NovelToon NovelToon
Sisa Rasa

Sisa Rasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Patahhati / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.7
Nama Author: Devi21

Deva dan Dave mengakhiri ikatan cinta sebagai sepasang kekasih karena bakti pada orangtua. Namun, cinta tidak pernah benar-benar pergi dari hati keduanya. Ketika logika mengatakan harus berpisah, namun perasaan bersikeras menahan diri untuk tidak beranjak kemana-kemana.

"Berhenti berharap pada suami orang, Dev. Jangan merendahkan dirimu seolah kamu tidak layak mendapatkan cinta yang utuh dari orang lain. Dave jelas bukan jodohmu."

Sederat kata itu diucapkan oleh sosok pria yang mengagumi dan mencintai Deva dengan cara yang berbeda. Siapakah dia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datang lagi ujian

Deva menghampiri ruang kaca di sudut lobby, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahunan, sudah menunggunya di sana. Pria itu bernama Dito---pemilik rumah yang dikontrak oleh Deva.

"Selamat pagi, Pak Dito ...." Deva menyapa pria tersebut.

"Pagi, Mbak Deva. Maaf pagi-pagi mengganggu kerjaan, Mbak. Henpon saya hilang, jadi nomornya Mbak Deva ikutan hilang juga." Dito berdiri sembari mengulurkan tangan pada Deva.

"Owalah, gitu. Nggak papa kok, Pak. Bapak apa kabar?" Deva menyambut tangan Dito. Keduanya lalu duduk saling berhadapan.

"Alhamdulillah sehat, Mbak. Saya langsung ngomong saja ya, Mbak. Jadi begini, anak saya yang bekerja di Jepang, bulan depan datang bersama anak istrinya. Maksud saya, karena kebetulan bulan ini masa kontrakan Mbak Deva sudah habis. Mereka akan menempati sendiri rumah itu. Jadi saya mohon maaf, kalau tidak bisa memperpanjang kontrakan Mbak Deva." Pria tersebut nampak sangat hati-hati dan sopan saat menyampaikannya.

Seketika Deva menelan ludahnya dengan susah payah. Setelah rumahnya di jual, dan hidup di rumah kontrakan yang sama selama kurang lebih lima tahun, baru kali ini, dia akan merasakan berpindah ke tempat yang baru lagi. Tarikan napas Deva terlihat begitu berat.

"Mohon maaf ya, Mbak Deva. Mungkin terlalu mendadak. Tapi masih ada waktu kurang lebih dua puluh hari lagi, Mbak. Semoga segera menemukan rumah yang cocok untuk Mbak Deva."

"Amin ... buat saya, bukan masalah bagaimana rumahnya, Pak. Asal sesuai dengan budget saya saja. Di mana pun saya tinggal, toh saya hanya sendirian. Ketika sebagian besar orang mengatakan Rumah adalah tempat untuk pulang dan berbagi kehangatan dengan sesama anggota keluarga, bagi saya rumah hanya persinggahan." Pandangan Deva menerawang jauh, seperti orang yang sedang melamun.

"Maaf ya, Mbak. Saya jadi tidak enak. Kalau boleh, saya minta nomor teleponnya Mbak Deva. Kalau saya tahu, ada rumah yang dikontrakkan, nanti saya akan hubungi Mbak Deva."

"Boleh, Pak." Kemudian Deva menyebutkan nomor ponselnya dengan pelan-pelan.

Karena semua urusan sudah selesai, Dito pun segera berpamitan. Deva juga langsung kembali ke ruangannya. Menyelesaikan semua pekerjaan yang diberikan oleh Dewa secepat yang dia bisa. Banyak masalah pribadi yang membebani pikirannya, tidak membuat semangat kerja Deva memudar. Justru dia semakin bersemangat. Semakin sibuk, bagi Deva semakin bagus. Setidaknya, pikiran menjadi teralihkan.

Sesuai yang diminta Dewa, bahkan lebih cepat dua jam dari waktu yang ditentukan. Deva sudah memberikan semua berkas pada atasannya tersebut.

