NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 (KASUS 1) BENTROKAN FISIK DAN GAIB

BRAMMM!

Pintu kayu jati berukir Batara Kala itu hancur berkeping-keping. Kayu tebal pelindung pendopo utama pecah berantakan di bawah dorongan pemukul baja tim Jatanras.

Asap tebal beraroma kembang kantil, dupa belerang, dan uap es yang menyengat langsung membumbung keluar dari balik bukaan pintu.

Di dalam ruangan pendopo yang temaram dan berukuran amat luas itu, pendaran puluhan lilin hitam menerangi sebuah altar berbahan batu marmer hitam di sudut tengah.

Di balik meja altar tersebut, berdiri Ki Suroto.

Pria bertubuh tinggi besar itu mengenakan kemeja hitam terbuka dengan selendang batik tulis kuno yang melilit di dadanya. Sepasang matanya merah membelalak, memancarkan kebencian yang teramat pekat.

Di sekeliling Ki Suroto, empat orang pengawal intinya berdiri siaga. Tidak hanya membawa senjata tajam, dua di antara pengawal tersebut menggenggam senjata api rakitan jenis pistol revolver dan FN otomatis!

"Peringatan terakhir! Kepolisian Republik Indonesia!" seru Ipda Harumi dengan suara nyaring yang menggelegar dari balik pilar depan, pistol Glock sembilan milimeter berada dalam genggaman dua tangannya. "Ki Suroto! Letakkan senjata kalian dan menyerah sekarang juga!"

Ki Suroto menyunggingkan senyuman culas yang penuh keangkuhan. Dari bibirnya yang menghitam, terdengar tawa pelan yang bergema tidak alami.

"Hahaha! Polwan tidak tahu diri!" jerit Ki Suroto dengan nada serak yang menggetarkan dada. "Kamu pikir lencana besi dan pistol kecilmu itu bisa menundukkan kekuatan agung milik Sekte THE ONE?! Bunuh mereka semua! Jangan biarkan ada satu pun polisi yang keluar dari padepokan ini dalam keadaan bernapas!"

"BUNUH!"

DOR! DOR! DOR!

Tanpa peringatan, dua pengawal Ki Suroto langsung memuntahkan tembakan senjata api mereka ke arah pintu masuk! Kilatan api menyambar kegelapan ruangan, menyemburkan timah panas yang menghantam bingkai pintu dan pilar kayu jati.

Brak! Klotak!

"Merunduk! Cari perlindungan!" seru Harumi memberi komando taktis.

Ipda Harumi bersama Aipda Rudi dan empat anggota tim taktis melompat lincah ke balik pilar-pilar jati berukuran besar yang menopang atap pendopo.

Suara letusan senjata api bergema pekat di dalam ruangan tertutup, menciptakan huru-hara baku tembak yang teramat sangat sengit.

DOR! DOR! DOR!

"Aipda Rudi! Balas tembakan di sektor kanan!" perintah Harumi dari balik pilar, suaranya jernih di tengah desing peluru.

"Siap, Bu Kanit!" sahut Rudi seraya memiringkan tubuhnya dan memuntahkan tiga tembakan terukur dari senapan serbu taktisnya.

DOR! DOR! DOR!

Aaarrghhh!

Salah seorang pengawal bersenjata api di sudut kanan tersungkur ke lantai, bahunya tertembak peluru presisi milik Rudi.

Melihat salah satu anak buahnya roboh, Ki Suroto meraung murka. Pria itu merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, merapal bait-bait mantra sihir kuno pencuri usia dengan kecepatan tinggi.

Wussssshhh!

Seketika itu juga, hawa es yang teramat membekukan meledak dari meja altar!

Gumpalan kabut asap hitam pekat berbentuk puluhan tombak gaib meluncur deras dari udara kosong, terbang menerjang ke arah posisi perlindungan tim kepolisian!

"Awas! Serangan sihir dari arah altar!" seru Harumi.

Mata Batin Murni milik Ipda Harumi menyala tajam.

Di dalam penglihatan batinnya, Harumi melihat benang-benang energi hitam yang dipancarkan oleh Ki Suroto terhubung langsung ke sebuah cincin batu akik hitam berukir simbol geometris yang melingkar di jari manis tangan kanan pria itu.

Cincin itulah yang menjadi pemancar utama gelombang sihir dan benteng gaib yang melindunginya!

Harumi menekan tombol HT di bahunya seraya mengisi ulang magazin pistolnya dengan gerakan kilat.

"Bravo Udara! Bravo Udara! Ini Alfa Satu!" panggil Harumi cepat. "Target menggunakan cincin akik hitam di tangan kanan sebagai pemancar energi! Mohon panduan koordinat cahaya sorot ke arah meja altar!"

Di atas langit perbukitan, helikopter Dokpol Bhayangkara menderu halus.

