NovelToon NovelToon
Gairah Musuhku

Gairah Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Teen / Nikahmuda / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: HyMaira

Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.

Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.

Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Emily masih melamun saat itu, Dion langsung menjawab,

“Kenapa lo selalu kambing hitamkan Emily, sih, Lex? Kenapa nggak lo aja yang turun ke jalan?” ucap Dion dengan nada kesal.

“Ya, ya… gue hanya menyampaikan pesan mereka. Mereka pengen nantangin Emily, bukan gue,” bela Alex.

“Tapi kan lo juga bisa balapan. Kenapa lo harus ngorbanin Emily terus? Bukankah Winner King juga nggak kalah sama BLR? Mereka juga haus kekuasaan…” sahut Dion, masih emosi.

“Bukannya lo tahu gue masih vakum dari dunia perbalapan…” jawab Alex dengan nada mengelak.

“Ya terus kenapa lo seolah-olah terus menginginkan Emily yang jadi tameng utama? Kan masih banyak anggota yang lain,” ucap Dion tegas.

“Ya kan Emily yang hebat. Emily juga sekarang yang jadi ketuanya Sport Queen, bukan lagi Sport King. Jadi ya wajar kalau Emily yang turun tangan,” Alex mencoba membela diri.

“Ya, tapi nggak tiap hari juga…” Dion mendengus kesal.

“Ya semua itu balik lagi ke lo, Ily,” ucap Ziva menatap Emily. “Gimana, Ily? Lo mau terima tantangan dari Marcel?”

“Gatau gue… bingung. Bukan gue takut sama Marcel, tapi semalam aja gue dimarahin sama bokap gue,” jawab Emily dengan nada bimbang.

“Tapi lumayan loh, Baby. Hadiahnya gede. Kalau kamu dapatkan, lumayan tuh bisa dipakai poya-poya…” ucap Alex penuh rayuan.

“Mokondo lu! Terus aja lo desak Emily buat balapan. Kenapa nggak lo aja yang terima tantangan? Bukannya lo juga masih anggota Sport Queen, ya?” ucap Caca tajam.

“Iya, pikiran lo mah duit-duit-duit. Emang bener mokondo lo!” tambah Ziva sebal.

“Sudah, sudah… nanti gue pikirin. Gue lagi mikirin dulu caranya gimana, bisa atau enggaknya. Nanti gue kabarin lagi malam, oke? Sekarang makan dulu deh…” ucap Emily akhirnya men

coba menenangkan keadaan.

*********

Sedangkan sore itu, di rumah besar milik keluarga Bimo, Rey tampak sudah mengenakan helm full-face-nya.

“Mau ke mana, Rey?” tanya Bunda Rania.

“Mau nongkrong, Bun, sama teman-teman…” jawab Rey santai.

“Bukannya baru pulang kuliah? Makan malam dulu, Nak.”

“Nanti aja, bun Rey ada urusan sama teman-teman.”

“Rey, jangan dulu berangkat. Ayah mau bicara,” ucap Ayah Bimo dengan nada tegas.

“Apa, Ayah?” Rey menoleh malas.

“Jangan terus-terusan keluyuran, Rey. Tiap hari kamu pulang tengah malam, terus bangun siang. Mau sampai kapan seperti itu? Kuliah yang betul! Siapa yang akan meneruskan Ayah kalau bukan kamu? Kamu anak satu-satunya Ayah. Cobalah nurut sama Ayah,” ucap Ayah menasehati.

“Ya terus, Rey harus kayak gimana?” sahut Rey dengan nada kesal.

“Kamu harus punya waktu. Jangan terus-terusan main di jalanan. Kalau ada apa-apa bagaimana?”

“Ayah, Rey itu sudah dewasa. Ini masa muda, jadi ya wajar dong kalau Rey banyak main.”

“Ya, tapi kamu inget janji dan pesan Ayah kan?” Ayah Bimo menatap tajam.

“Iya, Rey inget. Rey janji tidak akan main perempuan, karena Rey sudah dijodohkan… meskipun Rey nggak tahu siapa calonnya,” jawab Rey cuek.

“Kamu mau tahu siapa calonnya?”

“Males banget…” Rey mendengus.

“Yeee… ini sudah waktunya, Rey.”

“Waktunya apa, Ayah?” Rey mengerutkan dahi.

“Waktunya kamu bertemu dengan calonmu.”

“Nanti saja lah, Yah. Santai dulu napa…” jawab Rey malas.

“Nggak bisa, Rey. Malam ini kamu harus ikut!” ucap Ayah dengan nada tegas.

“Nggak bisa, Yah. Besok aja, please. Besok tanggal merah kan, besok aja deh ketemunya…” bujuk Rey.

“Hmmm… ya sudah, nanti Ayah bilang lagi.” Akhirnya Rey berpamitan kepada orang tuanya untuk kembali nongkrong bersama teman-teman geng Black Lion Riders, atau yang kerap disebut BLR.

Malam harinya, di kediaman Emily, dia menelpon Ziva.

“Lo beneran mau turun, Ily?” tanya Ziva dengan nada khawatir.

“Iya, Marcel nantang gue. Masa gue nggak jabanin,” jawab Emily mantap.

