Waktu bisa mengubah segalanya. Termasuk hatiku, karena sering kau abaikan. Kini kau menyesal pun tidak ada artinya.
Pintar dan cantik tidak menjamin untuk kita di cintai, inilah kisah ku yang selalu di rendahkan, begitu banyak kebaikan pun tidak ada artinya dimata mereka. Dan lamanya waktu aku bersama mereka tidak bisa mengubah rasa bencinya kepadaku. Akankah Clara bertahan, atau ia menyerah dan memilih jalan lain.
Menulis apa yang ingin di tulis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Diandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktu yang akan menyembuhkannya.
Bukan tidak ikhlas, tapi aku hanya butuh waktu. Waktu untuk mengobati rasa kecewaku.
- ***Rendra***-
Saat akan memasuki tempat produksi, tiba-tiba ponsel Clara berdering. Ia ambil benda pilih tersebut dari dalam tas selempang nya.
"Halo Mas?"
"Aku sudah di depan kantor mu sayang."
"Apa?"
"Iya, keluarlah?"
Clara melirik sekilas ke arah Meli. Antara senang dan tidak percaya. Suaminya sudah tiba di Surabaya. Clara segera mengakhiri panggilan tersebut.
"Aku tidak jadi ke bagian produksi ya? Suamiku sudah menungguku di depan kantor."
"Dimas disini?" Meli sedikit tidak percaya akan apa yang di sampaikan Clara.
"Iya, aku keluar dulu untuk menemui Mas Dimas." Clara berjalan dengan cepat setelah berpamitan dengan Meli dan Riza.
Langkah Clara tiba-tiba terhenti. Ada seseorang yang menggenggam tangannya. "Kau kenapa jalan cepat-cepat seperti itu?" Ucap Rendra.
"Ada suamiku di depan." Jawab Clara.
Perlahan Rendra melepas genggaman tangannya. Suami Clara ada di Surabaya. "Aku pikir kenapa. Ayo aku antar ke depan?"
"Tidak usah Ren! Aku bisa jalan."
"Jarak antara kita berdiri sekarang dengan gerbang depan lumayan jauh. Ayo ku antar naik mobil ku?" Rendra menggandeng tangan Clara dan memaksa nya untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
"Kau ini selalu saja memaksakan kehendak mu kepada orang lain." Clara memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil mengerucutkan bibirnya.
Rendra yang melihat tingkah Clara hanya tersenyum. "Tidak ke semua wanita, hanya dirimu saja Ca."
Clara langsung menoleh ke arah Rendra. "Jangan mulai lagi ya Ren!"
"Tidak mau janji." Jawab Rendra sambil terus fokus menyetir.
Clara hanya menggelengkan kepala. Rendra memang pria yang baik. Tapi Ia juga sedikit keras kepala.
"Itu suamiku Ren." Clara menunjuk ke arah depan tempat suaminya.
Mobil Rendra berhenti persis di belakang mobil tempat Dimas bersandar. Rendra keluar dari mobil, Ia berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Clara.
"Silahkan tuan putri?" Ucap Rendra sambil tersenyum manis kepada Clara.
Clara tidak membalas ucapan Rendra. Ia hanya diam dan berjalan menuju tempat suaminya berdiri menunggu dirinya.
"Mas kenapa datang tiba tiba, bukankah seharusnya besok baru datang?" Clara berdiri persis di depan suaminya. Dimas tidak menyadari kalau istrinya sudah ada di hadapan nya. Karena Ia sibuk dengan ponselnya.
"Eh, sayang! maaf, Mas tidak sadar kalau kau sudah disini." Dimas berucap mencium kening Clara.
"Tentu saja tidak sadar, Mas sibuk main ponsel terus." Clara pura-pura merajuk sambil. memalingkan wajahnya.
Dengan cepat Dimas memeluk tubuh Clara. Sambil berucap. "Mas rindu sekali sayang. Jadi, datang lebih cepat."
"Gombal banget sih, baru saja dua hari sudah rindu." Clara membalas pelukan Dimas.
Napas Rendra kian sesak. Di depan mata sepasang suami istri sedang bermesraan melepas rindu. Dan bodoh nya Ia masih berdiri menyaksikan kemesraan tersebut. Ia menutup pintu mobil dengan keras. Ia dudukkan tubuhnya di kursi kemudi lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Clara melirik sekilas mobil Rendra yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Ia hanya menghela napas. Bukankah tidak ada hak juga Rendra marah padanya, Dan menurut Clara pembicaraan nya dengan Rendra kemarin sudah memperjelas semuanya. Bahwa dirinya dan Rendra sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Masalah perasaan Rendra itu bukan urusan Clara lagi. Karena menurutnya kisahnya dengan Rendra sudah benar-benar usai saat Clara menikah dengan Dimas.
