NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Brumm!

​Suara deru mesin halus BMW Seri 4 Coupé milik Anton membelah jalanan kota yang cukup padat.

​Anton menyandarkan punggungnya di jok kulit yang sangat nyaman sambil memegang kemudi dengan santai.

​"Rasanya sungguh berbeda," batin Anton sambil tersenyum tipis.

​Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, statusnya berubah total dari seorang pria miskin yang diinjak-injak menjadi pemilik mobil mewah.

​Namun, Anton sadar betul bahwa sisa uang tunai di rekeningnya kini hanya tinggal sekitar tiga puluh juta rupiah.

​"Uang tiga puluh juta ini tidak akan bertahan lama untuk gaya hidup seperti ini," gumam Anton pelan.

​Dia menatap ke arah luar jendela mobil dan memikirkan langkah selanjutnya.

​Tujuan utamanya sekarang adalah mencari tempat tinggal baru yang aman dan nyaman, serta mengumpulkan lebih banyak modal dari dunia barang antik.

​Anton mengarahkan mobil merahnya menuju kawasan apartemen elit di bagian utara kota.

​Di kawasan tersebut terdapat kompleks apartemen mewah bernama Grand Royal Residence.

​Kring!

​Suara pendingin udara menyambut Anton saat dia melangkah masuk ke dalam kantor pemasaran apartemen tersebut.

​Seorang wanita muda berpenampilan sangat anggun dan profesional langsung berdiri dari kursi kerjanya.

​Wanita itu memiliki perawakan tinggi, kulit putih bersih, dan rambut bergelombang yang diurai rapi.

​Namanya adalah Caca, agen pemasaran senior di apartemen tersebut.

​"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Caca dengan senyuman hangat dan sopan.

​Caca sempat melirik sebentar ke arah kunci mobil BMW merah yang dipegang Anton di tangan kirinya.

​"Saya sedang mencari unit apartemen yang siap huni hari ini juga," jawab Anton tegas.

​"Tentu saja, Pak. Mari ikut saya untuk melihat beberapa unit terbaik yang masih tersedia," ajak Caca dengan ramah.

​Mereka berdua naik menggunakan lift khusus menuju lantai dua belas.

​Caca membuka pintu salah satu unit apartemen paling luas di lantai tersebut.

​"Ini adalah unit tipe penthouse dengan luas seratus lima puluh meter persegi," terang Caca sambil memandu Anton masuk.

​"Fasilitasnya sangat lengkap, view langsung menghadap ke pemandangan kota, dan keamanan dua puluh empat jam," lanjutnya.

​Anton menganggukkan kepalanya sambil berjalan mengelilingi ruangan apartemen yang penuh dengan perabotan mewah tersebut.

​Dia memfokuskan pikirannya dan mengaktifkan [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1].

​Pandangan Anton menembus setiap sudut dinding, langit-langit, hingga bagian bawah lantai kayu apartemen itu.

​Dia memeriksa struktur bangunan untuk memastikan tidak ada kebocoran atau kerusakan tersembunyi.

​Namun, saat pandangan tembus pandangnya melewati sebuah lukisan tua bertema pemandangan alam yang terpajang di dinding ruang tamu, Anton tertegun.

​Di balik kain kanvas lukisan pemandangan yang tampak biasa itu, terdapat lapisan kanvas kedua yang tersembunyi.

​Pada kanvas kedua di bagian dalam, terlihat sketsa lukisan bergaya klasik dengan stempel emas kuno di sudut bawahnya.

​"Ada lukisan tersembunyi di balik lukisan ini," batin Anton dengan jantung yang berdetak agak kencang.

​Dia mengamati stempel emas tersebut lebih dekat menggunakan kemampuan matanya.

​Stempel itu memiliki tulisan Mandarin kuno yang memancarkan kilau sejarah yang sangat kuat.

​"Lukisan ini pasti ditinggalkan oleh pemilik unit sebelumnya yang tidak tahu nilai sebenarnya," pikir Anton.

​Caca yang melihat Anton berdiri agak lama di depan lukisan itu tersenyum pelan.

​"Apakah Bapak menyukai lukisan itu?" tanya Caca halus.

​"Pemilik unit sebelum ini adalah seorang kolektor asing yang buru-buru pindah ke luar negeri."

​"Beliau meninggalkan semua perabotan dan hiasan dinding di unit ini untuk penyewa atau pembeli berikutnya," jelas Caca panjang lebar.

​Anton menetralkan raut wajahnya agar tetap terlihat tenang.

​"Unit ini cukup bagus dan bersih," puji Anton santai.

​"Berapa harga sewa untuk unit ini per bulannya?" tanya Anton.

​"Untuk sewa bulanan adalah lima belas juta rupiah per bulan, Pak," jawab Caca.

​"Tetapi jika Bapak mengambil kontrak minimal satu tahun, harganya bisa berkurang jadi sepuluh juta per bulan," tambah Caca menawarkan.

​Anton berpikir sejenak.

​Sisa uang tiga puluh jutanya sangat pas untuk membayar deposit dan sewa bulan pertama jika dia menyewanya secara bulanan.

​Dan yang paling penting, lukisan bernilai tinggi di dinding itu akan menjadi milik atau hak pakainya selama tinggal di sini.

