Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
Rendra pulang dalam keadaan rumah sudah gelap gulita. Bahkan kamar tempat Neil saja pun sudah gelap. Menandakan jika anaknya sudah tidur bersama pengasuh baru yang memang sudah dia siapkan.
Lalu dimana Alice? apa mungkin dia juga sudah tidur?
Rendra membuka pintu kamar, dan memang sudah gelap.
Dia menyandarkan tubuhnya di sofa, karena hari ini benar-benar sangat lelah.
Di lihatnya Alice yang baru saja keluar dari kamar mandi. Bahkan hingga saat ini wanita itu belum menyadari keberadaan dirinya disana. Membuat Rendra terus saja menatapnya.
Merasa ada orang lain di dalam kamarnya membuat Alice langsung melihat ke arah sofa dan menghidupkan lampu.
"Astaga!" pekiknya terkejut melihat laki-laki itu disana.
Rendra yang melihat reaksi Alice merasa aneh. Kenapa dia terlihat kaget?
"Kenapa?" tanya Rendra setelah melihat reaksi Alice.
"Ya ngapain di sini?" tanya Alice membuat laki-laki itu menatap heran ke arahnya.
"Kamu bertanya aku ngapain di sini?" ulang Rendra.
"Iya, ngapain di sini?" tanya Alice lagi.
Rendra tersenyum hambar, saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Alice.
"Ini rumah yang baru saja aku beli untuk tempat tinggal kita selama aku bekerja di sini. Lalu kenapa aku diperlakukan seolah-olah aku yang tidak harus tinggal di sini?"
"Ya kan bisa di kamar lain. Aku tau ini kamu yang memberinya, tapi bukan berarti kamu-?" tanya Alice yang membuat Rendra hanya tersenyum kecil di buatnya.
Dia berdiri dari sofa dan menghampiri wanita itu. Alice panik, hingga dia mundur berapa langkah ketika Rendra mendekatinya. Melihat reaksi Alice yang seperti itu terhadapnya membuat Rendra semakin bersemangat.
"Lalu, Kamu pikir aku harus dimana? rumah ini tidak terlalu besar, hanya ada tiga kamar saja. Dimana satu ditempati oleh Neil, 1 ditempati oleh wanita tua itu, dan hanya ini yang tersisa." jawaban Rendra sudah menjelaskan segalanya.
Tapi, Alice malah semakin panik. Dia takut jika laki-laki itu akan tidur di kamar ini bersamanya.
"Ya, kamu benar. Jadi, aku harus mandi sekarang sebelum tidur. Tunggu aku jika kamu mau, tapi jika tidak juga tidak masalah." ucapnya meninggalkan Alice begitu saja.
Dia sengaja melakukan hal itu, karena ingin melihat reaksi wanita itu terhadapnya. Dan benar saja, reaksi Alice sama seperti ketika pertama kali mereka melakukan hubungan saat itu.
Mengingatnya kembali membuat Rendra tersenyum. Ternyata waktu begitu cepat berlalu bukan? Lihat, sekarang mereka kembali di pertemukan takdir dengan cara atak terduga.
Alice yang berada di tempat tidur mulai panik. Dia gelisah saat mendengar air shower yang di matikan, dan pintu yang tak lama kemudian terbuka.
Jantungnya berdebar kencang dan apa itu? kenapa Rendra hanya keluar dengan handuknya saja?
Aahhkkk...
Rasanya Alice ingin berteriak saat ini juga. Karena penampilan Rendra benar-benar membuatnya panas dingin.
Rendra sendiri tahu jika wanita itu belum tidur. Bahkan dia sempat melirik sedikit ke arahnya, membuat Rendra semakin jadi mengganggunya.
Tempat tidur mulai bergerak, menandakan ada seseorang yang bertambah di atasnya.
Jantung Alice semakin berdebar kencang, dia berusaha untuk kata tentang menghadapi situasi ini. Sampai tiba-tiba saja sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.
Tidak! demi apapun dia benar-benar tidak bisa bernafas dengan tenang saat ini. Apalagi nafas Rendra yang menerpa batang lehernya. Oh God!
Tolong selamatkan dirinya saat ini. Posisi mereka sekarang benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantung dan mentalnya.
"Aku tau kau belum tidur Alice." ucap Rendra dengan suara beratnya.
Demi Tuhan, dadanya bergemuruh. Detak jantungnya semakin tidak karuan sekarang.
Siapapun tolong selamatkan dirinya dari predator ini.
Alice masih mengingat dengan jelas, bagaimana Rendra di atas ranjang. Walau sudah sangat lama tidak bertemu tapi dia masih sangat ingat seperti apa permainan Rendra saat bersamanya.
"Alice..." bisik Rendra lagi, membuat tubuhnya mulai bersaksi.
Dasar tubuh murahannya ini memang tidak pernah bisa menolah sentuhan Rendra yang memabukkan.
"Alice..." panggilnya lagi, dengan tangan yang mulai nakal.
"Alice...."
"Sa-saya..." suaranya mulai terasa berat.
Rendra tersenyum iblis, mendengar suara Alice yang mulai berat. Hingga tiba-tiba saja posisi berubah.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Alice panik ketika tubuhnya di tindih Rendra.
Tatapan keduanya saling mengunci satu sama lain. Lampu temaram ruangan ini semakin membuat suasana mereka semakin hangat.
"Apa ini sudah cukup gelap untukmu?" tanya Rendra yang masih sangat ingat jika Alice tidak suka ruangan yang terlalu terang.
Alice menganggukkan kepalanya, hingga tiba-tiba sebuah bibir langsung membungkamnya membuat dirinya hanya bisa pasrah.
***