"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."
Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.
Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suka Tindakan, Bukan Omongan
Daffa terus menggerakkan lembut bibirnya, memutar perlahan tubuh Vania untuk bisa saling berhadapan, dan mempermudah dirinya melancarkan serangan, tanpa melepaskan tangan pada pinggang.
Daffa masih menikmati dengan kedua mata terpejam, hingga dada bidangnya harus didorong olehnya yang seketika meraup sangat banyak oksigen dalam mulut terbuka. Daffa menelan saliva, mata berkeliaran pada setiap inci wajah cantik telah menjauh darinya.
“Kenapa, Nia?”
“Bukannya mas mau ngomong dan selesaiin masalah kita? Kenapa mas justru lakuin hal itu?”
“Aku udah ngomong dari tadi, dan aku juga coba nyelesaiin masalah kita. Mana yang belum aku lakuin sih, Nia?”
“Ya?!” Vania tak memahami apa pun, tersirat jelas dari wajahnya.
“Bukannya apa yang aku lakuin barusan, udah cukup buat nunjukin kalau aku mau nyelesaiin masalah sama kamu, Nia? Aku juga udah ngomong kalau kangen sama kamu, apa lagi yang belum? Apa aku harus nidurin kamu buat nyelesaiin masalah? Oke, kita bisa lakuin di sini kalau emang kamu mau.” Daffa menunjuk arah sofa, berucap seolah tak ada yang salah.
Vania membuka lebar mulutnya, lalu menutup kembali dengan mata terpejam, ia pun membasahi bibir. Sungguh tak percaya dengan apa didengar, bahkan tak mampu mengenali siapa lelaki di depannya saat ini.
Beda, sungguh berbeda dan selalu berubah-ubah, namun tetap dengan sikap juga kata menjengkelkan tak jauh berbeda. “Mas, apa cara kayak begitu yang mas bilang selesaiin masalah? Bukankah kita harus saling ngomong?”
“Aku laki-laki, Nia. Aku lebih suka tindakan dari pada omongan,” ucap Daffa dan beralih duduk. “Lagian, apa enaknya saling ngomong? Memang orang sudah nikah harus banyak ngomong? Masalah selesaiin aja di ranjang, apa yang salah?” omelnya perlahan.
“Ambilin aku air putih hangat, terus duduk di sini!” ucap Daffa lagi, menunjuk ke arah dispenser.
Vania menuruti pinta diajukan padanya, meraih gelas baru tersedia dan mengisi dengan air putih hangat. Memberikannya pada Daffa, lalu duduk di hadapan lelaki terus mengamati dirinya.
“Aku gak mau pisah, Nia. Aku minta kamu balik ke rumah,” katanya begitu air selesai diteguk, menyisakan setengah.
“Kenapa, Mas? Bukannya mas yang sudah minta aku buat tandatangani surat itu? Kenapa mas sekarang berubah lagi?”
“Ya pokoknya gak mau, gak ada alasan lagi! Mulai hari ini, kamu pulang ke rumah dan gak boleh lagi pulang ke panti. Ngerti?!” tegasnya.
Vania terdiam sejenak mengumpulkan keberanian, "apa mas cinta sama aku?" tanyanya meski terselip ketakutan serta keraguan.
"Ha?!" seru Daffa melebarkan mata, lalu bersandar memalingkan wajah.
"Maaf, Mas. Aku cuma nanya aja," tertunduk Vania.
Daffa kebingungan sendiri, matanya berkeliaran dalam ruangan, lalu menunduk ke bawah. "Apa cinta penting buat kamu, Nia? Bukannya kita udah nikah, dan kita bukan anak remaja yang butuh ungkapan cinta atau pembuktian. Jangan kekanakan, Nia."
"Aku gak cinta sama kamu, dan gak akan pernah cinta sama kamu, Nia. Tapi, itu bukan alasan buat kamu bisa pergi gitu aja sama laki-laki lain, karena kita masih terikat pernikahan. Harusnya kamu tau hal itu, tanpa perlu aku jelasin, karena kamu juga tau apa tanggung jawab sama kewajiban istri. Lagian cinta atau enggak itu gak penting, asal kita masih bertahan sama pernikahan ini!"
