TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲
Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.
Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?
ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.
Bye 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Valerie menuruni anak tangga dengan pelan, sambil mengedarkan matanya ke segala penjuru rumah.
Ia mengenakan sebuah gaun santai berwarna peach yang membalut pas tubuhnya. Setelah mandi, dia mendapati gaun tersebut beserta dalaman wanita di atas ranjang. Tak terduga, seluruh ukurannya pas. Dari gaun hingga **********, sangat pas di tubuh Valerie.
"Nona. "Vale terlonjak kaget saat seorang wanita berdiri dengan kepala menunduk yang tiba-tiba datang dan memanggilnya. Hampir saja dia terpeleset di anak tangga terakhir.
"Huhhh... hampir saja aku jatuh. "Ucap Vale sambil mengusap dadanya pelan.
"Maaf Nona, Tuan sudah menunggu di meja makan. "Ucapnya. Aku mengangguk paham, lalu mengikutinya melangkah kearah meja makan dan sudah ada Sean di sana yang duduk diam dengan makanan yang sudah tertata rapi.
"Duduk disampingku! "Ucap Sean.
Vale melangkah perlahan dan duduk di samping Sean. Ia akan menjadi gadis penurut hari ini, sehingga Sean bisa melepaskannya untuk pulang ke rumah.
Vale khawatir nenek dan kakeknya mencarinya yang tak kunjung pulang dan tak memberi kabar sama sekali.
"Makanlah! "Vale perlahan melihat sarapan di depannya. Pancake di depannya benar-benar menggiurkan dan ia tak dapat menahan diri untuk segera menyantapnya.
"Pelan-pelan sayang! "Ucap Sean dengan senyum geli menatap Vale yang semangat memakan pancakenya.
Vale membalas dengan tersenyum lebar, seperti seorang bocah dengan tampang tak bersalah.
"Maaf. "Ucap Vale dengan senyum tak bersalah, namun tetap melanjutkan makannya.
Sean hanya diam tak menyentuh sarapannya dan hanya menatap Vale yang makan lahap dengan menopang kepala. Rasanya Sean ikut kenyang melihat Vale makan dengan lahap.
Vale yang merasa diperhatikan, langsung mendongak dan menatap kearah Sean yang sedang tersenyum menatapnya.
"Kenapa tidak di makan? "Tanya Vale.
"Menatapmu makan lebih menarik dari menyantap makanan ini. "Jawab Sean. Ya, terkesan seperti menggombal, namun itulah yang benar-benar lubuk hatinya katakan.
Valerie mendengus di dalam hati. "Simpan gombalanmu pada wanita lain." Batin Vale ketus, namun kenyataannya ia melempar senyum hangat pada Sean. Benar-benar Drama Queen terbaik.
Vale meraih piring pancake Sean dan memotongnya kecil. Sean tersenyum semakin lebar saat tangan Vale terulur ke depan mulutnya dengan garpu yang terdapat pancake di sana.
"Aa.. "Ucap Vale seperti menyuapi anak kecil. Sean tersenyum lebar sambil membuka mulutnya dan menerima suapan Vale dengan senang hati. Benar-benar pagi yang menyenangkan bagi Sean.
Vale kembali menyuapi Sean bergantian dengan dirinya sendiri dengan senyum yang tak pernah luntur terlempar pada Sean. Namun hatinya tetap berkata lain.
"Makanlah cepat, sehingga aku juga dapat pulang dengan cepat. " Batin Vale berteriak sinis.
Hingga akhirnya dua piring pancake tersebut habis beserta dua gelas jus jeruk. Pertama kali Sean menghabiskan sarapannya dengan senyum yang tak pernah luntur.
Sean mengusap bibir Vale lembut untuk membersihkan sisa-sisa madu yang lengket di sana.
"Terimakasih Sean. "Ucap Vale lembut dengan senyum manisnya. Sean ikut tersenyum manis, lalu mengusap puncak kepala Vale sayang.
"Apa aku sudah bisa pulang sekarang? "tanya Vale dengan nada pelan, takut membuat Sean marah.
"Tidak. "jawab Sean singkat yang berhasil membuat Vale ternganga kaget.
"Kenapa? "tanya Vale heran.
"Aku tidak melihatmu selama empat hari dan aku masih merindukan. Bagaimana bisa aku melepasmu sekarang? "ucap Sean frontal. Sedangkan entah kenapa hati Vale bergetar mendengar hal tersebut. Membuat ia ingin mengembangkan senyumannya, namun ia menahannya demi harga diri.
"Tapi kakek-nenekku menungguku. Mereka pasti khawatir aku tidak memberi kabar dan menghilang semalaman. "ucap Vale.
"Tenang sayang! Aku sudah menyuruh pihak kantor untuk menelfon kakek-nenekmu dan memberitahu mereka bahwa kau sedang mengikuti proyek di Paris. "Ucapnya santai.
"APA?? "Vale berteriak kaget dengan mata membulat lebar pada Sean, sedangkan Sean membalas dengan senyum tak bersalah.
"Berapa lama? "Tanya Vale.
"5 hari. "Ucap Sean dengan nada mengejek dan santai seperti di pantai.
