NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenda Kosong

"Profesor Hera!"

Baskara tersentak bangkit dari posisi duduknya di dekat sisa api unggun.

Matanya langsung terbuka lebar, insting militernya aktif dalam hitungan milidetik. Parang taktis yang tergeletak di samping paha langsung ia sambar.

Napasnya memburu saat telinganya menangkap sisa gema lengkingan suara wanita yang memecah kesunyian Alas Purba.

Di seberang lingkaran api, Yudha ikut melompat bangun hingga cangkir kopi kosong di dekat kakinya terguling. Dia langsung mencengkram senapan laras panjangnya dengan tangan gemetar.

"Komandan! Anda dengar itu?" tanya Yudha dengan suara tertahan, matanya bergerak liar menyisir kegelapan hutan. "Itu suara Profesor Hera! Arahnya dari depan, dekat pohon pembatas!"

"Yudha, periksa tenda Profesor sekarang! Cepat!" bentak Baskara, suaranya berbisik namun penuh tekanan yang sangat kuat.

Tanpa membuang waktu, Yudha berlari kecil dan menyambar ritsleting tenda utama. Begitu kain parasut terbuka, senter taktis di tangan Yudha langsung menyorot ke dalam.

Cahaya putih itu menembus ruangan sempit, menyingkap dua sosok asisten yang juga mulai menggeliat panik karena suara kegaduhan di luar.

Namun, di antara dua sleeping bag yang terisi, ada satu matras portabel yang sudah kosong melompong. Kain penutupnya tersingkap berantakan.

"Sial! Kosong, Komandan! Profesor Hera tidak ada di dalam!" teriak Yudha panik.

"Hah?! Apa?! Prof Hera kenapa?!"

Amara langsung terduduk tegak, rambut kuncir kudanya berantakan dan matanya melebar sempurna karena terkejut. Rasa kantuknya hilang dalam sekejap begitu menyadari slot di sebelah kanannya telah kosong. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik. "Prof Hera mana?! Tadi dia tidur di sini!"

Kevin ikut terbangun, meraba-raba tanah dengan panik untuk mencari kacamatanya. Begitu bingkai hitam itu terpasang di hidungnya, dia langsung meraih tablet data yang mendadak mengeluarkan bunyi alarm peringatan berfrekuensi tinggi.

Bip! Bip! Bip!

"Grafik fluktuasi magnetik melonjak ekstrem!" seru Kevin, suaranya gemetar saat melihat layar tabletnya berkedip merah total.

"Ini gila! Lonjakannya tepat berada di titik koordinat dua pohon besar itu! Profesor pasti nekat ke sana!"

"Semuanya keluar dari tenda! Sekarang!" perintah Baskara dari luar, suaranya menggelegar penuh wibawa yang tidak bisa dibantah.

Kevin dan Amara langsung merangkak keluar dengan tergesa-gesa. Udara dingin malam Alas Purba langsung menusuk tulang mereka, namun rasa takut yang mencekam membuat mereka tidak memedulikannya lagi. Amara merapatkan jaketnya, air mata kecemasan mulai menggenang di sudut matanya.

"Pak Baskara, tolong cari Prof Hera! Dia tidak boleh kenapa-napa!"

"Tetap di belakang saya dan Yudha!" tegas Baskara. Dia menyalakan senter taktis berkekuatan besar miliknya, memotong kegelapan malam.

"Yudha, bentuk perimeter depan. Kevin, bawa alat pemindaimu, cari tanda panas tubuh Profesor. Amara, tetap di tengah, jangan lepas dari jangkauan pandangan."

"Siap, Komandan!" Yudha mengokang senapannya dengan bunyi klek yang solid, memimpin jalan menembus semak belukar yang basah oleh embun malam.

Mereka berempat bergerak dengan cepat menuju arah dua pohon raksasa yang menjadi pembatas terlarang desa.

Langkah kaki mereka menimbulkan suara hentakan yang riuh di atas tanah merah yang gembur. Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi mereka untuk sampai di titik koordinat yang dimaksud.

Namun, begitu cahaya senter besar milik Baskara menyorot ke depan, langkah kaki seluruh tim langsung terkunci. Tubuh mereka membeku di tempat.

Di depan mereka, dua pohon purba raksasa itu masih berdiri dengan megah. Kain pita merah tebal yang mengikat kedua batangnya masih berkibar pelan ditiup angin malam. Semuanya tampak normal secara fisik di dunia nyata. Namun, di bawah akar pohon tersebut, hamparan tanaman Dream Flower yang tadi diincar Hera tampak layu dan menutup, menyisakan dedaunan gelap tanpa ada satu pun pendaran cahaya ungu ataupun emas.