"Tapi, kita udah tanda tangan surat itu, Mas. Aku pergi dari rumah juga atas kemauan dari mas sendiri."
"Suami emosi itu wajar dan gak harus didenger semuanya, Nia! Tapi, bukan berarti kamu bisa nurutin pergi gitu aja! Karena istri gak seharusnya pergi dari rumah tanpa izin dari suaminya, kamu ngerti itu?!" Tegasnya. "Apa aku pernah izinin kamu pergi dari rumah?! Apa pagi itu, aku kasih kamu izin keluar dari rumah sama laki-laki lain?!"
"Sekarang aku tanya, pantas gak seorang istri keluar dari rumah suaminya sama laki-laki lain?! Pantas, gak?! Kita belum resmi pisah loh, tapi kamu udah pergi sama laki-laki lain! Pantas kayak gitu?!" imbuhnya.
"Bukannya mas minta aku pulang ke panti, dan mas juga yang mau kita pisah?" tak berani Vania menaikkan pandnagan, tatkala telinga mendengar nada tegas menakutkan Daffa.
"Ada surat keputusan, gak?! Pengadilan udah mutusin apa, gak?!" sarkas Daffa, gelengan kepala diberikan oleh Vania. "Makanya itu! Kamu masih istriku dan gak bisa pergi sama laki-laki lain! Ngerti gak, sih?!" tambah Daffa memukul meja, Vania mengangkat kedua pundak terkejut.
"Bener gak, kalau kamu gak nurut sama suami dan jadi pembangkang kayak gini?! Nolak pas suami mau nyentuh, jalani kewajibannya! Bener gak kayak gitu?!" semakin tegas suara dibuatnya, Vania menggelengkan kepala lagi.
"Bagus! Pulang ke rumah dan jadi istri yang beneran, gak usah terus-terusan jadi pembangkang! Enak banget kamu main keluar-keluar sama cowok, padahal aku masih hidup dan gak pernah ada keputusan apa-apa! Gak usah sok jadi janda, suami kamu masih ada! Ngerti?!"
Vania mengangguk lirih, dia benar-benar tak berani mengangkat pandangan atau menjawab, takut jika amarah keluar dan tangan mendarat pada wajah, seperti bayang yang hadir saat ini dalam ingatan.
"Mau pulang, gak?! Jangan cuma anggukin kepala, gelemg-geleng, emangnya kamu bisu?!" tanya Daffa.
"Ma-u, Mas."
"Gitu dong jawab! Diajak ngomong malah joget-joget bukannya jawab!" omel Daffa. "Sekarang diem di sini, tunggu sampai aku pulang kerja terus pulang sama aku! Jangan ngelawan suami terus-terusan, jadi batu baru tau rasa kamu nanti!"
"Iya, Mas." Pasrah Vania.
Daffa menyeringai puas dan penuh kemenangan, setidaknya ia tak akan melihat Vania bersama Arif, jika berhasil menahannya di dalam ruangan juga mengajak kembali pulang.
Mengamati lekat wajah dengan mata tertunduk di depannya, sampai pandangan itu terarah pada kedua tangan mengepal di atas pangkuan. Daffa terngiang apa perkataan Arif sekali lagi, tentang Vania yang bertahan hanya karena takut padanya.
"Kamu cinta gak sih sama aku, Nia? Apa kamu cuma takut aja?" tanya Daffa tiba-tiba.
"Cinta, Mas. Dari awal kita menikah, aku cinta sama mas dan itu enggak akan pernah berubah." Vania menjawab.
"Buktiin dong kalau emang cinta!" tutur Daffa, terangkat pandangan sang istri padanya.
"Bukannya mas bilang itu enggak perlu, asal kita masih bertahan sama pernikahan ini?" polos Vania, gelagapan seketika lelaki langsung mengendurkan dasi sudah kendur dari lehernya.
"Ah ... mm, i ... itu beda! Aku suami, jadi kamu harus buktiin!" jawabnya cepat, menutupi kegagapan. "Ini bukan egois! Jangan mikir kayak gitu ke aku! Jelek banget pikiran kamu kalau sampai kayak gitu, Nia!" imbuhnya, mencegah kata-kata yang bisa saja menyudutkan dirinya.
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe