Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan di Perkampungan Awan
Langkah kaki Hera terasa semakin goyah saat ia terpaksa berjalan di belakang Sulung. Setelah menembus kabut tebal yang seolah tak berujung, pepohonan purba di depan mereka perlahan menipis, menyingkap sebuah pemandangan yang membuat Hera terbelalak.
Di atas sebuah pelataran batu raksasa yang dikelilingi jurang sedalam ribuan meter, berdiri puluhan gubuk eksotis dengan arsitektur kuno.
Rumah-rumah itu dibangun di atas pohon-pohon tertinggi, dihubungkan oleh jembatan gantung dari jalinan akar dan tali pembelit yang kokoh.
Inilah perkampungan Klan Atas Awan. Tempat yang seolah melayang di atas karpet kabut malam.
Kedatangan Sulung yang memimpin jalan langsung memicu kegaduhan. Beberapa penjaga klan yang memegang tombak tulang panjang segera bersiaga, namun mereka langsung menundukkan kepala begitu mengenali sang panglima.
Keheningan malam pecah ketika puluhan penduduk klan keluar dari gubuk mereka. Tatapan mereka tidak tertuju pada Sulung, melainkan langsung mengunci sosok Hera yang berjalan dengan pakaian gunung modern berlumur tanah.
"Siapa yang kau bawa, Sulung?!" sebuah suara berat, serak, dan penuh amarah menggelegar dari ujung jembatan utama.
Seorang pria tua bertubuh ringkih namun memancarkan wibawa yang pekat melangkah maju. Rambutnya putih panjang terurai, dan wajahnya dipenuhi rajutan tato kuno yang melambangkan api. Tangannya menggenggam sebatang tongkat kayu hitam berujung batu merah yang membara redup.
Dia adalah Tetua Bara.
Sulung menghentikan langkahnya tepat di depan jembatan. Wajahnya tetap datar sekeras batu karang. "Manusia dari dunia luar. Dia melintasi pembatas pita merah."
Mendengar kata 'manusia luar', bisik-bisik ketakutan langsung menjalar di antara penduduk klan yang berkerumun. Mereka menatap Hera seolah-olah wanita itu adalah pembawa wabah mematikan.
"Kau gila, Sulung?!" bentak Tetua Bara, tongkat kayunya dihantamkan ke lantai batu dengan keras. Dug! "Hukum adat kita sudah jelas sejak ratusan tahun lalu! Manusia luar hanya membawa sial, kehancuran, dan kutukan bagi Alas Purba! Mengapa tidak kau biarkan saja dia menjadi santapan mahluk malam, atau kau tebas kepalanya dengan Khanjar-mu?!"
Hera yang sejak tadi menahan rasa lelah dan kejengkelan, mendadak merasakan darahnya mendidih. Watak keras kepala seorang Grahansa langsung tersulut mendengar dirinya dibicarakan seolah-olah dia adalah seonggok sampah tak berharga.
"Dengar ya, Pak Tua!" potong Hera dengan suara melengking tegas, melangkah maju men sejajari posisi Sulung.
"Aku punya nama! Namaku Hera Grahansa! Dan aku bukan pembawa sial!"
Tetua Bara terkesiap melihat kelancangan wanita kota itu. Mata tuanya berkedip murka, menatap Hera dari ujung sepatu bot hingga ujung rambutnya yang acak-acakan. Beliau mendengus remeh dengan suara yang sangat menghina.
"Lihat mahkluk asing ini, Sulung! Pakaiannya aneh dan ketat seperti ular, tubuhnya lemah, dan ototnya lembek! Dia bahkan tidak akan bertahan hidup setengah hari di lantai hutan jika tanpa perlindunganmu!" Tetua Bara menunjuk wajah Hera dengan jarinya yang gemetar karena marah. "Dia hanyalah wanita manja yang tidak berguna! Tidak bisa berburu, tidak bisa bertarung, tidak bisa menenun! Mahkluk tidak berguna seperti ini hanya akan memakan pasokan makanan klan kita dan mengundang petaka!"
"Apa kau bilang?! Tidak berguna?!" Hera membalas dengan cepat, suaranya naik dua oktav tanpa ada rasa takut sedikit pun pada wibawa sang tetua. Dagunya terangkat tinggi, memancarkan keangkuhan akademisnya yang mutlak.
