Nina, ia gadis muda berusia 19 tahun. Dalam usianya yang masih muda, gadis berparas cantik itu harus memikirkan nasib keluarganya yang terombang-ambing di tengah kesulitan ekonomi.
Nina, ia terpaksa harus pergi ke negara tetangga untuk menjadi asisten rumah tangga. Siapa sangka, kalau anak majikannya itu menaruh hati dan melamar Nina.
Dengan segala kebaikan dan kelembutan dari pria itu, sudah sepantasnya Nina menyimpan perasaan padanya, Nina yang memiliki perasaan sama itu menerima lamaran tersebut dan pernikahan pun terjadi.
Perjalanan rumah tangga Nina tidaklah muda, sampai ketika, Nina harus pergi dari hidup suaminya, membawa benih yang tanpa suaminya ketahui.
Apa yang membuat Nina pergi dari hidup pria yang sangat ia cintai?
Terus simak kisah Nina yang akan melahirkan 'Bintang Dari Surga'.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
Dukung dengan gift/votenya, terima kasih 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon It's Me MalMal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir
Tiga belas tahun kemudian, Nina sedang menunggu Bintang yang sudah malam tapi belum pulang. Nina khawatir, takut Bintang yang sedang beranjak dewasa itu salah pergaulan.
Sean yang baru saja menemani Binar, adik Bintang untuk belajar itu menyusul ke depan, di mana Nina berdiri dengan melipat tangannya di dada.
Sean memeluknya dan mengatakan kalau Nina tidak perlu khawatir.
"Bagaimana tidak khawatir, dia tidak menghubungi atau mengirim pesan!" jawab Nina dengan nada sedikit kesal.
"Mungkin, ponselnya mati, coba hubungi teman-temannya," usul Sean dan Nina pun mulai menghubungi satu persatu teman Bintang.
Tetapi, semua teman Bintang sudah ada di rumah.
"Bagaimana ini, apa aku harus melapor ke polisi?" tanya Nina pada Sean.
Dalam hati, Sean ingin meminta pada Nina untuk menunggu sebentar lagi, tetapi, demi menenangkan hati istrinya, Sean pun mengiyakan walau Sean sudah tau apa yang akan polisi katakan yaitu harus menunggu 24 jam untuk membuat laporan itu.
Baru saja, Nina dan Sean masuk ke mobil, Bintang yang berseragam baju putih dan rok bercorak kotak-kotak coklat putih itu membuka gerbang rumahnya.
Nina melihat itu dan segera turun, Nina sangat panik saat melihat ada noda merah seperti darah di bahu Bintang.
Nina pun bertanya, "Apa ini, Nak?"
"Bu, Bintang minta maaf, Bintang nabrak orang, Bu," tangis Bintang, ia sangat takut, takut kalau Nina akan memarahinya.
Bintang bersujud di kaki Nina dan Sean membangunkannya, tetapi, Bintang menolak sebelum Nina memaafkannya.
Dan Sean yang tak melihat motor Bintang itu bertanya, "Di mana motor kamu?"
"Dady, motor Bintang ada di bengkel, tapi, masalah Bintang bukan di motor, masalahnya, dia masuk rumah sakit, Dady," jawab Bintang yang mendongak.
Setelah itu, Sean dan Nina mengajak Bintang untuk masuk lebih dulu, di dalam, Nina mengambilkan minum untuk Bintang dan Nina meminta pada Bintang untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Bintang tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang menyebrang, rem motor Bintang blong, Bu." Bintang menjawab pertanyaan demi pertanyaan itu seraya menatap Nina dan Sean bergantian.
"Lalu?" tanya Sean seraya mengusap rambut Bintang yang terlihat acak-acakan.
"Dia di rumah sakit, Dad," jawab Bintang seraya memeluk Sean.
"Dady, tolong tanggung biayanya," rengek Bintang dan Sean pun meminta pada anak gadisnya untuk tidak khawatir.
Setelah itu, Sean bangun dari duduk.
"Besok pagi, kita harus ke rumah sakit," kata Sean dan Bintang pun mengiyakan.
Nina mengucapkan terima kasih pada Sean dan Nina menjewer telinga Bintang.
"Lain kali hati-hati!" kata Nina yang kemudian melepaskan jewerannya karena Bintang merengek kesakitan.
"Sudah-sudah, besok kita harus bertemu dengannya dan juga keluarganya untuk meminta maaf.
Setelah itu, Bintang segera ke kamar, ia melihat adiknya sudah terlelap, Bintang pun segera pergi mandi dan membayangkan betapa mengerikannya kejadian sore tadi, beruntung, pria muda yang Bintang tabrak itu selamat dan hanya mengalami luka ringan.
Esok paginya, Nina, Sean dan Bintang baru saja mengantarkan Binar ke sekolah itu langsung menuju ke rumah sakit dan sesampainya di sana, kamar itu sudah kosong.
Bintang menanyakan itu pada suster dan suster menjawab kalau pria itu sudah dijemput oleh keluarganya.
