NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:301
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

"Hemm... Pinter juga anakmu cari suami. Ya sudah, ayo makan. Sudah lapar Budhe. Pakdhe mu pasti sudah nungguin buat makan." ajak perempuan paruh baya dengan status kakak dari Bapak.

[Lapor bos, konser keroncong selesai. Artis mendadak gagu tidak bisa bicara dan suara hilang.]

Tulis Azka dalam sebuah pesan singkat pada aplikasi berwarna hijau.

[Don't judge a Book by the cover. ]

Balasku pada Azka.

"Siapa, Yang?" tanya Bang Rengga.

"Azka." jawabku singkat.

Lelaki itu kemudian berdiri.

"Abang mau kemana?" tanyaku heran.

"Ambil baju di mobil. Gerah, Abang numpang mandi ya. Bentar lagi Ashar, biar bisa ikut sholat jamaah nanti."

"Emang Abang bawa baju ganti?" tanyaku.

"Ya selalu ada lah, Sayang. Buat jaga-jaga aja kalau pas di jalan baju Abang kotor. Kan nggak mungkin ketemu klien pakai baju kotor, apalagi ketemu sama Allah." jawabnya sambil tersenyum dan berlalu ke mobilnya yang sudah dimasukkan ke halaman depan rumah.

Setelah beberapa saat, lelaki tampan dan gagah dengan tubuh tinggi tegap itu kembali dengan satu tas kecil di tangannya lalu kembali duduk di sampingku.

"Abang nggak kesel, di gituin sama Budhe?" tanyaku karena merasakan tidak enak akibat ulah Budhe dan Pakdhe ku tadi.

"Abang nggak kayak gitu kok orangnya, kamu tenang aja. Abang malah lebih suka orang menilai Abang yang nggak punya apa-apa. Oke, senyum lagi dong." pinta Bang Rengga setelah beberapa saat lalu aku hanya cemberut karena masih jengkel dengan Pakdhe dan Budhe.

"Yang, please...dosa loh marah sama orang tua." ucap Bang Rengga memperingatkan. "Biarkan saja kita diremehkan atau direndahkan sampai pada titik terendah hingga mereka tidak bisa melakukan hal itu lagi pada kita. Karena orang yang tidak suka pada kita, tidak butuh penjelasan siapa kita sebenarnya. Paham, Sayangku?" ucap Bang Rengga dengan lembut.

Seketika aku memeluk tubuh Bang Rengga. Kulupakan sejenak jika saat ini kami sedang ada di teras dan masih ada beberapa saudara dan tetangga yang berkumpul. Kutumpahkan tangis yang selama ini kupendam karena selalu diremehkan oleh keluarga Bapak di dada bidang calon suamiku.

"Menangislah, Abang akan selalu ada buat kamu. Kamu bisa berbagi apapun itu sama Abang." ucap lelaki itu sambil mengelus kepalaku yang masih terbungkus pashmina.

"Aku cuma bosan, Bang. Aku lelah selalu di nilai dan diperlakukan seperti ini sejak dulu. Apa sih, yang mereka banggakan kalau yang mereka miliki dan raih saat ini semua hanya fasilitas pemberian dari orang tua Bapak. Apa mereka nggak bisa sedikit saja melihat dan menghargai perjuangan kami hingga kami bisa sampai di titik sekarang." ucapku sambil berlinangan air mata yang sudah membasahi kemeja Bang Rengga.

"Iya, Abang paham. Ingat, suatu saat mereka pasti mencari kamu dan meminta bantuan sama kamu. Udah ya, jangan nangis lagi. Ada Abang yang akan selalu ada buat kalian."

Setelah puas dan terasa lega, aku baru melepaskan pelukan itu. Lain halnya dengan Bang Rengga, lelaki itu masih betah memeluk tubuhku yang terbilang mungil jika disandingkan dengan Bang Rengga.

