NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Meja Baru, Denda Baru

Alana melangkah dengan setengah berlari menuju kantin. Rasa lapar mulai menyiksa perutnya yang keroncongan.

Perut kecilnya sudah berdemo minta diisi sejak tadi. Seluruh tenaganya terkuras habis akibat "serangan serangga" di lift tadi.

Serangan yang mematikan, namun sialnya terasa sangat nikmat dan membekas di ingatan.

Alana menyentuh bibir ranumnya yang terasa sedikit membengkak layaknya habis disengat tawon.

Sensasi panas dan dingin bergantian menjalar di sana setiap kali ia mengingat kejadian beberapa menit lalu.

Sementara itu, lehernya masih tertutup rapat oleh plester. Sensasi hangat dari obatnya—atau mungkin dari kecupan pria itu—masih terasa hingga sekarang.

Sambil mengantre makanan, Alana tak henti-hentinya merutuk dalam hati dengan wajah memerah.

"Dasar dokter semprul bin gila! Bisa-bisanya dia membuatku hampir mati berdiri karena serangan jantung mendadak," batinnya dongkol.

Belum lagi aksi rangkul-merangkul di depan Suster Mia tadi. Benar-benar bikin tensi darahnya naik ke ubun-ubun!

Alana membawa nampan nasi goreng ke sudut meja yang paling sepi, berharap tidak ada yang mengganggu waktu makannya.

Namun, baru saja satu suapan masuk ke mulut, ponsel di saku bajunya bergetar sangat kuat.

Ada pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak ia kenal, namun ia sangat tahu siapa pemilik bahasa arogan ini.

(Unknown Number): "Habiskan segera makananmu, Sayang. Aku tidak mau asisten pribadiku yang cantik ini pingsan saat kuhajar dengan tumpukan laporan nanti."

Alana tersedak kecil saat membaca baris pertama. Namun, baris kedua pesan itu jauh lebih mengerikan.

"Oh, satu lagi... jangan berani-berani menebar senyum pada laki-laki lain di kantin, atau denda di lift akan kuulangi sepuluh kali lipat. Paham?"

"Uhukk... hoekk!" Alana tersedak seketika.

Butiran nasi seolah tersangkut di tenggorokan, membuatnya terbatuk hebat hingga matanya berair.

Ia buru-buru meraih gelas es teh dan meneguknya hingga tandas untuk meredakan rasa perih di kerongkongannya.

"Sialan! Sebenarnya pria ini memperhatikanku dari mana? Apa dia punya mata-mata di setiap sudut kantin?"

Alana celingukan mencari sosok dokter ajaib itu di tengah kerumunan perawat dan dokter lain, namun hasilnya nihil.

Ketenangannya semakin buyar saat mendengar bisikan tajam dari meja sebelah yang hanya berjarak satu meter.

Di sana duduk Suster Dewi dan Suster Rina—duo ratu julid yang sudah terkenal sebagai biang gosip di rumah sakit ini.

"Eh, Rin, lihat deh si Alana. Belagu banget ya sekarang sejak jadi asisten kesayangan," cibir Suster Dewi dengan volume yang sengaja dikeraskan.

"Iya, pakai segala cari perhatian Dokter Raden sampai mejanya dipindahkan tepat di depan ruangan dokter," timpal Suster Rina sinis.

Mata Suster Rina kemudian tertuju pada plester di leher Alana dengan tatapan penuh selidik.

"Lihat plester itu. Alasannya digigit serangga? Halah, klasik banget! Kita semua tahu serangga apa yang ada di ruangan Dokter Raden."

Amarah Alana sudah di ubun-ubun. Rasa lapar yang tadi menyiksa mendadak hilang berganti rasa ingin melempar nampan.

Namun, ia menarik napas panjang, mencoba tetap waras dan tidak membuat keributan di depan umum.

Ia bangkit, merapikan seragamnya, dan melangkah melewati meja dua suster itu dengan dagu terangkat tinggi.

"Daripada sibuk mengurusi hidup saya, lebih baik urusi pasien di ruang Anggrek yang infusnya sudah habis dari sepuluh menit lalu," sindir Alana tajam.

Langkah Alana terhenti sejenak, ia menoleh dengan senyum meremehkan.

"Atau jangan-jangan... kalian iri sama saya? Sudah berusaha keras cari perhatian Dokter Raden tapi tidak digubris? Uh! Kasihan sekali!"

Alana melenggang pergi begitu saja, meninggalkan mereka yang melongo dengan wajah merah padam karena malu.

