Hidup Sandy bisa dibilang gagal. Kehilangan pekerjaan yang berujung dengan rumah tangga yang hancur. Kini Ia sendiri meratapi nasib. Namun saat Ia terbangun dari mabuknya, Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 2000, tahun milenium. Mampukah Ia memperbaiki masa depannya dan kembali ke masa depan lagi? Ataukah Ia akan mengulangi kesalahan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Udah gila lo ya? Taruhan kok kayak gitu! Kayak enggak ada bahan taruhan lain aja! Ogah gue kayak gitu. Lo pikir gue cewek kayak apa? Seenaknya aja lo minta hal kayak gitu sama gue!" Shanum langsung ngomel panjang lebar saat mendengar syarat taruhan yang Sandy ajukan.
Sandy pun tergelak mendengar ocehan demi ocehan yang keluar dari mulut Shanum. Sudah lama rasanya Ia tak mendengar Shanum ngomel-ngomel kayak gini.
Semenjak menikah, Shanum tak pernah sekalipun ngomel-ngomel dengan Sandy. Shanum menjadi istri yang amat penurut. Tak pernah membantah Sandy, sekalipun Sandy memarahinya karena hal sepele.
Shanum terlalu manut. Sandy malah merindukan sikap Shanum yang bebas berekspresi seperti sekarang. Mengomel seakan tak takut dengan siapapun.
"Ih malah ketawa! Bukannya minta maaf! Masih untung gue baik. Kalau sama cewek lain lo ngomong begitu, pasti kena gampar lo nanti!" gerutu Shanum.
"Ha...ha...ha... Karena sama lo makanya gue berani ngomong kayak gini. Sorry... Sorry... Gue becanda aja. Enggak ada maksud apapun. Lo duluan sih ngasih syarat ngaco! Pake nyuruh gue putusin Linda segala! Makanya gue ajuin syarat yang ngaco juga sama lo!" balas Sandy.
"Ya enggak gitu juga kali! Oke deh gue revisi syarat gue. Hmm... Kalo lo bener, gue traktir deh tapi jangan yang mahal-mahal. Kalo gue yang bener, lo yang harus traktir gue!" Shanum pun mengganti syarat yang diajukannya. Siapapun yang menang, maka mereka akan tetap jalan nantinya. Strategi Shanum pintar juga, tapi Sandy sudah tau maksud terselubung Shanum.
"Ogah! Bilang aja lo mau jalan lagi sama gue!" jawab Sandy sok jual mahal. "Gimana, asyik kan jalan sama gue heh?"
"Ih baru tau gue kalo lo tuh orangnya pede abis. Kalo enggak mau taruhan juga enggak apa-apa. Enggak rugi gue!" balas Shanum tak mau kalah.
"Terserah ah. Udah yuk pulang! Nanti Bapak lo ngomel sama gue!" lagi-lagi Sandy keceplosan.
"Sok tau! Bapak gue tuh baik tau!"
Sandy menyunggingkan senyumnya. Merasa beruntung karena Shanum tak menyadari kalau Ia tadi keceplosan.
Sandy pun membayar semua pesanan mereka. Sandy terlihat bicara dengan Pak Simon, pemilik warung bakso.
"Pak, nanti lebih baik kompor gasnya diganti saja yang baru, daripada malah jadi petaka dan membahayakan nyawa orang lain!" bisik Sandy.
"Maksudnya apa ya Dek?" tanya Pak Simon sambil mengernyitkan keningnya.
"Anggap aja saya orang yang bisa menerawang masa depan, Pak. Demi kebaikan semua orang." Sandy mengambil uang kembaliannya dan berjalan meninggalkan Pak Simon yang terlihat kebingungan.
Pak Simon menatap kompor gas miliknya. Kompor gas yang sudah berusia lama karena dulu Ia membelinya bekas orang lain saat merintis usahanya. Kini usahanya semakin besar, Ia merasa sayang mengganti kompor yang dianggapnya membawa hoki tersebut.
Pak Simon menatap Sandy sambil terus berpikir, "Tau darimana anak muda itu tentang kompor gas milikku? Apa benar Ia datang dari masa depan?"
Shanum yang sudah menunggu di depan motor pun bertanya pada Sandy, apa yang Ia lakukan. "Ngapain sih lama banget? Panas tau!"
"Udah anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa!" jawab Sandy sambil memasukkan kunci motor dan memakai helm miliknya. Shanum sudah memakai helm sebelum Sandy datang.
"Cih! Sok banget tua! Umur kita tuh sebaya! Paling beda beberapa bulan saja!" cibir Shanum sambil naik ke atas motor.
Sandy mengu lum senyum mendengar gerutuan Shanum. Dari dulu Ia memang tak suka kalau dibilang anak kecil. Sandy jadi seperti nostalgia saat Ia pacaran dengan Shanum dulu.