"Bang, lepas ih... Malu." ucapku dengan wajah yang merona merah karena sadar aku yang tadi memulai pelukan itu.

"Nanggung, Yang. Biar Abang puas-puasin dulu peluknya." ucapnya.

"Jadi mandi nggak? Bentar lagi udah masuk Ashar." ucapku mengingatkan.

Lelaki itu mendesah kasar. "Yaaaah.. Semoga nggak nunggu lama buat akad nikah, Yang. Abang udah nggak sabar jadikan kamu istri Abang. Kenapa juga harus ada hitung-hitungan segala. Semua hari itu kan baik." ucap lelaki itu.

"Yang sabar ya, Sayangku. Kita hidup di masyarakat yang masih memegang adat. Jadi ya, nikmatin aja sambil kita menyiapkan semua keperluan buat akad nanti."

Lelaki itu terdiam sambil terus menatapku. "Panggil apa tadi? Ulangi lagi, Yang!"

"Emang aku tadi manggil apa?" tanyaku pura-pura bodoh.

"Au Ah... Gelap!" jawab lelaki itu sambil bangun dari duduk nya kemudian segera masuk ke rumah.

"Emang tahu kamar mandinya dimana? Main jalan aja!" godaku.

"Bodo amat!" jawabnya sambil terus berjalan dengan bibir maju lima senti.

Hal itu terlihat lucu bagiku saat melihat lelaki itu ngambek. Segera saja kujajari langkah panjangnya, kali ini aku berinisiatif lebih dulu menggenggam jarinya.

"Bang, kamar mandinya kan di luar, nggak di dalam kamar kayak di rumah Abang. Ntar Abang ganti bajunya gimana?" tanyaku. "Kan nggak mungkin Abang ganti baju buat sholat di kamar mandi. Kotor lagi dong nanti." tanyaku.

"Nanti Abang ganti dikamar kamu kalau boleh. Abang bawa bathrobe besar. Apa kamu ngijinin Abang keluar kamar mandi cuma pakai bathrobe aja?" tanyanya.

"Ya... Boleh nggak boleh sih. Mau gimana lagi. Tapi nanti tutupin ya, jangan ada yang kelihatan." Ucapku sambil sedikit cemberut.

"Iya, kamu jangan jauh-jauh. Ntar Abang habis mandi biar enak. Nggak bingung nyariin."

"Iya, Abang."

Setelah beberapa saat, lelaki itu selesai dengan ritual mandinya. Aku sengaja menunggu di dapur sambil membantu beres-beres, dapur dirumah adalah area paling dekat dengan kamar mandi.

"Udah, Bang?" tanyaku.

Lelaki itu hanya mengangguk.

"Ganti di kamar aku aja ya. Baju kotornya nanti masukin aja ke keranjang baju kotor di kamar. Biar nanti aku cuci." ucapku sambil berjalan ke kamar yang selama ini menjadi tempatku semedi.

Saat tiba di depan pintu kamar, aku mempersilahkan lelaki itu masuk.

"Aku tunggu di depan aja ya, Bang."

"Iya. Nanti Abang langsung ke depan."

Mentari sudah hampir pulang ke peraduan. Acara lamaranku kali ini benar-benar dijadikan Abang kumpul keluarga dengan keluarga dari Ibu.

Sudah ada kelompok- kelompok sendiri dan entah apa yang di obrolkan. Tak jarang pula terdengar gelak tawa dari mereka.

Hingga akhirnya Azka datang mendekat padaku dengan terburu-buru.

"Ada apa, Dek?" tanyaku mulai khawatir.

"Mbak, barusan Putri bilang perutnya mules, terus ilang, terus mules lagi. Terus, kayak mau pipis tapi nggak bisa di tahan" ucap Azka panik, cemas, dan entah apalagi.

"Astaghfirullah. Ibu, sama Bapak udah kamu kasih tahu?" tanya Bang Rengga.

