Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Menyesal
Arhan berdiri di depan rumah yang cukup mewah, ia menatap bangunan milik mertuanya itu. Setelah semalaman ia menunggu balasan dari Nadira, tetapi wanita itu seolah enggan untuk menjawabnya. Kali ini, ia akan menemui istrinya di rumah mertuanya.
Seorang satpam paruh baya segera menghentikan langkahnya yang ingin masuk ke dalam rumah itu.
"Maaf, anda siapa? Kami tidak bisa membiarkan orang asing untuk masuk kerumah ini," ujar satpam itu.
Arhan menghentikan langkahnya. Ia menatap satpam paruh baya yang berdiri di hadapannya, kemudian mengembuskan napas panjang untuk meredakan kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya. Ia tahu kedatangannya yang tiba-tiba mungkin membuat petugas keamanan itu merasa curiga, terlebih dirinya belum pernah sekalipun datang ke rumah tersebut seorang diri.
"Saya Arhan, suami Nadira. Nadira ada di dalam, Pak?" tanyanya, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap terdengar tenang.
Satpam itu mengernyitkan dahi. Ia mengamati penampilan Arhan dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang memastikan apakah pria di hadapannya benar-benar seseorang yang berhak menemui penghuni rumah tersebut.
"Maaf, Pak. Apakah Bapak sudah membuat janji sebelumnya dengan Nona Nadira?"
Arhan terdiam sesaat. Pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia bahkan tidak tahu apakah Nadira masih bersedia menganggapnya sebagai suami setelah surat yang ditinggalkan perempuan itu di atas meja apartemen mereka.
"Belum, Pak. Saya baru datang pagi ini. Tolong sampaikan kepada Nadira kalau saya ingin bertemu dengannya. Saya suaminya, dan ada sesuatu yang harus kami bicarakan."
Satpam itu tampak ragu. Ia melirik ke arah pintu utama rumah yang tertutup rapat, kemudian kembali menatap Arhan.
"Kalau begitu, silakan tunggu sebentar di sini, Pak. Saya akan menanyakan terlebih dahulu kepada orang di dalam."
Arhan mengangguk. "Baik, Pak. Saya tunggu."
Petugas keamanan itu segera berbalik dan berjalan menuju posnya. Sementara itu, Arhan tetap berdiri di dekat gerbang dengan kedua tangan yang sesekali mengepal. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Nadira pasti akan bersedia menemuinya.
Bagaimanapun, mereka telah hidup bersama selama bertahun-tahun. Mereka bukan dua orang asing yang baru saja bertemu dan bisa dengan mudah melupakan segala sesuatu yang pernah dibangun bersama.
Ada Naya di antara mereka. Ada kenangan tentang rumah tangga yang selama ini mereka perjuangkan. Ada begitu banyak hal yang seharusnya masih bisa mereka bicarakan sebelum Nadira benar-benar memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka.
Namun, semakin lama Arhan memikirkan surat itu, semakin besar pula ketakutan yang muncul di dalam hatinya. Selang beberapa menit satpam itu segera kembali menghampiri Arhan yang masih setia menunggu.
"Maaf tuan, nona Nadira tidak mau bertemu dengan anda. Lebih baik tuan pulang saja," ujarnya.
Arhan yang mendengar itu tampak terkejut, ia segera memaksa satpam itu untuk bisa bertemu Nadira. Namun, satpam itu terus menahan tubuh Arhan.
"Saya mohon, turuti permintaan nona Nadira. Lebih baik tuan kembali kerumah," jelasnya.
Arhan menatap satpam itu dengan wajah tidak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka Nadira akan menolak menemuinya, terlebih setelah dirinya datang jauh-jauh ke rumah tersebut hanya untuk berbicara dengan sang istri.
"Pak, tolong jangan seperti ini. Saya hanya ingin bertemu dengan istri saya. Saya tidak akan melakukan apa-apa, saya cuma ingin berbicara dengannya," ujar Arhan, berusaha menahan kegelisahan yang semakin sulit dikendalikan.
Satpam itu menggeleng pelan. Ia tetap berdiri di hadapan Arhan, menghalangi pria tersebut agar tidak menerobos masuk ke dalam rumah.
"Maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah. Nona Nadira sudah mengatakan bahwa beliau tidak ingin bertemu dengan Tuan untuk saat ini."
"Untuk saat ini?" Arhan mengulangi perkataan itu. Ia berusaha mencari sedikit harapan dari kalimat yang baru saja didengarnya. "Maksud Bapak, Nadira hanya belum mau bertemu dengan saya sekarang? Kalau begitu, saya akan menunggunya. Saya tidak keberatan menunggu sampai dia bersedia menemui saya."
"Tuan ...."
"Saya akan menunggu di sini, Pak. Tolong jangan usir saya." Arhan menatap satpam itu dengan mata memohon. "Saya suaminya. Saya tahu saya datang tanpa membuat janji, tetapi saya benar-benar perlu berbicara dengannya. Ada masalah rumah tangga yang harus kami selesaikan."
Satpam itu terdiam sejenak. Ia tampak merasa tidak enak melihat Arhan yang begitu bersikeras ingin bertemu dengan Nadira. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan perintah yang sudah diberikan oleh penghuni rumah.
"Maaf, Tuan. Saya mengerti maksud Tuan, tetapi saya tidak bisa membiarkan Tuan masuk kalau Nona Nadira sendiri tidak mengizinkannya."
Arhan mengembuskan napas kasar. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, berusaha mengendalikan emosi yang mulai bercampur dengan rasa putus asa.
Bagaimana mungkin Nadira menolak bertemu dengannya? Apakah perempuan itu benar-benar sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi?
Pikiran tersebut membuat dadanya terasa semakin sesak. Semalam, ia masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa Nadira mungkin hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Ia berharap setelah emosinya mereda, istrinya itu akan bersedia mengangkat telepon atau setidaknya membalas pesan yang dikirimkannya.
Namun, sampai pagi menjelang siang, tidak ada satu pun balasan yang diterimanya.
Sekarang, ketika ia datang langsung untuk menemui Nadira, perempuan itu bahkan tidak bersedia memberinya kesempatan untuk masuk ke dalam rumah.
"Pak, kalau begitu, tolong panggilkan Naya. Saya hanya ingin bertemu anak saya sebentar."
Satpam itu kembali menggeleng. "Maaf, Tuan. Saya tidak bisa melakukannya tanpa izin dari keluarga."
Arhan terdiam. Bahkan untuk bertemu dengan anaknya sendiri, ia harus meminta izin terlebih dahulu.
Padahal, selama ini, Naya selalu menjadi bagian terpenting dalam kehidupannya. Sesibuk apa pun dirinya, ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk putri kecilnya itu. Setidaknya, itulah yang selama ini ia yakini.
Namun, kini ia bahkan tidak tahu apakah Naya sedang menunggunya atau justru bertanya-tanya mengapa papanya tidak datang menjemputnya.
"Pak, saya mohon ...." Suara Arhan mulai terdengar serak. "Saya belum bertemu Naya sejak semalam. Saya bahkan tidak tahu bagaimana keadaan anak saya sekarang. Tolong, izinkan saya bertemu dengannya sebentar saja."
Satpam itu menatap Arhan dengan ekspresi iba, tetapi ia tetap tidak mengubah pendiriannya.
"Saya mengerti, Tuan. Namun, kalau Nona Nadira memang belum bersedia, saya tidak bisa memaksakan kehendak beliau. Tolong pahami posisi saya."
Arhan mengepalkan tangannya. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa dirinya tetap memiliki hak untuk bertemu dengan anaknya. Namun, ketika hendak membuka mulut, ia justru teringat surat yang ditemukan di atas meja apartemennya semalam.
" Jika kamu lebih memilih orang tuamu dibanding aku dan Naya, lebih baik kita cerai saja, Arhan." Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Arhan menunduk. Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam di depan gerbang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Nadira menatap sikap suaminya itu dari jendela rumahnya. Naya yang juga ikut melihat sikap ayahnya segera menarik ujung rok ibunya.
"Ma, kenapa papa kesini? Apa papa mau menemui Naya?"
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