NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:646
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 11

BAB 11

Pada saat yang sama, beberapa li melintasi pelataran utama kedaton—di dalam Sanggar Tenun Ageng yang harum oleh aroma kayu cendana dan rebusan daun nila—Maya tersentak bangun dari pembaringan kayu jati berukir. Kepalanya berdenyut hebat, seolah dihantam gelombang magnetik bertubi-tubi. Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya saat bayangan lorong candi dan kilatan cahaya keemasan masih tersisa samar di balik kelopak matanya.

Saat jemarinya bergerak, sentuhan tekstil yang ia rasakan terasa asing sekaligus membingungkan. Ia tidak sedang memegang lembaran kain sintetis atau organza buatan mesin abad ke-21, melainkan untaian benang sutra mentah bernuansa kuning gading yang seratnya ditenun secara tradisional dengan ketelitian luar biasa.

Di mana ini? Studio? Candi? Apa aku pingsan dan Rendra membawaku ke rumah sakit? Tapi tempat ini...

"Putri... Putri Kirana?" sebuah suara bergetar pelan menyela kebingungannya.

"Putri Kirana?" desis Maya linglung. Suaranya terdengar berbeda—lebih halus, namun bergema aneh di dadanya. Ia mengangkat tangannya; kulitnya bersih, tetapi ada bekas gesekan benang pakan yang khas pada ibu jarinya. "Siapa... siapa Putri Kirana? Dan kenapa kau memanggilku seperti itu?"

"Sampun, Putri... Gusti Baginda Raja ampuni hamba! Jangan pura-pura linglung di depan para pengawal. Hamba tahu Putri sangat tertekan atas fitnah keji yang disebarkan pihak Mahapatih Mahisa. Tapi kain sabuk peraduan ini harus selesai sebelum rombongan istana barat datang, Putri... kalau tidak, keselamatan sanggar ini jadi taruhannya!" mohon pelayan muda itu makin panik seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

Mahapatih Mahisa. Putri Kirana. Sabuk Peraduan.

Kata-kata itu berdentang keras di kepala Maya, seperti pemukul gong yang meretakkan dinding kesadarannya. Ingatan masa lalunya sebagai Maya—seorang perancang busana modern—mendadak bertabrakan dengan potongan memori asing yang mengalir bagai air bah ke dalam pikirannya.

Mahapatih Mahisa... nama itu...

Maya memegangi pelipisnya yang berdenyut. Di abad ke-21, saat menyusun riset untuk koleksi etniknya, ia pernah membaca catatan babad kuno yang menyebutkan nama Mahapatih Mahisa dan tragedi perselisihan maestro tenun kerajaan. Namun di dalam catatan sejarah yang samar itu, Putri Kirana selalu dicatat secara salah sebagai pengkhianat yang menjual rahasia tenun sakral kepada pihak musuh!

"Laras..." kata itu keluar begitu saja dari bibir Maya tanpa ia rencanakan. Dia tiba-tiba tahu nama abdi di hadapannya. Memori raga Putri Kirana secara perlahan menyatu dengan logika analitis Maya.

Dayang muda itu mendongak, matanya berbinar haru.

"Inggih, Putri! Hamba Laras! Matur nuwun Gusti, Putri sudah meleluri Kembali," sahut Laras lega.

"Laras, katakan padaku secara perlahan apa yang sebenarnya terjadi" ujar Maya dengan nada suara yang dipaksa tenang, matanya menatap tajam sang dayang. "Fitnah apa yang sebenarnya disebarkan oleh Mahapatih Mahisa tentang diriku dan... Raden Jayendra?"

Laras mengusap air matanya, lalu berbisik sangat pelan seraya melirik ke arah pintu sanggar yang dijaga prajurit.

"Mahapatih Mahisa menghasut para adipati, Putri. Beliau mengatakan bahwa kerangka ukiran logam hiasan dada yang dibuat Raden Jayendra dan kain tenun bertanam benang milik Putri adalah media sihir untuk melumpuhkan Sang Raja. Padahal... padahal hamba tahu sendiri, Putri dan Raden Jayendra menyatukan kerajinan logam dan tenun itu justru untuk menciptakan zirah pelindung bagi Sang Raja agar terlindung dari panah musuh saat berburu!" jelas Laras berbisik.

Sejarah telah diputarbalikkan! pekik Maya di dalam hatinya. Mahapatih Mahisa menuduh karya inovasi kerajinan logam dan tenun mereka sebagai bentuk makar demi merebut kekuasaan dan menjual teknologi kerangka busana itu ke kerajaan tetangga!

Maya kini paham. Pengalaman metafisik di depan relief candi tadi bukan sekadar halusinasi—ia dan Rendra terlempar ke titik krusial di mana sejarah kelam mereka bermula.

Maya berdiri tegak, menyibak kain sutranya. Ia tidak lagi gemetar. Keteguhan hatinya sebagai perancang busana modern menyatu sempurna dengan keberanian sosok Putri Kirana. Ia melangkah ke jendela kayu yang terbuka, menatap jauh ke arah asap hitam yang membubung dari tungku bangsal kriya di ujung kedaton.

"Putri? Putri mau ke mana?" tanya Laras panik saat melihat Maya meraih gulungan kain tenun sutra berhias benang emas di atas meja kerja dan membungkusnya dengan kain pelindung.

