NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP1

Indonesia 20xx.

DRAP!

DRAP!

DRAP!

HAH!

HAH!

“TOLOOOOONG! SOMEBODY HELP ME?!”

Suara teriakan lantang menggema dari dalam hutan. Pria berusia sekitar dua puluh lima tahunan, berlari kencang—seperti sedang dikejar setan.

Sesekali dalam pelariannya, ia menoleh ke arah belakang. Menatap sosok menakutkan namun tampan, mengejarnya dengan seringai seram seakan menikmati permainan itu.

“Ah, come on, Pecundang!” teriak sosok bertelanjang dada itu sambil menggenggam sebilah pisau. “Berlarilah lebih kencang! Kau membuat semangatku hilang!”

Semakin panik lah pria yang ternyata seorang pebisnis muda, alih-alih berlari lebih kencang—justru langkah kakinya menjadi tak seimbang.

DRAP!

DRAP!

BRUGH!

Sialnya, kakinya tergelincir di tanah berlumut dan berakhir jatuh terjengkang. Pria yang diketahui bernama Sahroni itu merangkak mundur, napasnya terengah, tubuhnya gemetar hebat—terutama saat menyadari sosok itu kini telah berdiri tepat di ujung kakinya.

“Kenapa berhenti? Kakimu yang berlumur dosa ini, sudah tak lagi memiliki tenaga?” desis sosok pemilik kulit putih susu, berukir belasan tatto di anggota tubuhnya. “Kau ini nggak seru!”

Sahroni meneguk ludah. Bibirnya bergetar saat ia memaksakan suara keluar. “S-siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa yang kau inginkan dariku, hah?!”

“Siapa aku?” Sosok bermanik amber itu terkekeh. “Aku ... hanyalah seorang pria tampan yang terjebak di pulau gila ini!”

CRACK!

ARGGHHH!

Sahroni menjerit saat bilah pisau memotong jempol kakinya hingga putus. Ia meraung, menarik kakinya yang kini berlumur darah.

“S-sialan! Apa yang kau lakukan pada jariku, Bangsaaat?!” pekiknya histeris. “Jika kau mengetahui siapa aku, kau akan menyesal!”

HAHA!

Sosok itu hanya merespon perkataan Sahroni dengan gelak tawa.

“Apa yang kau inginkan dariku, Monster Sinting?!” teriak Sahroni putus asa. “Uang? Kau mau uang, iya? Akan kuberikan—berapa pun yang kau mau! Asal ... asal aku bisa keluar dari pulau ini hidup-hidup!”

“Ckck!” Sosok itu berdecak, kepalanya menggeleng pelan disertai senyum mengejek. “Kau hendak menyombongkan harta yang bahkan tak mencapai lima persen dari kekayaanku? Pfftt! Simpan saja uang imut mu itu.”

Ia melangkah mendekat. Sahroni makin gemetar saat sosok itu bercangkung di sampingnya. Tatapannya turun sejenak, menelusuri celana Sahroni yang perlahan-lahan merembeskan cairan pesing. Wajahnya mendekat, bibirnya berbisik di telinga mangsanya.

“Jika uangmu yang sedikit itu bisa membeli kebebasan,” desisnya menyeringai. “Mana mungkin aku yang bergelimang harta — masih terjebak di pulau sialan ini.”

SLASH!

Dalam sekejap, pisau di tangan sosok itu menyabet leher Sahroni hingga koyak menganga. Bola matanya membelalak, tubuhnya tersentak sebelum akhirnya menggelepar layaknya seekor ayam yang baru disembelih. Sesaat kemudian, tubuh itu ambruk ke tanah, terkulai di antara dedaunan yang berserakan.

“Kheeegghhkk ....” Dengan kedua tangan yang bergetar hebat, Sahroni mencoba menekan lehernya yang terbelah, seolah masih berharap darah itu bisa dihentikan.

Detik dan menit berlalu kian mencekam, hingga akhirnya, tubuh si pebisnis muda yang namanya sempat ramai menghiasi pemberitaan negeri—terbujur diam.

Darah segar masih terus mengalir dari lehernya, membasahi tanah tempat ia terbaring. Pria itu meregang nyawa dengan kondisi mata membeliak.

Sosok itu berdiri tegak, menatap mayat di hadapannya dengan sorot kosong tanpa emosi. Ia mengusap bilah pisau yang berlumuran darah ke celananya, lalu berbalik dan melayangkan tatapan tajam ke arah beberapa pria bertubuh besar yang berdiri tak jauh darinya.

“Bawa jasadnya ke ruanganku!” desisnya dingin.

Sosok bertelanjang dada itu berjalan menjauh. Cahaya bulan menelanjangi kulit pucat yang menjadi wadah inspirasi seni. Di punggungnya, satu ukiran tatto cukup mencuri perhatian—tertulis jelas “BELLA KIMBERLY”.

...***...

3 hari kemudian — Amerika 20xx

“Selamat malam, Nyonya Bella. Selamat datang kembali. Mari, biar saya bantu bawakan barangnya.”

Di ambang pintu—Rico, seorang asisten pribadi, menyambut kepulangan nyonya besarnya. Ia menunduk hormat seraya mengulurkan tangan, menawarkan bantuan untuk membawakan tas sang majikan.

“Nggak apa-apa, Ric. Biar saya bawa sendiri. Lagian nggak berat juga, kok.” Bella terkekeh pelan.

