Kana Bintang Artana.
Laki-laki dingin yang mampu membuat hati siapapun menjerit melihatnya.
Bukan karena seram. Tetapi karena ketampanannya yang dapat membuat para gadis jatuh cinta padanya.
Begitupun Kaila. Gadis pemalu yang ikut andil menyukainya. Namun rasa sukanya memudar saat mengetahui betapa menyebalkannya seorang Kana.
Dan tanpa Kaila sadari, perlahan namun pasti, Kana mulai menunjukkan rasa sukanya pada Kaila.
Akankah keduanya berakhir bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prepti ayu maharani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Part 16
Bima tersenyum memandang foto gadis yang terpampang dalam layar ponselnya. Sudah beberapa kali ia memandangi foto gadis itu, tak ada sedikit pun rasa bosan baginya
"Kenapa lo bisa bikin gue kasmaran gini sih, Kai?" Bima kembali tersenyum dan mengecup layar ponselnya. "Kenapa? Kenapa baru sekarang gue ketemu cewek kaya lo? Lo itu beda Kai sama cewek lain. Lo itu cewek pendiem yang disenggol dikit berubah jadi macan betina."
Dalam waktu bersamaan, Bima terkekeh dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan lengan kiri sebagai alasnya. "Andai lo jadi pacar gue Kai, pasti gue bakal bahagia luar biasa. Kehadiran lo di hidup gue bener-bener merubah sifat buruk gue, Kai."
"Bima. Kaila." Bima menggelengkan kepalanya. "Cocok abis, gila!" teriaknya sendiri.
'Drrrtttt!'
Layarnya berubah dalam waktu sekejap.
"Astaga Kana! Kenapa lo ganggu gue sih? Tadi lo udah ngerampas Kaila dari gue, sekarang lo mau rampas foto Kaila juga dari hadapan gue?"
Bima berdecak kesal lalu menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel di telinganya. "Halo, apaan?"
"BIMA, LO DIMANA?"
Bima melebarkan mata dan segera menjauhkan ponselnya dari telinga.
"WOY! SANTAI! GAK USAH NGEGAS. Telinga gue hampir aja pecah denger suara lo!"
"Lo dimana, Bim?" tanya Kana di seberang sana.
"Di rumah. Kenapa?" tanya Bima dengan malasnya.
"Kaila di culik."
"KAILA DI CULIK?!"
"Gak usah ngegas juga!"
Bima mengangguk patuh. "Iya, iya, sorry. Lo serius? Kaila di culik? Sama siapa? Kapan? Kok bisa di culik?"
Kana berdecak di seberang sana. "Kalau gue tahu, gue gak mungkin ngehubungin lo. Mending lo sekarang cepetan kesini. Kita cari Kaila bareng-bareng. Ini gue kirim lokasi gue sekarang."
Bima mengangguk. "Iya, siap. Gue jalan sekarang."
"Iya, cepatan."
Bima mematikan sambungannya dan bangkit dari kasur. Ia meraih jaket beserta kunci motor. Ia benar-benar panik. Tak kalah paniknya dengan Kana.
Jika di bandingkan, tingkat kepanikan keduanya sama. Sama-sama menghawatirkan gadis yang di cintai.
"Astaga Kaila, lo kenapa bisa di culik sih?" Bima berjalan menuju kamar Mamanya untuk meminta izin. Namun—
"Mama kenapa nangis?" ucap Bima yang berjalan menghampiri Mamanya menangis dengan kamar yang begitu berantakan.
Mamanya mengusap air mata dan tersenyum. "Mama gak papa kok, sayang."
Bima menggeleng. "Mama bohong. Mama berantem lagi sama Papa? Papa nyakitin Mama lagi?"
Mamanya menggeleng dengan senyuman. "Enggak, sayang. Ini gak ada hubungannya sama Papa kamu."
"Mama sampai kapan sih nyembunyiin ini dari Bima sama Kiara? Bima tahu Ma, selama ini Papa selalu kasar sama Mama."
Mamanya tersenyum dan berdiri menghampiri Bima. "Bima, Mama baik-baik aja. Dan soal Papa yang suka marah, itu karena Mama yang salah. Papa gak mungkin marah tanpa sebab, sayang."
Bima menggeleng tak percaya.
Mamanya tersenyum. "Mama baik-baik aja, sayang. Kamu percaya ya sama Mama?"
Bima mengangguk membuat Mamanya tersenyum lega.
"Oh ya, kamu mau kemana?"
"Oh iya, Bima lupa. Ma, Bima keluar dulu ya?"
"Kamu mau kemana memang malem-malem gini?"
"Bima harus cari Kaila, Ma."
"Kaila?"
Bima mengangguk. "Kaila itu temen Bima, Ma. Sekarang dia lagi di culik. Bima harus cari dia." Bima menghela napas. "Mama gak papa 'kan Bima tinggal sebentar?"
Mamanya mengangguk, masih dengan mata yang memerah.
"Doain ya Ma, supaya Bima bisa temuin Kaila."
"Iya, sayang," ucap Mamanya dengan air mata yang kembali jatuh.
Bima menghela napas. "Mama kenapa nangis lagi?"
Mamanya menggeleng. "Enggak, sayang. Mama gak nangis. Mama seneng kamu peduli sama temen kamu."
