Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Carol langsung berdiri dan menghadapi Andrew dengan tenang.
"Tuan, anda disini? Sepertinya ada pekerjaan mendadak? Kalau begitu kita bicarakan di luar saja ya."
"Gabriel, aku pulang duluan ya. Terima kasih sudah mau mengobrol denganku."
"Oh, tentu silahkan. Sama-sama Carol."
Apa? Gabriel? Carol? Astaga Andrew melewatkan apa hari ini sampai tidak tahu kalau panggilan keduanya sudah seakrab itu?
Setahunya terakhir kali mereka saling bicara dengan panggilan Tuan dan Nona.
Carol berjalan lebih dulu meninggalkan Andrew yang masih berdiri di tempatnya.
"Selamat malam, Tuan Lawson." sapa Gabriel ramah.
Tapi Andrew tidak membalasnya, dia malah melengos dan bergegas menyusul Carol.
Dari kejauhan dia melihat Carol berdiri di area parkir. Andrew berjalan mendekat.
"Sudah kubilang jangan cari aku dan jangan ganggu aku malam ini!"
"Karena kamu mau ketemu dia? Iya?"
"Aku gak sengaja ketemu dia disini."
"Oh, gak sengaja tapi sampe udah seakrab itu?"
"Oh, jadi kamu dateng kesini cuma buat cari-cari kesalahan aku?"
"Aku datang kesini karena aku khawatir, kamu pergi dalam keadaan marah. Entah kemana, di kota orang pula. Apa salah?"
Carol berdecak sebal, "Ngelacak apa kali ini? Ponsel? Aku gak nyangka ya kok kamu seberani itu."
"Aku kaya gini karena aku takut kamu kenapa-napa, gak ada maksud lain."
"Dengan membatasi ruang gerakku? Dengan mengganggu privasiku?"
"Bukan begitu, aku.."
"Kamu datang kesini seolah-olah menjadi korban, kamu marah karena aku kedapatan duduk sama laki-laki lain tapi waktu kamu sibuk sama perempuan lain dan aku marah, kamu bilang itu berlebihan kan? Lalu kelakuanmu itu gimana, hah?"
"Itu jelas beda Carl. Apa yang terjadi sama aku itu karena pekerjaan. Sedangkan kamu beda. Lagipula aku kan udah minta maaf. Aku juga udah jelasin semuanya ke kamu, apa itu gak cukup?"
Carol tersenyum miris, "Ya, kamu memberiku penjelasan tapi disaat yang bersamaan kamu juga membuatku mempertanyakan hal lain."
"Aku gak ngerti."
"Seharusnya kamu itu mikir bukan malah nambah kesalahan baru."
Carol ingin melangkah pergi sebelum akhirnya langkahnya kembali berhenti karena mendengar ucapan Andrew.
"Sudah aku bilang dari awal, kita emang gak seharusnya bersama Carl. Kita ini beda."
Carol hanya menoleh sedikit dan berkata, "Aku gak nyangka ternyata kamu itu pengecut."
...----------------...
Setelah pertengkaran semalam, Carol langsung kembali ke hotel. Dan pagi ini dia memutuskan untuk pulang menggunakan pesawat, sendirian.
Dia tidak mau mengambil resiko dan sampai merugikan perusahaan jika harus memaksa bekerja dengan keadaannya yang seperti ini.
Sebelumnya dia sudah menghubungi Sean supaya menggantikannya untuk sementara. Carol beralasan sakit. Iya, sakit hati.
Kali ini Carol tidak pulang ke kota Andrew, dia mengambil tujuan ke kotanya sendiri. Menemui Mama dan kakaknya.
"Loh, kamu kok udah pulang? Katanya.."
"Mam, aku baru aja dateng. Aku capek, intinya aku pulang lebih awal karena aku lagi gak enak badan. Udah ya."
"Oh astaga. Ya udah, kamu ke kamar sana, istirahat. Biar nanti bibi aja yang nganter makanan ke kamar kamu. Kamu pasti belum makan kan? "
Carol mengangguk sebagai jawaban, "Oke, Mam. Oh iya, Kak Calie mana?"
"Calie masih di resto, kayanya sebentar lagi pulang."
"Ya udah deh, aku istirahat dulu ya, Mam."
"Oke, Sayang."
Dengan masih menggeret koper Carol masuk ke dalam kamarnya yang masih tertata rapi dan wangi meskipun sudah lama tidak ditempati, sepertinya Helena dan Calie memang sangat memperhatikan kebersihan kamarnya.
Carol menyimpan kopernya, tak lupa dia menutup sedikit gorden kamarnya kemudian meloncat ke atas kasur dan tertidur. Demi apapun, dia benar-benar capek.
...----------------...
Sean datang menyusul Andrew dengan penerbangan mandiri, semalam saat Carol menghubunginya dia memutuskan untuk flight dini hari tadi. Jadi pagi ini dia sudah sampai di tujuan.
Dari malam juga dia sudah menghubungi Andrew bahkan berkali-kali tapi tidak kunjung mendapat jawaban. Beruntungnya Carol memberitahu lokasi tempat Andrew menginap dan juga kamar berapa yang dia tempati.
Sean datang dengan koper kecilnya, dia berdiri di depan sebuah pintu dan memencet bel, menunggu sang pemilik kamar membukakan pintunya.
Cukup lama, sampai pintu itu terbuka dari dalam dan menampilkan si pemilik yang berpenampilan sangat berantakan.
Rambutnya acak-acakan dan kantung mata yang terlihat jelas.
"Andrew?"
Pria itu memicingkan matanya, "Kenapa kau disini?"
"Apa yang terjadi? Kau minum?"