"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
Alana terpaksa menikah kontrak dengan seorang Cleaning Service di perusahaanya agar bisa terlepas dari perjodohan orang tuanya. namun ketika hubungan kontrak itu berubah menjadi perasaan cinta, mampukan mereka mengganti komitmen dan bersatu atas nama cinta? atau berakhir sebagai ikatan kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Pecat
***
"Jangan sentuh!"
Alana mundur satu langkah, menepis pelan tangan pria itu sebelum sempat mengusap bajunya. Matanya menatap tajam noda kopi hitam pekat yang kini merusak kemeja putih mewahnya.
"Ma--maafkan saya, Bu Alana ... Saya betul-betul enggak lihat ...." OB itu menunduk dalam-dalam, badannya gemetar hebat.
Di perusahaan ini, semua orang tahu betul siapa Alana Mahendra, CEO dingin yang paling dihindari jika sedang buruk mood-nya.
"Kamu punya mata dipakai buat jalan, bukan cuma pajangan!" potong Alana tajam, napasnya berembus kasar. Kekesalannya pada sang mama yang belum reda kini makin memuncak gara-gara insiden kemeja basah ini.
"Kamu tahu ini lantai eksekutif? Kenapa bisa lari-lari bawa kopi panas begini?"
"B-bukan lari, Bu ... Tadi saya buru-buru karena diminta antarkan kopi ke ruang rapat—"
"Aku enggak butuh alasan," potong Alana dingin. Pikirannya yang kalut tiba-tiba teringat ucapan mamanya tadi pagi di meja makan.
"Dokter? Tentara? Hakim? Atau supir? Tukang bengkel? Atau OB? "
Pandangan Alana tertuju pada pria di hadapannya. Pria berseragam OB itu masih menunduk rapat, pasrah jika detik ini juga surat pemecatannya langsung ditandatangani.
Alana memicingkan mata, memperhatikan postur tubuh pria itu yang tinggi tegap serta wajahnya yang, meski tertutup kepanikan, memiliki garis rahang tegas dan paras yang cukup tampan. Sebuah gagasan gila yang nekat tiba-tiba terlintas begitu saja di kepala Alana.
"Shiren," panggil Alana tanpa mengalihkan pandangan dari OB tersebut.
"Y-ya, Al?" Shiren yang sejak tadi ikut panik langsung mendekat.
"Batalkan jadwal rapat jam sembilan. Dan kamu ...." Alana menunjuk dada pria berseragam OB itu dengan ujung telunjuknya.
"... ikut saya ke ruangan sekarang."
Pria berseragam OB itu berdiri kaku di tengah ruangan kerja Alana yang luas dan mewah, lebih menyerupai penthouse pribadi dibanding kantor biasa, lengkap dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan pencakar langit kota. Suara gemericik air dan langkah kaki samar terdengar dari balik pintu kamar ganti tempat Alana membersihkan diri.
Tak lama kemudian, pintu kamar ganti terbuka. Alana keluar dengan kemeja satin baru yang rapi. Tanpa melirik pria itu sedikit pun, Alana melangkah anggun menuju meja kerjanya, menduduki kursi kebesarannya, lalu menekan tombol interkom.
"Shiren, ke ruangan saya sekarang," perintah Alana singkat, lalu mematikan sambungan.
Pria itu meremas jemarinya, mencoba mengumpulkan keberanian
"Bu Alana, sekali lagi saya benar-benar minta maaf atas kejadian tadi. Kalau Ibu mau potong gaji saya atau—"
"Tidak ada yang menyuruh kamu bicara," potong Alana dingin tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di mejanya.
"Jadi, diam."
Suasana ruangan seketika hening mencekat. Pria itu langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tidak berani mengeluaran sepatah kata pun lagi.
Pintu ruangan terketuk dua kali sebelum Shiren melangkah masuk dengan napas sedikit terengah.
"Iya, Al? Ada apa?"
Alana menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Shiren lalu beralih melirik pria yang masih berdiri kaku di depan mejanya.
"Kenapa aku baru pernah lihat dia?" tanya Alana tegas.
"Setahuku OB di lantai eksekutif bukan dia."
