Disarankan untuk membaca "Hey, You! I Love You!" terlebih dahulu supaya tidak bingung saat membaca novel ini.
Ini adalah cerita tentang perubahan seorang wanita biasa bernama Rose Benneth yang merupakan kekasih dari seorang ketua geng mafia terkenal, Benny Callary.
Rose ingin menjadi kuat dan pantas sebelum ia bersanding dengan kekasihnya itu nanti. Hal itu merupakan alasan mengapa dia menolak lamaran Ben. Bukan karena tidak mencintainya, tapi karena Rose ingin menjadi pantas dan layak untuk disandingkan dengan lelaki hebat seperti Ben.
Ikatan cinta mereka diuji berkali-kali. Hingga suatu ketika mereka terlibat dalam sebuah kecelakaan mobil. Dan Ben pun menghilang. Padahal saat itu Rose sudah mengandung buah hati cinta mereka.
Beberapa tahun kemudian mereka dipertemukan kembali oleh takdir. Sayang Ben tidak mengenalinya. Bahkan sudah ada wanita bergelar tunangannya di samping pria itu. Hati Rose sudah pasti sangat hancur mengetahui hal ini.
Akankah mereka menemukan jalan untuk mereka bersama kembali? Ataukah memilih berpisah dan menempuh jalan mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara unik
“Jadi dia benar-benar pergi!” Rose bergumam sendiri sambil melirik ke arah lain.
Ya, ampun! Dia baru saja berpikiran buruk tentang tuan seramnya itu. Dia pikir tuan seramnya benar-benar menghindarinya karena hal ini.
Hah! Untunglah, pikirnya. Jika saja sesuai dengan apa yang dia pikirkan, penilaiannya terhadap pria itu akan menurun drastis. Sebagai pria, tuan seramnya tidak mempertahankan integritasnya jika seperti itu. Katakan dan jujur saja, toh dia akan mengerti!
Tapi ... menurutnya, tetap ada yang salah saat ini. Rose yang sedang menyanggah dagunya pun menoleh ke arah dua wanita di tempat tidurnya seraya mengernyit.
“Tapi ini, kan, belum pagi! Kenapa kalian sudah datang ke sini? Lihat! Langit saja masih gelap! Apa mungkin aku akan mulai latihan jam segini?!” Kata Rose bersungut-sungut sambil menunjuk-nunjuk langit yang sama sekali belum terang benderang. Bahkan dia masih bisa tidur kembali, kan!
Tidak tahukah mereka jika saat ini matanya sedang protes untuk bisa diajak terlelap kembali?! Sungguh merepotkan dan menyiksa dirinya!
“Memangnya tuan Ben tidak mengatakannya kepadamu semalam? Aku melihat tuan masuk ke kamarmu setelah kami rapat semalam. Tuan masuk dari pintu itu!” Anggie menjawab dengan suara pelan, lalu dia tunjuk pintu rahasia yang menghubungkan kamar Rose dengan ruangan bosnya.
Anggie mengacungkan telunjuknya ke arah pintu rahasia itu dengan hati-hati kala melihat wajah suram calon nyonya bos mereka. Wanita seksi itu menebak, seperti terjadi sesuatu pada mereka berdua. Dan sepertinya calon nyonya bosnya sedang marah.
“Dia itu benar-benar, ya!” Geram Rose dengan tangan terkepal di samping.
Tebakannya benar! Tuan seramnya itu adalah pelaku utama yang telah memasang alarm sebanyak itu di ponselnya. Dia memang tersangka utama, tambah jelas setelah mendengar kesaksian dari Anggie. Awas saja, Rose pasti akan membalas kelakuan tuan seramnya itu!
Tapi kenapa tuan seramnya itu pergi begitu saja? Kenapa dia tidak mengatakan sepatah kata pun? Itu yang membuat Rose kecewa. Sebenarnya Rose lebih kecewa lagi karena dia harus bangun jam segini. Sepagi ini! Beberapa kali Rose mengusap matanya yang masih terasa perih.
“Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi kita harus latihan sebentar lagi!” Suara Zayn yang tegas menyelinap masuk di tengah keheningan. Dia melihat jam tangan hitamnya di lengan kiri dengan wajah yang amat profesional. Seperti seorang guru yang sedang memperingati muridnya. Lalu dia menatap Rose lagi dengan wajah penuh peringatan.
Rose memiringkan kepalanya ketika mendengar suara Zayn lagi. Kembali terpana dan menatapnya lama. Ada sesuatu yang unik, yang membuat Rose untuk beberapa saat saja tak henti memperhatikan wanita maskulin itu.
“Jangan melihatku seperti itu!” Jika dengan isyarat matanya Rose tidak paham. Maka sekarang dia mengeluarkan seruan peringatannya.
Jika sudah begini masih dilakukan, maka ia berpikir jika calon nyonya bos mereka keterlaluan ... keterlaluan bodohnya. Umpat Zayn kesal dalam hatinya.