"Apa ada hal lain yang bisa saya kerjakan dengan segera, Pak? Mungkin proyek di Bolero? Saya coba membuatkan materi untuk pengajuan tender. Supaya Bapak bisa fokus pada kasus Pak Edward."

Tawaran Deva berhasil membuat Dewa terkesima. Asisten pribadinya itu benar-benar bekerja layaknya robot---tidak kenal lelah, dan terlampau cepat.

"Dev...laptopmu, bisa dibawa ke sini saja, nggak? Jadi kita sekalian bisa diskusi bareng," usul Dewa.

"Bisa, Pak."

Tanpa membuang waktu, Deva langsung kembali ke ruangannya, mengambil laptop dan buku catatan kecil yang selalu setia menemani hari-harinya agar pekerjaannya lebih mudah.

"Taruh di meja sini aja, Dev." Begitu melihat Deva masuk, Dewa menunjuk sisi depan mejanya yang kosong.

Deva langsung meletakkan laptopnya tanpa protes. Dia pun mulai bekerja dengan fokus. Sesekali mulutnya mengeluarkan pertanyaan, dan kadang juga jawaban singkat untuk Dewa. Dalam waktu satu jam, pekerjaannya selesai.

"What? Kamu beneran sudah selesai? Nggak ngawur kan?" Dewa menarik laptop Deva hingga membuat posisi layar menghadap dirinya. Mulutnya bergerak pelan membaca semua detail yang ditampilkan di sana.

"Gila! Bagaimana kamu bisa melakukan ini dalam waktu secepat ini?" Dewa menggelengkan kepala lengkap dengan raut wajah tidak percaya diselipi rasa kagum.

"Sudah biasa. Apa ada lagi yang bisa kerjakan? Kalau tidak, saya akan kerjakan yang lain di ruangan saya."

"Dev, kamu apa nggak butuh istirahat? Pekerjaan yang barusan kamu lakukan. Biasanya membutuhkan waktu dua hari kerja."

"Saya sudah siapkan data-data pendukung sejak lama, tentu saja semua lebih mudah dan cepat."

Dewa hanya manggut-manggut. Cukup pujian yang sudah terlanjur diucapkan tadi. Sekarang, dia harus bisa menahan mulutnya agar bisa tetap diam. Jangan sampai pujian membuat pegawainya besar kepala.

Fokus keduanya seketika teralihkan pada ponsel Deva yang terus bergetar di atas meja. Nomor tidak dikenal tertera di sana. Deva segera menerima panggilan tersebut.

"Halo...." Deva menjawab tanpa ragu.

Sesaat kemudian, raut wajah perempuan tersebut berubah. Serentetan kalimat dari si penelepon, membuat tangannya pun gemetaran.

"Saya ijin pulang lebih awal, Pak?" pamit Deva begitu buru-buru.

"Ada apa, Dev?"

Deva tidak lagi memedulikan pertanyaan Dewa, laptopnya pun ditinggalkan begitu saja di meja sang atasan.

"Ada apa sih? Buru-buru amat. Jangan sampai masalah sama pria tengil kemarin. Awas aja kalau sama dia," gumam Dewa sembari berniat mematikan laptop milik Deva.

Tapi niat itu diurungkan seketika. Begitu melihat wallpaper yang digunakan sebagai tampilan desktop. Foto yang membuat Dewa menyunggingkan senyuman tipis dibibirnya. Tangan jailnya pun merambah ke folder picture. Entah kenapa dia menjadi selancang itu. Tapi Dewa tidak beruntung, semua file menggunakan kode akses. Tentu saja dia tidak mendapatkan apa pun dari sana.

Di sisi lain, Deva baru saja turun dari kendaraan roda dua yang baru mengantarnya menuju rumah sakit militer. Sebuah rumah sakit yang biasanya digunakan untuk menempatkan tahanan yang membutuhkan perawatan dokter yang intensif.