"SEAN.... "Tanpa sadar Vale bangkit berdiri sambil berteriak nama Sean dengan kesal. Mata Vale berputar sebal mencoba menahan emosinya.
"Kau memutar matamu sayang? "Tanya Sean menatap lekat Vale yang masih berdiri.
Vale menatap Sean gugup dan mengerjab mencari jawaban.
"Ti.. Tidak. "Ucap Vale menggeleng, sambil duduk kembali dengan senyum palsunya.
"Aku melihatnya tadi. "Sean masih tetap menatap Vale tajam dan menusuk. Vale menggigit bibir gugup dan tangan yang saling terkait.
"Ya.. Ya habis kamu, kenapa bilang begitu sama kakek-nenekku? "Tanya Vale gugup sambil menundukkan kepala. Sean terdiam sebentar, lalu mengangkat tangannya dan melambai pada Vale.
"Kemari! "Ucap Sean. Kepala Vale terangkat menatap Sean lalu melangkah dengan langkah kecil-kecil.
Tak sabar, Sean menarik pinggang Vale dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya. Vale duduk dengan wajah gugup di atas paha Sean namun ia tetap mencoba menatap lekat wajah Sean.
"Aku sangat merindukanmu selama di Rusia. Lima hari bahkan tak cukup untukku. Apa aku salah melakukannya? "Tanya Sean dengan wajah polos. Vale terkesiap dengan jantung berdetak kencang mendengar ucapan frontal Sean.
Lelaki itu terlalu terbuka padanya dan menyampaikan perasaannya dengan begitu mudah. Hal ini yang membuat Vale ragu, apakah pria ini bersungguh-sungguh atau tidak?
"Apa kamu juga merindukanku? "Tanya Sean sambil terus menatap Vale lekat.
Vale terdiam kaku tak tau harus menjawab apa. Hatinya berdebar sangat keras dan tubuhnya panas dingin hanya karna berdekatan dengan Sean. Vale tak tau ia merindukan pria ini atau tidak, lebih tepatnya ia ragu. Dia sedikit merindukan pria itu selama empat hari ia menghilang.
"Aku...... Apa lima hari aku akan tinggal disini? "Tanya Vale mencoba mengalih dari pertanyaan dan tatapan lekat Sean.
Sean tertawa kecil mendapat pertanyaan tersebut. Tawa samar yang menandakan ia kecewa mendengar Vale mengalihkan pertanyaan yang ia lempar.
"Ya, lima hari kamu akan tinggal bersamaku, tidur bersamaku, makan, jika perlu mandi sekalipun. "Jawab Sean. Vale bergidik ngeri mendengar ucapan terakhir yang pria itu lontarkan.
Setelah melontarkan kalimat tersebut, secepat kilat Sean mengangkat tubuh Vale dengan satu tangannya. Sedangkan tangannya yang lain mendorong piring serta gelas yang berada di atas meja hingga jatuh membentur lantai dan pecah berkeping-keping dengan suara keras.
Sean mendudukkan Vale di atas meja, lalu tangannya merenggut tengkuk gadis itu dan meraih bibirnya dengan gairah memuncak. Vale terduduk kaku mendapat serangan tiba-tiba dari Sean dan hanya dapat pasrah di bawah kendalinya.
Sean *******, menghisap, menggigit dengan kesetanan. Jemarinya merambat di antara helaian rambut Valerie sambil menjambak pelan rambutnya.
Punggung Vale melengkung sempurna saat Sean semakin menarik tubuhnya merapat pada tubuh Sean. Sedangkan tangan Vale hanya dapat meremas punggung kemeja Sean dengan kuat. Vale yang mulai merasa kehabisan nafas, mencoba mendorong tubuh Sean dengan sekuat tenaganya.
"Hhh... "Vale menarik nafas dalam-dalam setelah berhasil mendorong tubuh Sean menjauh. Sean kembali melangkah mendekat, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Valerie yang masih duduk di atas meja makan.
Memeluk valerie erat, membenamkan wajahnya pada ceruk leher gadis itu dan menghirup aroma memabukkan yang begitu ia sukai. Sesekali Vale merasakan bibir Sean mengecupi lehernya dan menggigitinya pelan.
"Pria mesum ini memang hanya menginginkan tubuhku. " Batin Vale berteriak kesal. Namun ia hanya dapat pasrah di pelukan Sean. Biarkan lima hari berlalu dengan Valerie bersikap baik.
Entahlah bisa atau tidak.
Bersambung...
hay. ..hay. ..hay
pict sean sebagai penutup.
Sean : She's mine and only mine
Oh iya, untuk pictnya vale aku belum dapat cewek yang cocok untuk pictnya sean. Kalau kalian mau, klian bisa rekomendasikan nama pict cewek yang menurut klian cocok buat sosok valerie. Dan nnti bakalan aku pilih yang mana paling Bagus, dan tentu aja harus orang barat ya guys😊😊
oh iya jangan lupa juga follow my ig khusus untuk semua ceritaku, Raveno's Squad and Aliano's squad. disana ada cast para pemain, spoiler, alasan aku lama update dan berita terbaru lainnya, serta cerita-cerita baru yang akan datang.
dan bye... 😘😘
oh jya jangan lupa like, share dan komen. bye.... 😘💕
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih