Season satu : Polisi Sang Penakluk Hati
Season dua : Antara Aku Kamu dan Dia
Season ke tiga : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU.
Berkisah tantang rumitnya perjalanan sebuah rasa yang di sebut cinta.
Angga jatuh cinta kepada Cia.
Cia yang justru jatuh cinta kepada Arfi
Dan Arfi yang masih menharapkan Sisi sang mantan Istri.
Kejutan kian menjadi, saat Cia tahu ia mencintai mantan suami sahabatnya sendiri.
***
Follow IG aku yak : @shanty_fadillah123
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Alvian dan Kebebasan Airin
🌺Selamat Membaca🌺
Tania berjalan pelan memasuki ruangan di mana sang anak di rawat. Saat ini Alvian masih terlelap, efek obat penenang tadi membuatnya tertidur.
"Bagaimana ini, pah? Aku takut Alvian tak sanggup menerima apa yang terjadi padanya."
"Kita harus yakin mah, anak kita seorang polisi, dia pasti punya mental yang kuat, dan akan paham, bahwa semua ini hanya ujian untuknya,"
Tania terdiam, ia menatap lekat wajah Alvian yang nampak sangat kelelahan. Membuat batin sang mama, semakin sakit luar biasa, kini yang perlu Tania dan Reyhan lakukan adalah, selalu ada di samping anaknya dan mendukung apapun yang Alvian minta.
***
Waktu terus berlalu hari terus berganti. Kini 3 bulan sudah Alvian hanya mampu duduk di kursi roda. Meski awalnya sulit menerima, namun perlahan Alvian mulai memahami keadaanya, namun semakin hari anak muda itu terlihat lebih cepat emosi, mudah marah dan suasana batin yang cepat berubah-ubah.
"Al... ayo makan!" titah Amira seraya menyodorkan sesuap nasi ke mulut si tampan.
Praaaaaaank!
Alvian mengambil sepiring nasi yang berada di tangan Amira, lalu melemparnya sekuat tenaga, hingga nasi dan piring pun berserakan di lantai.
"Al... apa yang kau lakukan?!" emosi Amira tak terkendali seraya menatap wajah Alvian penuh benci.
"Kenapa? Marah? Silahkan!" titah Alvian datar, yang tak perduli jika kini Amira tengah emosi kepadanya.
"Maumu... apa, haaah? Kenapa kau sering marah-marah?"
"Suka-suka saya dong," jawab Alvian menyebalkan.
"Hiih sialan... jika bukan karena mama dan papaku, aku tak sudi dekat-dekat denganmu, apa lagi menikahi pria cacat sepertimu," cetusnya spontan yang membuat Alvian tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, aku juga tidak sudi menikah dengan wanita munafik sepertimu! Bahkan, aku pun tak sudi memiliki mertua seperti orang tuamu, yang tega menelantarkan anaknya demi nama baik dan harta." Ungkap Alvian yang seketika membuat Amira menatap tak percaya ke arahnya.
"A_apa masudmu?" gugup Amira.
"Haaah... jangan sok polos! Kau memiliki kakak perempuankan? Yang kau sendiri tak pernah perduli padanya sedikitpun," tambah Alvian yang kian membuat Amira mengerutkan wajahnya.
"Kak Airin," lirihnya, menyebut nama seseorang yang sudah 4 bulan ini tak pernah ia jumpai.
"Kak... kau masih memanggilnya dengan sebutan "Kak" dasar tidak tau diri,"
"Darimana kau bisa mengenal kak Airin?"
"Menurutmu?"
Amira lupa, bahwa sebelum kecelakaan Alvian adalah seorang polisi, yang tentu saja akan dengan sangat mudah bertemu dengan kakak perempuanya.
"Al... kau berteman dengan kakaku?"
Pertanyaan yang keluar dari bibir Amira mengisyaratkan banyak tanya, membuat Alvian diam tanpa kata, dan tak menjawab pertanyaan tersebut.
"Pergilah... aku muak melihat wajahmu!"
"Kau mengusirku? Lihat saja, aku akan adukan ini kepada kedua orang tuamu," ancam Amira.
"Silahkan lakukan, aku tida perduli,"
Alvian mendorong kursi rodanya untuk masuk kedalam kamar, sedangkan Amira pergi dengan membawa rasa kesal yang amat luar biasa.
***
"Saudari Airin, ayo keluar! Mulai hari ini anda di bebaskan," titah salah satu petugas kepolisian.
Bebasnya Airin di sambut isak tangis bahagia dari teman-teman satu tahanan denganya. Terutama Ria, ia merasa antara sedih dan bahagia.
"Sering-sering kunjungi aku, ya Rin.. dan baik-baik kau di luar sana!"
Ria mendekap erat tubuh si cantik, lalu di ikuti teman-teman yang ada di dalam tahanan tersebut.
