~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
***
Pertanyaan lembut Rangga Wira menggantung hangat di udara malam yang dingin. Jemari kekar sang Ketua Adat masih menggenggam erat telapak tangan Melani yang gemetar.
Melani mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Rangga yang tenang dan dalam bagaikan telaga. Air mata bening yang menggenang di pelupuk matanya perlahan luruh, membasahi pipinya yang pucat.
"Saya... saya tidak ingin berpisah darimu, Rangga..." bisik Melani lirih, suaranya tercekik oleh Isak haru yang mendalam. "Saya mencintai tempat ini, saya mencintai warga Hulu Rawa, dan saya... saya mencintaimu. Tapi saya juga tidak ingin menjadi anak yang durhaka. Ibu dan Bapak sangat mengkhawatirkan saya..."
Rangga Wira mengusap lembut air mata di pipi Melani dengan jempolnya. Seulas senyum amat lembut terukir di bibir tegasnya. Pria itu bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Melani.
"Hapus air matamu, Melani," tutur Rangga pelan namun sarat akan ketegasan yang menenangkan. "Ikutlah bersamaku. Ada satu tempat yang ingin saya tunjukkan padamu malam ini."
Melani mengernyitkan dahi tipis, menyambut uluran tangan tegap Rangga seraya merapikan kain sarungnya. "Ke mana, Rangga? Ini sudah larut malam..."
"Ke tempat para leluhur melihat seluruh tanah Hulu Rawa," jawab Rangga singkat.
Mereka berdua melangkah menembus jalan setapak berbatu yang menanjak di balik Pustu. Rangga Wira berjalan di depan, memegang penerangan obor bambu kecil di tangan kirinya, sementara tangan kanannya tak pernah melepaskan genggaman jemari Melani, menuntun gadis itu dengan sangat berhati-hati melewati semak hutan dan akar-akar pohon besar.
Setelah hampir setengah jam menanjak, vegetasi hutan yang lebat perlahan menyempit, membukakan pemandangan padang rumput hijau yang luas di atas puncak bukit tertinggi Hulu Rawa. Angin malam yang sejuk bertiup lembut, menyapu helai-helai rambut hitam Melani.
Di puncak bukit itu berdiri sebuah altar batu tua yang dikelilingi empat tiang kayu bersulam kain tenun kuno—Bukit Sakral Leluhur, tempat di mana para Ketua Adat Hulu Rawa biasa memohon petunjuk dan hanya boleh dipijak oleh sang pimpinan beserta calon pendamping hidupnya.
Melani terpaku takjub. Dari atas bukit tersebut, ia bisa melihat seluruh lanskap Desa Hulu Rawa di bawah pendar sinar rembulan. Rumah-rumah panggung warga tampak bagaikan titik-titik cahaya keemasan yang hangat di tengah gulita hutan yang megah.
"Indah sekali..." gumam Melani tanpa sadar, matanya membelalak mengagumi alam.
"Tempat ini adalah jantung dari tanah Hulu Rawa," ujar Rangga Wira seraya mematikan pendar obornya dan menancapkannya di atas tanah. Pria tegap itu melangkah mendekati Melani, berdiri berdampingan di tepi tebing batu yang aman. "Sejak ratusan tahun lalu, hanya Ketua Adat dan wanita yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidup yang diizinkan melangkah ke atas batu ini."
Melani tersentak pelan, berpaling menatap wajah tegas Rangga yang tersiram pendar perak sinar rembulan. "Rangga... ini..."
Rangga memutar tubuhnya, menghadap Melani sepenuhnya. Pria tegap itu meraih kedua tangan Melani, menggenggamnya erat di depan dada.
"Melani... dengarkan saya baik-baik," buka Rangga, suara baritonnya bergema tenang membelah kesunyian malam. "Saya adalah Ketua Adat di tanah ini. Seluruh jiwa dan darah saya terikat untuk melindungi Hulu Rawa. Tapi saya tidak akan pernah menjadi pria egois yang memenjarakanmu di dalam hutan ini jika itu harus mengorbankan baktimu pada orang tuamu."
Air mata Melani kembali menggenang. "Rangga..."
