Nayla Putri Atmaja (21) seorang gadis riang yang tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta di kota Jakarta, tak pernah menyangka hidupnya akan serumit ini setelah ia bertemu dengan Bayu Pratama (30). Seorang dosen muda yang mengisi mata kuliah di semester lima. Selain menjadi seorang dosen Bayu merupakan seorang pengusaha muda. Pria yang cukup sukses dan berpendidikan tinggi, namun menyandang status duda beranak satu.
Entah disengaja ataupun tidak pertemuan mereka di kampus menjadi awal kisah cerita mereka dimulai. Hidup Bayu yang semula terlihat begitu datar, kini berubah menjadi sangat menyebalkan ketika takdir mempertemukan dirinya dengan sosok Nayla yang memiliki sikap menjengkelkan, merepotkan, banyak maunya, bicara sembarangan dan blak-blakan. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Bayu yang terlihat begitu tenang, datar dan tertutup.
Mau tau kelajutan kisah mereka selanjutnya? Yuk simak terus cerita Jodoh Tak Diundang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JTD Bab 18
Jam menunjukkan pukul 15:00 WIB. Nayla terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya yang keroncong karena lapar.
Ia membuka matanya yang masih lengket dengan belek, Pandangannya mengarah pada perutnya yang terlihat jelas tangan Bayu sedang melingkar di perut datarnya itu. Ia berusaha menyingkirkan tangan Bayu dari perutnya, namun ia tak bisa. Semakin Nayla menyingkirkan tangan suaminya itu, semakin membuat Bayu mengeratkan tangannya untuk memeluk tubuh istri kecilnya.
"Mas, lepasin ih, sesak Mas. Nay bukan guling, Mas Bayu lepasin! Mau sampai kapan tidur terus kaya gini? Nay udah laper banget nih Mas," cerocos Nayla yang masih berusaha melepaskan tangan Bayu yang terus saja memeluk tubuhnya, bahkan sekarang kakinya sudah mengunci kaki Nayla agar ia tak pergi kemana-mana.
"Hmmm, sebentar lagi, biarkan seperti ini dulu," jawab Bayu dengan suara beratnya.
"Gak mau, Nay udah laper berat, cacing-cacing di perut Nay udah kelojotan minta di kasih makan," ucap Nayla yang terus saja mencubiti tangan Bayu yang tak mau melepaskan dirinya.
"Sakit Nay, jangan di cubitin terus tangan Mas!" pinta Bayu dengan suara serak dan beratnya.
"Ya udah makanya, lepasin Mas," balas Nayla yang masih meminta di lepaskan oleh Bayu.
Dengan berat hati Bayu membuka matanya dan melepaskan pelukan dan kunciannya pada tubuh Nayla. Nayla segera bangkit dari posisi tidurnya tanpa perduli dengan tubuhnya yang tak mengenakan sehelai benang pun.
Mata Bayu terperangah melihat keindahan tubuh Nayla, pemandangan indah yang mampu membangkitkan gairahnya kembali. Tanpa aba-aba Bayu kembali memeluk tubuh Nayla. Ia mengunci tubuh Nayla dalam pelukannya. Menciumi aroma tubuh istrinya yang kini menjadi candu baginya.
"Mas, lepasin gak! Udah gak nyiumin akunya! Geli Mas udah dong, please," Pinta Nayla seraya memohon, ia terus saja memukul lengan Bayu yang kembali memeluknya dengan posesif seperti ini.
"Enggak," jawab Bayu yang tak berhenti menciumi pundak Nayla.
"Ihh, udah dong! Emangnya gak puas tadi sampai buat Nay terkapar tak berdaya, ini lihat Badan Nay udah merah-merah kaya orang sakit kulit,"
"Kamu bukan terkapar tapi ketiduran karena merasa keenakan, merah-merah di tubuh kamu ini bukan sembarang merah-merah Nay, ini tuh maha karya Mas yang harus kamu banggakan,"
"Hah, bukan keenakan tapi kecapean, mana ada maha karya bikin kulit istrinya sendiri merah-merah kaya orang sakit kulit begini, harusnya bikin kulit tubuhnya glowing, Mas," bantah Nayla yang menatap tajam wajah suaminya.