Sandy melajukan motornya dan berhenti di depan rumah Shanum. Lagi-lagi Shanum heran, darimana Sandy bisa tahu alamatnya.
"Lo beneran stalking gue ya? Kok lo bisa tau dimana rumah gue?" tanya Shanum sambil turun dari motor dan memberikan helm yang dipakainya pada Sandy.
"Kalau gue kasih tau juga enggak bakalan percaya lo sama gue!" jawab Sandy sambil menerima helm dari Shanum.
"Apa?"
"Enggak ah. Gue mau pulang. Lo demen banget lama-lama deket gue! Ntar naksir lagi!" ledek Sandy.
"Iiiih.. Lo ya... Pedenya enggak nahan. Yaudah sana pulang. Gue juga mau masuk ke dalam rumah. Makasih tumpangan dan traktirannya!" Shanum pun masuk ke dalam rumahnya.
Sandy pun menyalakan lagi motornya dan meninggalkan rumah Shanum sambil menahan tawa. Menggoda Shanum memang hal yang paling mengasyikkan menurutnya.
Shanum berbalik badan, Ia melihat Sandy pergi sampai menghilang di tikungan. Dalam hati Shanum diliputi banyak pertanyaan. Bagaimana Sandy bisa tahu banyak hal tentang dirinya?
Seulas senyum tersungging di bibir Shanum yang mungil. Terserah Sandy tau darimana, tidak penting. Ia justru bersyukur karena hari ini sudah mendapat kesempatan mengenal Sandy lebih dekat lagi.
****
Sandy memasukkan motornya ke dalam rumah. Tampak Bapak dan Ibu sedang menonton acara televisi.
"Tumben kamu jam segini udah pulang, Le." kata Ibu.
"Habis ketemu orang buat beli rumah, Bu." jawab Sandy sambil mencium tangan kedua orangtuanya.
"Loh bisnis rumah juga kamu? Hebat sekali!" puji Bapak.
Sandy tersenyum bangga. "Iya dong, Pak. Mau mengembangkan bisnis. Jadi makelar lumayan untungnya. Buat nambah modal usaha. Mau pinjam di bank enggak mungkin karena terkendala jaminan dan status."
"Apa mau pakai nama Bapak buat pinjaman kamu?" Sandy tersenyum, Bapaknya bahkan rela pasang badan agar Ia dapat modal.
"Enggak usah, Pak. Masih bisa Sandy usahakan kok. Bapak sama Ibu doain aja semoga usaha Sandy berjalan makin mulus."
"Tentu dong! Kamu kan selalu ada dalam setiap doa Ibu. Kamu udah makan belum? Kalau belum makan dulu sana! Ibu masakkin kamu oncom dipedesin pakai leunca. Hati-hati pedas ya, banyak cabe rawitnya!"
Sandy kembali tersenyum. Sikap Ibu yang penuh perhatian seperti ini yang amat Ia rindukan di masa depan. Ia ingin menikmati waktu sebanyak mungkin dengan Ibu. Masih saja terasa kurang baginya.
"Nanti Sandy makan, Bu. Masih kenyang habis makan bakso. Sandy ke kamar dulu ya Bu. Biar Ibu sama Bapak bisa pacaran he...he...he..." ledek Sandy.
"Kalau Bapak sama Ibu pacaran nanti kamu punya adek lagi dong San!" balas Bapak.
"Ih Bapak apa sih! Ibu malu tau!" kata Ibu sambil mencubit perut buncit Bapak.
"Enggak apa-apa Pak. Sandy dukung!" jawab Sandy sambil masuk ke dalam kamarnya.
Melihat kemesraan Bapak dan Ibu, serta perkataan Bapak tentang adik untuk Sandy membuat Sandy merindukan Sally.
Sandy membuka dompetnya dan menatap foto Sally. Betapa terkejutnya Ia mendapati foto Sally kembali utuh. Kakinya yang kemarin sempat hilang kini kembali utuh?
Sandy mengingat-ingat apa yang Ia lakukan. Kaki Sally hilang saat Ia bermesraan dengan Linda, dan kini kembali utuh saat Ia baru saja mengantar Shanum.
"Jadi seperti itu peraturannya? Kalau gu dengan Linda, maka Sally tak akan pernah terlahir di dunia ini. Namun jika gue dengan Shanum maka Sally akan tetap lahir di masa depan. Perlahan teka teki tentang reinkarnasi ini bisa gue pahami alurnya. Namun apakah takdir bisa gue ubah sepenuhnya?" gumam Sandy.
Sandy sadar Ia sudah merubah dua takdir. Tentang Ibunya dan tentang Pak Simon. Apa yang terjadi dengan Pak Simon di masa depan? Hanya Sandy yang tahu.
Sandy yg milenium kemana. Terus kalo dia mantap gamau balik lagi ke milenium misalkan, mau di 2021 aja terus yg di milenium gimana? Ngilang dong? Dan nggak akan ada di masa depan tiba tiba aja kan?