Azka menepuk jidatnya sendiri. "Astaghfirullah, lupa aku, Bang." Jawabnya lalu berlari masuk ke dalam rumah lagi.

"Yang, kamu jemput Putri. Sekalian bawa perlengkapan buat Putri sama debay nya nanti. Berangkat pakai mobil Abang aja. Abang siapin mobilnya."

"Iya, Bang." Jawabku lalu bergegas ke kamar Putri.

Setelah memastikan semua perlengkapan masuk, aku, Bang Rengga, Bapak, dan Ibu mengantar Azka dan Putri ke rumah sakit.

"Hati-hati, Bang. Jangan terlalu ngebut." Ucapku pada Bang Rengga.

Sedangkan di bangku tengah ada Azka dan Putri. Di belakang ada Ibu dan Bapak yang terus berusaha menguatkan menantu dan anaknya, sambil terus membaca doa.

"Atur nafas, Put." Ucapku mengingatkan.

Untungnya, sore ini jalanan tidak terlalu ramai. Hingga beberapa saat kami sudah sampai di depan UGD Rumah sakit.

Aku segera turun, dan masuk ke UGD. Beberapa saat, dua orang perawat keluar membawa brankar. Mereka dengan sigap membantu Putri naik ke atas brankar tersebut.

Kali ini hanya Azka yang ikut masuk, aku menunggu di kursi yang tersedia di depan ruang UGD bersama Bapak dan Ibu. Sedangkan Bang Rengga masih memarkirkan mobilnya.

"Gimana, Yang?" Tanya Bang Rengga sesaat kemudian sambil membawa tas yang berisi perlengkapan Putri dan debay nanti.

"Masih di dalam, Bang." Jawabku.

Lelaki itu akhirnya duduk di bangku yang ada di sampingku. Dia sandarkan kepalanya di bahuku. Kubiarkan saja, mungkin dia lelah. Apalagi dia baru sembuh dari sakitnya tempo hari.

"Abang capek?" Tanyaku pelan.

"Enggak, Abang cuma bayangin, kamu nanti apa kayak gitu juga saat nanti melahirkan anak kita!" Jawabnya.

"Sudah kodratnya perempuan buat melahirkan, Bang. Semua itu kan proses, dan tiap orang prosesnya tidak akan sama." Jawabku.

"Abang lapar nggak? Cari makan dulu yuk. Abang kan baru sembuh."

"Nanti aja, Yang. Nunggu kabar dari Azka dulu aja. Kasihan Bapak sama Ibu kalau di tinggal di sini."

Aku tersenyum, lelaki ini tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dari awal, dia selalu peduli dengan keluargaku.

Hingga beberapa lama, Azka keluar dari pintu UGD.

"Gimana, Le?" Tanya Ibu.

"Tetap harus Caesar, Bu. Pembukaan nya nggak nambah dari tadi. Ketubannya juga udah rembes." Jawabnya lemas.

"Ya udah, kamu udah urus administrasi nya, Dek?"

"Udah, Mbak. Masih disiapkan keperluan operasi nya nanti."

"Ya sudah, semoga semua lancar ya. Kami terus berdoa. Buat Putri, buat anak kamu nanti. Semoga semua lancar, semuanya sehat." Ucap Bapak.

Saat semua siap, perawat UGD memanggil. Kami semua mengantar Putri hingga di depan ruang operasi. Hanya Azka yang boleh masuk menemani. Kukuatkan adikku satu-satunya.

"Bismillah, jangan lupa berdoa dan sholawat ya," ucap Ibu.

"Njeh, Bu."

Setelah beberapa saat, kami sholat bergantian karena sudah masuk waktu Maghrib. Saat tiba giliran ku dan Bang Rengga kami sekalian pamit beli makanan untuk kami semua.

"Yang, kamu udah kabari yang di rumah. Kalau Putri caesar?" Tanya Bang Rengga.

"Ya Allah, iya. Aku lupa Bang belum kasih kabar ke orang rumah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!