Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Rumah untuk Berdua
Beberapa hari setelah pembicaraan kedua keluarga, Nic mulai mencari apartemen yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Ia tidak ingin membeli apartemen yang terlalu jauh dari pusat kota. Selain harus mempertimbangkan pekerjaannya di Alva Corp, ia juga ingin lokasi tersebut cukup dekat dengan kantor Dewantara Group.
Sesuai perkataannya kepada Jove beberapa hari lalu, ia ingin mencari tempat yang tidak akan membuat perjalanan Jove terlalu melelahkan.
Setelah melihat beberapa pilihan, Nic akhirnya menemukan dua unit apartemen yang menurutnya cukup sesuai.
Keduanya berada di kawasan yang sama.
Lokasinya strategis, fasilitas lengkap, keamanan terjamin, dan yang paling penting, jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor Dewantara Group maupun Alva Corp.
Nic kemudian menghubungi Jove.
Nic: Aku sudah menemukan dua apartemen.
Jove membaca pesan tersebut ketika sedang berada di ruang kerjanya.
Jove: Sudah?
Nic: Iya.
Beberapa detik kemudian, Nic mengirimkan dua foto.
Nic: Aku mau lihat langsung sore ini. Kalau kamu tidak sibuk, ikutlah denganku.
Jove melihat jadwal di meja kerjanya.
Masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi tidak ada rapat penting sore itu.
Jove: Jam berapa?
Nic: Setelah jam kerja.
Jove: Oke.
Percakapan selesai.
Tidak ada pembicaraan lain.
Sore harinya, Jove dan Nic bertemu di lobi gedung apartemen pertama.
Jove datang langsung dari kantor.
Pakaian kerjanya masih melekat rapi. Hanya blazer yang sudah dilepas dan Jove tinggalkan di mobilnya.
Nic sudah lebih dulu menunggu.
Begitu melihat Jove datang, ia hanya mengangguk.
“Sudah lama menunggu?” Tanya Jove.
“Lumayan.”
Mereka kemudian masuk ke dalam lift.
Tidak ada percakapan selama lift bergerak menuju lantai yang dituju.
Unit pertama cukup bagus.
Luas.
Modern.
Memiliki dua kamar tidur dan satu ruangan tambahan yang bisa digunakan sebagai ruang kerja.
Namun setelah melihat seluruh ruangan, Jove hanya berdiri di ruang tengah sambil memperhatikan sekeliling.
“Bagaimana?” tanya Nic.
“Biasa saja.”
Nic mengangguk.
“Aku juga berpikir begitu.”
Mereka tidak membutuhkan waktu lama di sana.
Setelah melihat beberapa bagian lain, keduanya akhirnya kembali turun.
Kemudian mereka menuju apartemen kedua di tower yang berbeda.
Unit kedua memiliki ukuran yang tidak jauh berbeda.
Namun begitu pintu dibuka, suasananya terasa sedikit berbeda.
Ruang tengahnya lebih luas dan memiliki jendela kaca berukuran besar.
Dari sana, pemandangan kota terlihat begitu jelas.
Saat itu matahari mulai tenggelam.
Lampu-lampu gedung di kejauhan mulai menyala satu per satu.
Jalan raya yang berada di bawah juga mulai dipenuhi kendaraan.
Jove berjalan mendekati jendela.
Ia berdiri di sana beberapa saat.
“Yang ini bagus,” ucapnya pelan.
Nic yang sedang melihat ruangan lain menoleh.
“Menurutmu bagus?”
Jove tidak langsung menjawab.
Ia masih melihat pemandangan dari balik kaca.
“Lebih bagus dari yang pertama.”
Nic mengangguk.
Kemudian mereka memeriksa bagian lainnya.
Ada dua kamar dengan ukuran yang hampir sama.
Tidak ada kamar utama yang terlalu besar ataupun kamar kedua yang terlalu kecil.
Keduanya sama-sama nyaman.
Nic membuka salah satu pintu.
“Ini bisa jadi kamar.”
Jove masuk dan memperhatikan ukurannya. “Ini cukup luas.” Ia kemudian membuka pintu kamar lainnya. “Yang ini juga.”
Nic berdiri di ambang pintu. “Kita bisa jadikan dua kamar.”
Jove mengangguk. “Memang harusnya begitu.”
Mereka sama-sama sudah memahami maksudnya.
