NovelToon NovelToon
Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Dark Romance / Tamat
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: Larissa Marcelle

Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.

Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".

Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - Menyusun Rencana

...FIORELLA FERRAZ...

Aku naik ke kamar dan berdiri di depan cermin. Baby doll ini memang transparan, aku sampai tidak sadar sebegitunya. Untung Tante Loretha dan Jared tidak muncul, justru orang yang paling kuinginkan yang datang, seperti takdir. Pria galak itu mulai menyerah pelan-pelan. Waktu melihat dia terangsang menatap tubuhku, aku sempat malu, tapi aku melakukan apa yang harus dilakukan. Kalau mundur, aku pasti menyesal. Aku punya prinsip: lebih baik menyesali apa yang sudah dilakukan daripada menyesali apa yang tidak dilakukan.

Aku memancing si binatang buas lalu meninggalkannya gigit jari. Aku yakin dia tidak bisa tidur nyenyak setelah kejadian di dapur tadi. Dia akan meniduriku, dengan cara baik atau cara kasar.

Aku menghempaskan diri ke ranjang dengan senyum lebar di wajah. Kubuka ponselku dan masuk ke pesan, dia sedang online. Jariku gatal ingin mengirim sesuatu. Suara hati langsung berbisik: dia sudah menikah, istrinya bisa melihat. Sementara jantungku bilang: kirim saja, biar dia tidur dalam keadaan tegang.

Aku menuruti jantungku dan mulai mengetik.

📱 Aku melihat Tuan melahap tubuhku....

Tidak, terlalu berani. Kuhapus dan mulai lagi.

📱 Selamat malam, Tuan Argo.

Terlalu sederhana dan kaku. Kuhapus lagi.

📱 Bagaimana cara mengeluarkan seorang pria dari kepala?

Kukirim.

Aku pernah membaca di suatu tempat tentang cara menaklukkan pria, dan tidak ada yang lebih ampuh daripada memancing secara tidak langsung dengan meninggalkan pertanyaan menggantung. Dia akan memikirkannya semalaman.

Aku berbaring tanpa berharap dibalas. Sebenarnya aku bahkan tidak menunggu jawabannya, sampai ponselku bergetar di atas meja lampu. Jantungku berdegup kencang, aku tahu itu dia.

📱 Jangan bercanda denganku, Nona!

Aku tertawa. Sudah lewat jam dua pagi dan kami berbalas pesan. Dia kesal seperti biasa, jawabannya mudah ditebak.

* * *

"Kamu baru jadi perempuan setelah ditiduri pria sejati." Aku terbangun oleh suara serak Argo di telingaku.

Aku melonjak kaget di ranjang, menoleh ke sekeliling mencari sosoknya. Aku bangun dan memeriksa pintu, terkunci rapat, kuncinya masih di sisi dalam. Suara itu terasa nyata sekali di telingaku. Dengan kepala pening, aku mandi dulu sebelum turun sarapan.

Kubuka pintu kamar dan langsung berhadapan dengan Blake. Waktunya menjalankan bagian kedua rencanaku.

"Blake, untung ada kamu." Aku meringis.

"Kamu baik-baik saja?"

"Kayaknya tidak." Aku memegang perutku. "Sini." Kutarik dia masuk ke kamarku, pintunya kubiarkan terbuka.

"Nona, saya tidak boleh masuk kamar Anda."

"Tolong, sampai sakitnya hilang saja."

"Sakit apa?"

"Mungkin kram perut, aku lagi datang bulan."

"Kalau begitu saya carikan obat."

"Tunggu, duduk sini dulu, sebentar lagi juga reda." Aku mendudukkannya dengan paksa di ranjangku.

Blake susah sekali diajak bicara. Argo pasti sengaja memilihnya jadi pengawalku. Aku pura-pura sakit karena kupikir dia lebih gampang terbuka. Dan sepertinya aku benar, sebab baru sekarang dia bicara denganku, lebih banyak daripada sehari penuh waktu kami di mal.

Blake melirik pintu dan tidak berani melihatku.

"Kamu sudah lama kenal Tuan Argo Romanov?"

"Saya tidak bisa membicarakan itu dengan Anda."

"Maaf." Dia menatapku sekilas lalu membuang muka. "Sudah sarapan?"

"Sudah, Nona."

"Aku tidak pernah lihat kamu makan. Kamu bawa makanan sendiri?"

"Ya, Nona."

Gawat. Bagaimana caranya memasukkan obat ke makanan yang dia siapkan sendiri?

"Sudah mendingan? Saya tidak diizinkan masuk kamar Anda."

"Tunggu, boleh aku tanya sesuatu?" Dia melihatku, lalu membuang muka lagi. Kuanggap itu tanda setuju. "Kamu dengar apa yang bosmu katakan padaku kemarin?"

"Saya tidak tahu apa yang Anda maksud."

"Kemarin di lorong, waktu kamu datang..."

"Saya ulangi." Dia memotongku. "Saya tidak tahu apa yang Anda maksud." Dia berdiri dan keluar dari kamar.

Sialan. Pria macam apa sih dia. Tidak boleh bicara denganku, tidak boleh bicara soal Argo, tidak boleh masuk kamarku, serba tidak boleh!