"Aku harus menemui Raden Jayendra di sanggar tempa," tegas Maya sebagai sosok Putri Kirana, matanya berkilat tajam tanpa ragu.

Langkah kaki Putri Kirana yang terbalut kain tenun melintasi pelataran batu kedaton. Angin sore membawa aroma belerang yang kian pekat seiring dekatnya jarak ke sanggar tempa. Beberapa prajurit penjaga di luar pagar kayu tampak saling berbisik heran melihat Putri Kirana melangkah mantap tanpa keraguan, memeluk gulungan kain tenun sakral di dadanya.

Tepat di gerbang sanggar tempa, Rendra—dalam raga Raden Jayendra—baru saja melangkah keluar. Celemek kulitnya bernoda jelaga tebal, dan tangan kanannya masih memegang pelat dada perunggu yang menyisakan kepulan uap hangat setelah disepuh air garam. Dadanya yang lebar naik turun, menyisakan emosi usai mengusir Ki Tumenggung Reksa dan para prajuritnya.

Pandangan mereka bertaut di antara kepulan asap tempaan yang melayang tipis di udara. Tidak ada kebingungan lagi di mata Putri Kirana, begitu pula di mata Raden Jayendra. Di balik tatapan Raden Jayendra, Maya melihat pendar dingin, protektif, dan penuh presisi milik Rendra. Sementara di dalam manik mata Putri Kirana, Rendra mendapati ketajaman estetika dan keberanian tak terobohkan milik Maya.

"Kau..." bisik Raden Jayendra dengan suara serak dan dalam, melangkah satu pijakan mendekat. "Kau Putri Kirana atau...?"

"Dua-duanya," potong Putri Kirana pelan, ia tahu arah perkataan lelaki dihadapannya yang dia yakin itu adalah Rendra yang ada dalam raga Raden Jayendra. "Aku tahu peta strateginya sekarang, Raden Jayendra. Aku baru saja mengorek informasi dari Laras dan mengingat potongan sejarah yang pernah kubaca di abad 21. Mahapatih Mahisa menggunakan Tumenggung Reksa untuk memutarbalikkan narasi."

Raden Jayendra menggeram rendah, rahangnya mengeras.

"Tumenggung Reksa baru saja dari sini. Dia mengancam akan membakar sanggar ini jika aku tidak menyerahkan kerangka logam ini dan menuduhmu melakukan makar. Konspirasi busuk yang sama, persis seperti yang dilakukan Victor dan Clarissa di masa kita." bisik Raden Jayendra. Nama Victor dan Clarissa tiba-tiba muncul dari realitas pikiran bawah sadarnya saat beberapa detik emosi Rendra menguasai Emosi Raden Jayendra.

Putri Kirana mengangguk pelan.

"Mereka ingin menghancurkan kolaborasi ini sebelum sempat disatukan, Raden Jayendra" timpal Putri Kirana, matanya berkilat menatap lempengan perunggu di tangan lelaki yang ada tepat dihadapannya. Sebaliknya Raden Jayendra menatap gulungan kain tenun bernuansa kuning gading di pelukan Putri Kirana.

Raden Jayendra kembali mengalihkan pandangan ke lempengan logam buatannya.

"Struktur logam ini tidak akan ada gunanya tanpa kelenturan kainmu, Putri KIrana," ujar Raden Jayendra, suaranya melunak namun penuh penekanan teknis. "Logam ini diciptakan bukan untuk mengurung, melainkan memberi kerangka agar keindahan sutramu tidak runtuh oleh tekanan dari luar."

"Dan kainku diciptakan untuk memeluk kerangkamu, memberi jiwa pada kekakuan logammu, Raden Jayendra" balas Putri Kirana yang separuh Jiwanya ada Maya di sana, dengan senyum tipis yang sarat tekad. Ia membentangkan sebagian kain tenun berbenang emas itu tepat di atas meja kayu tempaan.

"Kita punya waktu sangat sempit sebelum fajar" bisik Raden Jayendra.

Tanpa banyak kata lagi, keduanya bergerak cepat bagai satu jiwa yang kembali menemukan pasangannya.

Di dalam sanggar tempa Keraton yang temaram oleh pendar membara dari tungku pembakaran, Raden Jayendra memosisikan lempengan perunggu di atas meja kerja, sementara Putri Kirana dengan jemari lentiknya yang cekatan mulai menyusun lipatan kain sutra. Setiap lekukan logam dipeluk oleh lipatan kain tenun dengan presisi milimetris, terkunci erat oleh ukiran  sabuk kuningan yang ditempa secara langsung.

Dentang palu kecil dan desis uap air menyatu dengan gesekan kain halus. Cahaya keemasan mendadak melingkupi busana perisai sakral yang mulai terbentuk sempurna di atas meja—sebuah paduan mutlak antara kerangka kerajinan logam yang kokoh dan estetika tenun puitis yang tak tertandingi.

Saat jarum emas terakhir yang dipegang Putri Kirana menembus serat kain dan mengaitkannya ke lubang lempeng logam Raden Jayendra, pendar cahaya keemasan dari karya tersebut menyebar, menyilaukan seluruh isi sanggar. Sementara di luar Sanggar terdengar suara keributan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!