NovelToon NovelToon
Dendam Paras Kembar

Dendam Paras Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Balas dendam pengganti / Balas Dendam
Popularitas:43
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: JEJAK DI ATAS BADAI

BAB 23: JEJAK DI ATAS BADAI

Dingin yang menggigit di puncak Shimla pada awal 2026 ini bukan sekadar cuaca; ia adalah pemangsa yang siap membekukan darah siapa pun yang kehilangan kewaspadaan. Aarohi merangkak keluar dari ujung terowongan rahasia, menyeret tubuh Abhimanyu yang terkulai lemas. Bahu pria tua itu bersimbah darah, cairan merah pekat yang tampak sangat kontras dengan salju putih yang baru jatuh.

"Bertahanlah, Abhimanyu! Jangan biarkan matamu tertutup!" teriak Aarohi, suaranya parau karena menghirup asap ledakan di biara tadi.

Di belakang mereka, di puncak bukit, cahaya jingga dari biara yang terbakar masih menerangi langit malam yang gelap. Ledakan itu begitu dahsyat hingga menggetarkan lereng gunung. Aarohi menatap ke arah api itu dengan mata pedih. Deep masih di sana. Pria yang selama ini menjadi pusat kemarahannya, pria yang baru saja ia ketahui kebenarannya, mungkin telah terkubur bersama Aryan Malik di bawah reruntuhan batu kuno tersebut.

"Tinggalkan... aku, Aarohi," bisik Abhimanyu, napasnya keluar dalam uap putih yang pendek-pendek. "Kau harus... mencapai jalan raya. Kirimkan pesan... ke Interpol bahwa file sudah terkirim."

"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan siapa pun lagi!" balas Aarohi tegas. Ia merobek kain cadangan dari jaket taktisnya untuk mempererat balutan luka Abhimanyu.

Aarohi menyadari bahwa di tahun 2026 ini, teknologi bisa menjadi musuh. Jam tangan pintar di pergelangan tangannya mulai berkedip merah, menandakan suhu tubuh mereka berada di ambang hipotermia. Namun, jam itu juga merupakan pelacak. Ia segera melepas jam tersebut dan melemparkannya ke arah yang berlawanan sebagai pengecoh, lalu memanggul lengan Abhimanyu untuk terus berjalan menembus hutan pinus yang lebat.

Setiap langkah terasa seperti beban ribuan ton. Salju setinggi lutut membuat pergerakan mereka sangat lambat. Di tengah kesunyian hutan, Aarohi mulai mendengar suara dengungan rendah dari kejauhan. Drone.

Aryan Malik mungkin sudah tewas atau terluka, tapi sisa-sisa pasukannya masih memiliki teknologi pelacak panas tubuh yang canggih. Aarohi segera menarik Abhimanyu bersembunyi di bawah akar pohon raksasa yang tumbang, menutupi tubuh mereka dengan dahan pinus dan tumpukan salju segar untuk menyamarkan tanda panas tubuh mereka.

Dalam kegelapan yang mencekam itu, batin Aarohi berkecamuk. Ia teringat tatapan terakhir Deep. Ada permohonan maaf dan keikhlasan di sana. Selama ini ia mengira dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap bernapas, tapi sekarang, setelah dendam itu terpenuhi dengan cara yang tragis, ia merasa hampa.

"Jika kau selamat, Deep..." gumam Aarohi pelan, "aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara hidup tanpamu sebagai musuhku."

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang menginjak salju terdengar sangat dekat. Krak... krak...

Aarohi mencengkeram gagang pisaunya, satu-satunya senjata yang tersisa. Ia menahan napas, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut detaknya bisa terdengar oleh siapa pun di luar sana. Bayangan seseorang muncul di balik pohon, memegang senjata api dengan senter taktis yang menyapu area persembunyian mereka.

Lampu senter itu berhenti tepat di depan tumpukan salju tempat Aarohi berada.

"Keluar sekarang, atau aku akan memberondong tempat ini!" suara itu dingin dan asing. Salah satu tentara bayaran Malik.

Aarohi bersiap untuk menerjang, tahu bahwa ini mungkin adalah akhir dari perjalanannya. Namun, sebelum ia sempat bergerak, sebuah bayangan lain muncul dari kegelapan di belakang tentara itu. Sebuah tangan membekap mulut sang tentara, dan sebuah belati menembus lehernya tanpa suara.

Tubuh tentara itu jatuh berdebum di atas salju.

Sesosok pria dengan luka bakar di wajah dan pakaian yang hangus berdiri di sana. Ia terengah-engah, matanya yang tajam menatap ke arah akar pohon.

"Aarohi? Kau di sana?"

Aarohi tertegun. Suara itu. Suara yang sangat familiar namun terdengar lebih hancur. Ia merangkak keluar dari persembunyiannya, menatap pria yang berdiri di depannya dengan rasa tidak percaya.

"Deep?!"

Deep Raj Singh masih hidup, meski ia tampak seperti hantu yang bangkit dari neraka. Sebelah wajahnya terluka karena ledakan, dan jas mahalnya kini compang-camping. Ia tertatih-tatih mendekati Aarohi, lalu jatuh berlutut di depannya.

"Data... sudah terkirim," bisik Deep sambil menunjukkan sebuah kartu memori cadangan yang ia genggam erat. "Polisi internasional... sedang menuju ke mansion Malik sekarang. Kita... kita menang."

Aarohi tidak tahu harus merespons apa. Antara ingin memeluk pria itu atau mendorongnya menjauh. Namun, saat melihat Deep yang hampir pingsan karena kehilangan banyak darah, ia menyadari satu hal: di tahun 2026 ini, di atas badai salju Shimla, mereka bukan lagi musuh atau kekasih. Mereka hanyalah dua jiwa yang hancur yang mencoba mencari jalan pulang di tengah dunia yang telah mereka bakar sendiri.

"Jangan mati dulu, Deep," ucap Aarohi sambil meraih tangan pria itu. "Kau masih punya banyak utang penjelasan padaku."

Di kejauhan, sirine polisi dan helikopter pemerintah mulai terdengar, membelah keheningan badai. Cahaya biru dan merah mulai menyinari langit subuh. Bantuan telah tiba, tapi bagi Aarohi, perjalanan yang sesungguhnya—perjalanan untuk menyembuhkan luka yang telah berusia empat belas tahun—baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!