"Oh, itu ...." Shiren melirik pria itu sebentar sebelum menjelaskan.
"Dia OB baru dari lantai bawah, Al. Pak Bono yang biasa antar kopi di lantai ini lagi izin cuti dua hari, jadi dia dipindah ke atas buat sementara. Lagian dia baru kerja seminggu di sini, makanya kamu belum pernah ketemu."
Shiren kemudian melangkah mendekat ke meja kerja Alana, memajukan tubuhnya lalu berbisik pelan.
"Al, plis jangan dipecat, ya? Kasihan. Dia butuh banget pekerjaan ini buat biayain ibunya yang lagi sakit parah di rumah sakit."
Alana mendengus pelan, menatap sahabatnya itu dengan alis berkerut kesal.
"Kamu kok malah ngebela dia, sih? Kemeja mahal aku korbannya, Shiren."
Shiren bukannya takut, malah menyunggingkan senyum jahil. Dia berbisik lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
"Ya lagian ... meskipun dia cuma OB, satu kantor tiap hari ngomongin dia tahu! Dia itu OB ganteng kesayangan staf cewek di sini. Kalau kamu pecat dia sekarang, hiburan visual di kantor ini langsung hilang dong."
Alana memutar bola matanya, benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sekretarisnya itu.
"Shiren," panggil Alana dengan nada datar namun menekan.
"Keluar."
"Oke, siap Bu CEO!" jawab Shiren cepat sambil terkekeh pelan, lalu buru-buru membalikkan badan dan melangkah keluar ruangan sebelum Alana benar-benar mengamuk.
"Duduk," perintah Alana singkat sambil menunjuk kursi di depan mejanya.
Mirza sempat ragu, namun akhirnya melangkah pelan dan duduk dengan posisi tubuh yang canggung dan kaku.
Alana menatap pria di hadapannya dari atas ke bawah, lalu bergumam di dalam hati.
"Kalau pun aku beneran pacaran sama OB, enggak salah, kan? Toh siapa pun laki-lakinya, Mama tetap tidak akan pernah suka sama pilihanku. Jadi sekalian saja bikin gempar satu keluarga."
Pikirannya terus berputar menyusun skenario.
"Kalau aku mengaku pacarku anak orang kaya, bakal susah bikin cerita dan nyari keluarga palsu-nya. Nanti malah harus bikin kebohongan baru lagi yang makin ribet."
"Siapa namamu?" tanya Alana dingin, memecah keheningan.
"Mirza, Bu ... Mirza Jasir," jawabnya pelan namun mantap.
Alana mendengus, menyandarkan siku di meja.
"Mirza, kamu itu sudah seminggu kerja di sini, tapi bisa-bisanya seceroboh ini. Mau seterburu-buru apa pun kamu, kamu harusnya tetap fokus bekerja. Bagaimana kalau kopi panas tadi bukan kena kemeja saya, tapi kena klien bisnis penting yang sengaja datang ke sini? Masalahnya bisa jauh lebih parah dari sekadar kemeja kotor!"
Mirza menunduk makin dalam.
"Saya benar-benar minta maaf, Bu ...."
"Saya bisa saja memecat kamu saat ini juga tanpa pesangon sepeser pun. Bahkan kalau mau, saya bisa minta ganti rugi atas kemeja mahal yang kamu rusakkan ini," ucap Alana menekan setiap katanya.
Mirza makin pucat, jemarinya meremas celana kerjanya sendiri.
"Tapi," Alana jeda sejenak, mengingat bisikan Shiren tadi.
"Sekretaris saya bilang kamu lagi butuh banget pekerjaan ini untuk biaya berobat ibumu yang sedang sakit. Jadi, hari ini saya berbaik hati memberikan kamu dua pilihan."
Alana menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Mirza tanpa ragu sedikit pun.
"Pilihan pertama, kamu saya pecat detik ini juga dan harus bayar ganti rugi. Atau pilihan kedua ... kamu menikah dengan saya."
Mirza mendongak kaget. Matanya membelalak sempurna, menatap wanita di depannya seolah Alana baru saja bicara menggunakan bahasa asing.
"B-Bu Alana ... bercanda, kan?"