Bima tersenyum. "Bima pergi dulu ya, Ma?" ucapnya lalu mencium tangan Mamanya dan berlalu pergi.
Mamanya memandang punggung Bima dengan tatapan sedih. Ia mengusap air matanya dan kembali terduduk di lantai.
-o0o-
Kana menoleh saat sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Ia berdiri dan menghampiri orang tersebut.
"Gimana ceritanya Kaila bisa di culik?" tanya Bima seraya melepas helm-nya.
Kana menggeleng. "Gue gak tahu apa motif mereka nyulik Kaila. Gue juga gak tahu masalah Kaila apa sampai-sampai dia di culik."
"Apa semua ini karena Adinda?" lontar Bima.
Kana mengerutkan dahinya. "Adinda?"
Bima mengangguk. "Sorry bukannya gue mau jelek-jelekin sahabat lo. Cuma kita semua tahu 'kan kalau Adinda cemburu sama Kaila."
"Adinda cemburu sama Kaila?"
Bima berdecak kesal. "Lo kenapa bisa bodoh banget sih, Kan? Percuma muka lo ganteng, tapi bodoh banget soal cewek." Bima menghela napas dan mencoba menjelaskan kembali pada Kana. "Lo sadar 'kan Adinda suka sama lo?"
Kana diam.
"Gak sadar juga? Wah, gue timpuk pala lo pakai helm ini nanti," ucap Bima bermaksud bercanda.
"Coba lo jelasin lagi," ucap Kana.
Bima menghela napas. "ADINDA SUKA SAMA LO. TAPI SEMENJAK KAILA HADIR, PERHATIAN LO BERALIH KE KAILA. MAKANYA ADINDA CEMBURU SAMA KAILA."
Kana terdiam. Ia mencoba mencerna ucapan Bima.
Bima kembali mengatur napasnya. "Ada kemungkinan 'kan kalau Adinda pelakunya? Ya, motifnya supaya bisa jauhi Kaila dari lo. Dengan begitu, Adinda bisa ambil perhatian lo lagi."
Kana menggeleng. "Gue gak nyangka kalau Adinda beneran pelakunya."
"Ya, gue bukan nuduh dia atau gimana. Cuma gak menutup kemungkinan 'kan kalau dia pelakunya?"
Kana mengangguk.
"Yaudah, mending sekarang kita cari Kaila."
"Tapi mulai dari mana kita cari dia?" tanya Kana.
"Kayanya gak mungkin kalau kita berdua doang yang cari Kaila." Bima berpikir sejenak. "Ah, gue tahu!"
"Apa?"
"Sebentar." Bima meraih ponselnya dan men-dial nomor seseorang. "Halo, Bang?"
"Halo, Bim. Ada apa? Tumben lo nelpon gue?"
"Bang gue butuh bantuan lo sama yang lain."
-o0o-
Kaila mencoba membuka matanya. Rasa pedih karena luka sangat terasa di area kepala dan wajahnya. Ia ingat sekali, sebelum ia pingsan, ia sempat meronta untuk pergi. Namun para preman itu malah memukulnya dengan sebuah benda yang membuatnya terjatuh pingsan.
Kaila tak ingat sudah berapa lama ia pingsan. Yang jelas, saat ini ia telah berada dalam sebuah bangunan yang di penuhi dengan kardus-kardus tak terpakai.
Kaila kembali memejamkan mata saat kepalanya terasa sakit.
"Eh, udang bangun." Seorang preman tersenyum menghampirinya.
Kaila mencoba meronta. Namun mulutnya di tutup oleh kain, kedua tangan dan kakinya pun di ikat.
"Mau apa? Mau kabur? Iya? Memang bisa kabur?" Preman itu tertawa dan menyentuh rambutnya. "Mau kabur? Iya?" ucapnya seraya menarik rambut Kaila membuatnya menangis kesakitan.
"Bang! Bos dateng!" teriak Preman lainnya yang sepertinya menjaga pintu depan.
Preman yang berada di dekat Kaila pun mundur beberapa langkah saat seorang laki-laki yang di sebut bos datang dan menghampiri Kaila.
Laki-laki tersenyum. Ia mendekat ke arah Kaila dan tertawa. Tawanya begitu nyaring membuat gadis itu merasa takut.
"Halo, anak baik!"
Kaila masih tak tahu siapa laki-laki itu. Laki-laki menggunakan masker membuat Kaila tak dapat mengenailnya.
"Jadi kamu yang namanya Kaila?" tanyanya.
Kaila mencoba melepaskan ikatannya. Namun sangat sulit baginya.
Laki-laki itu tertawa dan mendekatkan wajahnya. "Mau dilepas talinya? Iya? Atau kamu mau tahu saya siapa?"
Kaila menggeleng. Ia memejamkan mata dan menangis.
Laki-laki itu kembali tertawa. "Mungkin kamu perlu tahu saya siapa." Laki-laki itu mundur beberapa langkah membuat Kaila diam dan membuka mata.
Kaila melebarkan mata saat laki-laki itu melepaskan maskernya.
-o0o-
tapi Lo biarin dia, ngizinin dia.
tolol.
seharusnya Kaila tegas dgn perasaannya kalau ga suka bilang jgn PHP anak org kan pada ujungnya sakitkan kayak Adinda dong tegas dia langsung blg ke Aji dia ga bisa