NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer: My Hubby

My Annoying Lecturer: My Hubby

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: syshy

Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAL19. Salah Sasaran

“Mas, kalau nantinya aku benar-benar suka sama Kak Arga, gimana?”

Ravi menoleh tajam. “Apa maksudmu?”

Qiera mengedikkan bahunya, "Ya.. Siapa yang tahu kedepannya akan gimana kan, Mas. Lagi pula pernikahan kita itu atas dasar perjodohan Kakek. Siapa yang tahu juga kalau di masa depan Mas bertemu wanita yang bisa buat Mas jatuh cinta? Begitu juga aku?"

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Ravi. Pernyataan Qiera membuat suasana di apartemen mereka mendadak berubah.

Melihat wajah dingin Ravi membuat Qiera langsung tertawa. “Ya ampun, Mas! Aku cuma bercanda!”

“Jangan bercanda tentang hal seperti itu,” jawab Ravi pada akhirnya.

Nada suara Ravi tidak lagi terdengar santai. Qiera yang semula tertawa perlahan berhenti, menatap wajah suaminya dengan sedikit kebingungan. Ia tidak menyangka candaan sederhana itu akan membuat Ravi bereaksi sedemikian serius.

“Mas marah?”

“Tidak.”

“Terus kenapa?”

Ravi mengalihkan pandangan. “Karena itu bukan bahan bercandaan yang lucu.”

Qiera terdiam. Untuk sesaat, ia merasa telah melewati batas. Ia memang senang menggoda Ravi, terutama ketika pria itu berusaha menyembunyikan sesuatu di balik wajah tenangnya. Namun, ia tidak ingin membuat suaminya benar-benar marah.

Meskipun di lain sisi, ada maksud lain dari pertanyaannya tadi. Ia cukup bingung dengan hubungan mereka. Ia memang telah sah menjadi istri Ravi, namun perlu diingat bahwa itu merupakan pernikahan hasil perjodohan. Bukan atas kehendak Ravi, bukan juga Qiera.

Lalu kedepannya mau dibawa ke mana hubungan ini? Apakah saat Mas Ravi telah menemukan wanita yang ia cintai, saat itulah akhir dari pernikahan ini?

“Maaf, Mas,” katanya lebih pelan. “Aku tidak bermaksud membuat Mas kesal.”

Ravi menatapnya kembali. Melihat perubahan ekspresi Qiera, ia menyadari bahwa dirinya mungkin terlalu terbawa perasaan. Ia tidak ingin perempuan itu merasa bersalah atas sesuatu yang bahkan tidak berani ia akui sendiri.

“Saya tidak marah, Lily.”

“Tapi Mas kelihatan marah.”

“Saya hanya tidak suka candaan itu.”

Qiera mengangguk perlahan. “Baiklah. Aku tidak akan mengulanginya.”

Mereka terdiam sejenak. Qiera hendak bangkit untuk kembali ke meja makan, tetapi Ravi tiba-tiba memanggilnya lagi.

“Lily.”

“Ya?”

“Duduk sebentar.”

Qiera menurut, kembali duduk di sampingnya. Jarak mereka tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat Ravi menyadari bahwa ia bisa melihat jelas ekspresi perempuan itu ketika sedang bingung.

“Ada apa, Mas?”

Ravi sebenarnya tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak menyukai bayangan Qiera bersama laki-laki lain. Bahwa ia ingin menjadi orang yang paling dicari perempuan itu ketika membutuhkan bantuan, dan bahwa mendengar nama Arga terlalu sering disebut membuatnya terusik dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Namun, semua kalimat itu terasa terlalu jujur. Jadi, ia memilih jawaban yang ia rasa paling aman.

“Besok, setelah rapat selesai, langsung kabari saya.”

Qiera mengerjap. “Itu saja?”

“Ya.”

“Mas mau menjemputku?”

“Kalau kamu membutuhkan jemputan.”

Qiera tersenyum kecil. “Kalau aku tidak membutuhkan?”

“Saya tidak akan memaksa.”

“Kalau Kak Arga menawarkan untuk mengantarku?”

Ravi menatapnya lagi.

Qiera langsung menutup mulut, menahan tawa yang hampir lolos. “Maaf! Maaf! Aku tidak akan membahas Kak Arga lagi.”

Ravi menggeleng, tetapi kali ini ada senyum tipis di bibirnya. “Kamu memang suka sekali menguji kesabaran saya.”

“Karena Mas gampang digoda.”

“Saya tidak gampang digoda.”

“Kalau begitu, buktikan!” ucap Qiera dengan nada menantang.

Ravi mengangkat alis. “Bagaimana caranya?”

Qiera berpikir sebentar, kemudian mendekat sedikit dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Tatap aku, lalu bilang kalau Mas sama sekali tidak cemburu.”

Ravi menatapnya tanpa berkedip. “Saya tidak cemburu,” katanya tegas.

Qiera menunggu.

Ravi tetap menatapnya.

Beberapa detik berlalu sebelum Qiera tersenyum lebar. “Wah, hebat. Tapi kenapa tangan Mas mengepal?”

Ravi segera menyadari bahwa tangannya memang menggenggam ujung celana. Ia melepaskannya, lalu menatap Qiera dengan ekspresi yang membuat perempuan itu kembali tertawa.

“Sudah, sana kerjakan tugasmu.”

“Baik, Mas. Aku pergi.”

Qiera bangkit sambil membawa ponselnya, tetapi sebelum ia sempat melangkah menjauh, Ravi tiba-tiba meraih tangannya.

Perempuan itu berhenti dan menoleh dengan wajah terkejut.

“Mas?”