"Asal kau tahu ya, Pak Tua! Otakku ini jauh lebih berharga daripada nilai apa pun di dunia ini! Aku ini profesor termuda di kotaku! Aku bisa membaca struktur sel, menguraikan senyawa kimia tanaman, dan menciptakan penawar penyakit yang bahkan tidak bisa disembuhkan oleh mantra-mantra kunomu itu!"
Pertengkaran kecil itu langsung membuat suasana perkampungan menjadi sangat tegang. Para penjaga klan merapatkan pegangan pada tombak mereka, terkejut melihat ada manusia yang berani membantah Tetua Bara secara terang-terangan.
"Kelancangan macam apa ini?!" raung Tetua Bara, wajah tatonya memerah padam.
"Di Alas Purba, kata-kata kosong dan kepintaran kotamu itu tidak ada harganya! Di sini yang dihargai adalah kekuatan untuk bertahan hidup! Kau hanya seonggok daging rapuh yang tidak berguna!"
"Kepintaran kota?!" Hera tertawa sinis, matanya berkilat menantang. "Ilmu pengetahuan yang kau sebut kepintaran kota itu bisa menyelamatkan jutaan nyawa! Aku ke sini untuk meneliti Dream Flower demi menyembuhkan ibuku! Aku bukan mahluk lemah. Otakku adalah senjataku, dan itu jauh lebih mematikan daripada tombak tulang rongsokan yang dipegang oleh anak buahmu itu!"
"Cukup!"
Satu kata yang diucapkan dengan nada rendah dan pejal dari bibir Sulung mendadak memotong perdebatan sengit itu. Aura dingin yang keluar dari tubuh sang panglima seketika membekukan atmosfer di pelataran batu tersebut.
Baik Tetua Bara maupun Hera langsung terdiam, merasakan tekanan tak kasat mata yang menuntut kepatuhan.
Sulung mengalihkan pandangan matanya yang setajam elang, menatap lurus ke dalam manik mata Tetua Bara yang masih berapi-api. Tangan kanannya bergerak perlahan, bertumpu dengan mantap di atas gagang Khanjar purba yang terikat di pinggangnya.
"Alas Purba melindungi nya dan Akar pohon memberikannya padaku, Wanita ini berada di bawah perlindungan mutlakku, Tetua," ucap Sulung, setiap katanya terdengar sangat lambat namun sarat dengan ancaman yang mematikan.
"Siapa pun di klan ini yang berani menyentuhnya atau berniat mencelakainya, maka dia harus berurusan langsung dengan bilah Khanjar-ku."
Tetua Bara mengepalkan tangannya pada tongkat hitamnya hingga bergetar. Beliau tahu betul bahwa Sulung tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
Jika sang panglima tertinggi sudah mengeluarkan maklumat perlindungan, menentangnya sama saja dengan memicu perang saudara di dalam klan.
"Kau akan menyesali keputusanmu ini, Sulung," desis Tetua Bara dengan kebencian yang mendalam.
"Hutan ini akan membalas kelancangan manusia luar ini. Dan saat sial itu tiba, jangan bawa Khanjar-mu ke hadapanku untuk meminta ampunan!"
Dengan langkah kaki yang dihentakkan kasar, Tetua Bara membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan pelataran jembatan, diikuti oleh beberapa penduduk klan yang masih menatap Hera dengan pandangan penuh permusuhan.
Hera mengembuskan napas panjang, melipat tangannya di dada sambil mendengus kesal. Meskipun dia merasa menang dalam adu argumen, dia tahu posisinya di perkampungan ini sama sekali tidak aman. Dia menoleh ke arah Sulung yang masih berdiri membeku di sampingnya.
"Terima kasih atas perlindungannya, Tuan Sulung," gerutu Hera ketus, watak keras kepalanya tetap tidak mau kelihatan melunak. "Tapi aku tetap tidak terima dibilang wanita tidak berguna oleh kakek-kakek bertato itu."
Sulung tidak merespons ucapan Hera. Dia bahkan tidak menoleh untuk melihat wajah kesal wanita itu.
Pria misterius itu hanya melepaskan pegangannya dari gagang pedang, lalu kembali berjalan maju menembus jembatan gantung, memberikan isyarat dingin agar Hera tetap berjalan rapat di belakang punggung tegapnya jika masih ingin selamat.