Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.
Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.
Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.
Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Alejandro Antonov, bos sebuah mafia Rusia yang sangat berkuasa. Dia punya satu adik perempuan dan satu adik laki-laki. Dialah yang tertua.
"Sedang apa kamu?" tanya Alejandro.
"Aku sedang menunggu temanku, tapi sepertinya dia takkan segera kembali," jawabku.
"Kamu teman Francisco?" tanya Alejandro.
"Bisa dibilang begitu, tapi selain itu dia atasanku," jawabku.
"Atasanmu?" Aku terkejut. Bagaimana mungkin wanita secantik ini punya atasan seperti itu, sedangkan aku ini atasan Francisco dan tak pernah melihatnya di perusahaan.
"Ya, aku resepsionis di sebuah perusahaan di New York, tapi hanya paruh waktu karena aku masih kuliah." Aduh, pria ini tampan sekali.
"Ooh, begitu." Sungguh tak bisa kupercaya, wanita ini bekerja untukku dan aku tak pernah melihatnya. Dia benar-benar cantik. Aku masih tak percaya.
"Dan Anda teman Bruno?" tanyaku.
"Bisa dibilang begitu." Tak bisa kupercaya dia tidak mengenaliku, padahal aku sering muncul di banyak majalah, dan lagi pula aku ini atasannya. Aku merasa tersinggung.
"Sepertinya udaranya jadi dingin, lebih baik aku masuk saja." Aku kedinginan karena hanya memakai bikini, dan tatapan pria ini membuatku merasa aneh dan sedikit basah. Aku belum pernah mengalami ini. Lebih baik aku pergi berganti pakaian.
"Ini, pakai jaketku," kata Alejandro. Kupakaikan jaketku padanya saat dia berdiri, karena dia tampak kedinginan. Selain itu, ada beberapa pria yang terus menatapnya, dan entah kenapa itu membuatku sangat kesal, sampai rasanya aku ingin menghajar mereka. Tapi aku menahan diri, aku tak mau memberi kesan buruk pada wanita cantik ini.
"Terima kasih," kataku. Sebenarnya aku tak mau menerimanya, tapi aku memang benar-benar kedinginan.
"Kamu mau ikut ke kasino bersama yang lain?" tanya Alejandro.
"Aku tidak tahu," jawabku.
"Ayo, temani aku," ajaknya.
"Kukatakan sejujurnya, aku tak tahu apa-apa soal kasino," kataku.
"Ayo kita bersenang-senang bersama yang lain, bagaimana?" ajaknya.
"Baiklah, aku pergi ganti baju sebentar," kataku.
"Aku menunggumu, cantik," kata Alejandro.
"Baik." Aku naik, mandi, berganti pakaian, dan berdandan sedikit.
Aku memakai gaun ini.
Aku turun dan dia sudah menungguku di sana. Kukembalikan jaketnya.
"Ayo?" ajak Alejandro. Saat dia turun, aku terpana melihat gaun dan tubuhnya, yang membuat "temanku" bangun seperti tak pernah sebelumnya. Tapi aku harus mengendalikan diri. Kupegang pinggangnya dan dia tampak terkejut. Aku melihat wajahnya memerah, tapi dia tak menepis tanganku. Itu membuatku senang.
Sofía: Dia memegang pinggangku dan aku terkejut. Kurasakan tangannya, dan lagi-lagi ada sensasi asing dalam diriku. Kurasakan wajahku memanas, begitu pula seluruh tubuhku. Aku ingin menolak, tapi tak bisa. Kami tiba di kasino dan semua orang ada di sana. Beberapa orang menatap kami, dan itu membuatku gugup. Alejandro menyadarinya, karena dia berkata kepadaku…
"Abaikan semua orang. Ayo, kita minum sesuatu, bagaimana?" kata Alejandro.
"Baiklah," jawabku.
Aku tak minum banyak, tapi karena tak terbiasa, aku sudah merasa sangat pusing hanya dengan tiga gelas. Bruno mendekat dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Kubilang aku baik-baik saja, hanya minum sedikit berlebihan, tapi aku sudah mau kembali ke kamar, jadi dia tak perlu khawatir. Dia menawarkan diri untuk mengantarku ke kamar, tapi Alejandro dengan cepat memotong dan berkata bahwa dia yang akan mengantarku. Bruno tampak sedikit kesal, atau mungkin itu cuma khayalanku, entahlah.