Raina adalah seorang desain interior yang cukup terampil, gadis polos yang mencintai seseorang dalam diam. Namun dia harus meninggalkan cintanya demi permintaan sang ibu angkat yang ingin menjodohkannya dengan pria super dingin.
Raina dengan hati yang iklas menerima perjodohan itu. Namun bagaimana dengan si pria nya?? apa dia akan menerima Raina sebagai istri nya nanti????
Yuk ikuti terus kisah Raina dan Alex. Beri bintang 5, like semua episode yang update,
lalu klik favorit, lalu kasih gift jika kalian bersedia.
Ingat, ada giveaway di pertengahan cerita nantinya. Kalian jangan sampai ketinggalan yah.
Follow IG. @ratul_mustika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(18) Kedatangan teman teman Alex.
Semua makanan sudah terhidang, Raina mengulum senyuman. Ia beranjak ke ruang TV untuk memanggil suaminya.
"Kak Alex" panggil Raina pada pria yang fokus pada siaran televisi. Alek menoleh, ia langsung bangkit dari duduknya. Melihat Alex sudah bangkit, Raina pun berbalik kembali ke dapur.
"Apa sudah masak? " tanya Alex mengikuti Raina ke dapur.
"Taraaa... ini masakan simple super cepat yang bisa aku masak"
Alex menatap dendeng daging sapi pilihan, Sop sayur mayur, dan Raina juga menyediakan lalap. Mungkin masakan ini terlihat sederhana dan biasa saja, namun di mata Alex ini masakan luar biasa. Karena bagi Alex masakan masakan mahal restoran bintang 6 sudah biasa di lidahnya.
Raina menatap Alex, ia sedang menunggu reaksi Alex setelah memakan masakan sederhananya.
'Kok gak ada reaksi nya, sama seperti kemarin' desah Raina menunduk lesu.
"Enak kok" ucap Alex datar, ia menghabiskan sisa makanannya, lalu bangkit dari duduknya.
Raina tersenyum lebar, meskipun terdengar sangat datar. Alex tetap memuji masakannya.
"Dasar gengsi" cibir Raina menatap kepergian Alex. Kini tinggal gadis itu seorang di ruang makan. Raina membersihkan meja makan dan membersihkan dapur bekas dirinya memasak tadi.
Alex kembali ke kamarnya, mengambil beberapa berkas dan laptopnya. Alex berniat melanjutkan pekerjaan nya yang masih terbengkalai sedikit.
***
Siapa kau?? mengapa kau selalu mengirimi ku makanan?. Aku tidak akan memakan makanan mu lagi jika kau tidak menemuiku di taman nanti siang.
Alex menatap secarik kertas yang baru saja ia tulis. Melipat kertas itu menjadi bagian yang kecil. Alex memasukkan surat itu kedalam amplop berwarna biru, lalu memberikan nya pada Ega.
"Berikan padanya!! " ucap Alex dingin. Ia sudah sangat penasaran dengan siswi yang memberinya bekal lewat temannya. Alex juga sudah mencoba mengatur siasat untuk memergoki siapa yang datang memberikan bekal itu.
"Kamu penasaran banget Lex. " ujar Jiandi.
"Tau ih, nikmati aja makanan enak itu" sahut Justin.
"Ah, kalian gak tahu. Mana enak makan tapi gak tahu siapa yang ngasih" jawab Alex. Ia penasaran banget siapa penggemar beratnya itu.
"Lah, kan Ega yang nerima bekal itu"
"Memang benar, tapi gadis itu selalu menunduk dan berlari. Gadis itu tidak pernah menampakkan wajah nya pada ku" jelas Ega.
"Hemm... dia gadis yang pintar" gumam Jiandi.
Bel masuk pun berbunyi, Ega merasa ia kebelet buang air kecil.
"Aku ke toilet dulu " ucap Ega berlari tanpa menunggu jawaban dari teman temannya.
"Dasar bocah itu" decak Justin. Mereka masuk berjalan menuju kelas bersama.
"Kak tolong berikan pada kak Diano" ucap seorang gadis meletakkan rantang nasi ke dalam pelukan Ega, lalu gadis itu melesat cepat tanpa sempat Ega melihat wajahnya.
"ehh!!! " teriak Ega. Ia hanya melihat seorang siswi berlari cepat menggunakan hoodie berwarna yang sama. Cepat cepat Ega mengambil foto gadis itu yang tengah berlari.
"Huh.. siapa sih gadis ini" Gumam Ega menatap hasil jepretan nya. Ada 10 jepret, hanya ada 1 foto yang jelas memperlihatkan bentuk hoodie yang gadis itu pakai.
"Alex pasti senang" gumam Ega tersenyum senang.
Sementara di dalam kelas Raina masuk sembari terengah. Nafas Raina tak beraturan, ia duduk di kursinya sembari mengatur nafas.
"Kamu sudah memberikan nya? " tanya Dewi.
"Hem.. kak Ega pasti sudah memberikan nya pada kak Alex " jawab Raina berbisik.