"Jika bulan depan ayahmu datang ke perbatasan untuk membawamu pulang demi ketenangan hatinya... saya tidak akan melarangmu melangkah pergi," lanjut Rangga tulus, mata hitamnya memancarkan kejujuran mutlak. "Sebab rasa bakti seorang anak pada orang tuanya adalah hukum tertinggi yang juga dihormati oleh leluhur kami."
Dada Melani berdesir perih mendengar ucapan itu. "Tapi saya tidak mau meninggalkanmu, Rangga... Saya tidak mau hubungan kita berakhir seperti ini..."
Rangga menyunggingkan senyum amat tampan, jemarinya membelai lembut jemari Melani yang memegang batu hitam pada kalung tenun di dadanya.
"Siapa yang bilang hubungan kita akan berakhir, Melani-ku?" bisik Rangga, terkekeh pelan melihat kepanikan manis di wajah bidannya.
Melani tertegun, alis cantiknya bertautan bingung. "Maksudmu...?"
Rangga Wira menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Melani dengan binar keberanian dan kepastian yang tak tergoyahkan.
"Saya tidak akan membiarkanmu pulang sendirian menghadapi kecemasan orang tuamu," pukas Rangga tegas. "Bulan depan, saat ayahmu tiba di perbatasan hutan Hulu Rawa... saya sendiri yang akan melangkah keluar dari batas perbatasan tanah adat ini. Saya akan mendampingimu menuju kota, berdiri tegap di hadapan ayah dan ibumu."
Melani membelalakkan matanya tak percaya, napasnya tertahan di tenggorokan. "Kamu... kamu mau ikut ke kota menemui orang tua saya?"
"Tentu saja," jawab Rangga mantap tanpa ragu sedikit pun. "Saya akan menemui ayahmu bukan sebagai orang asing dari dalam hutan yang liar, melainkan sebagai seorang pria gentleman dan Ketua Adat yang datang secara terhormat. Saya akan menunjukkan pada keluargamu betapa putri mereka sangat disucikan, dihormati, dan dicintai di tanah ini."
Rangga berlutut pelan di atas tanah rumput puncak bukit, mendongak menatap Melani dengan penuh rasa hormat. Jemari kekarnya meremas lembut jemari lentik Melani.
"Saya akan meminta izin dan restu secara langsung pada ayahmu untuk meminangmu secara sah," bisik Rangga dengan nada yang amat dalam dan romantis, menggetarkan seluruh jiwa Melani. "Saya akan berjanji di hadapan orang tuamu bahwa saya akan membahagiakanmu, menjagamu dengan seluruh jiwa raga saya, dan membangun fasilitas kesehatan yang lebih baik agar kamu tetap bisa menjadi Bidan tanpa harus mengorbankan kenyamananmu."
Airmata kebahagiaan meledak seketika dari mata jernih Melani. Rasa cemas, takut, dan beban berat yang menghimpit dadanya sejak membaca surat sang ibu sirnah tak berbekas, digantikan oleh rasa haru dan cinta yang membumbung tinggi.
Melani berlutut ikut menyatukan lututnya di atas tanah, menatap wajah tampan Rangga Wira yang ada di depannya.
"Rangga... kamu sungguh-sungguh?" tangis Melani haru, senyum manisnya yang paling indah memancar di tengah Isaknya. "Kamu rela keluar dari perbatasan tanah adatmu demi saya?"
"Demi dirimu, Melani..." tutur Rangga tulus, mengusap lelehan air mata di pipi mulus gadis itu. "Tanah Hulu Rawa adalah rumah bagi raga saya, tapi kamu... kamu adalah rumah bagi jiwa saya. Ke mana pun kamu pergi, di situlah arah saya melangkah."
Melani tidak bisa lagi menahan gejolak kebahagiaan di dadanya. Ia memajukan tubuhnya, menyandarkan keningnya lembut pada kening tegap Rangga Wira. Di bawah naungan bulan purnama dan hembusan angin malam puncak bukit sakral, dua jiwa yang saling mencintai itu lebur dalam kepastian rasa yang tak tergoyahkan oleh jarak maupun perbedaan dunia.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