Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Langit pagi di atas kota Samarinda tampak cerah setelah semalaman diguyur hujan deras. Udara terasa lebih sejuk, menyisakan jejak embun di dedaunan rimbun yang menaungi jalanan di sekitar SMA Tunas Bangsa.
Di dalam mobil sport hitam milik Grayson, suasana terasa begitu sunyi. Aurelia duduk di kursi penumpang depan dengan postur kaku. Ia mengenakan seragam sekolah putih abunya yang rapi, namun wajah cantiknya tampak letih dan menyisakan bayangan kecemasan yang mendalam. Sejak mereka meninggalkan vila mewah di pinggiran kota tadi pagi, tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara keduanya. Grayson fokus menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kanannya dengan santai memegang setir kemudi, manik mata amber-nya menatap lurus ke depan jalan raya yang mulai padat.
Sesuai dengan perjanjian mutlak dan kesepakatan rahasia yang telah mereka buat sebelum menikah—bahwa tidak boleh ada satu pun warga sekolah yang tahu tentang hubungan pernikahan mereka—mobil mewah itu mulai melambat saat jarak mereka tinggal sekitar dua ratus meter dari gerbang utama SMA Tunas Bangsa.
Grayson menepikan mobilnya perlahan di dekat sebuah halte bus yang agak sepi di tepi jalan, tepat di bawah rindangnya pohon angsana.
Cicit!
Mobil berhenti sempurna. Grayson mematikan lampu hazard, lalu menoleh pelan ke arah Aurelia. Gadis itu langsung meraba gagang pintu mobil, bersiap untuk turun tanpa menunggu aba-aba. Namun, sebelum tangan Aurelia sempat mendorong pintu, suara bariton Grayson menghentikannya.
"Ingat batasannya, Aurelia," ucap Grayson tenang, namun nadanya sarat akan penekanan yang mutlak. "Di luar sana, kita adalah orang asing. Tidak ada yang boleh tahu. Tapi ingat juga... begitu bel sekolah pulang berbunyi, aku yang akan menjemputmu di tempat yang sama."
Aurelia menelan kelat ludahnya. Ia mengangguk kaku tanpa berani menatap mata pemuda itu. "Aku tahu," jawabnya lirih.
Tanpa membuang waktu lagi, Aurelia segera mendorong pintu mobil, turun keluar, dan menutupnya dengan pelan. Ia berdiri di tepi trotoar, membiarkan mobil sport hitam itu melaju pergi mendahuluinya menuju area parkir sekolah.
Aurelia mengembuskan napas panjang, meraup udara pagi untuk menenangkan debaran jantungnya. Ia merapikan rok abu-abunya, menyampirkan tali tas ransel di pundaknya, lalu mulai melangkah berjalan kaki menyusuri trotoar menuju gerbang sekolah, berlagak seolah ia datang seorang diri seperti hari-hari biasa sebelum mimpi buruk itu merenggut kebebasannya.
Sementara itu, di area parkir khusus siswa di dalam lingkungan SMA Tunas Bangsa, Grayson baru saja mematikan mesin mobilnya. Begitu ia membuka pintu dan melangkah keluar dengan postur tubuh tinggi tegap serta auranya yang mendominasi, tiga orang temannya—Rian, Satya, dan Bima—sudah berdiri bersandar di kap mobil sebelah sambil cengar-cengir menahan tawa penuh arti.
Rian, dengan rambut ikalnya yang sedikit berantakan, langsung menyikut lengan Satya begitu melihat ketua kelompok mereka mendekat.
"Wih, lihat tuh bos kita. Datang pagi-pagi muka sumringah banget, habis sarapan apa nih, Gray?" goda Rian dengan nada setengah berbisik namun bernada mengejek. "Atau jangan-jangan habis 'sarapan' yang lain di vila?"
Grayson menutup pintu mobilnya dengan bunyi gedebuk yang cukup keras. Ia melirik Rian sekilas dengan tatapan tajam, namun sudut bibirnya sempat tertarik membentuk senyuman tipis yang sangat sulit disembunyikan.
Satya ikut terkekeh, merapikan tas ranselnya. "Maklum, Rian. Namanya juga pengantin baru. Walaupun kemarin akadnya sembunyi-sembunyi kayak maling jemuran, tapi statusnya kan sekarang udah sah jadi suami orang."
"Ssstt, pelan-pelan ngomongnya, bego!" bisik Bima memperingatkan sambil melirik ke arah koridor utama yang mulai ramai dilewati oleh siswa-siswi lain. "Bisa berabe kalau sampai kedengaran anak OSIS sotoy kayak si Galang itu."
Mendengar nama Galang disebut, rahang Grayson seketika mengeras. Kilatan gelap dan dingin kembali memancar dari sepasang bola mata amber-nya. Suhu di sekitar area parkir mendadak terasa lebih dingin bagi ketiga temannya.
