Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Setelah menempuh perjalanan panjang selama lima jam, akhirnya mereka tiba di kampung halaman nenek Prisha. Hamparan sawah yang menghijau dan deretan pegunungan indah menyambut kedatangan mereka, seolah memanjakan mata dengan keindahan alam yang damai.
"Nenek, ini Prisha ..." seru Prisha, berlari kecil menghampiri neneknya.
Tanpa ragu, dia langsung memeluk sang nenek dengan erat. "Cucuku sayang," sahut nenek dengan penuh kasih.
Mereka berpelukan hangat, dan sesekali nenek mencium kedua pipi Prisha sambil mengucapkan rasa sayang dan rindunya. Melihat momen manis itu, Anaya, dan Laksha tak bisa menyembunyikan perasaan haru. Terutama bagi Valeska, yang tak pernah merasakan dekapan seorang kakek atau nenek sejak kecil.
"Nenek sehat, kan? Prisha kangen banget," kata Prisha sambil memeluk neneknya sekali lagi.
"Sehat kok, Nak. Tapi sudah ya, Nenek jadi sesak nih kalau dipeluk terus," jawabnya sambil mencubit kedua pipi Prisha dengan gemas.
"Aduh, ampun Nek. Baru datang, udah kena cubit," gurau Prisha, mengaduh kecil.
Nenek hanya menghela napas sambil tersenyum, lalu menoleh ke arah tiga orang yang berdiri sambil tersenyum menyapa.
"Oh iya, Nek. Kenalin, ini teman-teman Prisha dari kota.""Halo, Nek. Saya Anaya,"
"Saya Valeska, temannya Prisha,"
"Dan saya Laksha, Nek."
"Panggil saja Nek Murti," balas sang nenek dengan ramah.
Mereka menyalami tangan nenek dengan penuh hormat.
"Sebelumnya maaf, ya, Nek. Kami bertiga jadi ikut Prisha liburan ke sini," kata Laksha merasa sedikit sungkan.
"Wah, nggak usah minta maaf. Nenek malah senang kalian mau berkunjung ke desa ini, apalagi tinggal beberapa hari di gubuk, Nenek," ujar nek Murti dengan senyum lebar.
"Kok gubuk, kan seharunya rumah. Gubuk apaan?" ujar Anaya, bingung.
"Rumah," jelas Laksha pelan.
"Nek, teman saya ini kudet alias kurang update, jadi harap maklum," timpal Valeska bercanda.
Sebenarnya Anaya tahu apa itu gubuk, tapi terkesima dengan rumah di depannya. Rumah nek Murti ini jauh dari kesan gubuk yang kecil dan sederhana. Di hadapannya berdiri sebuah rumah kayu besar, luas, dan terasa antik namun mewah, hampir seperti rumah sultan. Anaya pun yakin, kayu yang menjadi bahan rumah ini pasti mahal dan bernilai.
Nenek Murti tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar di wajah anak-anak itu. "Semoga kalian betah disini, ya. Di desa, memang nggak ada toko-toko besar seperti di kota."
"Tenang aja, Nek. Udara di sini segar, pemandangannya indah, bebas dari polusi. Ini benar-benar menyenangkan," ucap Valeska jujur.
"Kalau begitu, yuk masuk. Kalian pasti capek dan butuh istirahat. Kebetulan Nenek sudah masak banyak buat kalian. Bersih-bersih dulu, habis itu kita makan bersama, ya," kata Nenek Murti sambil mempersilakan mereka masuk ke dalam rumah dengan senyum penuh kehangatan yang tak pernah sirna.
***
Malam ini, Kaivandra, Arjuna, Vikara, dan Satya memutuskan untuk berkumpul di sebuah kafe di pusat kota. Sudah lama mereka tak menikmati momen santai bersama seperti ini, dan akhirnya kesempatan telah tiba setelah selesai menghadapi ujian tengah semester yang membuat kepala mereka berasap.
Malam terasa lebih hangat dengan canda dan tawa yang kembali mengisi kebersamaan mereka.
"Mau nambah cemilan nggak?" tanya Vikara, pada ketiga temannya.
"Nggak usah, ini juga masih banyak," sahut Arjuna, sambil menyeruput minuman yang dia pesan.
"Pesen aja, Vik. Nanti gue yang bayar, gue tahu kalian masih laper'kan?" tanya Kaivandra, tanpa ekspresi.
"Ah iya, kalian memang suka malu-malu anjing,"
"Malu-malu kucing, Satya. Bahasanya tolong dijaga, Nak," sahut Arjuna, membuat Satya memutar bola matanya malas.
"Terserah gue dong, hak asasi manusia bro."
"Dikasih tahu, malah ngeyel. Dasar anak kuyang!" Kaivandra menoleh, dan menatap temannya.
"Mulai-mulai, awas aja kalau adu mulut lagi,"
"Dia marah, kalian sih, ribut mulu kerjaannya. Huuh dasar."
"Dia, bukan gue! Dasar anak kuyang." Timpal, Arjuna tidak mau kalah.Tingkah Arjuna dan Vikara, memang selalu berhasil membuat Kaivandra naik pitam.
"Abang ..." suara seseorang, membuat ketiga pemuda yang sedang duduk santai langsung menoleh secara bersamaan.
"Siapa?"
"Nggak tahu ..."
"Kaivandra," pria dewasa itu memanggil namanya.
"Ini Papa, bang."
"Papa lo, ege. Samperin geh,"
"Mau ngapain dia ke sini?"
"Ya mana tahu, makanya samperin." Kaivandra mengangguk setelah Vikara berkata demikian.
"Papa, kok bisa ada di sini?" tanya Kaivandra, merasa heran.
