Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluar
Hari-hari berikutnya, Bellatrix terus bersikap sama. Ia sering membuat onar kecil dengan menolak pelatih tata krama, berkata singkat dan tajam pada pelayan, berjalan-jalan ke tempat yang tidak diizinkan, dan melakukan apa saja yang dianggap tidak pantas untuk calon permaisuri. Namun lagi-lagi, sikapnya itu justru dianggap sebagai tanda keberanian dan kejujuran. Bahkan Permaisuri sering memujinya di depan orang lain.
“Dia hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” kata Permaisuri setiap kali ada yang mengeluh. “Jangan memaksanya menjadi orang lain.”
Semakin hari, rasa muak Bellatrix semakin memuncak. Ia merasa usahanya sia-sia, dan ia semakin tertekan dengan posisi yang dipaksakan padanya. Hingga suatu sore, saat perasaan jenuh dan kesal itu meluap melebihi batas, ia memutuskan untuk bertindak.
“Aku tidak tahan lagi di tempat ini. Jika aku terus diam, aku akan benar-benar terjebak selamanya,” gumamnya.
"Aku akan keluar. Persetan dengan aturan sialan ini. Kalaupun nanti di hukum ya bagus, tinggal pulang ke kediaman" matanya mulai bersinar dengan semangat.
Ia tahu, jika meminta izin secara resmi, pasti akan ditolak. Bahkan jika diizinkan, ia akan dikawal oleh puluhan pengawal, diikuti oleh pelayan, dan semua pergerakannya akan diawasi ketat dan rasanya bukan kebebasan, melainkan sekadar pindah tempat dengan pengawalan yang lebih banyak. Maka, Bellatrix memutuskan untuk mengambil jalan pintas yang lebih cepat dan leluasa.
Ia melangkah menuju balkon kamarnya yang menghadap ke arah belakang istana, tempat yang jarang dilalui orang dan dipisahkan oleh dinding batu yang tinggi namun tidak mustahil untuk dilewati.
Bellatrix tersenyum miring, matanya berbinar penuh keyakinan. Ia tidak terlahir sebagai gadis lemah yang hanya bisa menangis atau mengeluh.
Dengan gerakan yang lincah, ia memeriksa sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Begitu dipastikan aman, ia melangkah ke atas pagar balkon, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia melompat turun. Jaraknya cukup tinggi, namun kakinya mendarat dengan sangat lembut di atas semak-semak dan tanah lunak, tidak menimbulkan suara keras sama sekali. Ia berdiri tegak, mengibaskan sedikit debu di gaunnya, lalu melangkah dengan langkah cepat namun senyap menuju bagian dinding yang paling rendah.
Dengan sedikit bantuan tenaga dalam yang ia miliki, ia melompat dan memanjat dinding batu setinggi tujuh meter itu dengan mudah, seolah ia hanya memanjat tangga biasa. Beberapa saat kemudian, ia sudah berdiri di luar batas wilayah istana, menghirup udara bebas yang terasa berbeda dan lebih segar, lebih hidup, dan tidak terasa kaku seperti udara di dalam lingkungan istana.
"Tidak ada yang bisa menghentikan ku,” bisiknya dengan senyum lebar.
Bellatrix mulai berjalan menyusuri jalanan yang semakin ramai seiring ia menjauhi wilayah istana. Jalanan itu lebar dan bersih, dipenuhi oleh pedagang yang menjajakan barang dagangannya, warga yang berlalu-lalang dengan wajah ceria, anak-anak yang berlarian sambil tertawa riang, dan suara-suara yang membentuk kesibukan khas ibu kota kekaisaran. Bagi Bellatrix, ini adalah dunia yang terasa asing namun juga sangat mememikat. Baru kali ini dia melihat keadaan kerajaan ini semenjak menjadi Bellatrix.
Ia berjalan santai, matanya berkeliling memandang setiap sudut jalan, memandang berbagai barang yang dipajang di depan toko-toko. Wajahnya yang biasanya dingin dan datar kini berubah menjadi cerah, matanya bersinar penuh rasa ingin tahu, dan senyum tipis tidak pernah lepas dari bibirnya. Ia terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia yang luas.
Ia berhenti di depan sebuah toko perhiasan yang memajukan anting-anting dan kalung yang terbuat dari batu-batu indah. Ia tidak membeli yang mahal, hanya memilih beberapa aksesoris sederhana yang terlihat unik menurutnya. Lalu ia bergerak ke toko kain, menyentuh berbagai jenis kain sutra, wol, dan katun dengan rasa takjub. Ia juga mampir ke penjual makanan pinggir jalan, membeli kue manis yang berwarna-warni, minuman buah yang segar, dan berbagai camilan yang aromanya tercium sampai ke seberang jalan.
“Wah, ini enak sekali,” katanya sambil menggigit sepotong kue, matanya menyipit senang.