"Jangan suka ngeliat suami seperti itu, Nay! Gak sopan tahu," ucap Bayu yang kemudian melepaskan pelukannya dan segera beranjak dari tempat tidur. Sama halnya dengan Nayla, ia pun tak menggunakan sehelai benang untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos jelas di mata Nayla.
"Ihh, Mas. Itu tuh loncengnya gondal-gandul, tutupin dong!" Nayla berdecak melihat tingkah cuek suaminya yang berjalan menuju kamar mandi.
"Apa sih kamu tuh Nay, banyak banget julukan buat junior Mas ini, pisang ambonlah sekarang loncenglah," protes Bayu yang tak menghentikan langkah kakinya ke kamar mandi.
"Mas mau kemana?" tanya Nayla yang melihat suaminya pergi ke kamar mandi tapi masih bertanya, ia seakan sedang meledek suami dingin dan juteknya itu.
"Ke dapur," teriak Bayu asal dari dalam kamar mandi.
"Emang di kamar ini ada pintu kamar mandi yang bisa berubah jadi pintu Doraemon ya? pintu yang bisa buat kita bisa langsung sampai ke dapur?" pekik Nayla dengan pertanyaan bodohnya.
"Ada dong, rumah ku ini rumah mewah pasti ada pintu yang bisa berubah jadi pintu Doraemon. Makanya kamu tadi harusnya lihat-lihat rumah ini jangan tidur mulu digedein, kalau tadi kamu lihat-lihat, tentunya kamu tahu seluk-beluk rumah ini, Nay," jawab Bayu panjang lebar dari dalam kamar mandi, yang hanya dianggap Nayla seperti Radio kusut.
"Mas kamu lagi ngapain di dalam? Jangan bunuh diri Mas, Nayla nggak mau jadi Kembang Desa," ucapan Nayla sontak membuat Bayi menyeryitkan kedua alisnya.
Kembang Desa? Maksud dia Janda Kembang kali? Hadduh Nayla, kamu ngomong saja masih belepotan begini, bagaimana nanti kamu mendidik anak-anak kita, Nay, ucap Bayu di dalam hatinya sembari mengusap dadanya.
"Ya Allah. Semoga hamba diberi kesabaran untuk menghadapi segala tingkah laku istri hamba ini, Ya Allah," ucap Bayu yang memanjatkan doa di dalam hatinya.
"Mas kok diem aja sih, gak jawab pertanyaan Nay, lagi ngapain sih emangnya? Mencurigakan banget, Mas jawab! Lagi ngapain?" pekik Nayla yang kembali bertanya pada Bayu.
"Ngerebus air," pekik Bayu yang menjawab pertanyaan istrinya dari dalam kamar mandi, ia tengah berdiri di depan bathtub mengisi air dan mengatur suhu air untuk Nayla dan dirinya membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan mereka.
Nayla yang penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya, segera turun dari ranjang, tak perduli dengan rasa nyeri yag ia rasakan, dengan selimut yang menutupi tubuhnya, ia menyusul keberadaan suaminya di kamar mandi. Dengan jalan sedikit mengegang, sebab ia merasakan milik suaminya itu masih tertinggal disana. Tak hanya itu Nayla juga merasakan lembah dan juga lubang surgawinya terasa sakit ngilu saat di ajak berjalan.
"Harusnya kalau habis dipake gini, bininya di gendong ke kamar mandi, eh ini gue di tinggalin tanpa pesan, laki macam apa sih Mas Bayu ini," umpat Nayla saat ia meringis kesakitan.
