Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu..
Varren memilih semua barang yang ingin dirinya beli. Ia membeli semua bumbu soto seperti yang diinginkan, ia juga membeli beberapa bahan membuat donat dan makanan cepat dan siap saji. Sampai jam 10 malam dirinya baru pulang ke asrama saat semua orang tidak ada di sana. Varren tersenyum dan menaruh semua bahan-bahan yang dirinya beli.
Varren segera mandi dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak, karena lelah seharian berada di luar.
Varren mengingat sosok Ikhsan yang tadi ditemuinya di jalanan. Varren menghela napas pelan. Ia memang tidak mematikan syaraf Ikhsan. Ia hanya membuatnya tertidur sementara. Dunia akan menganggap Ikhsan lumpuh permanen, padahal hanya Varren yang memiliki obat untuk membangunkannya. Jika suatu hari nanti ia menemukan kebenaran tentang kasus keluarga Ikhsan, ia bisa memutuskan apakah akan memberikan obat itu atau tidak.
Tring.
Varren melirik HP-nya yang berbunyi. Alvino. Ia berdehem menekan ikon hijau dan mengangkat teleponnya tenang.
"Halo Varren..." dari seberang terdengar suara yang sangat tenang. Alvino ini terkenal dengan lelaki licik dan penuh tipu muslihat. Jika dirinya tersenyum bukan berarti dia bahagia, jika dia marah bukan berarti dia marah. Dan apa yang keluar dari mulutnya, akan selalu ada bisa dan maksud lain. Alvino penjahat licik.
Varren melirik jam di dindingnya. "Yah?"
Varren menjawab tenang membuat di seberang terkekeh. "Varren… gue denger misi loe belum selesai??? Mau kapan menyelesaikannya?" tanya Alvino. Arti dari kata Alvino jika memerintah Varren lebih cepat bertindak. Hanya menggunakan kata halus agar Varren paham dan tidak seperti ditekan olehnya.
"Tunggu kabar berikutnya aja. Dan jangan lupa TF di rekening gue. Haikal masih nyimpen rekening gue kan Alvino?" tanya Varren tersenyum miring.
Alvino mendengarnya mengangguk. "Wah gue pikir Varren terkenal baik nan lugu nggak bisa ngelakuin kejahatan. Kayaknya kali ini Varren sangat tertekan haha." Ia tertawa riang mendengar Varren yang sudah mengerjakan misinya.
Varren mengambil vape-nya dan menghisapnya tenang. "Bahkan kalo ada misi buat bunuh loe gue ambil kalo bersangkutan buat mama gue," jelas Varren terkekeh.
Alvino di seberang terdiam mendengarnya dan Varren malah terkekeh usai menghisap vape-nya. "Bercanda Alvino." jelasnya berlanjut.
Alvino berdehem. "Loe jadi ke sirkuit? Katanya Geng Phoenix malam ini yang turun. Ketua mereka turun dan kalo mereka turun tarifnya pasti gede. Minimal dua puluh juta." ujar Alvino mengalihkan pembicaraan kepada Varren.
Varren mengangguk tenang. "Jemput gue dua puluh menit lagi." jelas Varren.
Alvino mendengarnya tersenyum miring. "Oke." jelasnya mematikan telepon.
Varren menghela napas pelan menatap foto dirinya bersama seseorang tercetak di dekat brankarnya. Di sana Varren bisa melihat wajah Ferdinand dan Mbak Rini—dua orang yang menjadi alasan ia bertahan. Varren menghela napas pelan, sesak. Shena manusia licik itu, ia harus melepaskan Ferdinand dan Mbak Rini secepatnya dari Shena.
Varren mengambil jaket geng miliknya. Kings of Asphalt. Itu adalah geng motor yang ia pimpin—geng yang ia bangun dari nol sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap ibunya. Tapi di balik itu, ada kelompok hitam yang dijalankan Alvino, menggunakan nama Geng Master sebagai penutup. Varren tahu ini berbahaya, tapi ia tidak punya pilihan.