"Setiap minggu, aku akan kemari dan kalau aku sudah bekerja, akan ku bawakan makanan yang enak-enak untuk kalian," janji Airin yang membuat semuanya merasa bahagia.
Hari ini, tepat 3 bulan lebih Airin sudah berada di dalam. Dan hari ini juga ia di nyatakan bebas seutuhnya.
"Aku senang karena bisa menghirup udara bebas, setelah sudah 3 bulan lamanya aku menghirup pengapnya ruangan penjara. Tapi, aku bingung harus kemana, karena aku tidak mau jika harus pulang ke rumah," ungkap Airin kepada Toni salah satu sahabat Alvian saat di kepolisian dulu.
"Jika kau mau, mainlah kerumah Alvian, dan ini alamatnya,"
Toni memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat rumah Alvian, bahkan polisi itu memberi Airin sejumlah uang untuk bekal selama dalam perjalan.
"Gunakan uang itu sebaik mungkin!" titahnya lalu pergi dari hadapan si cantik.
Airin diam sejenak, karena sebenarnya ia tak mau pergi ke rumah Alvian, sebab dari hari terakhir pria itu menyatakan rasa sukanya terhadap Airin. Alvian tak pernah sekalipun menemuinya lagi, tanpa Airin tahu jika Alvian bukan tak rindu kepadanya, tapi karena kondisi dan keadaanyalah yang membuat Alvian seolah tak perduli lagi kepadanya
"Tapi... aku mau kemana? Jika bukan ke rumahnya, lagi pula uang yang di berikan Toni, mana cukup untuk pergi ke banyak tempat," batin Airin seraya melangkah pelan memjauhi kantor kepolisian.
"Rin, kau?"
Airin bertemu dengan salah satu teman 1 kampusnya dulu, ia memandangi Airin mulai dari atas sampai kebawah.
"Apaan sih?" si cantik benar-benar tak nyaman dengan sikap temanya itu, sebut saja namanya Dipta.
"Uuhhh jangan galak-galak dong, Rin! Ngomong-ngomong kau mau kemana?" basa basi Dipta.
Namun Airin tak menjawab, ia memilih diam dan berharap akan ada "Taxi" yang lewat.
"Hemmm, katanya kau di coret dari data keluarga, dan di anggap bukan anak dari keluarga, Wijaya Bratayuda.. upps, miskin dong sekarang," cacinya.
"Diamlah! Ucapanmu membuat perutku mual," cetus Airin kesal.
"Hemmm, Nino di penjara, jadi kau kini bebas dong. Laki-laki seperti Nino memang tak pantas untukmu," Dipta tak menggubris sikap acuh Airin kepadanya.
Gadis cantik itu melangkah agar menjauhi keberadaan Dipta.
"Jangan jauh-jauh dong cantik! Gimana kalau kamu ikut aku ke hotel, aku bayar deh perjam, asal kamu puasin aku. Karena aku tau saat ini kamu butuh uang banyak," tawar Dipta yang benar-benar merendahkan Airin.
Plaaaak!
Satu tamparan mendarat aman di wajah Dipta, hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
"Sial...!" Dipta menarik paksa tangan Airin dan akan membawa gadis itu masuk kedalam mobil miliknya.
"Kau kira, aku wanita murahan, haaah?!"
Kini rasa takut menyergap perasaan gadis itu, ia benar-benar takut jika Dipta akan memperlakukanya bak wanita murahan.
"Jangan jual mahal, Rin!" ejeknya.
Sssssstttt...
Airin spontan menendang di bagian telur masa depan, pria sialan itu, hingga membuat Dipta meringis kesakitan.
Airin segera berlari dan kebetulan saat itu ada Taxi lewat tepat di hadapanya.
"Antarkan aku ke alamat ini! Cepat pak, sebelum orang itu mengejarku." Pinta Airin pada si sopir Taxi.
Taxi yang di tumpanginya segera berlalu dan menjauhi keberadaan Dipta. Airin tanpa sadar meminta kepada si sopir Taxi untuk mengantarkanya ke rumah Alvian.
"Sudah sampai, mbak," ujar si sopir.
Airin pun bernafas lega, karena pria sialan itu tak mengikuti dirinya. Bahkan saat ini Airin tercengang saat melihat rumah yang di tuju, lebih mewah 3x lipat dari rumah miliknya.
"Haaah.. ini rumah Alvian, atau rumah "Presiden"..?" tanya Airin pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
Airin peak, bisa-bisanya masih bercanda😭, padahal kondisi sedang genting ini.
Dan... dan...
Aku mau bilang, makasih yang masih setia baca Airin dan Alvian. Maaf ya, jika komentar jarang di bales, karena aku_nya terkendala sinyal, maklumin ya😭 anak pelosok aku tuh... Sekali lagi terimakasih❤.
Salam sehat selalu, dan jangan lupa bahagia buat semua❤
Btw.. nanti jam 12 siang, up lagi. Baca ya!"
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu