NovelToon NovelToon
SATU ATAP SERIBU DUSTA

SATU ATAP SERIBU DUSTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.

​Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.

​Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.

​Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU ATAP SERIBU DUSTA

​

​Matahari baru saja naik sepenggalah, memancarkan bias cahaya putih keperakan yang menembus kaca jendela kamar tidur utama. Pukul enam pagi, Nesa terbangun dari tidurnya yang tidak begitu lelap. Semalam, pikirannya terus-menerus berkecamuk memikirkan hasil temuan Miya dan Kara mengenai keterlibatan agensi periklanan yang menyeret nama kakaknya sendiri, Sasya.

​Nesa menoleh ke sisi kanan ranjang. Tidak seperti biasanya, tempat tidur itu sudah kosong. Suara deruman air dari dalam kamar mandi menandakan Dika sedang membersihkan diri.

​Nesa bangkit perlahan, merapikan selimutnya, lalu melangkah menuju area walk-in closet untuk menyiapkan pakaian kerjanya. Namun, begitu ia membuka pintu lemari pakaian yang besar, langkah kakinya mendadak terhenti di tempat. Pandangannya terpaku pada sudut ruangan, tepat di dekat koper kulit hitam berukuran sedang milik Dika yang biasanya tersimpan rapat di rak paling atas.

​Koper itu kini sudah berada di lantai, dalam keadaan terbuka setengah dan terisi beberapa pasang pakaian formal, kemeja kerja, serta perlengkapan mandi.

​Nesa mengerjap, keningnya berkerut dalam. Ia mendekati koper tersebut dengan perasaan diliputi kebingungan. Selama beberapa bulan terakhir, sejak kehamilannya memasuki bulan ketiga dan kondisi perusahaan tengah bersiap menghadapi peluncuran produk besar-besaran, Dika sama sekali tidak pernah menyebutkan rencana perjalanan dinas ke luar kota.

​Seketika itu juga, pintu kamar mandi terbuka. Dika melangkah keluar dengan mengenakan jubah mandi, handuk kecil menggantung di lehernya, sementara rambut basahnya tampak tersisir rapi. Pria itu sedikit terperanjat begitu melihat Nesa berdiri di dekat koper hitamnya, namun dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya berubah tenang dan terkontrol.

​"Kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Dika dengan senyuman hangat, berjalan mendekati istrinya lalu berniat mendaratkan kecupan di kening Nesa.

​Nesa mundur setengah langkah, matanya menatap tajam ke arah koper di hadapannya sebelum beralih menatap manik mata suaminya. "Mas... koper ini? Kamu mau pergi ke mana?" tanyanya langsung, tidak bisa menyembunyikan nada curiga yang mulai merayap di suaranya.

​Dika menghentikan langkahnya. Senyuman di bibirnya sedikit menipis, meski ia berusaha mempertahankannya agar tetap terlihat wajar. "Oh... itu. Maaf ya, Sayang, aku sebenarnya mau ngobrolin ini pas sarapan nanti," jawab Dika dengan nada santai, seolah hal tersebut adalah sesuatu yang sangat sepele. "Semalam mendadak ada urusan darurat dari kantor pusat pabrik cabang di luar kota. Ada masalah teknis di lini logistik utama yang butuh peninjauan langsung dariku, jadi aku harus berangkat dinas singkat selama dua atau tiga hari ke depan."

​"Dinas singkat? Keluar kota?."

​Nesa tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena terkejut, melainkan karena ada sesuatu yang terasa sangat janggal di kepalanya. Baru kemarin malam, saat mereka berdua berbaring di tempat tidur, Dika mengatakan bahwa seluruh proses produksi dan operasional di pabrik berjalan sangat lancar tanpa ada kendala berarti. Bahkan Dika meyakinkan Nesa untuk tidur nyenyak karena tidak ada masalah di lini logistik.

​Lantas, mengapa tiba-tiba pagi ini muncul alasan darurat mengenai masalah teknis logistik yang mengharuskannya pergi ke luar kota secara mendadak?.

​"Mendadak, Mas?" ulang Nesa dengan suara pelan namun penuh penekanan. Ia menatap lekat-lekat ke dalam mata suaminya, mencari celah keraguan atau kepalsuan di sana. "Kemarin malam kamu bilang semua operasional di pabrik aman terkendali. Tidak ada masalah apa pun. Kenapa sekarang tiba-tiba harus berangkat ke luar kota Sepagi ini, bahkan tanpa mendiskusikannya dulu denganku semalam?."

​Mendengar pertanyaan kritis yang dilontarkan istrinya, Dika sedikit mengerjap. Untuk sepersekian detik, kilatan emosi melintas di manik mata pria itu sebuah ketidaksabaran yang berhasil ia redam dengan cepat. Dika lalu menghela napas panjang, memasang ekspresi wajah paling lembut dan pengertian yang ia miliki, lalu berjalan mendekat untuk meraih kedua tangan Nesa.