Manik legamnya mengedar ke ruangan. Mencari sosok Langit dan Bintang, putra putrinya yang kembar fraternal.

“Gimana anak-anak hari ini, Ric? Mereka nyusahin kamu, nggak?” tanya Bella seraya melangkah pelan.

Rico menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibir.

“Mas Langit hampir seharian ini sibuk dengan layar laptopnya, sepertinya ... ada proyek sekolah yang sedang dikerjakan. Sementara Mbak Bintang, seperti biasa — dia sangat bersemangat di Archery Club. Dia bilang hari ini berhasil memanah target lebih banyak dari biasanya.”

Bella mendengarkan sambil manggut-manggut, langkah kakinya kini menuju ke dapur. Membuka lemari pendingin, mengambil segelas air dan meneguknya sambil melirik ke arah meja makan.

“Makan apa mereka malam ini, Ric?” tanyanya memastikan.

“Tadi saya masakin ayam goreng kesukaan mereka. Mas Langit makannya sambil tetep fokus sama laptopnya, kalau Mbak Bintang ... sangat lahap.” Rico tersenyum bangga saat melihat sang nyonya mengangguk puas akan kinerjanya.

“Gimana aktivitas Langit di sekolahnya? Apa dia sudah mau berbaur dengan yang lain?” tanya Bella lagi.

“Sejauh yang saya tau dari guru wali kelasnya, Mas Langit masih cenderung pendiam dan lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan saat jam istirahat. Namun, guru wali kelasnya juga mengatakan bahwa Mas Langit menunjukkan kemajuan dalam hal akademis, terutama di bidang yang berhubungan dengan teknologi ....”

Rico terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu—lalu kembali lanjut menjelaskan.

“Guru wali kelasnya juga sempat bercerita bahwa Mas Langit terlihat lebih ceria dan banyak bicara saat berinteraksi dengan Mbak Bintang. Sepertinya, dia merasa lebih nyaman dan percaya diri saat bersama adiknya.”

Bella menghela napas panjang mendengar jawaban itu.

“Langit itu memang mirip sekali dengan papanya. Sulit berbaur,” gumam Bella pelan.

Rico mengangguk setuju. “Saya perhatikan juga seperti itu. Tapi, saya yakin, seiring waktu dan dengan dukungan dari Nyonya dan Tuan ... Mas Langit pasti bisa lebih terbuka. Mungkin kita bisa coba carikan kegiatan atau komunitas yang sesuai dengan minatnya? Siapa tau dengan begitu dia bisa lebih mudah berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.”

“Akan saya pikirkan nanti. Apa dia masih rutin boxing kids?”

“Untuk boxing kids, seingat saya terakhir kali Mas Langit ikut itu sekitar dua bulan yang lalu, Nyonya. Setelah itu, tuan muda bilang lebih tertarik untuk fokus belajar coding dan membuat game di laptopnya,” jelas Rico.

“Dua bulan, ya. Ternyata ... sudah dua bulan aku tak bertemu dengan anak-anak,” lirih Bella sedih.

Bella Kimberly, mantan ketua divisi kriminal yang dikenal tegas dan berdedikasi, sudah sebelas tahun menjalani pengalaman transformatif dalam kariernya sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN). Kepindahannya bukan sekadar perubahan posisi, melainkan transformasi peran yang menuntut kemampuan adaptasi tinggi. Tugas berat menantinya di Amerika Serikat, memantau pelarian anggota teroris yang sangat berbahaya, melacak jejak koruptor kelas kakap, dan kini ia menyamar demi memata-matai seorang buronan negara yang licin dan pandai bersembunyi. Buronan itu kabur ke Amerika, dan kini bekerja di sebuah perusahaan teknologi raksasa, tempat Bella juga menyusup—menyamar sebagai analis data. Berbulan-bulan ia bergelut dengan angka dan algoritma, sambil mengumpulkan informasi penting. Kini, tugas itu telah selesai. Buronan berhasil ditangkap, jaringan kejahatannya terungkap. Bella bisa bernapas lega, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa beristirahat dan pulang untuk menemui anak-anak.

“Nyonya?”

“Hmm? Eh?” Bella tersentak. “Sorry, saya malah ngelamun. Lanjutkan, Ric.”

Rico mengangguk pelan sebelum kembali menjelaskan, “Beberapa kali saya lihat Mas Langit diam-diam menonton video pertandingan tinju di YouTube. Mungkin sebenarnya dia masih tertarik dengan boxing, hanya saja masih malu-malu mengatakannya. Apa perlu saya coba tawarkan lagi, Nyonya? Siapa tau Mas Langit sudah berubah pikiran.”

Bella terdiam sesaat, wajahnya seakan menimbang sesuatu. Akhirnya ia menghela napas kecil dan menjawab—

“Boleh, kamu atur aja, Ric. Nanti gimana-gimananya, kamu infoin aja, ya. Saya mau ke kamar dulu, tolong bantu awasi anak-anak sebelum jam istirahat kamu usai.”

Bella melangkah gontai ke kamarnya. Langkahnya terasa berat, wanita cantik itu benar-benar butuh istirahat. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia langsung menjatuhkan diri di atas ranjang.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata. Namun, tiba-tiba saja seseorang dengan ukiran tatto ‘BELLA KIMBERLY’ di punggung, menindih tubuh wanita itu—menahan kedua pergelangan tangannya dengan paksa, lalu melumat habis bibirnya dengan hasrat menggebu.

“Hay, Sweetie!”

“KAU?!”

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!