"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINGIN DI BALIK IJAB
Lantai masjid utama di kota itu terasa sedingin es saat Zaid melangkah masuk. Ia tidak mengenakan jubah putih seperti yang dulu direncanakan Farhan. Zaid memilih kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mahal dan urat-urat tangannya yang tegang. Di luar masjid, puluhan motor anggota gengnya terparkir, menimbulkan suara bising yang sempat membuat beberapa jamaah mengernyitkan dahi.
Khadijah duduk di balik tirai pembatas kayu yang ukirannya sangat rapat. Ia bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah meja akad. Itu bukan langkah Farhan yang ringan dan teratur. Langkah ini berat, tegas, dan penuh keraguan.
"Saudara Zaid Al-Idrus bin Umar Al-Idrus..." suara penghulu menggema, memecah keheningan yang menyesakkan.
Zaid menatap meja di depannya dengan pandangan kosong. Di sampingnya, Habib Umar menggenggam lututnya sendiri, berdoa agar putranya tidak melakukan hal konyol.
"Saya terima nikahnya Syarifah Khadijah Al-Eydrus binti Abdullah Al-Haddad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Kalimat itu meluncur dari bibir Zaid dalam satu tarikan napas. Dingin, tanpa getaran cinta, namun sah di mata Tuhan dan manusia. Di balik tirai, bahu Khadijah bergetar. Ia baru saja resmi menjadi istri dari pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seorang pria yang namanya lebih sering terdengar dalam berita tawuran kampus daripada daftar hadir majelis taklim.
Kamar pengantin itu dihias dengan mawar putih, namun bagi Zaid, ruangan itu terasa seperti sel penjara. Ia masuk ke kamar saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Khadijah masih duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun akadnya, masih tertutup cadar.
Zaid melepas kemeja hitamnya, menyisakan kaos dalam putih yang membungkus tubuh atletisnya. Ia tidak menyapa. Ia menuju lemari, mengambil jaket kulitnya kembali.
"Kamu mau ke mana, Mas?" suara Khadijah memecah keheningan. Lembut, namun ada ketegasan seorang Hafizah di sana.
Zaid berhenti, tangannya sudah memegang gagang pintu. Ia berbalik, menatap Khadijah dengan tatapan sinis yang menjadi ciri khasnya di kampus. "Jangan panggil aku 'Mas'. Kedengarannya menjijikkan di telingaku. Aku bukan Farhan."
Khadijah terdiam. Jantungnya serasa diremas. "Tapi kamu suamiku sekarang."
"Suami karena wasiat, bukan karena mauku," Zaid melangkah mendekat, aroma parfum maskulin yang tajam bercampur sedikit aroma asap rokok menusuk indra penciuman Khadijah. "Dengar, Khadijah. Kamu punya duniamu sendiri dengan Al-Quran dan sajadahmu. Aku punya duniaku sendiri di jalanan. Kita tidak akan pernah bertemu di tengah. Jangan tunggu aku pulang."
*BRAK!*
Pintu tertutup dengan keras. Khadijah memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh menyentuh kain cadarnya. Ia mengambil mushaf kecil dari atas nakas, membukanya di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Ia butuh kekuatan yang lebih besar dari sekadar rasa sabar manusia.
Zaid memacu motornya menuju pusat kota, di mana lampu neon kelab malam mulai berkedip liar. Di sebuah sudut VIP, dua sahabatnya sudah menunggu dengan ekspresi yang sangat kontras.
"Selamat ya, pengantin baru!" Rian berteriak di tengah dentuman musik techno. Ia menepuk bahu Zaid sambil menyesap minumannya. "Gimana? Rasanya nikah sama Syarifah? Pasti kaku banget ya? Atau malah 'surprise'?"
Zaid menyentakkan tangan Rian dari bahunya. "Diamlah, Rian. Aku ke sini buat tenang, bukan buat bahas itu."
"Tenang gimana? Lo ninggalin bidadari di rumah demi tempat bising begini? Lo bener-bener nggak punya perasaan, Zaid," sela Haikal yang duduk dengan menyilangkan kaki, hanya memesan jus jeruk sebagai bentuk protes kecilnya karena selalu diajak ke tempat seperti ini.
"Dia bukan pilihanku, Kal! Dia titipan Abang. Lo tahu kan rasanya dikasih beban yang lo nggak sanggup pikul?" Zaid meneguk minuman dingin di depannya dengan rakus.
"Tapi dia istrimu sekarang, Zaid," suara Haikal meninggi, mencoba mengalahkan suara musik. "Ayahmu, Habib Umar, punya nama besar. Jangan sampai perbuatanmu di sini mempermalukan istrimu yang suci itu. Dia hafizah, Zaid. Dia menjaga kehormatannya, sedangkan kamu..."
"Aku apa?!" Zaid berdiri, wajahnya memerah. Lesung pipinya terlihat namun kali ini karena rahang yang mengeras marah. "Aku nggak pernah minta jadi anak Habib! Aku nggak pernah minta jadi adik Farhan! Aku cuma mau jadi diriku sendiri!"
Zaid pergi meninggalkan area VIP itu, namun ia tidak pulang. Ia menuju balkon kelab yang menghadap ke jalanan kota. Ia menyalakan sebatang rokok, menatap langit malam yang tak berbintang. Bayangan wajah Khadijah yang tertutup cadar tiba-tiba melintas. Ia teringat bagaimana Khadijah tetap menunduk saat ia mengucapkan ijab kabul. Ada aura ketulusan yang membuatnya merasa kerdil.
Pukul lima pagi, Zaid pulang dengan langkah gontai. Ia berharap Khadijah sudah tidur. Namun, saat ia membuka pintu kamar, ia menemukan istrinya masih dalam posisi yang sama bersimpuh di atas sajadah.
Khadijah baru saja menyelesaikan zikir subuhnya. Ia menoleh perlahan saat mendengar pintu terbuka. Ia bangkit, mendekati Zaid yang tampak sangat kacau. Tanpa kata, Khadijah mengulurkan tangannya untuk mengambil jaket Zaid.
Zaid sempat ingin menepis, namun tangannya berhenti di udara saat melihat mata Khadijah. Mata itu tidak memancarkan kemarahan atau penghakiman. Hanya ada kelelahan dan kasih sayang yang sangat tulus.
"Air hangatnya sudah siap di kamar mandi, Mas maksud saya, Zaid," Khadijah meralat panggilannya dengan suara rendah. "Sarapan juga sudah saya siapkan di meja. Saya tidak tahu kamu suka apa, jadi saya buatkan nasi goreng kesukaan almarhum Kak Farhan."
Mendengar nama Farhan, pertahanan Zaid sedikit runtuh. Ia menatap Khadijah lama, lalu mendengus pelan. "Lain kali jangan buatkan apa yang disukai Bang Farhan. Aku bukan dia."
Zaid melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Khadijah yang berdiri mematung. Khadijah menarik napas panjang. Ini baru hari pertama. Ia tahu, perjuangan untuk meluluhkan hati seorang Zaid Al-Idrus akan jauh lebih sulit daripada menghafal ribuan ayat Al-Quran. Namun, di dalam hatinya, ia sudah berjanji: ia tidak akan melepaskan tangan pria ini sebelum ia membawanya kembali ke jalan Allah.