Dan yang paling membuat mereka merinding: Profesor Hera Grahansa sama sekali tidak ada di sana. Tempat itu kosong melompong.

"Profesor Hera!" teriak Baskara sekuat tenaga, mengarahkan berkas cahaya senternya ke sekeliling batang pohon. Tidak ada jawaban. Hutan itu tetap sunyi dengan suara tonggeret yang bersahutan.

"Prof! Ini Amara! Jawab, Prof!" jerit Amara, tangisnya akhirnya pecah. Dia mencoba berlari mendekati pita merah, namun Yudha dengan cekatan menangkap pundaknya dan menariknya mundur.

"Jangan melangkah lebih jauh, Amara! Berbahaya!" seru Yudha tegas.

"Kevin! Periksa pemindai termalmu! Di mana posisi Profesor?!" perintah Baskara, napasnya memburu karena merasa telah gagal menjalankan tugas dari Grahansa Corp.

Kevin dengan tangan yang bergetar hebat menatap layar tabletnya. Dia menekan-nekan tombol kalibrasi berulang kali, wajahnya pucat pasi di bawah temaram cahaya senter.

"T-tidak mungkin, ini secara ilmiah tidak masuk akal, Pak Baskara!"

"Katakan saja datanya, Kevin! Jangan berbelit-belit!" bentak Baskara frustrasi.

"Sinyal GPS dari jam tangan taktis Profesor Hera, titik koordinatnya berhenti tepat satu jengkal di balik pita merah ini," jelas Kevin dengan suara lemas, menunjukkan layar tabletnya yang menampilkan satu titik merah diam tepat di garis pembatas.

"Tapi, sensor termal saya sama sekali tidak menangkap adanya radiasi panas tubuh manusia di radius lima ratus meter ke depan. Kosong. Seolah olah Profesor menguap begitu saja setelah melewati garis itu!"

Yudha melangkah mendekati pita merah dengan sangat hati-hati, menyorotkan senternya ke tanah merah di balik pembatas. "Komandan, lihat ini."

Baskara mendekat, mengarahkan senternya ke titik yang ditunjuk Yudha. Di atas tanah merah yang gembur di balik pita kain merah, terdapat cetakan jelas dari sol sepatu bot gunung milik Hera.

Jejak kaki itu mengarah ke dalam hutan. Namun, jejak itu hanya ada dua langkah. Setelah dua langkah itu, tanah di depannya tampak mulus, bersih, tanpa ada bekas injakan kaki sama sekali, seakan-akan langkah ketiga Hera telah melayang di udara.

"Jejaknya terputus" bisik Yudha, bulu kuduknya berdiri. "Pak Danu benar, ini bukan hutan biasa. Ini gerbang batas dunia lain."

"Jangan bicara takhayul di depan saya, Yudha!" bentak Baskara, meskipun di dalam hatinya dia merasakan kengerian yang sama. Dia menatap kegelapan pekat di balik pita merah yang tampak seperti tembok hitam tak berujung.

"Lalu kita harus gimana, Pak Baskara?" tanya Amara di sela isak tangisnya. "Kita harus masuk ke dalam dan cari Prof Hera sekarang!"

"Tidak boleh ada yang menyeberangi pita merah ini tanpa persiapan," jawab Baskara dengan keputusan taktis yang cepat. Dia berbalik menatap seluruh anggota tim. "Yudha, ambil radio komunikasi cadangan di jip. Kita harus segera menghubungi markas pusat Grahansa Corp dan memberi tahu Tuan Leonardo bahwa Profesor Hera hilang di koordinat batas."

"Tapi Komandan, sinyal radio kita terganggu oleh anomali magnetik hutan ini," potong Kevin, mencoba mengembalikan sisa-sisa logika ilmuwannya.

"Kita harus kembali ke batas desa, ke titik aman yang dicatat Yudha sore tadi, baru kita bisa mengirim sinyal darurat."

Baskara mengangguk setuju, matanya kembali menatap tajam ke arah jejak kaki Hera yang terputus di balik pita merah. "Baik. Kevin dan Amara, kalian berdua segera packing barang-barang penting saja di tenda.

Jangan ada yang tertinggal. Yudha, siapkan senjata dan kawal mereka. Kita mundur ke arah desa untuk meminta bantuan penduduk lokal sekaligus menghubungi kota."

"Siap, Komandan!" sahut Yudha.

Tim kecil itu segera bergerak cepat kembali ke arah kamp dengan kepanikan yang kian memuncak. Mereka tahu, setiap detik yang terbuang adalah pertaruhan nyawa bagi Profesor Hera yang kini telah lenyap secara misterius ke dalam kegelapan Alas Purba yang menakutkan di balik pita merah pembatas dunia.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!