NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memantul tepat di atas seprai putih yang ada di salah satu titiknya berhiaskan noda merah. Saksi bisu dari penyatuan mereka semalam.

Bara duduk di tepi ranjang, merapikan pakaiannya yang semula terlempar sembarangan. Pandangannya kini tertuju pada noda merah itu. Senyum tipis dan dingin terbit di bibirnya.

Awalnya, terlintas rencana picik di benaknya, yaitu membiarkan Selina, ibu tiri sekaligus ibu kandung Andrea menemukan noda itu dan mendapati putri kesayangannya masih bergelung di bawah satu selimut bersama anak tiri yang paling ia benci. Sebuah skandal yang cukup untuk menghancurkan posisi Selina di keluarga ini.

Namun, Bara segera menepis pikiran itu. "Belum waktunya Selina .... " gumam Bara. Ia punya alasan kuat untuk untuk tidak melakukannya sekarang, karena perusahaan memang belum sepenuhnya berada di genggamannya. Langkah yang gegabah justru bisa membalikkan keadaan dan merugikan posisinya.

Bara menoleh, menatap Andrea yang masih tertidur lelap dengan wajah polos tanpa dosa, mengira bahwa apa yang terjadi semalam adalah puncak dari kisah cinta mereka.

Tatapan Bara mengeras. Jika ia tidak bisa menghancurkan Selina lewat skandal hari ini, maka ia akan memilih cara lain yang jauh lebih menyiksa dan menghancurkan Andrea secara perlahan dari dalam. Lagipula, Bara menolak keras untuk terjebak dalam pusaran gairah dan perasaan yang bisa menjadi kelemahannya sendiri.

Saat Andrea terbangun, ia menemukan Bara sudah berpakaian rapi, berdiri di dekat jendela sambil menyesap rokok.

"Kak Bara ...." panggil Andrea lirih, suaranya masih serak. Senyum manis terkembang di wajahnya, membayangkan kehangatan semalam akan berlanjut.

Mendengar namanya dipanggil, Bara pun berbalik. Kedua matanya langsung menatap Andrea dengan ekspresi yang sangat tenang, terlalu tenang hingga terasa asing. Ia mendekat, duduk di samping ranjang, lalu mengusap puncak kepala Andrea dengan kelembutan.

"Dengar Andrea ... perasaanku yang semalam ... itu nyata. Aku melakukan semua itu karena rasa cintaku ke kamu," ucap Bara dengan nada suara yang begitu meyakinkan, membuat jantung Andrea berdesir hangat. Namun, kalimat Bara berikutnya seolah membekukan darah di tubuh gadis itu.

"Tapi, hubungan ini tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Termasuk Mama kamu. Biar ini jadi rahasia indah kita berdua. Kamu paham kan maksud Kakak?"

Andrea terpaku. Ada rasa sesak yang menelusup di dadanya, namun tatapan Bara yang begitu dalam dan manipulatif melumpuhkan logika gadis itu. Dibutakan oleh rasa cinta dan kepasrahan. Pada akhirnya Andrea mengangguk pelan. "Iya, Kak ... aku mengerti."

"Bagus," bisik Bara tipis. "Mulai hari ini, aku juga memutuskan untuk pindah ke apartemen. Selain sibuk di kampus untuk menyelesaikan skripsi, aku juga punya pekerjaan. Akhir-akhir ini aku akan sangat sibuk. Aku butuh tempat yang lebih tenang."

Sebelum Andrea sempat bertanya lebih jauh, Bara sudah bangkit, mengecup dahi Andrea singkat, lalu melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi.

***

Hari-hari berikutnya berubah menjadi mimpi buruk yang tak bersuara bagi Andrea.

Kepindahan Bara dari rumah secara mendadak meninggalkan kehampaan yang luar biasa. Andrea berubah menjadi sosok yang sangat murung dan pendiam. Di rumah, ia hanya mengurung diri di kamar, menatapi sudut-sudut ruangan yang pernah menjadi saksi dari semua janji manis Bara.

Kenyataan pahit tidak berhenti di situ. Di kampus, Bara seolah berubah menjadi bayangan yang mustahil digapai. Pria itu selalu melangkah terburu-buru, dikelilingi oleh teman-teman se-gengnya atau bahkan bicara dengan dosen, membuat Andrea tak memiliki celah sedikit pun untuk mendekat.

Setiap kali Andrea mencoba menyapa di koridor, Bara hanya akan melewatinya dengan tatapan dingin seolah mereka adalah dua orang asing yang tidak sengaja berpapasan.

Pesan chat Andrea terkirim untuk yang kesekian kali. [Kak, nanti malam ada waktu? Aku kangen]

Status dari pesan itu sudah dibaca, tapi tidak ada balasan. Telepon yang dialihkan, pesan singkat yang hanya menyisakan tanda centang biru tanpa jawaban, menjadi makanan sehari-hari Andrea. Pria yang sebelumnya merengkuhnya dengan begitu hangat dan membisikkan kata cinta, kini menghilang sepenuhnya tepat di depan matanya.

Suatu hari Andrea duduk di sudut perpustakaan kampus, meremas ponselnya yang dingin dengan jemari yang gemetar. Air matanya menetes pelan, membasahi layar ponselnya. Di tempat yang sama di mana ia menyerahkan seluruh jiwa dan raganya, kini ia sadar bahwa ia telah menyerahkan dirinya pada sebuah ikatan perasaan yang amat menyiksa.