Dari balik penerbangan, dr. Haruma yang mengenakan helm penerbang menatap pergerakan di dalam pendopo lewat layar pemantau termal khusus.

"Alfa Satu, ini Bravo Udara!" sahut Haruma tegas dari balik HT. "Lampu sorot helikopter sudah dikunci pada posisi altar! Hati-hati, Rumi! Gelombang sihir itu mencoba memutus suplai oksigen di dalam pendopo!"

"Diterima, Bravo Udara!"

Wussshhh!

Lampu sorot berdaya tinggi dari perut helikopter menerobos masuk melewati atap kaca pendopo yang terbuka, menyiram meja altar Ki Suroto dengan pendaran cahaya putih yang terang menyilaukan meski pun dalam keadaan siang menuju sore hari.

Pendaran cahaya sorot dari atas membuat fokus mantra Ki Suroto buyar sejenak. Kabut hitam yang meluncur ke arah pasukan polisi terpecah di udara.

"Sekarang! Tim Taktis, maju serang!" perintah Harumi.

DOR! DOR! DOR!

Baku tembak kembali Meletus hebat!

Tim Jatanras bergerak maju mengapit meja altar dari sisi kiri dan kanan. Harumi keluar dari balik pilar, berlari lincah menyeberangi ruangan dengan kecepatan yang luar biasa.

Dua orang pengawal bersenjata tajam melompat menghadang langkah Harumi seraya mengayunkan pedang panjang mereka secara membabi buta.

"Mati kamu, Polwan!" jerit pengawal itu.

Harumi tidak sedikit pun gentar. Dengan ketangkasan beladiri pencak silat yang teramat presisi, Harumi menundukkan tubuhnya menghindari tebasan pedang, menangkap lengan lawan, lalu melancarkan bantingan hip-throw yang membenturkan tubuh pengawal itu keras-keras ke atas lantai keramik!

GEDUK!

"Aghhh!"

Belum sempat pengawal kedua mengayunkan senjatanya, Harumi memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan memutar yang menghantam tepat di rahang lawan hingga pingsan seketika!

Kini, satu-satunya yang tersisa di dalam pendopo utama adalah Ki Suroto sendiri.

Ki Suroto yang terdesak hebat mengangkat pistol revolver di tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang berhiaskan cincin hitam diangkat tinggi-tinggi ke udara, mencoba memancarkan ledakan sihir terakhir untuk membumihanguskan seluruh isi ruangan.

"Pergi ke neraka, Polwan!" jerit Ki Suroto histeris, jemarinya siap menarik pelatuk senjata dan menyelesaikan mantranya.

Namun, Ipda Harumi bergerak lebih cepat.

Dengan pandangan Mata Batin yang mengunci titik simpul energi pada cincin hitam tersebut, Harumi mengangkat pistol Glock sembilan milimeter di tangannya. Matanya memfokuskan sasaran dalam sepersekian detik.

DOR! DOR!

Dua tembakan presisi tingkat tinggi meluncur dari moncong pistol Harumi!

Plaak!

Peluru pertama menghantam tepat di pergelangan tangan kanan Ki Suroto, menghancurkan cincin batu akik hitam pemancar sihir itu menjadi serpihan debu!

Sementara peluru kedua menembus lengan kiri yang memegang pistol revolver, membuat senjata api itu terlempar bebas ke udara!

"AAAAARRRGHHHH!" jerit Ki Suroto melengking histeris.

Sihir pencuri usia yang sedang dirapalnya mendadak berbalik menghantam dirinya sendiri (backfire).

Gelombang energi hitam yang terputus dari pemancarnya meledak di dada Ki Suroto, membuat pria bertubuh besar itu muntah darah dan jatuh tersungkur di depan meja altarnya.

Pendaran asap hitam di dalam pendopo seketika sirna total.

Suhu udara yang tadinya membeku perlahan-lahan kembali normal.

Aipda Rudi dan seluruh anggota tim taktis segera merangsek maju, menodongkan senjata api mereka ke arah Ki Suroto yang terkapar tak berdaya di lantai.

"Jangan bergerak! Tetap di lantai!" seru Rudi tegas.

Harumi melangkah mendekati Ki Suroto, melangkah anggun di tengah kepulan sisa asap peluru. Ia membungkuk, menarik lengan Ki Suroto ke belakang, lalu memasangkan borgol besi di kedua pergelangan tangan sang perantara sihir dengan satu tekanan keras.

KLAK!

Tepat 30 menit setelah bentrokan fisik dan gaib yang teramat sengit itu meletus, seluruh area padepokan Sirah Lazuardi berhasil dikuasai sepenuhnya oleh kepolisian!

Harumi merapikan posisi pistol dinasnya kembali ke dalam holster, lalu menatap Ki Suroto yang merintih kesakitan di atas lantai.