​"Hei... dengar dulu, Sayang," bujuk Dika dengan suara baritonnya yang menenangkan, mengusap punggung tangan Nesa yang terasa dingin. "Masalah teknis di gudang itu baru dilaporkan oleh kepala pengawas subuh tadi melalui pesan darurat. Aku sengaja tidak mau membangunkanmu semalam atau merusak waktu istirahatmu karena aku tahu kamu lagi hamil muda dan gampang stres memikirkan pekerjaan kantor."

​Dika menatap Nesa dengan tatapan teduh yang penuh kepalsuan tatapan yang selama bertahun-tahun selalu berhasil meluluhkan segala pertahanan hati Nesa.

​"Aku melakukan ini semua demi kebaikan kita, Nes. Agar kamu bisa fokus mengurus peluncuran Glow Series di kantor pusat, sementara urusan lapangan yang kotor dan rumit di luar kota biar aku yang bereskan," lanjut Dika meyakinkan.

​Nesa terdiam. Ia menatap wajah suaminya dari jarak dekat. Penjelasan itu terdengar masuk akal di permukaan, dan jika ini terjadi pada bulan-bulan biasa, Nesa pasti akan langsung mengangguk patuh dan melepas kepergian suaminya dengan senyuman. Namun, di tengah situasi pelik di mana rahasia perusahaan terbongkar, agensi iklan terseret, dan kecurigaan terhadap orang terdekat mulai meracuni pikirannya, kepergian mendadak Dika terasa seperti sebuah upaya pelarian diri.

​Atau... sebuah perjalanan rahasia yang berkaitan dengan produk tiruan itu?

​Pikiran liar itu mendadak menghantam kepala Nesa, membuat dadanya terasa sesak seketika. "Apakah kepergian Dika ke luar kota ini benar-benar untuk urusan pabrik, ataukah ada hubungannya dengan pihak di balik layar yang memproduksi Glow Series palsu?."

​"Kamu akan pergi berapa lama, Mas?" tanya Nesa lirih, menyembunyikan getaran di suaranya.

​"Hanya tiga hari, Sayang. Paling lambat hari Kamis aku sudah balik ke rumah," jawab Dika mantap, lalu mengecup singkat puncak kepala Nesa. "Sekarang, yuk kita turun sarapan dulu sebelum aku harus langsung ke bandara. Sopir sudah menunggu di bawah."

​Nesa membiarkan dirinya dituntun keluar dari walk-in closet menuju ruang makan. Namun, di sepanjang perjalanan menuruni tangga, senyuman tipis Dika yang tampak begitu sempurna di mata orang lain justru kini terasa seperti topeng tipis yang sewaktu-waktu siap robek.

​Di dalam hatinya, Nesa mengambil sebuah keputusan diam-diam. Jika Dika benar-benar pergi ke luar kota hari ini, maka ia akan memanfaatkan waktu tersebut bersama Bila, Miya, dan Kara untuk menyelidiki ke mana sebenarnya arah tujuan perjalanan suaminya dan apa yang coba disembunyikan oleh pria yang paling ia cintai di balik koper hitam itu.

​

1
fatmiatun sahono
sy komen ya....pdhal di upload aja itu surat ancaman di media gosip seperti PD saat wkt makan siang rame gosip nya. nah surta ancaman itu akan rame klo di upload dg narasi ancaman pertama seru ne....
fatmiatun sahono
maaf emang sdh cerai ya Dika sama Nisa...apa sy ada yg kelewat ya...baca nya..
Mundri Astuti
kebiasaan dimanja si Sasa ...tapi dimana" mang Sasa cuma buat pelengkap bumbu 🤭
stela aza
bukan anak kandungnya x itu s nesa masa dr kecil sampai dewasa masih di beda bedakan 🤦
Sya Haron
Di bab 19 syasya dan dika sudah dijatuhi hukuman. Bila waktunya syasya dilepaskan?
blcak areng: Hay kak terima kasih ya revisi dari Kamu nya🙏🙏🙏.. maaf ya aku sedikit sibuk di dunia rl jadi beberapa kali mlh bikin kesalah 🙏🙏
total 1 replies
Agunk Setyawan
othornya lagi ngantuk kali ya🤣🤣🙏
blcak areng: udah di revisi ya kak
total 1 replies
Zhafran Althaf
waittt bentar bentar bukannya Dika udah di penjara yaaaa kok ini muncul lagi
Dewi Rahmawati
bagus ceritanya up terus kk 💪
Mundri Astuti
obatnya nesa nich
stela aza
kelamaan bertindak
Zhafran Althaf
aku hadierrrr kakak
Zhafran Althaf: kak
karyamu yang tamu di atap orang tuaku kamu hapus ta kak kok aku cari ga ada
total 2 replies
Zhafran Althaf
hallo Kaka aku hadirrrr😍
blcak areng: yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee mksh Kakak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!