalu Rey berlalu begitu saja, meninggalkan Erica dengan segudang pertanyaan. Lelaki itu merebahkan tubuhnya di atas hammock tak jauh dari Adam dan teman-temannya yang lain yang tengah sibuk memasak ikan bakar dan jagung bakar di tepi danau.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