“Bukannya lo kemarin baru dimarahin bokap lo?”

“Ya… gue janji, ini yang terakhir deh,” ucap Emily agak ragu.

“Tapi ini udah malam. Apa lo aman keluar?”

“Justru itu, gue pakai motor lo deh. Nanti gue bagi jatah kalau gue dapet,” sahut Emily mencoba meyakinkan.

“Ini bukan masalah jatah, Ily. Nanti kalau bokap lo marah gimana?” suara Ziva makin serius.

“Mereka udah tidur. Gue yakin, ini yang terakhir deh.”

“Oke, kalau lo mau, gue sama Nara, Caca, Dion pasti bakal nemenin lo sama anak-anak Sport Queen yang lain. Tapi menurut gue sih, lo jangan terlalu nurut sama Alex. Ujung-ujungnya juga dia yang nikmatin duitnya,” ucap Ziva ketus.

“Kita pakai rame-rame, bukan cuma Alex doang. Lagian Alex kan pacar gue, wajarlah kalau dia nikmatin,” bela Emily.

“Lo cinta boleh, Ily… tapi bego jangan,” balas Ziva ketus.

“Gimana dong… gue udah kecintaan,” Emily nyengir kecil.

“Itu dia. Jangan sampai bukan cuma cinta, tapi keperawanan lo juga lo kasih,” sindir Ziva blak-blakan.

“Enggak lah! Mulut lo, Ziva. Soal itu gue nggak bakal bisa dirayu,” balas Emily cepat.

“Oke, kalau gitu gue jemput lo sekarang, ya. Anak-anak nunggu di sirkuit, udah gue chat.”

“Oke, sip baby. Thank you so much.”

Emily menutup telpon, lalu bergumam pelan, “Sorry, Papa… ini yang terakhir kalinya. Takut banget kalau besok beneran diberangkatkan, hahaha…”

Akhirnya, diam-diam Emily ikut bersama Ziva ke sirkuit. Malam itu, dia kembali melakukan balapan, kali ini melawan Marcel, ketua geng Winner King.

Saat sampai di sirkuit, suasana sudah penuh sorak sorai. Lampu sorot dan suara knalpot meraung-raung memenuhi udara. Bahkan geng BLR juga tampak hadir, entah sekadar memantau atau memang sengaja menonton pertandingan malam itu.

“Hai, girls… ternyata lo terima juga tantangan gue,” ucap Marcel dengan senyum congkak. “Gue denger kemarin lo ngalahin Rey. Sekarang, apa lo bisa ngalahin gue?” ucapnya sambil mencolek dagu Emily.

Emily langsung menepis kasar. “Nggak usah sentuh-sentuh, goblok! Lo mau balapan sama gue apa mau gue tonjok?”

“Wih, santai… santai. Cewek itu harus kalem,” balas Marcel meremehkan.

“Lo kalau nantangin balapan, ya ayo di sirkuit. Jangan cuma adu bacot,” jawab Emily dengan nada menantang.

“Wisss, oke… oke…” Marcel nyengir sambil menyalakan mesin motornya.

Sorakan penonton makin riuh. Beberapa anggota Sport Queen memberi semangat untuk Emily, sementara geng Winner King berdiri di sisi Marcel, penuh percaya diri.

Bendera start diangkat. Dalam hitungan detik, tarikan gas memecah keheningan malam.

Wruuummm! Motor mereka melesat keluar. Emily langsung mengambil posisi depan dengan lincah, menyalip di tikungan tajam. Marcel tak tinggal diam, ia menekan gas habis-habisan, mencoba memotong jalur dari sisi kiri.

Sorakan penonton makin menggema.

“Emi! Ayo Emi!” teriak Ziva dan Caca dari pinggir lintasan.

Tikungan demi tikungan dilibas dengan kecepatan penuh. Marcel beberapa kali nyaris menyenggol motor Emily, membuat suasana semakin panas.

“Hampir aja lo jatuh!” teriak Marcel di sela suara mesin, mencoba mengintimidasi.

“Cupu!” balas Emily singkat, lalu melesat lagi.

Di lap terakhir, adu cepat benar-benar menegangkan. Marcel sempat memimpin sepersekian detik, namun Emily dengan cerdik memanfaatkan slipstream, lalu menyalip di garis lurus terakhir.

Sorak penonton memuncak. Ban motornya berdecit keras saat melewati garis finish. Emily lebih dulu melewati garis, hanya terpaut setengah detik dari Marcel.

“Yeeeeeeeeah! Sport Queen menang lagi!” teriak Dion sambil melompat kegirangan.

Emily melepas helmnya, wajahnya penuh keringat tapi senyum puas mengembang. Ia mengacungkan tangan ke arah Marcel.

“Gimana, Mar? Lo kira bisa ngalahin gue? Jangan mimpi!”

Marcel terdiam, wajahnya menegang, jelas tak terima. Sedangkan geng Winner King terlihat kesal karena jagoannya kalah lagi.

Di tengah riuh kemenangan sport Queen tiba-tiba suara berat memekik

EMILY!!!!!!!!!!!!!!!!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!