"Heh.. sampaikan kamu akan sembunyi sembunyi seperti ini? " ujar Dewi menatap iba dengan Raina, sejak sekolah menengah pertama ia memendam perasaannya, hingga kini mereka kelas 2 sekolah menengah atas.
"Gak papa lah Wi, yang penting aku bisa melihatnya tersenyum" Gumam Raina.
Pelajaran pun selesai, Raina dan Dewi keluar dari kelas ketika bel istirahat berbunyi.
"Kamu!! " tiba-tiba Alex datang menghampiri mereka berdua, Alex menarik tangan Raina tanpa persetujuan dari gadis itu.
"Eh Raina!! " pekik Dewi menatap Raina di tarik paksa oleh Alex. Dewi menepuk jidatnya pelan ketika matanya melihat hoodie yang Raina pakai. Gadis itu lupa membukanya.
"Kak Alex... " Cicit Raina di belakang Alex, pria itu membelakangi dirinya dan melepaskan tangannya.
"Kenapa kamu lakukan semua ini? " tanya Alex datar, tanpa menatap kearah Raina.
"Hmm.... " Raina tak dapat berkata apapun, lidahnya terasa sangat kelu.
"Maaf kak Alex, aku hanya takut kak Alex menolak jika kak Alex tahu saya yang berikan makanan itu" lirih Raina menunduk takut, ia memutar mutar bajunya menghilangkan rasa gugupnya.
"Jangan menerka nerka jika kamu tidak tahu pasti, belum tentu aku akan menolaknya" ucap Alex, ia mengangkat dagu Raina dengan dl telunjuknya, sehingga Alex bisa melihat wajah Raina seutuhnya. Gadis berponi dengan rambut di kepang dua dan kaca mata tebal melekat di mata Raina.
"Siapa namamu? " tanya Alex. Raina yang kaget membulatkan matanya menatap wajah Alex begitu dekat. Jantung nya terasa seperti ingin meledak.
Brak~
"Maaf kak Alex" ucap Raina gugup, ia tak sengaja mendorong dada Alex hingga membuat pria itu terhenyak ke atas rumput. Raina lari dari sana, ia tidak bisa mengontrol dirinya.
"Hei!!!!! " teriak!! Alex, ia hendak menyusul Raina, tapi sebuah benda yang membuatnya silau ketika terkena sinar matahari.
"Apa ini? " Gumam Alex mengambil benda yang mirip seperti pin nama, namun pin itu sudah rusak, seperti nya tidak sengaja patah dan jatuh di hadapan Alex.
"Ina? " baca Alex pada tulisan yang melekat pada pin itu.
"Apa ini miliknya? " Gumam Alex lagi, ia memilih menyimpan pin itu ke dalam sakunya, lalu meninggalkan taman karena bel masuk sudah berbunyi.
DrRTTT!!!!!!! Drtttttt!!!!!
"Hah!!! Ina?? " rancau Alex. Ia terbangun dari tidurnya karena suara dering dan getar ponselnya ada panggilan masuk.
"Huh, dia masuk lagi ke dalam mimpi ku" Alex melihat layar ponsel nya, disana terpapar nama dan wajah Jiandi.
"Hallo? " ucap Alex setelah menekan tombol hijau pada layar ponselnya lalu menempelkan pada telinganya.
"Kami sekarang ada di depan pagar rumah mu, cepat lah keluar" sahut di seberang sana.
"Apa! " Alex terlonjak kaget, lalu berlari ke jendela kaca kamarnya. Benar saja, Ega dan kedua sahabat nya sudah berdiri di depan pagar rumah nya.
Klik. Sambungan terputus.
"Ngapain mereka kesini! " dengus Alex, ia berlari ke luar kamarnya. Alex mencari keberadaan Raina, ia tidak akan membiarkan teman temannya mendapati Raina ada di rumah nya.
"Kak, cari apa? " tanya Raina mengerut menatap Alex berlari ke sana kemari seperti mencari sesuatu.
"Huh, disini kamu rupanya" Gumam Alex.
"Ada apa? " tanya Raina bingung.
"Teman teman ku datang, mereka sudah di depan rumah"
"Huh?? kenapa bisa mereka datang kesini? " kaget Raina.
"Sudah, tidak punya banyak waktu lagi. Aku akan membuka pagar, kamu cepat lah bersembunyi" Ujar Alex, ia berlari menuju pintu keluar. Rumah Alex tidak terlalu banyak ruang, hanya saja rumah nya terlalu banyak tempat yang terbuka.
"Huh, aku harus ke kamar ku" Gumam Raina berlari menuju kamarnya. Raina menekan knop pintu kamarnya, namun tidak bisa. Raina lupa jika kamarnya terkunci.
"Astaga kuncinya ketinggalan di sofa" Gumam Raina khawatir, ia hendak kembali ke urat TV, namun teman teman Alex sudah masuk ke dalam rumah.
"Astaga!! " erang Raina dalam hati, ia kembali bersembunyi di sembarang tempat. Pilihan terakhir adalah dapur. Kamar Raina sangat dekat dengan dapur, jadi gadis itu merangkak menuju dapur agar tidak terlihat oleh mereka.
...----------------...