​"Aku ambil unit ini untuk sewa bulanan dulu," ucap Anton mantap.

​"Hari ini aku langsung bayar sewa bulan pertama dan depositnya," tegas Anton.

​Mata Caca berbinar gembira mendapatkan transaksi yang begitu cepat dan tanpa hambatan.

​"Pilihan yang sangat bijak, Pak Anton!" seru Caca penuh semangat.

​"Mari kita kembali ke kantor pemasaran untuk penandatanganan kontrak dan pembayaran," ajaknya dengan senyum lebar.

​Proses transaksi berjalan sangat lancar.

​Setelah menandatangani berkas sewa dan mentransfer uang sebesar dua puluh juta rupiah untuk sewa dan deposit, Anton resmi mendapatkan kunci elektronik unit apartemen mewahnya.

​Dia kembali ke lantai dua belas dan mengunci pintu apartemennya dari dalam.

​Anton berjalan cepat menuju ruang tamu dan berdiri tepat di depan lukisan pemandangan tua tersebut.

​Dia mengambil lukisan itu dari gantungan dinding dengan hati-hati dan meletakkannya di atas meja meja kayu besar.

​"Saatnya membuktikan seberapa berharganya barang ini," gumam Anton penuh rasa penasaran.

​Dia memfokuskan kembali [Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1] untuk melihat batasan serta lipatan kain kanvas luar yang menutupi lukisan rahasia di dalamnya.

​Dengan pisau kecil yang dipinjamnya dari dapur apartemen, Anton mulai menyayat tepi lipatan kain kanvas luar dengan sangat perlahan dan hati-hati.

​Krak!

​Sayatan kecil berhasil membuka lapisan kanvas luar tanpa merusak sedikit pun kanvas di bagian dalam.

​Perlahan tapi pasti, Anton mengelupas lapisan luar lukisan tersebut.

​Sebuah lukisan tinta hitam bertema seekor harimau yang sangat gagah di atas batu karang akhirnya terpampang nyata di depan mata Anton.

​Goresan tintanya begitu hidup dan penuh dengan aura keagungan.

​"Luar biasa," bisik Anton terpana.

​Di sudut kanan bawah lukisan, stempel merah dan tulisan kaligrafi emas terlihat sangat jelas.

​Anton segera mengambil ponselnya dan memotret bagian stempel serta kaligrafi tersebut.

​Dia mencari kontak seseorang di ponselnya yang baru saja dia simpan pagi tadi.

​Nama di layar ponselnya tertulis: Bella (Toko Mustika).

​Anton menekan tombol panggil.

​Tut... Tut...

​"Halo, selamat siang, Mas Anton?" suara lembut Bella terdengar dari seberang telepon.

​"Selamat siang, Mbak Bella," balas Anton tenang.

​"Apakah Pak Hermawan ada di toko hari ini?" tanya Anton.

​"Pak Hermawan ada di toko sampai sore nanti, Mas," jawab Bella.

​"Ada apa ya, Mas Anton? Apakah Mas menemukan barang antik berharga lagi?" tanya Bella dengan nada penasaran yang tinggi.

​Anton tersenyum tipis di balik ponselnya.

​"Aku baru saja mendapatkan sebuah lukisan tinta kuno bertema harimau dengan stempel emas," terang Anton.

​"Aku sudah mengirimkan foto detail stempelnya ke WhatsApp milikmu, tolong perlihatkan pada Pak Hermawan," minta Anton.

​"Baik, Mas Anton! Saya cek sekarang juga!" jawab Bella cepat.

​Hanya berselang dua menit, telepon dari Bella kembali masuk.

​Namun kali ini, bukan suara Bella yang terdengar, melainkan suara Hermawan yang terdengar sangat panik dan penuh gairah.

​"Anak muda! Dari mana kamu mendapatkan foto lukisan itu?!" teriak Hermawan di telepon dengan nafas memburu.

​"Itu... itu adalah lukisan harimau karya Maestro Qi Baishi dari era Republik Tiongkok!"

​"Apakah lukisan fisiknya ada padamu sekarang?!" tanya Hermawan bertubi-tubi tanpa henti.

​Anton terkekeh pelan mendengar keterkejutan ahli penilai senior tersebut.

​"Iya, Pak Hermawan. Lukisan itu ada bersama saya sekarang dalam kondisi sangat sempurna," jawab Anton santai.

​"Bawa ke toko saya sekarang juga! Tidak, biar saya yang datang ke tempatmu!" seru Hermawan panik.

​"Tidak perlu, Pak Hermawan. Saya yang akan datang ke Toko Mustika setengah jam lagi," potong Anton tenang.

​"Baik, baik! Saya tunggu di Toko Mustika sekarang juga!" balas Hermawan sebelum menutup telepon.

​Anton mematikan ponselnya dan memandangi lukisan harimau di atas meja.

​"Sistem Mata Dewa ini benar-benar mesin pencetak uang yang luar biasa," batin Anton dengan mata berbinar penuh ambisi.

​Dia menggulung lukisan tua itu dengan sangat hati-hati dan memasukkannya ke dalam wadah tabung pelindung yang dia temukan di lemari.

​Dengan membawa lukisan bernilai miliaran rupiah tersebut, Anton melangkah keluar dari apartemen barunya menuju Toko Mustika untuk melakukan transaksi besar keduanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!