Sedangkan geng yang dimusuhi mereka adalah Phoenix. Geng Phoenix selalu mencari masalah dengan mereka, selalu ikut campur dalam urusan yang dilakukan. Bagi Phoenix, mereka harus dibubarkan karena melakukan banyak kejahatan.
---
Dua puluh menit kemudian Alvino sampai dengan motor besarnya. Varren segera turun dari balkon dan memanjat tembok. Tangannya berpindah dari pagar balkon ke pipa air dengan lincah. Bukan apa-apa bagi Varren. Ia sudah banyak melakukan hal yang lebih ekstrem lagi untuk bertahan hidup. Di jalan belakang asrama, Alvino sudah duduk di atas motor sembari merokok. Varren mendekat dan Alvino melemparkan rokoknya.
Varren menangkapnya dan menatapnya tenang. "Skuy." ujarnya.
Varren menyimpan rokok tersebut dan menaiki motor. Ia sudah menggunakan helm sejak tadi. Motor yang dibawa Alvino melaju cepat menuju tujuan mereka. Satu jam mereka sampai dan di sana sudah penuh dengan orang-orang baik dari perempuan maupun laki-laki.
Varren diam menatap menelisik sekitar, mencari sosok Sylas dan rombongannya.
Tatapannya bertemu pada Reja dan juga rombongan, tepat di depan rombongannya mereka.
Varren tersenyum miring dan segera turun.
"Wahhh… Bos Kings of Asphalt ini turun. Biasanya nggak bisa ikut." ujar heboh dari Hiro melihat Varren turun dari motor. Varren menyambut tosan ala pria dari Hiro dan juga rombongan lain. Lalu mereka pun juga menyapa Alvino yang berjalan di belakang Varren.
Semua anggota dari Kings of Asphalt akan menggunakan penutup wajah masing-masingnya. Tidak ada yang mengetahui identitas mereka, sebab mereka harus menutupi identitas demi keselamatan bersama.
Varren menatap ke depan. Tatapannya mendapati tatapan Reja dan teman-temannya menatap Kings of Asphalt dingin. Ternyata benar kata Alvaro jika Sylas adalah ketua kelompok Geng Phoenix dan dirinya berada di kandang lawan selama ini.
"Hari ini berapa taruhannya?" tanya Varren tenang pada rombongannya.
"Yang ikut lima orang, dan per orang dua puluh juta. Kali kan aja." jelas Hiro kepada Varren heboh.
Varren mendengarnya cukup berminat, menatap Alvino. "Loe ikut?" tanya Varren.
Alvino menaik turun alisnya yang artinya ia ikut.
"Loe kalo mau ikut bisa pake motor gue." ujar Haikal melempar kunci motornya.
Varren menangkapnya dan berdehem. "Loe nggak ikut?" tanya Varren kepada Haikal pelan.
Haikal menggeleng tenang. "Nggak. Soalnya yang ikut ketua Phoenix. Alvino aja kalah sama dia. Dibanding buang-buang uang mending nggak dulu." jelas Haikal tersenyum miring melihat Alvino.
Alvino yang dirosting oleh Haikal menatap Haikal tajam. "Gue hanya belum menang bukan kalah." jelasnya tidak suka pada Haikal.
"Sama aja." ujar Varren membuat Alvino ditertawakan oleh teman-temannya. Yah, tidak ada yang berani pada Alvino kecuali Varren dan juga Haikal.
Varren menatap ke arah Sylas yang berdiri di antara rombongan Phoenix. Tatapan mereka bertemu sejenak. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang memberikan isyarat.
Varren tahu siapa Sylas.
Tapi Sylas? entah lah.
Tapi malam ini, mereka hanya dua orang asing di sisi yang berlawanan.
Varren menarik helmnya, menutup wajahnya sepenuhnya.
"Gas."
---
Di sisi lain, Sylas berdiri dengan tangan di saku jaketnya, menatap ke arah rombongan Kings of Asphalt. Matanya menyipit di balik helm yang ia kenakan.
Kenapa mata orang itu...
Mirip Varren?
Ia menggelengkan kepala sebentar, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi sesuatu di dalam hatinya tetap tidak tenang.
Bersambung...