aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - Pelelangan yang Tersembunyi
Suasana malam di penginapan sederhana Kota Gunung Hijau terasa amat hening, namun bagi Sun Chen, keheningan itu dipenuhi oleh gesekan halus niat membunuh yang terselubung. Di dalam kamar lantai dua yang temaram, Sun Chen berbaring bersedekap di atas ranjang kayu, memejamkan mata dan mengatur napasnya seolah sedang tertidur lelap.
Namun, indra spiritual dasarnya bekerja penuh. Melalui pendengarannya yang telah teraliri benih Qi, Sun Chen mengamati pola gerakan para pengintai di luar. Ia mendengarkan detak jantung yang tertahan di atas atap seberang jalan, gesekan halus kain jubah di celah gang samping penginapan, serta pergantian posisi setiap dua jam sekali dari tiga mata-mata organisasi pemburu.
Pola pengawasan ini sangat rapi. Mereka sengaja tidak melakukan serangan mendadak karena tahu Chou Tian adalah ahli tingkat tinggi yang berbahaya saat terdesak. Mereka memilih bertaruh pada waktu, menunggu racun di tubuh Chou Tian menggerogoti sang guru hingga tak berdaya.
Saat larut malam tiba dan penjagaan di luar agak merenggang, Sun Chen membuka matanya. Ia bergerak tanpa suara, mendekati ranjang tempat Chou Tian duduk bersila.
"Guru," bisik Sun Chen pelan, suaranya hampir menyatu dengan deru angin malam. "Ada tiga orang pengintai yang mengawasi kamar ini secara bergantian. Mereka menyebar di atap seberang, gang barat, dan kedai di sudut timur."
Chou Tian membuka matanya perlahan. Napasnya terdengar sedikit serak ketika ia menghembuskan napas panjang.
"Kau benar-benar bisa merasakan mereka dengan sangat tepat, Sun Chen," kata Chou Tian, matanya memancarkan kepuasan sekaligus kagum. Pria tua itu tidak bertanya bagaimana murid berusia empat tahun bisa membaca pola pengintai profesional serapi itu. Di matanya, bakat dan insting alami Sun Chen memang sebuah keajaiban yang dikirimkan Langit.
Chou Tian menyapu sedikit keringat dingin di dahinya. "Racun ini... memang semakin agresif setiap kali aku mencoba memusatkan energi. Mereka tahu hal itu dan sedang menunggu keberadaanku melemah."
"Karena itu kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, Guru," balas Sun Chen.
Ingatan masa lalu Sun Chen berputar cepat. Ia teringat bahwa besok sore, Rumah Dagang Angin Merah akan mengadakan pelelangan kecil. Di pelelangan itu, sebuah lempengan besi tua berkarat yang diabaikan semua orang akan dilelang dengan harga murah. Beberapa tahun kemudian, lempengan itu baru terbukti menjadi kunci untuk membuka ruang warisan kuno di Menara Penyimpanan Langit yang mengguncang Benua Tengah.
Sun Chen menyadari bahwa lempengan itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia lewatkan. Namun, ada satu kendala besar yang menghadang: uang.
Chou Tian hanya membawa sedikit koin perak yang dialokasikan ketat untuk biaya perjalanan dan obat-obatan. Jumlah itu sama sekali tidak cukup untuk menawar barang di pelelangan, sekecil apa pun skalanya.
Pagi harinya, saat Sun Chen dan Chou Tian menyusuri jalan utama kota untuk mencari sarapan, perhatian Sun Chen teralih pada papan pengumuman kayu besar di depan sebuah bangunan megah berpagar besi. Bangunan itu adalah Aula Persilatan Kota Gunung Hijau.
Selembar kertas merah baru saja ditempel di sana. Pengumuman itu menyebutkan bahwa Aula Persilatan sedang menggelar Turnamen Pendekar Muda. Tantangan ini dibuka khusus untuk para pendatang dan murid sekte usia belia. Hadiah yang ditawarkan berupa beberapa keping emas, botol obat pemulih Qi murni, serta token kehormatan untuk memasuki pelelangan Rumah Dagang Angin Merah sebagai tamu khusus.
Melihat hadiah tersebut, mata Sun Chen berkilat. Emas dan token pelelangan adalah dua hal yang sangat mereka butuhkan saat ini.
"Guru, saya ingin mengikuti turnamen itu," kata Sun Chen seraya menunjuk ke arah papan pengumuman.