Begitu tiba di area VVIP, Alana benar-benar mati kutu. Dunianya seolah runtuh saat melihat pemandangan di depannya.

Meja kerjanya kini benar-benar sudah pindah, berdiri tepat di depan pintu kayu jati besar milik Dokter Raden.

"Alana, jangan hanya berdiri di sana seperti patung. Cepat masuk ke ruangan saya sekarang," suara Raden terdengar melalui intercom dengan nada memerintah.

Alana menarik napas dalam-dalam, merapikan bajunya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang terasa dingin itu.

Begitu pintu tertutup rapat dan bunyi 'klik' pengunci terdengar, tubuh Alana seketika menegang.

Raden berdiri dari kursi kebesarannya. Ia melangkah mendekat dengan aura intimidasi yang begitu kuat dan mendominasi.

Kemeja hitamnya digulung sampai siku, memperlihatkan urat tangan yang tampak sangat maskulin dan perkasa.

"Kamu tadi membicarakan apa dengan suster-suster julid di kantin itu?" bisik Raden sambil memojokkan Alana di balik daun pintu.

"Nggak ada, Dok! Kenapa Anda jadi ikut campur urusan pribadi saya?" balas Alana mencoba berani.

Kalimat Alana terputus menjadi pekikan tertahan saat tiba-tiba tubuhnya diangkat dengan mudah dan didudukkan di atas meja kerja.

Raden mengunci pinggangnya dengan cengkeraman posesif, membuat Alana tidak bisa bergerak ke mana pun.

"Jangan berbohong, Sayang. Aku tidak suka asisten pribadiku diganggu oleh tikus-tikus genit seperti mereka."

Raden mendekatkan wajahnya perlahan hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Napasnya yang hangat terasa menyapu permukaan wajah Alana.

"Haruskah aku berikan pelajaran kepada mereka? Atau... justru kamu yang ingin kuberi pelajaran terlebih dahulu?"

Napas Alana seolah tertahan di tenggorokan. Jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.

"Dok... jangan di sini. Ini masih jam dinas. Nanti kalau ada yang dengar bagaimana?" bisik Alana panik.

Sentuhan bibir Raden di lehernya, tepat di samping plester itu, membuat seluruh pertahanan Alana runtuh seketika.

Rasanya seperti tersengat aliran listrik yang sangat memabukkan dan melumpuhkan logika.

"Suaramu sangat merdu, Alana, hingga membuatku hampir hilang akal setiap kali mendengarnya," bisik Raden dengan suara berat.

Tanpa menunggu jawaban lagi, bibirnya membungkam bibir Alana dengan ciuman yang menuntut dan penuh gairah.

Tangan Raden yang besar mulai bergerak ke kancing teratas seragam Alana. Ia membukanya satu per satu dengan gerakan perlahan namun pasti.

Tepat saat tangan Raden telah membuka dua kancing dan menyentuh kulit halus di baliknya, sebuah suara menghancurkan segalanya.

Tok... tok... tok!

"Permisi! Dokter Raden, ini saya, Direktur. Apa saya boleh masuk? Saya mau membahas anggaran untuk pengadaan alat medis baru yang Anda ajukan kemarin."

Suara bariton yang sangat berwibawa itu membuat keduanya membeku di posisi yang sangat tidak lazim.

Jantung Alana terasa berhenti berdetak. Wajahnya pucat pasi karena panik membayangkan pintu itu terbuka dan ia tertangkap basah di atas meja.

"Dok-dokter... bagaimana ini? Bisa mati aku kalau Pak Direktur lihat kita begini!" bisik Alana panik sambil mencoba merapikan kancing bajunya dengan tangan yang gemetar hebat.

Raden justru menyeringai tipis, seolah kehadiran orang nomor satu di rumah sakit yang ingin membahas anggaran itu bukan hal yang mendesak.

Tangannya masih tetap mengunci pinggang Alana di atas meja, tidak membiarkan gadis itu turun sedikit pun dari "wilayahnya".

****

Catatan Penulis:

Aduh, Pak Direktur! Datangnya kok nggak tepat waktu banget sih? 😱 Padahal tadi suasananya lagi panas-panasnya!

Kira-kira Dokter Raden bakal panik atau malah makin nekat buat lanjutin aksinya ya? Dan gimana nasib Alana kalau sampai Pak Direktur melihat mereka dalam posisi seperti itu?

Kalau kalian gregetan sama bab ini, jangan lupa dukung aku terus dengan kasih Bintang 5 ⭐ dan klik tombol Like ya!

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!