Menjadi pengantin yang tak direstui membuat Aiza dan Akhmar harus berperang dengan perasaan masing- masing meski sebenarnya saling cinta. Bahkan Akhmar bersikap dingin pada Aiza supaya Aiza menyerah dan mundur dari pernikahan, tapi Aiza malah melakukan sesuatu yang tak diduga. Membuat Akhmar menjadi takluk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saran Umi
“Adzan baru saja selesai, kamu kenapa nggak shalat?” selidik Ismail menatap Aiza yang malah terlihat santai.
“Perempuan itu kan istimewa, ada hari dimana dilarang untuk shalat.” Aiza mengulum senyum. Ia terbiasa bangun subuh, sehingga ia tetap terjaga meski tidak shalat.
“Abah mau ngecek ke kamar pria berandalan itu! sedang apa dia subuh- subuh begini. Awas saja kalau masih nungging di balik selimut!” Ismail melangkah menuju ke kamar Akhmar yang cukup jauh dari kamar Aiza. Sengaja ia meletakkan menantunya itu di kamar yang berjauhan supaya sulit bagi Akhmar untuk mencuri waktu ke kamar Aiza.
Aiza menyambar jilbab dan melilitkan sembarangan di kepalanya, ia mengikuti Ismail. Ingin tau apa yang dilakukan Ismail pada Akhmar. Biasanya kan Ismail dan Akhmar seperti kucing dan tikus, berantem terus. Bahaya kalau menantu dan mertua itu adu tinju, Aiza hanya ingin menjadi pengaman saja.
Langkah Isamil berhenti di depan pintu kamar Akhmar. Ia langsung membuka pintu dengan sentakan kuat.
“Allahu Akbar!” terdengar bisikan kecil mengucap takbir. Tampak Akhmar sedang bersujud. Mengenakan kopiah warna cokelat, bawahannya celana hitam.
Ismail mengernyit.
Aiza melepas napas lega. Damai sekali hatinya melihat Akhmar sedang melaksanakan shalat. Ia tidak menyangka jika ternyata pria itu sudah berubah sekarang.
Cepat Aiza melenyapkan senyum di wajahnya ketika Ismail menoleh ke arahnya. Ia pun balik badan kemudian menuju dapur untuk membantu Qanita membereskan urusan dapur.
Qanita belum ada di dapur. Mungkin masih shalat.
Aiza memulai kegiatan pagi itu dengan menurunkan ikan dari kulkas. Lalu membuat bumbu untuk pepes. Entah kenapa semangatnya begitu membuncah untuk memasak. Padahal selama ini ia sangat malas terjun ke dapur untuk urusan memasak. Apakah karena ia ingin menyajikan hasil masakannya untuk Akhmar?
Senyumnya mengembang membayangkan lauknya disantap oleh Akhmar. Tak peduli mukanya kena cipratan air cucian ikan, senyum tetap lancar. Rasanya masih tak percaya kini Akhmar sudah menjadi suami sahnya.
“Hmm… Anak umi rajin banget, pagi- pagi udah duluan ke dapur untuk masak!” Qanita senyam senyum melihat bungsunya bergulat dengan pekerjaan dapur.
“Aiza kan nggak shalat, jadi bisa ke dapur duluan.”
“Biasanya nggak shalat juga nggak pernah turun ke dapur.”
Aiza menoleh, hanya nyengir.
“Alhamdulillah, pernikahanmu membawa hikmah. Akhirnya mau bantu- bantu masak di dapur. Biasanya Cuma mau bantuin cuci piring, cuci baju, atau bantuin bikin kue.” Qanita mulai merajang- rajang bahan masakan. “Kamu jangan terlalu mendengarkan perkataan Abahmu ya!”
“Perkataan yang mana, Umi?” Aiza mengolesi bumbu yang sudah dia buat ke badan ikan.
“Perkataan yang bilang kalau kamu dan Akhmar nggak boleh melakukan hubungan suami istri.”
Muka Aiza sontak memanas. Lah, pikiran malah traveling. Tidak tau bagaimana kejadiannya kalau Akhmar beneran minta jatah yang inu.
“Kita menjalani hidup ini berdasarkan petunjuk di Al Quran,” sambung Qanita. “Kalau sekiranya apa yang disampaikan orang tuamu keliru dan nggak sesuai dengan dalil, maka kamu boleh melanggarnya. Dengan melarang kamu dan Akhmar berhubungan selayaknya suami istri, maka itu adalah kekeliruan besar dan bertentangan dengan ajaran agama. Sudah sewajarnya sepasang suami istri itu bergaul. Kalau pun Akhmar mendatangimu, maka kamu wajib melayaninya, Aiza.”
“Akhmar belum ada mendatangi Aiza kok, Umi. Tenang aja.” Aiza menyeletuk sambil memasukkan pepesan ikan ke dalam oven yang sudah dipanaskan. Jantungnya agak deg- degan membahas hal sesensitif ini. “O ya Umi, Umi masih beranggapan kalau Aiza sengaja tidur dengan Akhmar nggak?”
Qanita mengulas senyum tipis, menatap bungsunya intens. “Umi percaya kok sama kamu.”
“Makasih, Umi.”
***
Bersambung