Rasa penasaran dan kehampaan yang menggerogoti dada membuat Andrea tak mampu lagi tinggal diam. Pria yang memegang seluruh jiwanya itu seolah lenyap ditelan bumi. Berhari-hari mencari kejelasan di kampus tanpa hasil, Andrea akhirnya mulai menggali informasi dari lingkaran terdekat Bara.

Hingga akhirnya, petunjuk itu mengarahkannya pada sebuah tempat yang jauh dari apa yang Andrea tahu tentang Bara. Yaitu sebuah sirkuit balap liar malam. Sebuah arena tersembunyi tempat Bara meraup keuntungan puluhan hingga ratusan juta rupiah dari taruhan.

Deru mesin yang memekakkan telinga, aroma bahan bakar, dan sorak-sorai penonton menyambut kedatangan Andrea. Langkah kaki gadis itu bergetar saat menyusuri riuhnya area paddock. Dengan mengenakan pakaian sederhana dan raut wajah kelelahan, Andrea tampak begitu asing di tempat remang yang penuh kepulan asap itu.

Dari kejauhan, Angel yang memang sering terlihat mengelilingi dunia Bara, mengetahui kedatangan Andrea yang tampak kebingungan. Dengan senyum sinis, Angel melangkah mendekati Bara yang sedang bersandar santai di kap mobil sportnya.

"Bara ... lihat siapa yang datang ke tempat ini," bisik Angel manja seraya menunjuk ke arah Andrea dengan dagunya.

Bara menoleh tipis. Ketika matanya menangkap sosok Andrea yang tengah mencarinya dengan tatapan cemas, raut wajahnya tetap tenang, seolah tak terkejut sedikit pun. Namun di balik ketenangan itu, otak Bara berputar cepat. Rencana kejam yang telah ia susun rapi kini menemukan panggung terbaiknya.

"Kak Bara ...." panggil Andrea lirih begitu pandangan mereka akhirnya bertemu. Air mata haru nyaris menetes dari pelupuk matanya. Ada rasa lega luar biasa yang membuncah saat melihat pria yang sangat ia rindukan berada di depan mata.

Andrea hendak melangkah mendekat dan bersiap meraih jemari Bara. "Aku cari Kakak ke mana-mana ... kenapa telepon aku nggak pernah di—"

Kalimat Andrea terputus seketika.

Tepat saat Andrea berada beberapa langkah di hadapannya, tiba-tiba Bara meraih pinggang Angel dengan gerakan cepat dan kasar. Tanpa ragu sedikit pun, Bara mendaratkan bibirnya di atas bibir wanita itu. Menciumnya dengan intens dan penuh gairah tepat di depan puluhan pasang mata dan tepat di hadapan Andrea.

Sorak-sorai kaget dan siulan dari kerumunan sirkuit langsung pecah meramaikan suasana. Angel yang sempat terkejut, segera membalas ciuman itu dengan senyum kemenangan sambil mengalungkan lengannya di leher Bara.

Dalam sekejap dunia Andrea serasa runtuh dan berhenti berputar pada detik itu juga.

Tubuhnya membeku kaku. Tatapannya menatap kosong pada pemandangan di depannya. Rasanya bagaikan disambar petir di siang bolong. Dada Andrea terasa diremas begitu kuat hingga ia kesulitan bernapas. Kehangatan, janji manis, dan sentuhan lembut Bara di kamar temaram beberapa hari lalu berubah menjadi ribuan belati yang menusuk jantungnya tanpa ampun.

Bara melepas ciumannya perlahan. Ia menyapu bibirnya santai, lalu menatap Andrea dengan tatapan mata yang begitu dingin, datar, dan asing. Seolah diantara mereka sama sekali tak ada sisa-sisa kehangatan pria yang mengaku mencintainya.

"Ada apa, Andrea? Kenapa kamu sampai datang ke sini?" tanya Bara dengan nada suara yang begitu dingin, seolah gadis di depannya tak lebih dari sekadar gangguan kecil.

Andrea mundur satu langkah, jemarinya meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Air matanya menetes deras tanpa bisa ditahan lagi. Ia tidak sanggup mengeluarkan satu kata pun. Hatinya tidak hanya patah, tetapi telah hancur lebur hingga tak berbentuk. Tanpa membuang waktu lagi, Andrea berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan area sirkuit, meratapi kemalangan dan kebodohannya.

Melihat punggung Andrea yang menjauh dalam kerapuhan, kepuasan dingin sempat melintas di benak Bara. Memang itulah tujuannya.

Bara tahu betul, menghancurkan Andrea secara mental adalah cara tercepat untuk meremukkan hati Selina. Ketika Selina melihat putri kesayangannya hancur dan menderita tanpa alasan yang jelas, rasa sakit itu akan meracuni hidup wanita itu. Ini adalah bagian dari pembalasan dendamnya.

Namun, saat raungan mesin kembali membahana di sirkuit malam itu, Bara berdiri mematung di tempatnya. Senyum dingin di bibirnya mendadak pudar, menyisakan kekosongan yang aneh di dasar dadanya.

Tanpa Bara sadari, demi sebuah permainan dendam dan kekuasaan yang belum usai, ia baru saja menggoreskan luka yang sangat dalam dan tak tersembuhkan pada hati seorang wanita yang menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan cintanya dengan sangat tulus kepadanya. Dan luka itu ... mungkin adalah awal dari penyesalan terbesarnya di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!