Setelah dari rumah sakit, Nina dan Sean segera mengantarkan Bintang ke sekolah.
"Mulai hari ini, biar Dady antar jemput!" kata Sean dan Bintang yang masih duduk di kursi belakang itu mengangguk dengan terpaksa.
Bintang mengulurkan tangannya, meminta tangan Nina dan Sean, lalu mencium punggung tangannya.
****
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Sean pada Nina dan Nina meminta pada suaminya itu untuk diantarkan ke toko laundry.
Sean pun mengiyakan dan sesampainya di kios Laundry, Nina melihat Eny yang sedang menyiram tanamannya.
Ya, Eny yang tidak memiliki kesibukan itu meminta pada Nina untuk membantunya di kios dan Nina pun mengiyakan.
Dan saat itu juga, ada seorang pemuda yang tangannya tengah terluka mengantarkan cucian kotornya.
Nina segera menerima dan menimbang cucian itu, Nina menanyakan nama pemuda itu.
"Dante," jawabnya dan Nina segera menuliskan namanya.
****
"Ma, kesehatan Mama sepertinya menurun, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Evan pada Kinan yang sekarang duduk di kursi roda.
"Tidak, Mama tidak apa-apa, lebih baik kamu cepat temukan Cate, dia harus mengembalikan semua milik kita!" kata Kinan seraya menangis.
"Evan sudah menemukannya, tetapi, dia sendiri telah ditipu oleh kekasih gelapnya," jawab Evan seraya duduk di sofa ruang tamu.
"Bu, Evan harus pergi, Evan memiliki banyak pekerjaan," kata Evan seraya bangun.
Evan yang berpapasan dengan Dante di pintu itu menitipkan Kinan padanya.
"Ya, Dady tidak perlu khawatir," jawab Dante yang sudah mulai pandai berbahasa Indonesia setelah beberapa bulan tinggal di negara ayahnya.
Evan yang keluar dari rumah itu mengemudi mobilnya dan tanpa sengaja Evan melihat Sean, Evan melihatnya di lampu merah.
Evan yang masih menyimpan dendam itu mengikuti Sean dan Sean menyadari kalau dirinya tengah diikuti, Sean menambah kecepatan dan Evan yang sudah miskin tapi tak sadar diri itu menyeruduk mobil Sean dari belakang.
Sean yang merasa kalau itu tidak dapat didiamkan pun menepikan mobilnya, Sean turun dari mobil begitu juga dengan Evan.
Sean merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sean pun menertawakan Evan yang sampai saat ini masih membencinya.
"Ck," decak Sean dan Sean segera mendapatkan tinju dari Evan.
Evan masih ingat dengan jelas saat Sean berada di kamar bersama Nina tanpa mengenakan apapun dan kali ini, Evan menghajar Sean untuk memuaskan amarahnya.
Sean tak tinggal diam, ia melawan Evan dan keduanya menjadi tontonan, ada sebagian yang mengambil vidio untuk di share ada juga yang berusaha melerai.
Dan Nina yang kebetulan sedang mengendarai motornya itu melihat mobil Sean, Nina yang akan berbelanja kebutuhan kiosnya itu menepikan motornya dan melihat Sean yang sedang meninju Evan.
Nina berusaha melerai dan tanpa sengaja Sean yang tanpa melihat kebelakang itu sikunya mengenai wajah Nina.
Nina yang kesakitan itu berteriak memanggil Sean dan Sean segera melepaskan Evan yang sudah tak berdaya.
Sean sendiri merasa takut, takut dengan keberadaan Evan, pria yang ketampanannya tak memudar itu takut Nina akan meninggalkannya untuk kembali pada Evan.
Dan Evan segera berdiri, pria yang berdarah di hidung dan mulutnya itu menertawakan Sean dan Nina.
"Evan," lirih Nina dan Sean pun meninggalkan keduanya dan Nina yang masih mematung dengan menatap Evan itu sampai tak sadar kalau Sean sudah menunggunya di mobil.
Sean pun membunyikan klakson mobilnya.
Nina segera meninggalkan Evan yang masih menatapnya.
Nina menghampiri Sean dan mengatakan kalau dirinya membawa sepeda motor.
"Aku percaya padamu, Nina!" kata Sean yang kemudian pergi meninggalkan istrinya.
Nina berusaha tak menghiraukan Evan walau dirinya merasa kasihan dan Evan memanggil Nina yang sedang memarkirkan motornya.
Nina mengabaikan Evan dan Evan tertawa terbahak-bahak saat melihat Nina bersama dengan Sean, setelah itu Evan kembali ke mobilnya, pria malang itu menitikkan air matanya, air mata penuh luka.
Bersambung.
benci tapi nafsu juga kamu zack😏😏😏😏😏
lagian mengambil keputusan di saat terburu buru itu ga baik akhirnya kamu merasakan akibatnya kasian ntar Dante mendapatkan jandanya🙄🙄🙄