"Ki Suroto... Anda kami tangkap atas dugaan tindak pidana pembunuhan berencana, kepemilikan senjata api ilegal, dan keterlibatan dalam jaringan kejahatan terorganisir!" pangkas Harumi dengan intonasi suara dingin, tegas, dan tak terbantahkan.

Ki Suroto mendongakkan kepalanya yang bersimbah darah, menatap Harumi dengan pandangan mata yang dipenuhi ketakutan luar biasa. "K-kamu... kamu tidak akan pernah bisa menang melawan mereka... Keluarga Taipan akan menghancurkanmu...!"

"Hukum tidak akan pernah tunduk pada uang atau sihir hitammu!" balas Harumi menatapnya lurus.

Harumi menekan tombol HT di bahunya kembali. "Bravo Udara, ini Alfa Satu. Situasi di dalam pendopo utama terkendali penuh. Target utama Ki Suroto dan tiga pengawal yang tersisa sudah berhasil ditangkap dan diamankan."

Dari balik HT, suara dr. Haruma terdengar bernapas lega dan dipenuhi rasa gembira yang luar biasa.

"Alhamdulillah... Ya Allah! Kerja yang sangat luar biasa, Alfa Satu!" puji Haruma hangat. "Helikopter Dokpol akan segera mendarat di area pemprosesan timur untuk memeriksa kondisi fisik seluruh personel."

"Siap, Bravo Udara! Ditunggu di bawah, Kak!" sahut Harumi tersenyum manis.

10 menit kemudian, helikopter Dokpol Bhayangkara mendarat sempurna di atas tanah lapang di pekarangan luar padepokan. Baling-baling helikopter melambat perlahan.

dr. Haruma melangkah keluar dari kabin helikopter dengan membawa dua tas perlengkapan medis darurat. Dokter forensik anggun itu berlari kecil mendekati pendopo utama.

Begitu melihat keberadaan adiknya yang sedang berdiri merapikan rompi antipelurunya, Haruma langsung mempercepat langkahnya dan memeluk Harumi dengan hangat.

"Rumi! Kamu nggak apa-apa kan, Dek?! Ada yang tertembak atau terluka?!" tanya Haruma cemas, memeriksa bahu dan lengan adiknya.

Harumi tertawa renyah, membalas pelukan kakaknya dengan rasa kasih sayang yang melimpah. "Aduh, Kak Haruma... Rumi aman seratus persen! Nggak ada lecet sedikit pun. Berkat panduan titik simpul energi dari Kakak tadi, Rumi bisa melumpuhkan Ki Suroto tepat waktu."

Haruma tersenyum lega, mengusap pipi adiknya dengan tulus. "Alhamdulillah... Kakak bangga banget sama keberanianmu, Dek."

"Sama-sama, Kakakku yang paling jenius," balas Harumi gembira. "Oiya, tim medis Dokpol tolong periksa luka tembak dua pengawal di dalam sama luka pergelangan tangan Ki Suroto ya. Jangan sampai mereka mati sebelum kita interogasi di kantor."

"Siap, Dek. Biar Kakak dan tim perawat yang tangani penanganan pertamanya," jawab Haruma profesional.

Aipda Rudi bersama anggota Jatanras menuntun Ki Suroto dan tiga pengawalnya yang dalam kondisi terborgol rapat keluar dari dalam pendopo.

Wajah sang perantara sihir yang semula begitu angkuh kini tampak sangat pucat dan tidak berdaya saat digiring menuju mobil tahanan taktis yang sudah bersiaga di pekarangan depan.

"Bu Kanit!" panggil Rudi melapor. "Seluruh barang bukti berupa dua pucuk senjata api rakitan, dokumen manifes tamu, cincin akik hitam yang hancur, serta buku catatan transaksi pelanggan milik Ki Suroto sudah berhasil diamankan oleh tim identifikasi!"

"Luar biasa, Rudi!" puji Harumi mantap. "Pastikan seluruh barang bukti itu dikawal ketat sampai ke markas Polres!"

"Siap, Bu Kanit! Laksanakan!"

Sinar matahari sore mulai meredup di atas hamparan Perkebunan Teh Sirah Lazuardi, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang menyejukkan.

Ki Suroto dan para anak buahnya dimasukkan ke dalam mobil tahanan berjeruji besi di bawah pengawalan ketat konvoi kendaraan kepolisian.

Haruma dan Harumi berdiri berdampingan di halaman padepokan, menatap iring-iringan mobil tahanan yang mulai bergerak meninggalkan lokasi menuju markas Polres.

Sang Perantara Sihir telah berhasil ditangkap hidup-hidup.

Benteng pertahanan pertama milik sekte iblis "THE ONE" telah runtuh sepenuhnya oleh kombinasi ketegasan hukum, keahlian forensik, dan keteguhan batin dua bersaudara tersebut.

Dan di markas kepolisian nanti, pintu pembuka menuju identitas Sang Mastermind utama—Keluarga Taipan—siap untuk dibongkar secara utuh di ruang interogasi.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!