"Lagi-lagi aku ditinggalkan begitu saja oleh Clara. Dia suka sekali datang dan pergi seenaknya. Untung saja aku sayang, coba kalau tidak sudah aku jewer itu telinga nya." Meli mengomel sambil menghentakkan satu kakinya ke tanah.
Riza yang melihat tingkah Meli hanya tersenyum." Kan suaminya datang mbak, jadi wajar kalau Mbak Clara menemui suaminya. Nanti Mbak Meli kalau sudah punya pasangan juga akan seperti itu Mbak. "
" Ngga akan! Punya pasangan itu merepotkan. Iya kalau dia baik dan setia, kalau ngga? Isinya makan jeroan terus lama-lama kolesterol kan?"
" Makan ati mbak, bukan jeroan. Jangan bilang gitu Mbak, nanti kalau udah nemu orang yang tepat jadi bucin baru tahu rasa lo! "
" Ngga ada pria yang baik dan setia."
" Adalah Mbak, Saya misalnya." Ucap Riza dengan penuh percaya diri.
Meli memutar bola matanya malas. Ternyata teman kantor nya ini sama saja suka gombal. Walaupun menurutnya Riza adalah pria yang baik, tapi Meli tidak ada niat sedikit pun untuk membuka hatinya.
" Aku ngga akan suka sama kamu."
"Yasudah, biar Aku saja yang suka sama Mbak!" Riza semakin menggoda Meli.
Meli tidak menghiraukan ucapan Riza. Ia berjalan menuju ke ruangan staf.
"Gimana Mbak? Pertimbangkan dulu. Biar Aku yang suka dulu, lalu jadi sayang, lama-lama berubah menjadi cinta dan akhirnya kita hidup bersama." Sambil berjalan beriringan, Riza terus saja menggoda Meli.
"Ngomong sama tangan nih?" Meli mengarahkan telapak tangannya di depan wajah Riza.
"Galak banget calon istriku."
"Riza!" Ucap Meli dengan nada sedikit keras.
"Iya, sayang."
Meli mencubit keras lengan kiri Riza. Ingin rasanya Ia melakukan lebih dari ini, kalau saja Ia tidak sedang di kantor. "Kau bisa diam tidak?"
"Ampun Mbak?" Sambil memegang lengan kiri bekas cubitan Meli.
Begitu sampai di depan ruangan. Meli segera masuk dan menutup pintu dengan keras. Riza yang melihat itu semakin tertawa dengan keras.
"Dasar! semua pria sama saja, sukanya menggombal." Ucap Meli dengan sedikit emosi.
"Yang Mbak Meli maksud siapa?" Tanya Rara salah satu staf yang berada di ruangan tersebut.
"Maaf Mbak Rara? Aku ngga tahu kalau ada orang disini." Meli begitu malu dengan temannya tersebut. Gara-gara ucapan Riza dia jadi terpancing emosi.
Rendra menepikan mobilnya. Ia sandarkan kepala nya di kursi kemudi. "Ikhlas Ren, semua sudah berlalu. Ca sudah bahagia bersama suaminya." Ia berbicara kepada dirinya sendiri.
Tidak ada yang tersisa dari hubungan Rendra dan Clara. Bukankah kalau dipaksakan akhirnya itu bukan cinta tapi, obsesi. Tidak ada yang sia-sia dari pengorbanan Rendra. Hanya, waktu saja yang belum berpihak kepadanya. Bukankah pemenang yang sebenarnya adalah mereka yang menerima hal pahit tapi masih bisa legowo. Tidak ada luka hati yang tidak bisa sembuh, semua hanya soal waktu.
"Kau menginap di hotel dekat sini sayang?" Tanya Dimas.
"Iya, ngga terlalu jauh dari kantor. Mas sudah makan?"
"Belum, ayo kita makan bersama?" Dimas menggandeng tangan Clara.
"Kita cari di dekat sini saja ya?"
"Iya, kita jalan kaki saja ya? Di sebelah sana tadi, Mas lihat ada rumah makan yang ramai." Dimas menunjuk tempat rumah makan tersebut.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Siapapun yang melihat pasti akan berpikir mereka adalah sepasang kekasih yang serasi dan bahagia.
Jangan lupa like dan komen ya...
Terimakasih 🙏
apakah km. benar2 masih menyukai Clara 😤