Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 18
Seketika, janji-janji yang aku tanam di dalam hatiku segera menghilang digantikan oleh keserakahan. Bagaimana mungkin Deon jatuh cinta kepadaku disaat diriku adalah orang yang menghancurkan hubungannya dengan adikku.
Ya Tuhan, betapa menjijikkannya diriku, tapi bodohnya...
Aku masih saja melambungkan harapan dengan pernikahan ini Deon bisa mencintaiku.
"Tentang pernikahan ini, apa yang harus kami katakan kepada Almira nanti? Itu.. karena kami tidak tega mengatakan kenyataan kejam ini kepadanya." Suara Bibi Mei langsung membuat jantungku berdetak kencang menahan sesak.
Apa yang harus aku katakan kepada adikku?
"Apa kamu mendengarnya, Nak?" Suara serak Mama segera menarik ku dari lamunan.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh memunculkan dirimu di depan Almira dan kamu juga tidak boleh menghubungi Almira. Meskipun kamu mengatakan tidak akan mengatakan apa-apa kepada Almira tapi hanya Tuhan yang tahu kebenaran di hatimu. Jadi untuk berjaga-jaga kamu tidak boleh datang ke rumah sakit atau menghubungi Almira, mengerti?" Ucap Bibi Lara dengan alis mengkerut di wajahnya.
Aku menahan nafas,"Aku mengerti, Bibi." Lalu menundukkan kepala ku berpura-pura menyuapkan makanan ke dalam mulutku.
Sudahlah, aku tidak boleh terlalu ikut campur jika tidak ingin disalahpahami terus. Aku memutuskan untuk makan dalam diam dan tidak mengganggu pembicaraan mereka yang masih berputar pada topik Almira. Jika tidak Almira maka akan beralih membicarakan bisnis yang berada diluar kemampuan ku.
"Apakah kamu bosan?" Suara Ari berbisik di sampingku.
"Hem?" Aku menatapnya ragu.
Dia tersenyum,"Aku juga bosan di sini. Jika diizinkan pergi aku akan pergi bersenang-senang memainkan berbagai macam game kesukaan ku di rumah."
"Kamu suka main game?" Tanyaku menyuarakan keraguanku.
Dia mengangguk serius,"Aku punya banyak game di rumah. Jika kamu mau kapan-kapan aku bisa membawamu ke rumah untuk bermain denganku."
"Aku tidak mau belajar bermain game." Kataku.
"Apa kamu takut kepada Kak Deon? Jangan khawatir, Rain. Aku bisa membujuknya-"
"Ekhem Ari, bisakah kamu menjelaskan bagaimana kemajuan proyek di kota C yang sedang perusahaan mu garap tahun ini."
Suara datar Deon seketika mengagetkan ku dan Ari. Aku dengan panik menjauhkan diriku darinya dan berpura-pura kembali fokus ke makanan yang ada di atas piring ku.
"Oh, situasi... situasinya sangat baik-" Di samping ku, Ari mulai mempresentasikan tentang kemajuan proyek yang sedang perusahaannya garap. Awalnya dia agak tergagap tapi lama-lama persentasenya menjadi lancar dan santai.
Aku bernafas lega, mengangkat kepalaku untuk melihat situasi di atas meja. Seperti yang kuharap kan bahwa perhatian semua orang saat ini sedang tertuju pada Ari.
Mereka semua sepertinya sangat tertarik dengan apa yang Ari katakan-
Deg
Jantungku berdegup kencang lagi saat mataku tidak sengaja berpapasan dengan mata kelam milik Deon. Mata kami kebetulan bertemu, malu, bibirku spontan tertarik membentuk sebuah senyuman untuk menyapanya tapi Deon segera memalingkan pandangannya ke arah Ari.
Tersenyum kaku, aku tanpa sadar menundukkan kepalaku menahan perasaan tidak nyaman dihati ku.
"Pa, aku punya kabar baik untuk Papa." Aku sangat bersemangat ingin memberitahu Papa mengenai kabar baik ini. Dan aku juga tidak sabar ingin memberitahu dokter mengenai kabar baik ini.
Karena aku akhirnya memiliki kesempatan untuk sembuh dari penyakit ku. Ya Tuhan, aku sangat senang bila Deon adalah obat yang selama ini ku cari-cari.
sok polos...
masih penasaran 💪❤️