"Ketua OSIS itu udah nggak punya nyali buat mendekat lagi," ucap Grayson dingin dengan suara rendah yang mutlak. "Kalian nggak perlu khawatir soal itu."
Rian mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah, meskipun senyuman usil masih bertengger di wajahnya. "Iya deh, iya, ampun Bos galak. Tapi serius nih, Gray... bagaimana rasanya tinggal serumah sama si Aurelia? Pasti seru kan, punya cewek galak tapi gemesin di bawah pengawasan ketat lu 24 jam?"
Grayson menghentikan langkahnya sejenak saat hendak berjalan menuju koridor kelas. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya, memikirkan kembali kejadian semalam—bagaimana gadis itu menangis ketakutan di atas tempat tidur, bagaimana ia menahan diri setengah mati untuk tidak merenggutnya secara paksa, dan bagaimana mereka akhirnya duduk berdua menikmati mangkuk sup sederhana di meja makan.
Meskipun semalam belum terjadi apa-apa secara fisik, fakta bahwa Aurelia kini tidur di kamarnya, mengenakan kaus miliknya, dan sah menjadi istrinya adalah sebuah kepemilikan yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun di dunia ini.
"Urus urusan kalian sendiri," tukas Grayson singkat dengan nada datar, lalu melangkah meninggalkan ketiga temannya yang langsung terbahak-bahak mengikuti di belakangnya.
Suasana di dalam kelas XI-IPS 2 pagi itu tampak biasa saja, namun bagi Aurelia, setiap detik terasa begitu menegangkan.
Begitu ia melangkah masuk ke dalam kelas, Aluna dan Aruna langsung menyambutnya dengan wajah penuh rasa penasaran tingkat tinggi. Kedua sahabatnya itu langsung menarik tangan Aurelia untuk duduk di bangku mereka di barisan tengah.
"Hei, Aurelia Calista! Dari mana aja kamu beberapa hari ini? Diselidiki anak-anak sekelas, katanya kamu sempat absen karena ayahmu kecelakaan, terus tiba-tiba kemarin waktu masuk sekolah muka kamu pucat banget kayak mayat hidup!" cecar Aluna bertubi-tubi dengan nada khawatir.
Aruna mengangguk cepat menyambung. "Iya, Li! Sumpah kita bertiga khawatir banget. Terus, semenjak kejadian itu, kamu juga keliatan jaga jarak banget dari semua orang. Bahkan sama Kak Galang aja kamu kayak menghindar. Ada apa sebenarnya? Cerita dong sama kita!"
Aurelia menelan ludah kelat. Tenggorokannya terasa kering. Ia tidak mungkin menceritakan kebenaran yang mengerikan itu—bahwa ia kini telah terikat dalam pernikahan rahasia dengan Grayson, monster yang telah merusak hidup keluarganya. Jika Aluna dan Aruna tahu, nyawa sahabat-sahabatnya itu bisa berada dalam bahaya besar jika Grayson menganggap mereka sebagai ancaman.
"A-aku... aku nggak apa-apa, kok, Lun, Run," jawab Aurelia berusaha tersenyum, meskipun senyuman itu terlihat begitu dipaksakan dan rapuh. "Cuma... kemarin-kemarin pikiran aku lagi kacau banget gara-gara kondisi Papa di rumah sakit. Makanya aku pengen sendiri dulu, nggak mau nyusahin kalian."
Aluna menghela napas panjang, menatap sahabatnya dengan penuh iba. Ia merangkul pundak Aurelia erat-erat. "Duh, makanya kalau ada apa-apa tuh cerita, jangan dipendem sendiri. Untung sekarang ayahmu udah selamat kan? Kalau butuh bantuan apa-apa, kita berdua selalu ada buat kamu, tahu."
"Iya, benar kata Aluna," timpal Aruna tulus. "Oh ya, ngomong-ngomong soal cowok nyebelin itu... si Grayson... beberapa hari ini dia keliatan lebih anteng ya? Maksudnya, dia nggak separah waktu awal-awal masuk sekolah yang suka nguntit kamu."
Mendengar nama Grayson disebut, Aurelia secara refleks mengedarkan pandangannya ke barisan depan kelas.
Di sana, Grayson sedang duduk bersandar santai di kursinya sambil memainkan ponsel. Seolah merasakan tatapan Aurelia, pemuda itu mendadak mengangkat kepalanya. Sepasang bola mata amber yang tajam itu langsung menatap lurus tepat ke arah manik mata Aurelia di pojok belakang.
Tidak ada senyuman di wajah Grayson, namun tatapan itu sarat akan kepemilikan yang membuat Aurelia seketika merinding dan buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan jantung berdegup kencang.
Tuhan... lindungi aku, batin Aurelia merutuk dalam hati, menyadari bahwa meskipun di luar mereka tampak seperti orang asing yang tidak saling kenal, ikatan tak kasat mata di antara mereka telah mengunci lehernya erat-erat tanpa bisa dilepaskan lagi.