Ravi sendiri tampak sedikit terkejut oleh tindakannya. Ia tidak merencanakan apa pun. Ia hanya tidak ingin Qiera pergi sambil membawa senyum jahil itu, tidak setelah perempuan tersebut menghabiskan beberapa menit terakhir membuatnya merasa seolah ia sedang mengikuti sidang yang tidak mungkin dimenangkannya.

“Sebentar,” ucapnya cukup lirih.

Qiera kembali duduk, kali ini dengan ekspresi jauh lebih penasaran. “Kenapa?”

Ravi memandang wajahnya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak satu pun terasa cukup tepat. Ia tahu Qiera sedang menunggu jawaban, bahkan mungkin sudah menyiapkan pertanyaan baru untuk menggodanya.

Dan entah bagaimana, pikiran itu justru membuatnya mengambil keputusan yang sama sekali tidak diduga oleh perempuan di sampingnya yang merupakan istrinya itu.

Ravi mendekat, lalu hendak mengecup pipi Qiera sekilas.

Ya, sebelum gadis itu malah secara reflek menoleh saat merasakan Ravi yang mendekat.

Cup

Bahkan Ravi terkejut. Disaat ia hendak mencium sedikit pipi Qiera, kenapa gadis itu malah menoleh dan membuatnya salah sasaran?

Bukan pipi, melainkan bibir lembut gadis yang merupakan istri sahnya itu!

Hanya sebentar. Bahkan mungkin hanya sepersekian detik.

Namun, cukup untuk membuat seluruh kata yang sudah disiapkan Qiera menghilang begitu saja.

Ravi sendiri membeku sesaat setelah melakukannya. Ia baru menyadari apa yang telah ia perbuat ketika melihat mata Qiera membesar dan wajah perempuan itu perlahan berubah merah.

Tidak ada suara di antara mereka selama beberapa detik kecuali detak jarum jam yang berputar.

Qiera mengangkat tangan, menyentuh bibirnya sendiri seolah ingin memastikan bahwa kejadian barusan benar-benar terjadi. Kemudian ia menoleh cepat ke arah Ravi, yang kini berusaha kembali memasang ekspresi tenang meskipun telinganya mulai memerah.

“Mas...” Suara Qiera terdengar jauh lebih pelan daripada sebelumnya. “Tadi.. Mas.. mencium aku?” ucapnya terbata-bata, masih mencerna apa yang baru saja terjadi.

Ravi berdeham. “Tadinya saya cuma mencium pipi kamu.”

“Aku tahu bagian mana yang Mas cium! Dan jelas-jelas bukan pipi aku!”

“Salahmu, karena kamu tiba-tiba menoleh.”

Qiera ingin menelan Ravi hidup-hidup. Bahkan disaat seperti ini, setelah apa yang baru saja ia lakukan kepadanya, pria itu masih bisa beralasan dan menjawab dengan begitu tenang. Saat Qiera sendiri bahkan ingin masuk ke dalam inti bumi.

“Karena Mas tiba-tiba melakukannya!”

Ravi mengalihkan pandangan, mengambil bukunya yang sejak tadi terabaikan, lalu membukanya pada halaman yang bahkan tidak ia baca.

Qiera masih menatapnya dengan pipi memerah. “Mas, kenapa?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa Mas mencium aku?”

Ravi membalik halaman bukunya. “Tidak ada alasan khusus.”

Qiera ternganga. “Tidak ada alasan khusus?”

“Ya.”

“Jadi, Mas menciumku begitu saja?”

Ravi mengangguk seolah itu hal paling biasa di dunia. “Memangnya tidak boleh?”

Pertanyaan itu membuat Qiera kehilangan kata-kata. Ia tidak pernah membayangkan Ravi akan balik bertanya dengan begitu tenang setelah membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Perempuan itu menatap suaminya, mencoba mencari tanda bahwa Ravi sedang bercanda, tetapi pria itu tetap sibuk dengan bukunya.

Akhirnya, Qiera menyipitkan mata setelah berulang kali mengatur detak dan napasnya yang tidak beraturan itu. “Mas.”

“Ya?”

“Mas masih mau bilang kalau Mas tidak cemburu?”

Ravi berhenti membalik halaman. Kali ini, ia tidak langsung menjawab.

Qiera menahan napas, menunggu. Senyum jahil yang tadi memenuhi wajahnya perlahan menghilang, digantikan rasa ingin tahu yang jauh lebih besar. Ia baru menyadari bahwa kecupan singkat tadi mungkin bukan sekadar cara Ravi membalas godaannya.

Ravi menutup buku di tangannya, kemudian menoleh tepat ke arah Qiera.

“Saya tidak cemburu, Lily.”

“Lalu kenapa Mas mencium aku setelah kita membicarakan Kak Arga?”

Ravi terdiam.

Untuk pertama kalinya, Qiera melihat suaminya benar-benar kehabisan jawaban.

Namun, sebelum ia sempat mengajukan pertanyaan berikutnya, Ravi justru meraih tangannya sekali lagi. Tatapannya tidak lagi bercanda, dan genggamannya terasa lebih mantap daripada sebelumnya.

“Qiera, ada sesuatu yang perlu kamu tahu tentang saya dan—”

Kalimat itu terputus ketika ponsel Qiera yang tergeletak di meja tiba-tiba berdering.

Nama yang muncul di layar membuat keduanya menoleh.

Arga

.

.

To be continued

See you🍀

1
Renjana
next next next😊
Renjana
hai... nama pena kita sama
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊
renjana biru: terimakasi udh mampir kk
total 2 replies
Tinta Putih
semangat kakak✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!