Tidak ada alasan untuk menggunakan satu kamar yang jauh lebih besar sementara kamar lainnya hanya menjadi kamar tambahan.
Mereka akan menikah, tetapi bukan berarti mereka harus hidup seperti pasangan pada umumnya.
Mereka sudah sepakat sejak awal.
Dua kamar.
Dua kehidupan.
Satu rumah.
Nic kemudian membuka pintu ruangan lainnya.
“Kalau ruangan ini?”
Jove masuk.
Ruangan tersebut tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk dua buah meja kerja, rak buku, dan beberapa lemari.
“Jadikan ruang kerja saja, jangan buat kamar tamu disini agar tidak ada yang menginap.”
Nic mengangguk. “Aku setuju.”
Jove berjalan keluar.
Tidak banyak yang perlu diperdebatkan.
Apartemen itu sudah cukup sesuai dengan kebutuhan mereka.
Namun ada satu hal yang membuat Jove kembali berhenti di ruang tengah.
Jendela besar itu.
Kini hari semakin sore.
Keramaian lalu lintas di bawah semakin padat.
Lampu kendaraan mulai terlihat seperti garis-garis kecil yang bergerak di antara gedung-gedung tinggi.
Jove berdiri diam di depan jendela.
Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi kota yang terus bergerak.
Di belakangnya, Nic memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa.
Sampai akhirnya Jove berbicara.
“Apa ini sudah benar?”
Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Nic tidak langsung menjawab.
Ia menatap punggung Jove.
Pertanyaan itu bukan mengenai apartemen.
Ia tahu.
Jove sedang mempertanyakan sesuatu yang jauh lebih besar.
Pernikahan.
Keputusan mereka.
Semua yang sudah mereka lakukan sejak pertama kali sepakat menjalankan drama di depan keluarga.
Nic berjalan mendekat, tetapi tetap menjaga jarak.
Ia berdiri beberapa langkah di belakang Jove.
Untuk beberapa saat, ia ikut melihat pemandangan kota dari balik kaca.
Kemudian ia berkata,
“Jika kita berhenti, kita sudah sejauh ini.”
Jove terdiam.
Kalimat sederhana itu membuat pikirannya kembali pada semua yang sudah terjadi.
Pertemuan kedua keluarga.
Pembicaraan tentang pernikahan.
Keputusan untuk menikah.
Drama yang mereka mulai mainkan.
Bahkan sekarang mereka sudah sampai pada tahap memilih tempat tinggal.
Semuanya sudah terlalu jauh untuk dianggap sekadar wacana.
Jove menghela napas pelan. “Ya, kamu benar.” Ia mengangguk. “Kita sudah sejauh ini.”
Jove kembali menatap keramaian kota di hadapannya. Kemudian ia berkata,
“Kita teruskan drama pernikahan ini.”
Nic tidak menjawab. Hanya mengangguk pelan.
Tidak ada kata-kata yang menenangkan.
Tidak ada janji.
Tidak ada kalimat manis.
Mereka hanya berdiri di sana, menyadari bahwa keputusan yang awalnya terdengar sederhana kini semakin nyata.
Sebentar lagi mereka benar-benar akan menikah.
Sebentar lagi mereka akan memiliki satu alamat yang sama.
Satu rumah.
Satu kehidupan yang secara resmi akan terlihat seperti milik sepasang suami istri.
Meski keduanya tahu, di balik pintu rumah itu nanti, mereka tetap akan menjalani kehidupan masing-masing.
Jove kembali menatap jendela besar tersebut.
Entah kenapa, pemandangan kota dari sana terasa berbeda sekarang.
Mungkin karena mulai hari ini, tempat itu bukan lagi sekadar sebuah apartemen yang mereka lihat untuk dibeli.
Tempat itu akan menjadi rumah mereka.
Rumah bagi dua orang yang bahkan tidak pernah berniat untuk jatuh cinta.
Dan untuk saat ini, tidak satu pun dari mereka tahu apakah keputusan ini akan membawa mereka kepada kehidupan yang lebih baik.
Yang mereka tahu, mereka sudah memilih jalan ini.
Dan mereka akan terus menjalaninya.
Nic langsung menghubungi asistennya untuk mengurus pembayannya, ia juga menyuruh asistennya untuk segera menghubungi jasa interior, Jove tidak banyak memilih karena baginya apartemen ini hanya akan menjadi rumah singgah saja, bukan rumah untuk selamanya, dan entah sampai kapan.