Ia tidak menghitung pengeluarannya. Selama ia merasa suka, ia akan membelinya tanpa ragu sedikit pun. Ia membawa semua barang belanjaannya dengan mudah, seolah barang-barang itu tidak memiliki berat sama sekali karena ia memiliki sebuah cincin dimensi yang tersembunyi di jari manisnya, sebuah benda ajaib yang bisa menyimpan barang dalam ruang terpisah tanpa membebani tubuh. Ia memasukkan semuanya ke dalam cincin itu, sehingga ia tetap bisa berjalan dengan bebas tanpa terlihat membawa banyak barang.
Bellatrix benar-benar larut dalam kesenangannya. Ia berjalan dari satu ujung jalan ke ujung lainnya, berhenti di setiap tempat yang menarik perhatiannya, mendengarkan cerita para pedagang, tertawa melihat kelakuan anak-anak, dan melupakan segala beban pikiran, aturan istana, kewajiban, serta masalah pertunangannya dengan Thiago. Waktu terasa berjalan begitu cepat baginya.
Matahari perlahan mulai merendah ke arah barat, mewarnai langit dengan nuansa jingga dan ungu, namun Bellatrix tidak menyadarinya. Ia terlalu sibuk menikmati kebebasan yang baru saja ia rasakan.
Sementara Bellatrix bersenang-senang dengan tenang, di dalam istana justru terjadi kekacauan besar yang luar biasa.
Semua orang panik saat pelayan yang bertugas mengantar minuman ke kamar Bellatrix mendapati ruangan itu kosong, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu di mana pun. Berita itu segera disampaikan ke Alexander, dan saat ia mendengar kabar itu, darahnya terasa berhenti mengalir sejenak. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali kini berubah pucat pasi, matanya melebar penuh kecemasan.
“Bagaimana bisa dia hilang? Pintu terkunci dari dalam, dan tidak ada laporan orang keluar dari gerbang!” seru Alexander dengan suara yang sedikit gemetar karena terkejut.
Ia segera memeriksa sendiri kamar adiknya, melihat jendela dan balkon, lalu menemukan jejak kaki samar di dinding luar yang mengarah ke bawah.
“Dasar gadis keras kepala itu… dia benar-benar melakukannya” geram Alexander, namun nada bicaranya lebih dipenuhi rasa khawatir daripada marah. “Di mana dia bisa pergi sendirian? Apakah dia tahu bahaya apa yang menunggu di luar sana?”
Ia segera mengerahkan seluruh pengawal kepercayaannya, memerintahkan mereka untuk menyebar dan mencari ke seluruh penjuru kota. Ia sendiri berjalan mondar-mandir di lorong dengan wajah cemas, jari-jarinya meremas kain jubahnya dengan kuat. Rasa takut menyelimuti hatinya jika terjadi sesuatu pada Bellatrix, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia merasa hampir gila memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa menimpa adiknya itu.
Tidak hanya Alexander yang panik. Berita itu sampai juga ke telinga Kaisar dan Permaisuri, yang juga terkejut dan segera memerintahkan penjagaan diperketat. Namun yang paling terpengaruh adalah Thiago.
Begitu mendengar laporan bahwa Bellatrix menghilang dari kamarnya tanpa jejak, suasana di ruang kerjanya berubah menjadi sangat dingin dan menegangkan. Suhu udara seolah turun drastis, dan tatapan mata Thiago berubah menjadi tajam dan gelap, memancarkan aura yang menekan siapa pun yang berada di dekatnya.
“Dia kabur” gumam Thiago pelan, namun nadanya mengandung ketegangan yang mendalam.
Namun, tidak seperti orang lain yang harus mencari ke sana kemari, Thiago memiliki kelebihan tersendiri. Sejak kejadian di ruang audiensi, saat ia mencium Bellatrix dengan niat mengikat ikatan mereka, ia tanpa sadar telah membentuk sebuah hubungan magis yang halus antara keduanya. Itu adalah efek samping dari tanda ikatan yang diberikan secara mendalam. bukan hanya sekadar simbol adat, tapi juga jejak energi yang menghubungkan jiwa mereka. Meskipun Bellatrix tidak menyadarinya, Thiago bisa merasakan keberadaan gadis itu, seolah ada benang halus yang menghubungkan hatinya dengan hati Bellatrix.
Ia menutup matanya sejenak, memusatkan kesadarannya, dan segera ia merasakan getaran keberadaan Bellatrix yang cukup jauh dari istana namun tetap terasa jelas. Senyum samar muncul di sudut bibirnya, bukan senyum marah, melainkan senyum yang terasa menantang dan sedikit terhibur.
“Kau memang tidak pernah berhenti membuatku terkejut, gadis kecil ini,” bisiknya. “Tapi kali ini, kau tidak akan bisa bersembunyi lagi dariku.”
Tanpa membuang waktu lebih lama, Thiago membuka pintu ruang dimensi di depannya. Cahaya keperakan melingkupi tubuhnya sejenak, lalu tubuhnya menghilang dari tempat itu, berpindah tempat secara langsung menuju lokasi di mana ia merasakan keberadaan Bellatrix.