"Kebetulan Papa ada meeting di sini, dan lihat kamu bersama teman-teman. Lagi nongkrong? Adek, mana, bang?"
"Adek liburan sama temen-temennya, tadi pagi berangkat. Soalnya kalau nggak sama mereka, mau siapa lagi?Abang sibuk kuliah, Mama sibuk ngurus perusahaannya, Papa juga sibuk meeting," Girga pun tertegun setelah mendengar penjelasan dari putra sulungnya.
Sementara di sana, suasana yang semula riuh, tiba-tiba hening penuh pertanyaan. Ketiga pemuda itu saling memandang satu sama lain, tidak percaya dengan ucapan Kaivandra yang baru disampaikan.
"Ya udah, setelah adek pulang dari sana, abang sama adek ikut Papa aja. Kita jalan-jalan bareng, itu kan yang kalian mau?" tanya Girga, pada Kaivandra.
"Gitu ke, dari kemarin. Kerja selalu diutamakan, perihal kebahagiaan anak di nomor duakan. Kalau gitu, Abang ke sana dulu Pa, makasih untuk pertemuan yang tidak disengaja ini." Finish Kaivandra, sebelum pergi, diatidak lupa untuk menyalami tangan papanya.
"Jaga kesehatan, abang sayang Papa." Ucapnya dingin.
***
Suasana malam yang biasanya sunyi kini berubah hangat dan ramai. Di atas meja, berbagai hidangan sederhana tertata rapi, menyambut kehadiran mereka dengan keakraban khas pedesaan. Setelah membersihkan diri, ke empat gadis itu segera menuju meja makan, menjawab panggilan dari nek Murti.
Malam ini, mereka akan menikmati makan malam bersama. Nek Murti, menatap satu per satu gadis di dekatnya yang masih terdiam, bahkan piring mereka masih kosong.
"Ayo, ambil nasinya. Maaf ya, makanannya nggak banyak. Kalian nggak apa-apa makan yang Nenek sajikan?"
"Ah, iya, Nek. Ini juga sudah lebih dari cukup. Malah, makanan seperti ini biasanya lebih nikmat," jawab Laksha, tersenyum mewakili teman-temannya.
"Syukurlah kalau begitu, Nenek jadi senang. Mari makan, ya," ujar Nek Murti ramah.
Hidangan sederhana namun menggugah selera terhampar di meja, sayur asam, urap daun singkong, nila bakar, sambal pecak, dan bacem tahu-tempe. Tak lupa ikan asin dan kerupuk udang yang tersusun rapi menambah kehangatan.
Sejak tadi, Valeska tampak memperhatikan hidangan di depannya. Di antara banyak pilihan, atensinya tertuju pada urap daun singkong yang tampak asing di matanya. Laksha, yang duduk di sampingnya,menyadari temannya yang terdiam. Semua orang sudah mulai makan, tapi piring Valeska masih kosong.
"Kenapa?" tanya Laksha sambil menyenggol lengannya.
"Enggak kok," jawab Valeska singkat.
"Terus? Kenapa piringnya masih kosong? Makan dong, jangan cuma diliatin," canda Laksha.
"Itu yang ada putih-putihnya, apa ya?" Valeska bertanya, menunjuk urap yang ada di depannya. Pertanyaan polosnya membuat yang lain berhenti sejenak, menahan tawa.
"Serius nggak tahu?" tanya Prisha, takjub. Valeska hanya menggeleng, menunggu jawaban.
Dalam hatinya, Valeska bertanya-tanya, apa sih hidangan ini? Kok, mereka lahap sekali memakannya? Anaya yang duduk di seberang hanya terkekeh kecil, menganggap lucu temannya yang belum pernah tahu hidangan sepopuler urap ini.
"Anak sultan, banget," gumam Anaya sambil tersenyum geli. Bagi Anaya, lucu sekali melihat temannya tak mengenal makanan yang banyak dijual di warteg-warteg kota.
"Ini namanya urap daun singkong," jelas Nek Murti dengan lembut.
Valeska mengangguk, mulai paham."Kalau yang ini tahu nggak?" Prisha menunjuk piring berisi ikan asin.
"Oh, kalau itu aku tahu! Ikan kering, kan? Biasanya dijemur dulu sebelum digoreng," jawab Valeska percaya diri.
"Aku pernah lihat sih, tapi nggak pernah coba. Abang bilang itu nggak enak," lanjutnya jujur.
"Lo, selama ini dikasih makan apa sama Bang Kaivandra?" tanya Laksha heran.
"Yang ada di apartemen aja, aku belum pernah coba makanan kayak gini," jawab Valeska polos.
"Valeska, ini enak. Cobain deh," bujuk Laksha sambil menyodorkan piringnya. Valeska pun mencicipi lauk yang teman-temannya berikan.
"Ini pertama kalinya gue coba ikan kering begini.Ternyata enak ya, walaupun agak asin. Apa kebanyakan garam ya? Tapi nggak apa-apa, ini enak apalagi kalau dicocol sambal," ucap Valeska, menikmati pedas gurih sambal dengan rasa ikan asin yang khas.
"Itu namanya ikan asin, bukan ikan kering kebanyakan garam," Prisha terkekeh, mengoreksi sambil tersenyum.
Walau Valeska memiliki kondisi kesehatan khusus, namun saat ini dia tidak peduli dan ingin menikmati sesuatu yang ada di hadapannya sekarang, itulah cara dia menikmati hidangan malam ini tanpa khawatir.
"Nek, nanti bungkusin buat abang juga ya. Dia harus coba makanan ini, pasti suka!" ujarnya bersemangat.
"Boleh, nanti Nenek siapkan yang spesial buat Nak Valeska," jawab nek Murti dengan senyum hangat, senang melihat teman cucunya seperti ini.