"Apa muka saya kelihatan seperti sedang bercanda?" balasan Alana meluncur dingin tanpa keraguan sedikit pun. Kedua tangannya terlipat di atas meja kayu mahoni yang mengkilap, memberikan aura intimidasi yang begitu dominan.
Mirza membasahi bibirnya yang kering, tenggorokannya terasa seperti tersumbat pasir.
"Bu, saya ... saya cuma OB di sini. Saya bukan siapa-siapa. Kalau Ibu cuma mau menghukum saya atas kesalahan tadi—"
"Dengar ya, Mirza," potong Alana cepat. Suaranya datar namun menusuk.
"Saya tidak sedang berusaha menghukum kamu, dan saya juga tidak peduli kamu ini OB, kuli, atau apa pun. Saya butuh seorang suami dalam waktu cepat, dan kamu butuh uang untuk biaya rumah sakit ibumu. Sederhana, kan?"
"Tapi pernikahan bukan transaksi main-main seperti ini, Bu!" sergah Mirza, untuk pertama kalinya memberanikan diri menatap mata sang CEO dengan nada protes yang agak meninggi.
"Nikah itu sakral. Mana bisa dijadikan jalan keluar instan cuma gara-gara insiden tumpahan kopi?"
Alana terkeh samar, sebuah tawa dingin yang tak menyentuh matanya.
"Bagi kamu mungkin sakral, tapi bagi saya, ini solusi paling rasional yang ada di depan mata sekarang. Kamu pikir saya sudi dijodohkan sama laki-laki pilihan Mama saya? Kamu pikir saya mau hidup saya diatur-atur terus?"
Alana menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya, menatap Mirza dari atas ke bawah secara terukur.
"Syarat saya gampang. Kamu cuma perlu ikuti skenario saya, tampil di depan keluarga saya sebagai pacar yang bakal menikahi saya, dan turuti semua aturan main yang saya buat. Setelah masalah keluarga saya selesai dan situasi aman, kita bisa pisah secara baik-baik."
Mirza memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya melayang pada wajah ibunya yang terbaring lemah di ruang perawatan rumah sakit. Biaya cuci darah, obat-obatan, dan tunggakan kamar terus menumpuk saban hari. Gaji OB-nya jangankan untuk melunasi tagihan itu, untuk makan sehari-hari saja sudah pas-pasan.
Tapi... menjadi suami pura-pura dari CEO dingin yang ditakuti satu gedung ini? Rasanya seperti menyerahkan diri ke dalam mulut singa.
"Gaji kamu sebagai OB bakal saya naikkan sepuluh kali lipat," tambah Alana, seolah bisa membaca keraguan yang bergejolak di dalam dada Mirza.
"Seluruh biaya pengobatan ibumu di rumah sakit terbaik bakal saya tanggung sepenuhnya sampai beliau benar-benar sembuh total. Saya juga akan siapkan tempat tinggal yang layak untuk kamu."
Alana melirik jam tangan mewahnya yang melingkar cantik di pergelangan tangan.
"Saya kasih kamu waktu sepuluh detik buat mikir. Pilihan pertama, kamu keluar dari ruangan ini, saya pecat kamu tidak terhormat, kamu harus bayar ganti rugi kemeja saya, dan cari uang sendiri buat ibumu. Pilihan kedua, kamu setujui tawaran saya, dan semua masalah finansialmu selesai hari ini juga."
"Satu ...." Alana mulai menghitung dengan suara pelan namun menekan.
"Dua ...."
Mirza mengepalkan tangannya di atas paha. Dadanya bergemuruh hebat, bertarung antara harga diri dan kebutuhan hidup yang makin mendesak.
"Tiga ...."
"Baik, Bu!" potong Mirza setengah berteriak, napasnya memburu. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengalahkan seluruh harga dirinya demi keselamatan sang ibu.
"Saya ... saya terima tawaran Ibu."
Alana menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang puas. Dia menarik laci mejanya, mengambil sebuah pena mahal dan selembar kertas kosong, lalu melemparnya ke arah Mirza.
"Bagus. Tulis nama lengkap, nomor KTP, dan tanda tangan kamu di situ. Kita bikin perjanjian hitam di atas putih sekarang juga."