Deva melangkahkan kaki lebar-lebar, menyusuri koridor, menyibak keramaian menuju instansi perawatan sang papa. Matanya sudah dipenuhi genangan bening, yang hanya membutuhkan satu kedipan saja untuk jatuh membasahi pipi.

Dua orang berseragam kepolisian berdiri di depan ruangan di mana Amar terbaring lemah di dalamnya. Deva semakin mempercepat langkahnya. Dia yakin betul, kalau itu memang ruangan Amar dirawat.

"Bagaimana keadaan papa saya, Pak?" Deva bertanya dengan tatapan begitu memelas. Napasnya masih sangat tidak teratur.

"Dokter masih di dalam, Bu. Silahkan ditunggu dulu." Salah satu dari polisi yang berjaga menjawab dengan sangat formal.

"Dev ...," panggil seseorang dari arah belakang.

"Pak Ali..." Deva balik menyapa orang tersebut. Sipir yang dianggap Deva seperti ayah karena kebaikan dan ketulusannya selama ini pada Amar, dan juga pada dirinya.

"Tadi yang menghubungi kamu, temennya Bapak. Papamu tiba-tiba pingsan. Akhir-akhir ini, kesehatannya menurun dratis, Dev. Obat yang diberikan, dan selama ini diminum papamu, semakin memperberat kerja ginjalnya. Keluhan papamu bukan hanya jantung, lambungnya juga cukup kronis. Sekarang malah ginjal papamu diduga sudah tidak bisa berfungsi dengan baik."

Tubuh Deva seketika luruh ke lantai. "Ya Allah ... sabar dan ikhlas apa lagi yang harus aku jalani," lirihnya.

Salah satu petugas yang berjaga tadi, mendekati Deva dan Ali. Lalu meminta Ali untuk sedikit menjauh dari Deva.

Helaan napas Ali begitu berat. Tatapannya pada Deva, sungguh membuat pikiran perempuan itu semakin carut marut.

"Sabar ya, Dev." Pria tersebut mengusap lengan Deva layaknya anak kandung sendiri.

1
Bowo Ariwbowo
Menegangkan ya devaaa
tria ulandari
bang Dave udh brpa kali juga baca nya ttep aja mewek aku tuhhh 😭😭
tria ulandari
dari 2022 ,,2023 ,,2024 sampe 2025 aku masihh sering ngintip disini berharap ada kabar baik kak Dev 😭😭
Diana
Mana part selanjutnya author??
Alur cerita memberikan pelajaran yg sangat berharga bagi setiap hari.
yuiwnye
emaknya selingkuh dg hafiz laki² yg nipu Dira,,,,weleh²
yuiwnye
terjadi split hati rupanya
yuiwnye
nasib mu Dave, menghibur orang stress jd gila beneran
yuiwnye
ada rampok hati yg ngetok pintu 🤪🤪😁😁
tria ulandari
kak Dev untuk sisa Rasa blm ada bentuk cetak nya????
btw aku msh nungguin part selanjutnya loh kak
Supriatun Khoirunnisa
Luar biasa
Reni
Nama mereka mirip ya, Deva dan Dave tp sayang sekali gk jodoh.
St.rkyyh
selamat author.. anda telah mampu membuat ku menangis 😭😭
St.rkyyh
masya allah authorr... ini bener2 cerita yang sangat menarik dan mengesan kan. tetap semangat yaa, semoga berkah, selamat dunia akhirat. aku mendukung mu
Vie ardila
Luar biasa
Ifanda Rian
sangat bagus
Sondang Viona
Luar biasa
Susi Yanti
cerita yg cukup penuh dgn pelajaran yg diwarnai dgn trik emosi yg cantik, semangat Thor...
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: Terimakasih sudah berkenan membaca, kak
total 1 replies
Rustin Zunan
dave deva agak.membingungkan karna mirip 🤣🤣
Eka Puji Lestari
kapan up atau sequel sisa rasa ini kak
St.rkyyh
wahh keren sih ini gaya bahasanya.. semangat author
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: Terimakasih, kak. Masya Allah... masih belajar, kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!