"Kok diisi air panas sih Mas, emang mau ngapain di bathtub?" tanya Nayla yang sudah berada di belakang tubuh Bayu, sambil memeluk tubuh kekar sixpack milik suaminya itu. Mulutnya sering kali mengumpati suaminya, tapi tubuhnya selalu ingin nempel seperti perangko. Mulut dan kelakuannya sungguh tidak sinkron.
"Mau ngerubus kamu biar gak nyiksa aku terus," jawab Bayu asal yang kembali mendapatkan tabokan dari Nayla, kali ini bagian punggung Bayu yang mendapatkan tabokan dari sang istri.
Plak! [Satu kali tabokan mendarat di punggung Bayu, berhasil membuat jiplakan tangan Nayla bersarang disana].
"Nay, sakit!! Baru jadi suami kamu sehari saja badan Mas udah babak belur apalagi besok-besok mungkin tinggal tulang dan kentut," protes Bayu yang menjerit karena rasa sakitnya luar biasa. Jeritan kesakitan Bayu hanya ditanggapi dengan cengiran kuda dari Nayla.
"Hehehe, Mas Bayu bisa ngelawak juga ya? Kirain hidup Mas Bayu kaku dan garing mirip kanebo kering gitu, ternyata Mas Bayu cocok jadi komika loh," celoteh Nayla yang tak sama sekali ditanggapi oleh Bayu. Bayu malah menuntun dirinya, untuk masuk ke dalam bathtub yang sudah terisi air hangat.
Tak hanya Nayla yang masuk ke dalam bathtub, Bayu pun ikut masuk ke dalam bathtub untuk memandikan Nayla layaknya seorang bayi, "Mas, Nay bisa sendiri kok?" ucap Nayla yang terus saja menolak Bayu yang sedang ingin menyabuni tubuh istri kecilnya itu. Menyabuni plus meraba-raba yang belum teraba.
"Kamu kan lagi sakit, jadi Mas bantu mandiin kamu dulu hari ini," kelit Bayu dengan senyum liciknya. Ia mulai mengeluarkan jurus modus seorang Duren yang kurang belayan.
"Sakit? Siapa yang sakit? Aku sehat-sehat aja kok," tanya Nayla yang merasa dirinya baik-baik saja.
"Masa sih? Tadi Mas denger sendiri, kamu merintih kesakitan saat jalan ke kamar mandi nyamperin Mas," kelit Bayu lagi.
"Iya aku merintih kesakitan itu bukan karena aku lagi sakit dalam tanda kutip ya, Mas. Aku tuh ngerintih sakit karena ngerasa punya kamu masih nyangkut di milik aku," terang Nayla yang membuat Bayu tertawa lebar.
Benar-benar tak bisa di pungkiri, Nayla mampu membuat wajah Bayu kembali bersinar dengan senyum dan tawanya yang kembali terpancar di wajah pria dingin ini. Setelah sekian lama Bayu dirundung kesedihan, kesepian dan kehampaan karena dicampakkan oleh Linda, mantan istri Bayu, yang pergi meninggalkannya demi cinta lamanya yang datang kembali kehidupan sang isteri kala itu.
Sepeninggalnya Linda, Hidup Bayu berubah menjadi gelap gulita dan sikapnya berubah datar, semua itu karena rasa kecewa yang ia rasakan pada kaum wanita. Namun kini hidupnya sudah kembali pada porosnya dan lebih berwarna dengan hadirnya Nayla yang menjadi istrinya.
Meskipun emosinya mulai saat ini akan di buat naik turun tak menentu dengan kelakuan dan ucapan absurd Nayla. Itu tak akan jadi sebuah masalah yang besar bagi Bayu, asal Nayla akan terus bersamanya hingga akhir hayatnya nanti.
Acara mandi yang harusnya kurang dari lima belas menit, berubah menjadi empat puluh menit, karena Bayu kembali meminta jatahnya pada Nayla. Nayla hanya bisa diam tanpa perlawanan, karena melawan pun akan terasa percuma, hanya pasrah dan menikmati permainan yang disuguhkan Bayu untuknya-lah yang bisa ia lakukan.
emang bener-bner si Nayla