Chou Tian menghentikan langkahnya, mengerutkan dahi dalam-dalam. "Tidak, Sun Chen. Kau terlalu muda dan raga kecilmu akan menarik perhatian banyak orang. Kita sedang berada dalam pengawasan musuh."
Sun Chen menatap gurunya dengan pandangan penuh keyakinan. "Juara utama tidak penting, Guru. Saya hanya perlu memenangkan beberapa babak awal untuk mengamankan hadiah uang dan token pelelangan. Jika kita hanya bersembunyi, kita tidak akan pernah mendapatkan sumber daya untuk perjalanan menuju Provinsi Selatan."
Sun Chen menenangkan gurunya dengan menjelaskan strateginya. Ia tidak akan menyemburkan Qi secara berlebihan atau menggunakan teknik rahasia apa pun. Ia hanya akan memakai gerakan dasar Tinju Penghancur Gunung dan teknik langkah kaki yang telah diajarkan Chou Tian, dipadukan dengan membaca alur serangan lawan menggunakan pengetahuan bertarungnya.
Mendengar penjelasan yang begitu matang dan terukur, Chou Tian akhirnya mengangguk pelan. "Bagus. Ingat, sembunyikan kemampuanmu dan jangan pernah memicu pertarungan mati-matian."
Sementara itu, jauh di balik sudut gang gelap tak jauh dari Aula Persilatan, dua orang pengintai organisasi pemburu sedang berbisik.
"Bocah itu mendaftar Turnamen Pendekar Muda di Aula Persilatan," kata pengintai pertama. "Apakah kita harus bertindak untuk menggagalkannya?"
Pengintai kedua menggeleng tegas. "Jangan bertindak bodoh. Aula Persilatan dijaga oleh para tetua kota. Jika kita membuat keributan di sana, identitas organisasi kita akan terbongkar dan memicu campur tangan sekte lokal. Biarkan bocah itu bertanding. Selama tua bangkai Chou Tian terus mendampinginya di area terbuka, racun di tubuhnya akan terus menggerogoti jiwanya."
Di area pendaftaran Aula Persilatan, kerumunan anak-anak muda dari berbagai klan dan sekte kecil tampak mengantre. Di antara kerumunan itu, perhatian Sun Chen mendadak tertuju pada seorang gadis muda yang berdiri di dekat tiang naga batu.
Gadis itu berusia sekitar delapan atau sembilan tahun, mengenakan jubah hijau sutra dengan sulaman bunga plum di lengannya. Wajahnya tampak anggun namun dingin, dan sebilah pedang tipis terikat rapi di pinggangnya.
Dada Sun Chen berdesir saat melihat sosok gadis itu.
Su Miao.
Sun Chen mengenali wajah itu seketika. Dalam kehidupan masa lalunya, gadis berjubah hijau dari Sekte Gunung Berbunga ini kelak akan menjadi salah satu pendekar wanita terhebat di Benua Tengah, seorang ahli pedang yang sangat ditakuti di panggung persilatan. Namun saat ini, Su Miao hanyalah seorang murid muda yang sedang menguji kemampuannya di kota perbatasan, dan ia sama sekali tidak mengenali Sun Chen yang berdiri di antara antrean.
Keesokan paginya, arena utama Aula Persilatan Kota Gunung Hijau telah dipenuhi oleh ratusan penonton. Sorak-sorai bergema memenuhi udara saat para peserta dari berbagai klan mulai memasuki lapangan batu.
Sun Chen berdiri di samping Chou Tian di tepi arena, merapikan ikatan jubah sederhananya.
Saat pembawa acara naik ke atas panggung dan mulai memanggil nama-nama peserta babak pertama, indra spiritual Sun Chen mendadak menangkap gelombang aura yang tak asing dari arah tribun penonton.
Sun Chen memalingkan wajahnya perlahan ke arah sudut tribun yang agak gelap. Di sana, di antara kerumunan warga kota yang bersorak, berdiri seorang pria bergaun hitam dengan topi caping bambu yang menutupi separuh wajahnya.
Pria itu adalah salah satu pengintai organisasi pemburu.
Mata dingin pengintai itu terkunci lurus ke arah Sun Chen. Sun Chen menyadari sepenuhnya bahwa panggung turnamen ini bukan lagi sekadar arena menguji kemampuan atau mencari uang, melainkan sebuah medan tempat setiap langkah, pukulan, dan tekniknya akan diawasi secara langsung oleh para musuh yang menanti kejatuhannya.