Aku keluar kamar dengan kesal, dia mengikutiku. Aku masuk dapur untuk sarapan, Blake berjaga di luar pintu. Kukira punya pengawal itu lebih aman, tapi di dalam rumah sendiri juga?

"Halo." Seorang perempuan melihatku masuk dan menyapa.

"Hai, kamu siapa?"

"Grace, koki keluarga Romanov."

"Oh, senang kenal, Grace." Tahu mereka punya koki itu menarik untuk rencanaku.

"Silakan duduk, Nyonya Loretha sebentar lagi datang."

Jared dan ibunya masuk sambil tersenyum dan saling berangkulan. Pemandangan ini baru bagiku, soalnya suasana di rumah ini belakangan agak tegang.

"Pagi, Fiorella." Keduanya menyapa bersamaan.

"Pagi juga buat kalian berdua."

Grace menyiapkan meja lalu meninggalkan kami.

"Pengawal itu bakal nempel terus sama tunanganku, ya?"

"Aku akan bicara dengan suamiku supaya dia cukup berjaga di luar."

"Aku sangat berterima kasih, Tante Loretha, rasanya sesak sekali dia selalu dekat-dekat."

"Aku mengerti, tidak ada alasan dia berdiri di depan pintu kamarmu."

Aku rindu Argo, ingin melihatnya. Tapi aku tidak akan menanyakan mertuaku, aku akan pura-pura tidak ingat pria itu, mungkin dia sedang sibuk.

"Hari ini kamu mau ngapain, Fiorella?"

"Ah, belum tahu."

"Kenapa tidak ajak tunanganmu jalan-jalan, Jared?"

Aduh, Tante Loretha. Ide Tante bagus sekali!

"Hari ini tidak bisa, Ma, tapi... mungkin besok?" Dia menoleh padaku. "Aku mau mengenalkan kota ini padamu, Fiorella."

"Aku mau banget, Jared." Bohong. Aku cuma ingin di kamar, apalagi nanti malam pasti pusing karena mabuk.

"Hari ini kamu ada acara apa, Jared? Ada janji yang Mama tidak tahu?"

"Ulang tahun teman."

"Kenapa tidak ajak Fiorella?"

"Jangan!" Suaraku meninggi karena kaget, mereka berdua menoleh. "Maksudku, aku tidak kenal teman-temannya, nanti aku merasa canggung."

"Nah, itu, Ma." Jared setuju dan bertukar pandang dengan ibunya.

"Tante kerja hari ini?"

"Aku tidak kerja hari Sabtu, Fiorella. Kalau butuh apa-apa, aku di rumah seharian."

"Aku naik dulu, ada yang harus kuurus." Jared berdiri, mencium kepalaku, lalu naik.

Inilah saat yang kutunggu, berdua saja dengan Nyonya Romanov. Aku menoleh ke kanan-kiri, memastikan kami benar-benar sendirian.

"Tante Loretha, aku mau minta tolong."

"Bilang saja." Dia tersenyum, aku jadi lebih berani bicara.

"Bagaimana caranya lewat gerbang itu tanpa ketahuan penjaga?"

"Kurasa tidak bisa, Fiorella. Kenapa? Argo melarangmu keluar?"

"Aku cuma boleh keluar dengan Blake."

"Blake berbuat sesuatu padamu?"

"Bukan, bukan itu. Aku ingin keluar tanpa dia, ngerti kan."

"Diam-diam?" Aku membeku mendengar pertanyaannya. "Fiorella, aku juga pernah delapan belas tahun, dan aku tahu persis apa yang kamu mau. Aku tidak keberatan, tapi bisa berbahaya kalau kamu keluar tanpa pengawal."

"Aku mengerti." Aku memasang nada sedih.

"Aku ingin membantumu, tapi kalau Argo tahu aku ikut campur, dia tidak akan senang."

Percuma mengandalkan Loretha, dia takut pada suaminya sendiri. Kutunggu Loretha selesai sarapan, lalu aku naik untuk bicara dengan Jared. Pasti ada cara keluar dari sini tanpa ketahuan para penjaga itu. Aku tidak mau menghabiskan akhir pekan di dalam rumah ini.

Sampai di sana, pintu kamar Jared terbuka.

"Jared?" Dia berdiri menghadap cermin dengan handuk hitam melilit pinggang. Dia melihatku lewat pantulan cermin dan tersenyum. Waktu Jared berbalik, tampaklah perutnya yang berotot, penuh tato. Mataku menjelajahi dada dan perut itu.

"Aku lupa menutup pintu." Dia mendekat. "Fiorella?" Aku mengangkat mata ketika dia memanggil namaku. Tubuh Jared masih basah, rambutnya juga.

"Aku mau bicara denganmu."

Dia melewatiku dan menutup pintu.

"Pintunya sudah dibetulkan." Dia nyengir.

"Kalau ayahmu tahu aku di sini, pintunya rusak untuk kedua kalinya."

"Dia pergi pagi-pagi, tenang saja. Kamu tahu, kurasa ini saat yang pas buat kita ciuman, soalnya ayahku sudah memberi lampu hijau."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!