Dan sebenarnya Rose bukannya tidak mendengar teguran Zayn sama sekali. Dia hanya sedang menulikan diri saja. Sebab khas suara wanita maskulin itu benar-benar membuatnya terpana.
“Bisa-bisa aku salah paham jika kau terus melihat kekasihku seperti itu!” Tawa renyah menyusul peringatan Zayn yang tidak nyaman. Anggie ikut memperingati, namun dengan bahasa dan mimik khas yang tidak serius sama sekali.
“Heeeiii!” Rose berseru sebab cara memandangnya sudah disalah artikan.
“Saat ini saja kalian sudah salah paham terhadapku!” Rose berseru sambil memandangi keduanya. Lalu dia melanjutkan. “ Aku tidak terpesona sama sekali padanya. Aku hanya merasa unik saja dengan suaranya. Karena baru kali ini aku mendengar suara wanita yang terdengar seperti suara pria!”
Uhuk ... uhuk ...
Kepolosan di wajah Rose membuat Zayn tersedak ludahnya sendiri. Kenapa harus dijelaskan begitu, sih?! Jika Rose bukan siapa-siapa, mungkin Zayn sudah akan menembaknya sekarang juga! Sudah terlalu sabar dia sebenarnya sejak tadi menghadapi wanita yang satu ini!
Lalu Anggie berdiri, mengusap punggung kekasihnya itu. Membuat kekasihnya itu lebih bersabar lagi. Bagaimana pun juga mereka harus tetap ingat jika wanita di hadapan mereka ini merupakan calon nyonya bos mereka. Wanita yang sangat dilindungi oleh bos besar mereka.
“Ya, seperti katamu! Dia memang unik. Makanya aku suka!” Kata Anggie menanggapi sambil tersenyum.
"Iya, kan, Sayang?" Tersenyum cemerlang yang ia tujukan pada Zayn kemudian. Ada kesan centil dan manja.
Hah! Rose mendesah sambil memutar bola matanya jengah. Apakah saat berhadapan dengan wanita pun dia juga harus berhati-hati, hem?! Sungguh merepotkan!
***
Zayn dan Anggie menunggu Rose bersiap-siap. Mengingat kedua wanita itu memiliki perbedaan haluan dengannya, maka sebelum mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga, Rose mengusir mereka keluar lebih dulu. Rose takut dua wanita itu akan salah paham... atau malah akan tertarik padanya. Dia juga harus mengingat hal ini, kan!
Hey, dia itu masih wanita normal! Ya, walaupun tubuhnya tidak seksi-seksi amat, sih. Tidak seperti tubuh Anggie yang gemulai dan montok di sana-sini.
Dinginnya pagi buta membuat Rose harus berulang kali mengusap kedua lengannya untuk menghangatkan tubuhnya sendiri. Dalam hati dia masih kesal karena harus dibangunkan jam segini.
“Sebentar lagi tidak akan dingin, keringatmu akan bercucuran.” Goda Anggie begitu senang sambil berjalan melewati Rose. Seperti biasa, dia selalu memeluk lengan kekasihnya ketika berjalan.
Bibir Rose mengerucut jelek, dia tidak menanggapi. Sepertinya mereka senang sekali karena sebentar lagi akan menyiksanya.
Ketiga wanita itu berhenti di pinggir lapangan tengah, itu lapangan yang kemarin Rose lewati. Cukup luas, seukuran lapangan bola mungkin. Di sana sudah terdapat meja, ada tiga gelas susu, beberapa air mineral dan juga beberapa hidangan untuk sarapan ketiganya.
Rose mengerutkan alisnya, dia berpikir jika sebenarnya tempat ini adalah markas mafia atau sebuah hotel sebenarnya!
“Minum susunya, makan makanan yang ringan saja. Jika terlalu kenyang kau akan malas bergerak nanti!" Zayn sudah memberikan instruksi di awal.
Rose menukik lengkung bibirnya ke bawah. Bisakah dia protes? Bukannya mereka tahu bahwa setelah ini dia akan melakukan pekerjaan berat? Dan bukankah seharusnya dia mengisi energi sebanyak-banyaknya, kan?! Supaya kuat menghadapi kenyataan!
“Ambil saja sandwich itu dulu! Setelah pemanasan, kau boleh mengambil makanan yang lebih berat,” ujar Anggie seraya tersenyum. Dia mengusap lengan Rose sambil menunjuk ke arah sepotong sandwich dengan lirikan matanya.
“Baiklah!” Rose pasrah setelah berkompromi dengan dirinya sendiri. Lebih baik menurut saja, toh mereka lebih tahu apa saja yang sudah seharusnya dia lakukan.
“Ini tabel latihan yang harus kau lakukan hari ini.” Zayn menyerahkan sebuah papan dengan kertas putih bergaris-garis menempel di tengahnya.
Rose yang sedang mengunyah menerimanya, lalu membacanya. Mulutnya yang penuh pun menganga.